AKU KAU DAN ISLAM

AKU KAU DAN ISLAM
BAB 52


__ADS_3

“Entah kenapa wajahnya sangat sejuk dipandang mata.”


Irene sontak merinding di tempat. Kenapa dunia ini sempit sekali? Bisa kah tidak bertemu dengan sosok itu di saat keadaan genting seperti ini? Oh ya Tuhan.


Fizhan.


Pria itu dengan santainya mengitari seantero minimarket bersama seorang bocah gendut alias si Azzam. Keduanya saling berbincang seraya memboyong sebuah keranjang kecil di tangan. Ya ampun sudah kaya emak-emak aja deh.


“Ehehe i-iya Pa. Yaudah kita ke sana yuk.” Irene langsung menarik lengan Antonius ke arah lain padahal yang dituju hanya berada beberapa meter di depan mata.


“Kan jadi semakin jauh.”


“Iya sekalian lihat-lihat.”


Antonius tak bergeming, pria itu manut dan segera mengikuti langkah putrinya dari arah samping. Huh untung saja! Dan semoga Fizhan tak melihat keberadaan Irene di tempat ini, apalagi sekarang gadis itu tak memakai kerudung seperti biasanya.


...***...


Ester meraih sebuah benda pipih yang tergeletak di atas nakas. Melihat ulang foto-foto selvi bersama dirinya dan Alan sudah menjadi budaya yang tak bisa untuk ditinggalkan. Kali ini gadis itu sudah berada di rumahnya sendiri sesaat setelah dua jam lalu Alan mengantarnya ke tempat ini. Seperti biasa, mami Ester merupakan wanita karir yang saban hari selalu berpergian bahkan jarang pulang. Dan otomatis hal itu akan membuat anak sematawayangnya itu sangat mudah untuk keluar masuk rumah sesuka hatinya.


“Entah kenapa aku semakin mencintaimu sayang.” Geming gadis berparas manis itu dalam hati.


Begini nasib orang kalau belum pernah punya pengalaman di bidang cinta. Dia pasti akan menganggap sesiapa saja yang masuk sebagai orang yang sangat istimewa. Antara polos dan bodoh bercampur menjadi satu. Padahal kalau dilihat-lihat Alan sangatlah jauh berbeda dengan Ester. Wanita itu berasal dari keluarga terpandang dan memiliki banyak uang. Sedangkan Alan? Asal usulnya saja pun tidak jelas.


Merasa cukup dengan kegiatan yang dilakoninya, dara itu pun beringsut ke bilik kecil guna mengeluarkan sesuatu dari dalam sana.


Bugh!


Suara pintu toilet terdengar banter.


Shhh shshsh shshshssh.


Ester menjongkokkan tubuhnya dan membiarkan cecair putih itu mengalir begitu saja di hamparan lantai. Dan tak butuh waktu lama kegiatan itu pun selesai dan Ester segera mengembalikan posisi tubuhnya ke semula.


Dan kalian tahu?


Betapa terkejutnya gadis itu takkala melihat cairan merah kental yang ternyata sudah menggenang di bawah bagian tengah selangkangannya. Mukanya mendadak kaku, matanya celingukan ke sana dan ke mari.


“Apa aku mens lagi?” Tanyanya dalam hati.


Ester heran bukan main. Seminggu lalu dara itu baru saja kedatangan tamu dan tak mungkin si tamu datang kembali di hari ini. Mustahil! Ester tak memiliki penyakit apapun dan riwayat tamu bulanannya selalu normal.


Tak lama setelah itu bagian bawahnya terasa sakit kembali. Kalau diamati betul-betul rasanya tak ada beda dengan tangan yang tergores oleh pisau tajam, perih. Ester kebingungan, ia kembali ke atas ranjang dengan kaki yang agak mengembang.


“Aduuuuh!”

__ADS_1


...***...


“Aku melihat motormu di hotel tadi malam.”


“Ohya?”


“Siapa yang kau bawa?”


“Ester.”


“Benarkah?”


Suara seorang pria mendadak besar kegirangan takkala mendengar penuturan rekannya melalui sambungan suara. Sekarang dia sudah berada di sebuah café guna mengisi perut yang sudah didemo oleh sang cacing. Masih siang, jadi kondisi temapt ini masih sangat sepi.


“Iya.”


“Lalu bagaimana?”


“Aku sudah berhasil mengambil miliknya.”


“Serius? Yang benar saja!”


“Aku berani bersumpah demi apapun.”


“Kenapa dia bisa mau? Bukannya terakhir kali kau bilang dia selalu menolakmu.”


“Jadi kau mengeksekusinya diwaktu dia dalam mode tidak sadar?”


“Iya.”


“Ck dasar bodoh! Kalau begitu si polos itu tak akan tahu apa yang terjadi dengan kalian.”


“Biarkan saja itu jadi urusanku, yang terpenting tugasku untuk membobol milik Ester sudah beres.”


“Kau bisa menjamin kalau Ester akan cemburu pada Irene?”


“Pasti, kau tenang saja.”


“Baik akan segera kukirim uangnya sekarang.”


“Yess!” Alan berdecak senang di seberang sana.


Tak ada lagi percakapan, Sam kembali memasukkan benda hitam persegi panjang itu ke dalam saku jaketnya dan segera menemui Lyora yang telah menunggu sedari tadi di bangku pojokan.


“Kau menelpon siapa?”

__ADS_1


“Temanku.”


“Kenapa lama sekali?”


“Iya ada yang harus kuurus masalah bisnis.” Bohong Sam pada pacarnya sendiri.


Sampai saat ini belum ada kejelasan tentang motif apa yang membuat pria berjambang itu memacari Lyora namun tetap mencintai Irene di hatinya. Dan entah bagaimana pula reaksi gadis berambut pirang itu takkala mengetahui apa yang sebenarnya terjadi antara prianya dengan si Irene nanti.


...***...


“Aku mau beli jajan buat ayah sama bunda deh.” Azzam memperhatikan seantero mini market yang menyediakan banyak jajanan beraneka ragam di sana. Mulai dari kripik-kripik kemasan, kue, cokelat serta berbagai makanan lainnya juga tersedia banyak di tempat itu.


Fizhan termangu, pria itu hanya membalas ucapan Azzam dengan senyuman. Bagaimana tidak? Bocah gendut itu sangat beruntung karena sampai saat ini masih bisa melihat kedua orangtuanya di rumah. Sedangkan Fizhan? Pria itu hanya bisa mengirim do’a kepada ayah dan ibu tercintanya yang telah lama meninggalkan dunia ini.


Siapa sangka dari keceriaan serta perawakan tangguh Fizhan ternyata dia menyimpan sebuah luka dalam di hati. Ketika orang lain dapat setiap hari melihat senyum sumringai dari sang ayah dan bunda sedangkan dia hanya bisa menggapainya melalui sebuah foto yang tercantel di atas dinding.


Jujur, dia memang sangat merindukan sosok kedua orangtuanya. Ingin sekali rasanya merasakan kasih sayang itu, memberikan mereka hadiah atau segala jenis sesuatu yang dapat membahagiakan keduanya. Namun apalah daya takdir berkata lain yang mau tidak mau dia harus terima semua itu dengan ikhlas dan lapang dada.


“Yang ini saja saran bapak.” Kata Fizhan sambil melayangkan jari telunjuk ke arah sebuah roti sobek berserta selainya yang teronggok di atas rak makanan.


Setelah acara pilih-pilih jajan selesai akhirnya kedua lajang itu pun segera ke meja kasir guna membayar makanan yang telah dibeli barusan. Tempat ini cukup ramai mengingat lapaknya yang juga menyediakan alat-alat rumah tangga yang sangat lengkap.


“Kayanya Kak Irene suka sama Bapak deh.”


Deg!


...***...


Bersambung


Halo semua


Jangan lupa mampir di SUAMI KITA BERSAMA yaaaa


Ceritanya seru bet 😍


Jangan lupa juga buat selalu like, comment, rate 5, tap favorit + votenya juga ya ehehe


Dukungan kalian semangat buat aku :)


Sehat selalu yaaa 🤗


Love Love Love Love Love


Love love love love love

__ADS_1


❤️


__ADS_2