AKU KAU DAN ISLAM

AKU KAU DAN ISLAM
BAB 70


__ADS_3

Sam menarik gas motornya hingga kandas. Mati di tengah jalan pun kini tak lagi ia pikirkan. Lyora. Hanya satu nama itu yang membuat degupan jantungnya berpacu tiga kali lipat. Kalau sudah ketemu nanti, Sam tak akan segan-segan menjadikan ia sate tusuk.


Di tempat lain, Irene yang sudah menunaikan janjinya langsung saja mengetikkan beberapa huruf untuk Lyora baca dan seketika itu pula ia langsung memblokir kontak wanita si rambut pirang tersebut. Karena akan lebih buruk jika Lyora terus mengganggunya, Irene juga tidak mau terjebak ke dalam permainan kanak-kanak mereka.


Sam mendengus kesal, menggedor-gedor pintu utama rumah sang kekasih pelampiasan yang belum kunjung dibuka. Di kejauhan sana, seorang satpam yang sudah tahu siapa Samuel hanya bisa memperhatikan lamat-lamat. Tidak ada hak juga dia bertanya kenapa pria berjambang lebat itu membabi buta.


Ceklek.


“Sam? Kenapa tidak pencet belnya saja sayang? Aku bahkan tidak dengar pintu ini diketuk,” keluarnya Lyora membuat darah Samuel semakin berdesir deras. Kedua tangannya terkepal. Gadis yang baru saja bahagia setelah membaca deretan kata dari Irene tadi sontak menautkan sepasang alis. Dia kira Sam kesini untuk meminta maaf, namun sepertinya akan timbul masalah baru.


“Ikut aku keluar sekarang!” pria dengan postur menjulang itu tanpa pikir panjang langsung menarik lengan Lyora kasar. Remaja perempuan yang berencana untuk memberikan makanan pada sang penjaga rumah terpaksa harus mengurungkan niatnya terlebih dahulu. Mencoba meredam amarah kekasihnya melalui cara baik-baik.


“Hei, jawab dulu. Kau ini kenapa?” jemari indahnya meraih anak rambut Samuel yang terjuntai lalu menyelipkannya di balik telinga.


“Cih! Jangan pegang-pegang!” Lyora tersentak. Samuel menangkis tangannya kasar hingga tumbang begitu saja ke arah bawah.


Ada yang tidak beres. Lyora memindai tatapannya ke arah satpam yang sedari tadi memanjangkan lehernya dari kejauhan. Tangannya melambai, memberi kode agar lelaki kurus tersebut menerima sebuah bungkusan yang tercantel di tangannya. Setelah itu, mereka pergi keluar menuruti permintaan Sam.


...***...


Seorang gadis tengah bersandar pada kepala airland takkala sepasang netranya mulai terasa gatal akibat lama memandang tulisan buku. Sudah tiga jam lebih ia berkutat dengan benda yang nyaris dibuangnya kemarin. Kini saatnya untuk pergi ke toilet demi menyegarkan kembali wajahnya yang sudah ketat melalui basuhan air.


Di dalam sana Irene mengkucek-kucek matanya kasar. Meskipun punggungnya terasa ingin copot kebanyakan duduk, namun ia merasakan sebuah kepuasaan batin setelah mencerna seluruh kalimat indah yang berasal dari bacaannya tadi.


Setelah ritualnya selesai, gadis itu langsung keluar dari dalam bilik kecil guna melanjutkan materi yang sempat ia hentikan. Sial, betapa terkejutnya ia saat melihat Antonius sang papa sudah tercegak seraya membalik lembar demi lembar dari buku itu. Jantungnya sontak melompat, bahkan paru-parunya juga seolah tak berfungsi lagi.


Tes tes tes.


Bulir keringat mulai menyembul dari pelipis.

__ADS_1


“Papa.” Irene melangkah maju. Sedikit demi sedikit, namun pada akhirnya sampai juga tubuhnya persis di hadapan Antonius. Lelaki itu memasang raut dinging, melirik melalui ekor mata wajah Irene yang mulai menunjukkan warna putih. Pucat pasi.


“Apa Papa pernah mengajarimu untuk keluar dari agama?”


Adalah kalimat yang membuat tubuhnya bergetar hebat. Irene bodoh! Sangat bodoh! Bisa-bisanya ia membiarkan pintu terbuka dengan posisi buku yang juga tidak terkatup di atas ranjang.


“Papa sejak kapan ada di sini? Kenapa tidak permisi dulu kalau mau masuk?” Irene mencoba memutar permasalahan. Namun, bukan berarti Antonius akan terkecoh dengan itu semua.


“Jawab pertanyaan Papa!” suaranya kini jauh lebih lantang. Irene terperanjat kaget. Sepasang tangannya terkepal kuat, seolah ada lem yang menghubungkan benda beruas lima tersebut antara satu sama lain.


“E- em itu,” Irene berpikir keras sebisa mungkin. “punya Fatimah. Irene kira entah buku apa yang dititipkannya tadi untuk temannya” lanjutnya seraya mencoba setenang mungkin, lalu tersenyum.


Antonius diam. Sempat ada kehingan beberapa saat di antara mereka. Entah Tuhan yang mana yang tengah ia sebut dalam hatinya saat ini. Tapi semoga ada keajaiban dari atas langit.


“Jangan coba macam-macam kamu!”


Bugh!


Irene terduduk lemas di atas lantai. Sepasang lututnya tak lagi mampu menopang tubuh yang sebenarnya tidak berat. Bagaimana kalau papanya mulai mencurigai dirinya sendiri? Irene jadi bingung mengartikan kepergian Antonius tadi. Pria itu memang percaya, atau akan ada hal lain yang dilakukannya di luar sana guna mengungkap rahasia?


“Aduuuuh,” tiba-tiba saja kepala Irene berdenyut kencang. Tak pernah ia dihadapkan dengan situasi genting selain takut ketahuan atas apa yang dilakukan gadis delapan belas tahun itu selama ini.


Lima menit ia diam tanpa suara, juga tak ingin mengadu pada Antonius. Setelahnya Irene terpejam, matanya bahkan sangat sulit untuk dibujuk agar kembali terbuka.


...***...


“Tunggu apa lagi? Pulang sana!” Lyora ditarik paksa oleh pria yang teramat ia sayangi. Cengkraman itu begitu kuat, sehingga membuat pergelangan tangannya merah keunguan.


Tadi siang setelah keduanya turun dari jok kereta. Pria bertubuh jenjang itu langsung menyodori Lyora dengan bejibun pertanyaan. Awalnya gadis itu berkilah, hingga pada pertanyaan yang ke empat, ia tak mampu lagi menjawab.

__ADS_1


“Aku ingin kalian menjauh, karena aku tak ingin kehilanganmu,”


Sebuah kalimat yang sampai detik ini terngiang-ngiang di benak Sam. Pantas saja Irene tiba-tiba mendatanginya, ternyata ada seorang nenek lampir yang sudah menyuruhnya untuk melakukan hal itu.


Sam salah. Dia kira bahwa selama ketidakhadirannya, Irene akan merindu.


Base camp yang hanya dihuni oleh Sam dan Lyora ini menjadi tempat yang pas untuk mereka menyelesaikan segalanya. Ah, lebih tepatnya menyelesaikan hubungan secara paksa. Gadis itu tersedu-sedu, dari siang hingga malam ia menetap enggan beranjak.


“Apa kau ini tuli, hah? Sudah lima jam aku mengusirmu namun kau tak juga pergi.” Sam mulai jengah, ingin sekali ia menjambak rambut pirang Lyora itu hingga botak.


“Lalu, apa kau kira wanita itu akan mencintaimu setelah aku pergi? Tidak! Hanya aku yang mencintaimu dengan tulus,” Lyora memberontak, berusaha melepaskan cengkraman kokoh Sam dari pergelangan tangannya.


Namun sepertinya perkataan tersebut membuat pria berjambang rimbun itu semakin tersulut emosi. Detik berikutnya ia menyeret Lyora paksa, menendangnya hingga nungging di daun pintu.


“Awas kau!” Sam berusaha menutup benda persegi panjang yang terus ditarik dari depan oleh Lyora.


Jika lokasi ini ramai penghuni, pastilah keduanya sudah menjadi tontonan warga. Bahkan mungkin ada beberapa orang yang sengaja mengabadikan momen tersebut melalui kamera ponsel. Beruntung, Sam dan teman-temannya sengaja menyewa lokasi sepi penghuni. Agar apapun yang mereka lakukan, tiada yang mengetahui.


Lyora semakin terisak.


Mungkin memang benar jika cinta itu adalah buta. Tak dapat memandang mana yang baik dan mana yang buruk. Gadis itu sungguh terjebak di dalam permainan Sam, begitu pun dengan pria yang nyaris musnah di tangan seorang gadis yang hingga sampai detik ini tak pernah mencintainya.


Semua orang juga tahu kalau tenanga lelaki lebih kuat ketimbang wanita. Maka dari itu, Samuel berhasil menutup pintunya rapat-rapat, dan membiarkan gadis itu meringis di luar sana. Tak perduli, bahkan ia memasang earphone lalu memutar musik agar tak mendengar lagi tangisan menjengkelkan itu.


...***...


Bersambung


Yang mau kenal lebih dekat sama author, kalian bisa DM aku di wandahandayani24 yaa, ehehe

__ADS_1


LIKE & COMMENT


__ADS_2