
Di sebuah ruangan bernuansa putih
“A- aku minta maaf.” Buliran mutiara putih menggenangi kawasan netra seorang gadis yang tengah terpaku menatap manusia terbaring lemah tak berdaya di hadapannya.
Ester dan seseorang yang belum pernah ia temui sebelumnya.
Keduanya saling pandang sesaat setelah dokter selesai memeriksa kondisi pria malang tersebut. Pelipisnya masih berbekas luka beserta tangan dan kakinya yang lebam-lebam merah kebiruan.
Lelaki yang melihat wanita yang sedang tersedu itu pun kemudian berkata “Sudahlah. Ini Cuma kecelakaan biasa kok. Aku juga ga apa-apa.” Ia menilik paras Ester dalam-dalam, ada mendung yang menghiasi raut manisnya.
Dalam hal kekuatan hati, Ester memang kalah dari Irene. Jika menyangkut hal yang seperti ini gadis itu memang masih mau bersedih bahkan menangis. Berbeda dengan Irene. Tak ada suatu apapun yang membuatnya menjatuhkan air mata kecuali perihal kedua orang tuanya. Wajar-wajar saja karena Irene hidup bersama ayahnya dan tertempah menjadi gadis berhati baja. Dan Ester? Ia tinggal bersama ibunya lalu hidup dalam kasih sayang dan juga penuh kelembutan.
“Siapa namamu?” Pria yang tengah terbaring itu kembali membuka suara memecahkan keheningan suasana ruangan tersebut. Selang infus masih setia tertanam di urat tangannya.
“Ester.”
“Nama yang indah, persis seperti orangnya.”
“Hah? A- apa?” Sontak mata orang yang dipuji membeliak sempurna. Entah kapan terakhir kali ia mendapat pujian, tapi hari ini ia menerima kalimat indah itu kembali dari seorang pria yang sama sekali tidak ia kenal.
Lelaki itu hanya tersimpul menyaksikan wanita di hadapannya yang tiba-tiba saja mendadak salah tingkah. Semoga saja degupan jantung Ester yang saat ini sangat kencang tidak terdengar oleh telinga orang di hadapannya itu.
“Kenalin nama aku Alan.”
Oh Alan.
Ternyata pria yang menjadi korban tabraknya itu bernama Alan.
Alan menjulurkan tangan ke hadapan Ester. Keduanya saling pandang kemudian saling membalas jabatan tangan.
Tidak ada percakapan apapun lagi setelah itu, baik Ester maupun Alan semuanya membeku hening hingga dalam 10 menit berikutnya wanita berseragam putih abu-abu tersebut mendengar sebuah dengkuran halus tepat di mana saat ini ia tengah duduk. Hei Alan rupanya. Entah sejak kapan lelaki itu tertidur pulas di hadapan Ester.
...***...
Bel berdentang berbarengan dengan tepuk tangan yang memenuhi sebuah ruangan berwarna putih. Para siswa berhamburan keluar setelah Bu Retno menutup pelajaran Fisika di hari ini. Jam istirahat telah tiba.
Irene tidak keluar. Gadis itu hanya memakan roti sobek beserta selainya dan beberapa buah-buahan lokal yang dibawanya sebagai bekal dari rumah.
Sebenarnya ingin sekali ia menjejakkan ke kantin mengingat sudah lama dirinya tidak menikmati Nasi Goreng Kampung buatan Mbok Sari, koki kantin yang rasa masakannya dapat diacungi dengan empat jempol. Namun berhubung seseorang yang biasa menemaninya saban hari absen hari ini, ia pun mengurungkan niat dan duduk menyendiri di pojok kelas.
Di sela kehikmatannya menyantap potongan buah berwarna kuning, seseorang menghampiri mejanya dan duduk tanpa permisi.
“Hai Re.” Sapa gadis berhidung runcing. Dia adalah orang yang menyenggol bahu Irene suwaktu pagi tadi.
“Eh hai Del.”
“Kemana Ester?”
__ADS_1
“Ummm sakit.” Irene tampak berpikir sejenak sebelum akhirnya menjawab asal pertanyaan dari seorang wanita yang bernama Dela tersebut.
Entah kesambet jin dari mana tiba-tiba saja Dela mengajak Irene ngobrol santai seperti ini. Biasanya gadis itu hanya berbicara seperlunya saja. Bahkan kadang dalam satu minggu belum tentu mereka ada bertegur sapa.
“Re mau nanya nih.”
“Apaan?”
“By the way kamu udah punya pacar belum?”
“Uhuk uhuk ekkk.” Potongan buah yang telah masuk ke dalam mulut itu pun seketika menyemburat keluar dan membuat Dela bergidik jijik. Salah siapa? Pertanyaan konyol semacam apa itu? Irene menepuk-nepuk dadanya yang terasa sesak, nafsu makannya hilang seketika.
“Sorry Re. Pertanyaan aku kelewatan ya?”
“Aku emmm- belum.” Jawab Irene setelah kondisi kerongkongannya mulai normal.
Gadis itu kemudian tidak menemukan sahutan apapun lagi dari lawan bicaranya. Dela tampak menimbang-nimbang sesuatu lalu akhirnya berpamitan pada Irene untuk keluar kelas. Aneh sekali.
...***...
Setengah sepuluh tepat
Semangkuk makanan yang menggugah selera baru saja terhidang di hadapan seorang lelaki berparas teduh. Soto ayam yang permukaannya ditaburi dengan rajangan daun sup dan kuningan telur dipadu dengan santan kental menjadi menu pesanan kantinnya di hari ini.
“Hai Zhan.” Sapa seorang gadis berkerudung menjulur. Simpul sumringai terbit di wajahnya, ia mendaratkan bokong tepat di samping orang yang disapa, Fizhan.
“Aisyah.”
“Apa?” Sontak Fizhan membelalak. “Jadi kerudung cokelat itu punya kamu ya?” Fizhan ingat betul bahwa keamrin ia menemukan benda persegi berwarna moca di perkarangan rumahnya.
Aisyah yang mendapat pertanyaan tersebut sontak mengerutkan dahi. Seingatnya kerudung cokelat miliknya hanyalah kerudung seragam pramuka. Dan benda itu terlipat rapi di dalam lemari pakaiannya.
“Engga. Emangnya punya siapa Zhan? Kamu nemu di mana?”
“Kalau aku tahu aku ga bakal nanya kamu Syah. Di depan rumahku.”
“Ohya? Apa sebelumnya ada perempuan yang datang ke rumah kamu?”
Fizhan membuang pandangan ke sembarang arah. Sampai detik ini dia juga belum bisa menebak benda persegi milik siapa yang ditemuinya kemarin malam.
“Ga ada.”
Aisyah tampak setengah berpikir. Milik siapa kerudung cokelat yang dimaksud Fizhan? Apa ada seseorang yang sengaja membuang benda itu di sana? Atau jangan-jangan lelaki yang sedang duduk anteng di sebelahnya itu telah memasukkan seorang wanita ke dalam rumahnya? Ah tidak tidak, mustahil. Ia kenal betul dengan Fizhan. Jangankan untuk berduaan dengan yang bukan mahram, untuk beradu pandang saja pun ia enggan.
Sudahlah, ngapain juga terlalu dipikirin.
“Mate-matika kita halaman berapa ya Zhan, aku lupa banget nih.”
__ADS_1
Hening.
“Zhan.”
Hening.
“Zhan.”
-
“Fizhaaaaaan!”
“Astgafirullah Aisyah. Kamu kenapa?”
“Aku manggil kamu loh dari tadi ya ampun.”
“Serius? Aku ga ada denger.”
“Kamu kenapa sih? Biasa juga ga pernah kaya begini.” Aisyah berdesis kesal. Di sisi lain ia juga menangkap raut Fizhan yang tak seperti biasanya.
“A- aku gapapa. Emang kamu ngomong apa tadi?”
“Yaudah ga jadi.”
“Kenapa?”
“TELAT!”
“Kamu ngambek?”
“Engga. Udah ih aku masih ada urusan lain.”
Aisyah berangsur pergi meninggalkan lelaki yang masih menatapnya lekat-lekat. Aisyah ngambek, Fizhan tahu betul itu. Tapi sungguh, telinganya sama sekali tidak menangkap perkataan Aisyah tadi.
Gadis itu melenggang dan mulai ada jarak pada posisi mereka. Fizhan yang mendapati hal tersebut pun tak ingin ambil pusing dan melanjutkan sendokan sotonya yang sempat tertunda tadi. Hingga dalam detikan selanjutnya …
“Zhan. Kamu lagi ada masalah ya?” Seorang gadis berseragam SMA dengan kerudung menjulur mengambil posisi bersebelahan dan menatap wajah Fizhan penuh serius. Aisyah. Gadis itu kembali lagi.
...***...
Bersambung
Yeaaay sudah 20 episode 😍
Terus ikuti cerita aku yaa ;)
Jangan lupa like, vote & comment
__ADS_1
Dukungan kalian semangat buat aku
Sehat selalu yaaa🤗