AKU KAU DAN ISLAM

AKU KAU DAN ISLAM
BAB 26


__ADS_3

“Kau serius?” Mata gadis yang mendengar membeliak sempurna. Fix! Fatimah pasti mencintai Fizhan. Kalau tidak untuk apa dia menyebut-nyebut nama lelaki itu? Ah hati Irene serasa ditimpuk oleh beton besar.


“Kenapa kau yang kelihatan kaget?”


“Umm i- itu. Maksudku, kukira dia tidak memiliki pacar.”


“Kau sok tahu. Bisa jadi lelaki itu adalah saudaranya.”


Aduh Irene. Tahan dirimu, jangan sampai kelihatan kalau kau juga antusias mendengar cerita ini.


“Ohiya juga ya.”


Irene beringsut keluar dan meninggalkan Ester di pojokan kelas. Sebisa mungkin ia menyembunyikan rona merah yang bermukin di wajahnya saat ini. Sebenarnya dara itu sangat penasaran ada hubungan apa antara Fizhan dan teman sekelasnya Fatimah. Tapi mana mungkin ia bertanya langsung pada sang empunya diri, bisa-bisa ketahuan kedoknya selama ini.


...***...


Kriiing.


Bel berdentang pertanda sekolah telah usai. Semua siswa berhamburan dari lapangan sesaat setelah mereka menerima pengarahan dari kepala sekolah tentang Ujian Nasional yang akan diselenggarakan beberapa hari lagi.


Seorang gadis berkuncir satu tampak sedang berbicara dengan teman karibnya seraya menyembulkan diri ke dalam kelas untuk mengambil tas.


“Ngemall yuk. Udah lama engga.” Irene membuang pandangan ke wajah Ester.


“Aduh lagi engga bisa.”


“Kenapa?” Jarang-jarang Ester menolak tawarannya, pikir Irene.


“Aku akan bertemu pacarku siang ini.”


“Hah? Untuk apa?”


“Ah kau ini seperti orang yang tidak pernah pacaran saja.”


Irene membelalak kaget tak percaya. Apa secepat itu rassa cinta timbul di hati Ester? Sial! Posisinya telah tergantikan oleh seorang pria yang bernama Alan.


“Bagaimana sekali memangnya tampang makhluk itu?” Gerutu Irene di dalam hati.


Keduanya masuk ke kelas kemudian membereskan sisa-sisa buku yang tercecer di atas meja dan memasukkannya ke dalam tas. Dari pojokan kelas Irene dapat melihat dengan jelas wajah seorang gadis berkerudung putih terlihat sembab, siapa lagi kalau bukan Fatimah. Gadis itu menangis cukup lama sehingga membuat sepasang kelopak matanya terlihat benjol kemerahan.


“Aku duluan ya.” Kata Ester lalu melenggang pergi dengan wajah penuh rona merah.


Irene memperhatikan punggung sahabatnya itu sampai benar-benar hilang dari ambang pintu. Hatinya sendu, namun punya hak apa ia melarang seseorang untuk jatuh cinta dan memiliki seorang kekasih.

__ADS_1


Setelah selesai membereskan sisa buku, dara bermata hazel itu pun segera meninggalkan kelas dan menuju area parkir sekolah untuk mengambil motor. Ia berencana untuk pergi sendiri ke mall karena orang yang biasa menemaninya lebih memilih bertemu pacar baru ketimbang konconya sendiri.


...***...


Di sisi lain sepasang anak adam sedang bercanda ria di sebuah café bernuansa klasik di Kota Medan. Mereka tampak bersahut-sahutan sama lain, sesekali si wanita menjajal puding cokelat milik sang pria tanpa permisi.


“Kalau begini ceritanya bisa-bisa milikku yang duluan habis. Kau sungguh curang Syah.” Lelaki tersebut menggerutu sebal.


“Pesan saja lagi.”


“Enteng sekali mulutmu berbicara.”


Sreeek.


“Duuuuh!”


“Hahahaha.”


Si lelaki tertawa puas manakala telah sukses membuat wanita di depannya itu berdecak sebal. Ia menarik ujung kerudung perempuan tersebut sehingga membuat kain yang membalut bagian kepalanya lengser dan nyaris menutupi seluruh wajah.


“Fizhan awas kamu ya ih!”


Fizhan dan Aisyah. Sepulang sekolah mereka tidak langsung beringsut ke rumah melainkan memanjakan lidah dengan beberapa menu yang telah terhidang di hadapan keduanya saat ini. Ada puding cokelat, fried rice, burger, potato goreng, lemon tea, orange juice dan beberapa potong buah yang siap memadeti lambung karet mereka. Sebenarnya bukan Fizhan melainkan seorang wanita di hadapannya itu lah yang memesan semua makanan ini. Positive thinking saja, mungkin gadis itu sedang masa pertumbuhan. Ups lebih tepatnya masa perkembangan, perkembangan lemak kikikik.


“Gantian ya uhhh.”


“Eh!”


“Astagfirullah ma- maaf bang maaf.”


Seorang pria berjambang lebat yang baru saja menyembul dari pintu utama tertubruk oleh badan Fizhan yang sengaja didorong oleh Aisyah. Tidak! Maksudnya bukan sengaja mendorong Fizhan agar mengenai badan pria tegap tersebut melainkan hanya untuk membalaskan kekesalannya terhadap lelaki yang tadi menarik ujung kerudungnya hingga lengser ke bagian wajah.


Lelaki yang tampaknya tidak terima dengan perlakuan kedua anak manusia tersebut spontan saja memasang raut garang dan tangan terkepal. Barisan gigi putihnya menggeletuk, rasanya ingin sekali ia menonjok orang yang berada di hadapannya tersebut.


“Sudah lah Sam! Mereka juga tidak sengaja.”


“Diam kau Lyora!”


Astaga!


Itu Sam si jambang rimbun.


Bisa-bisanya kedua pria tersebut bertemu di tempat ini.

__ADS_1


Sam dan Lyora juga masih memakai seragam SMA sama seperti Fizhan dan Aisyah. Entah tarikan alam seperti apa yang mengajak mereka berdua untuk datang ke tempat dan waktu yang sama.


“Maaf saya tidak sengaja.” Pria yang menubruk pun kembali meminta maaf atas kesalahan yang sebenarnya tidak ia sengaja.


“Sudah lah sayang. Kau sudah mendengar kata maaf dari dia bukan?” Kini Lyora kembali bersuara. Gadis dengan rok abu-abu selutut itu sontak menarik lengan Sam agar ia tak keterusan dan membuat keributan hanya karena hal sepele.


Sam menurut. Ia mengikuti tarikan Lyora yang membawanya pada penjuru café. Syukurlah, apa jadinya bila kedua orang itu berkelahi di tempat umum seperti ini. Namun sebelum si jambang lebat itu berlalu, ia menatap lekat-lekat wajah orang yang menubruk tubuhnya tadi seraya mengacungkan jari telunjuk dan tengah membentuk huruf V tepat di permukaan netra pria yang masih menampilkan wajah benguknya itu.


“Awas kau!” Bisik Sam seraya mengukir jarak.


...***...


“Oh sayang. Kau terlihat sangat cantik menggunakan seragam putih abu-abu ini.” Alan menangkupkan kedua tangannya pada pipi Ester. Mereka baru saja bertemu di sebuah hamparan luas di pusat kota.


Wanita yang diperlakukan dengan manis seperti itu pun sontak menundukkan kepalanya malu. Ia mesem-mesem sendiri seraya mengukir formasi-formasi tidak jelas di permukaan tanah menggunakan ujung sepatunya.


Sebelumnya Alan memang meminta agar sepulang sekolah Ester menemuinya di tempat ini. Ia ingin mengajak gadisnya itu mengobrol di ruang terbuka sambil menikmati hembusan angin dan pemandangan kendaraan yang berjejer rapi di jalan raya.


“Kita akan menikmati kebersamaan hingga malam.” Alan menarik tangan Ester lalu mengajaknya untuk duduk di atas rerumputan yang tumbuh di sana. Astaga! Apa dia tidak berpikir jika ada tungir yang akan bermukim di salah satu betis pacarnya yang tidak terbungkus oleh rok atau pun kaos kaki itu. Dasar bodoh! Seharusnya dia dapat melihat bahwa rok dan kaos kaki yang Ester kenakan itu sama-sama kekurangan bahan.


“Bagaimana sekolahmu hari ini?” Ester baru berbicara setelah beberapa menit mereka bertemu.


“Ummm a-aku.” Alan terbata. “Oh sekolahku baik.”


Ester menautkan kedua alis melihat gelagat Alan yang mendadak gugup. Ada apa? Bukannya pria itu yang sedari tadi sangat agresif?


“Apa tadi di sekolahmu ada pengarahan untuk Ujian Nasional?”


“Ah sudah lah manis. Aku sedang tidak ingin membahas tentang sekolah.”


“Kenapa?”


“Karena saat ini aku hanya ingin bercerita tentang masa depan kita nanti, sayangku.”


CUP.


CUP.


CUP.


...***...


Bersambung

__ADS_1


Comment, like & vote guys


Semoga kalian sehat selalu 🤗


__ADS_2