AKU KAU DAN ISLAM

AKU KAU DAN ISLAM
BAB 29


__ADS_3

Setelah menurunkan seorang wanita berkerudung putih dan menerima selembar uang dua ribuan dari si gadis, supir angkot tersebut kembali melaju hingga dalam lima menit berikutnya mini bus tersebut berhenti di sebuah gedung belau yang memiliki gazebo kecil di bagian kanan rumahnya.


“Loh loh loh ternyata mereka memang benar pulang. Ck sial! Tau begini lebih baik aku makan saja di café tadi.” Dara yang sedari tadi mengikuti jejak si angkot pun merasa geram dan merutuki kebodohannya sendiri. Tak seharusnya dia bersuuzon bahkan sampai menggadaikan perutnya sendiri demi membuntuti sepasang insan yang dicurigai memiliki hubungan khusus.


“Terimakasih ya bang.” Ucap Fizhan pada sang sopir yang dijawab oleh anggukan kepala. Pria itu kemudian beranjak dan membuka gerbang yang masih tergembok. Namun belum sempat palang-palang besi itu terbuka sempurna, netranya tak sengaja menangkap sebuah pemandangan seorang gadis berseragam SMA di pojokan jalan dalam posisi memandanginya dari kejauhan. Sontak ia yang melihat hal tersebut pun mengurungkan niat untuk membuka gerbang dan berlari menuju si gadis.


Yang hendak ditemui pun mendadak kalang kabut takkala ia sadar bahwa kehadirannya telah tercium dan diketahui oleh Fizhan. Mampus aku! Batinnya menjerit-jerit.


“Irene.” Teriak sang pria dari jarak lima meter. “Kenapa kamu bisa ada di sini? Bukannya tadi kita ketemu di ca-“


“Oh itu anu. Rasa laparku mendadak hilang jadi kuputuskan untuk pulang saja.” Belum sempat Fizhan menyelesaikan perkataannya Irene telah memotongnya terlebih dahulu. Rautnya berubah kaku bak kanebo kering.


“Kalau begitu apa yang sedang kau lakukan di sini?”


“Ummm a- aku. Aku sedang menunggu temanku. Ah ya sudahlah aku pulang dulu, temanku tidak jadi datang.”


Gadis yang tengah kalang kabut itu langsung menarik gas motornya kemudian melaju sampai benar-benar hilang dari pandangan Fizhan. Orang yang ditinggal pun sebenarnya belum puas dengan jawaban Irene, ia meyakini bahwa wanita itu tidak sedang menunggu temannya di tempat ini.


“Ya sudahlah.” Fizhan bergeming pada dirinya sendiri.


...***...


“Sayang sepertinya aku harus pulang.” Sebuah tangan kokoh mendarat persis di sela-sela jemari Ester. Ia menoleh pada sang empunya tubuh, alis tebal Alan membentuk lurus di sana.


“Kenapa?”


“Temanku memintaku untuk segera menemuinya. Mungkin ia sedang berada dalam masalah.”


“Ah ya sudahlah.”


Senyum Ester berangsur sirna. Padahal ia benar-benar berharap bahwa hari ini adalah hari di mana ia dapat menghabiskan waktu bersama dengan tajuk hatinya itu. Ia telah menyusun segenap kegiatan yang akan mereka lakukan di malam ini mulai dari dinner hingga menonton bioskop bersama. Tapi mau bagaimana lagi? Alan harus membantu temannya yang katanya sedang berada dalam masalah.


“Jangan sedih. Kita masih memiliki banyak hari lain bukan?” Kata Alan yang melihat ada guratan sendu di wajah Ester. Ia menangkupkan kedua tangannya di atas pipi tirus nan mulus milik Ester.


“Aku tidak mengapa. Sekarang pergilah, kasihan temanmu.” Jawab Ester seraya menyunggingkan senyum.


Akhirnya keduanya berpisah di sore hari kala itu. Alan beranjak pergi meninggalkan Ester yang masih membeku di tempat sesaat sebelumnya memberikan tanda kepemilikan di dahi Ester.


“Selamat bertemu kembali sayang.” Alan melambaikan tangan dari kejauhan.


...***...

__ADS_1


Di sisi lain seorang gadis berparas teduh sedang termangu merenungi tindakan bodoh yang ia lakukan beberapa hari lalu. Dia sangat menyesal, andai saja waktu bisa diputar pasti ia akan memilih pulang bersama Fizhan ketimbang temannya yang lain kemarin.


“Hatiku benar-benar tidak tenang.” Fatimah merentangkan tubuhnya di atas ranjang kamar miliknya. “Apa aku harus meminta maaf pada pria itu?”


Sekelebat bayangan raut kekecewaan Fizhan malam lalu berlarian kembali menyesaki isi kepalanya.


“Tapi bagaimana jika dia tidak mau memaafkan aku? Atau bahkan ia telah membenciku saat ini?” Kekhawatiran Fatimah semakin bertambah.


Jujur saja, sejak awal pertama ia bertemu dengan Fizhan gadis itu memang sudah terpikat dengan perangainya yang baik nan sholeh itu. Banyak lelaki yang telah ia temui namun tak satupun yang tata bicaranya selembut Fizhan. Lelaki itu memang sedang tidak mendayukan setiap kalimatnya, hal itu murni memang bawaannya sejak dahulu. Sebab Fatimah sendiri pun pernah melihat ia sedang tersulut emosi namun Fizhan dapat menutupinya dari perkataannya yang lemah dan lembut itu. Luar biasa!


Namun entah mengapa akhir-akhir ini Fatimah sering merasakan sebuah perasaan aneh yang terjadi dengan dirinya terhadap Fizhan. Hatinya begitu terbakar takkala melihat Fizhan berbicara dengan wanita selain dirinya. Tidak hanya pada wanita yang ia temui di lapangan pusat kota kemarin, beberapa waktu lalu gadis itu juga pernah terbakar api dengan salah seorang teman satu komunitas mereka yang kala itu berbincang-bincang ramah dengan Fizhan. Namun berhubung Fizhan bukanlah salah satu tipe lelaki peka, maka Fatimah memendam rasa itu sendiri tanpa diketahui oleh siapapun.


Apa ini yang dinamakan cinta?


“Uh aku sudah tidak tahan. Baiklah, akan kuhubungi saja dia.” Fatimah bangkit dari tidurnya kemudian mengambil benda pipih berwarna hitam yang tergeletak di atas nakas.


Tuuuuut tuuuut tuuuut.


Panggilan tersambung.


“Halo Assalamu’alaikum.”


“Wa- Wa’alaikumussalam.” Jantung Fatimah berdetak tiga kali lebih kencang.


“Ada apa Fat?”


Gadis itu memutar bola matanya ke sana dan ke mari. Deretan kata yang telah tersusun di kepalanya kini berhamburan entah kemana.


“Apa kau sedang sibuk?”


“Tidak. Aku baru saja pulang sekolah. Kenapa?”


“Ummm emhh begini.” Fatimah menggantung ucapannya kemudian menarik napas dalam dan mengeluarkannya perlahan. “Aku ingin meminta maaf.”


“Untuk?”


“Kejadian malam lalu. Sebenarnya aku tidak bermaksud untuk menolak ajakanmu tapi a-“


“Iya aku paham Fat. Mana mungkin ada seorang gadis yang ingin diantar pulang ke rumahnya tanpa menggunakan kendaran.” Fizhan menyela sebelum seseorang di seberang sana selesai bicara. Ou ou ou sepertinya masih ada yang merasa sakit hati.


“Bu- bukan. Bukan begitu maksudku. Ah kau ini!”

__ADS_1


“Lalu bagaimana? Tidak mengapa Fat. Aku paham bahwa itu adalah naluri seorang wanita.”


Lihatlah! Bahkan sedang dalam mode sakit hati saja pun pria itu masih bisa menahan dan menjaga ucapannya dari orang yang menyakiti. Lantas, wanita mana yang tak kagum akan kelemahlembutan dari seorang Fizhan?


“Tidak. Aduh bagaimana ya cara ngomognnya-“


“Sudahlah. Tidak ada yang perlu dimaafkan. Kau tidak salah Fat.”


“Tidak Zhan, aku salah.”


“Ya sudah. Kalau memang menurutmu kau bersalah, maka aku sudah memafkannya.”


Oh ya ampun, mengapa jadi begini?


Bukan ini yang diinginkan Fatimah. Ia hanya ingin bahwa Fizhan tahu penyebab sebenarnya dia berbuat demikian malam itu. Tapi bagaimana cara menyampaikannya? Fatimah bukanlah tipe gadis yang ceplas ceplos dalam berbicara.


“Tapi semua ini bukan karena kendaraan Zhan.”


“Lalu apa?”


“Ummm anu eum itu-“


“Baiklah kita tutup saja ya. Sungguh aku tidak mengapa Fat.” Fizhan berniat mengakhiri percakapan ambigu mereka.


“Eum tunggu! Sebenarnya kemarin aku sangat cemburu dengan gadis itu.”


“APA?”


......***......


Bersambung


Halo readers


CHEVANI ganti judul jadi SUAMI KITA BERSAMA yaaa hihi😁


Jangan lupa mampir loh 😉


Comment, like & vote


Semoga kalian sehat selalu 🤗

__ADS_1


__ADS_2