AKU KAU DAN ISLAM

AKU KAU DAN ISLAM
BAB 35


__ADS_3

“Jadi kau orang yang menabrak dan membuat aku berlumuran darah begini?” Aisyah nyaris emosi. Kemarin si jambang itu memarahi Fizhan hanya karena tidak sengaja tertubruk dan saat ini dia malah menabrak Aisyah sehingga membuat dahinya harus dijahit karena luka dalam.


“Oh sungguh aku tidak tahu jika gadis yang kutabrak adalah kau.” Sam benar-benar dibuat kaget oleh kejadian ini. Andai saja dia tahu siapa korban yang ditabraknya sedari tadi, mungkin selepas membawa Aisyah ke rumah sakit ini dia akan cabut dan meninggalkan uang yang banyak sebagai ganti rugi.


“Kemarin kau memarahi bahkan hampir meninju rekanku hanya karena tubuhmu tak sengaja ditubruknya. Dan sekarang kau benar-benar menabrak aku karena keteledoranmu. Ah! Atau jangan-jangan kau sudah mengincarku dari jauh waktu untuk membasakan dendammu? Sungguh aku tak habis pikir!” Aisyah bercicit panjang kali lebar. Gadis itu memang baik bahkan jika dalam urusan agama dia tak kalah dari santri-santri yang telah mengabdi lama di pesantren. Namun untuk urusan mulut, mau dengan siapa dan apapun topik pembicaraannya, dirinya tak akan berpasrah dan membiarkan argumennya mati begitu saja. Hei! Jangan lupa kalau sejak SMP Aisyah adalah seorang debater hebat.


Sam tak lagi berbicara. Entah kenapa mulutnya mati telak takkala berhadapan dengan wanita ini. Mungkin jika orang lain yang berbicara pasti dia sudah menyanggah apalagi bila ini mutlak menyalahkan dirinya.


...***...


“Yeay sudah selesai.” Irene berdecak kagum dengan apa yang saat ini terlukis di depan matanya. Sebuah kalimat yang dihiasi oleh kembang dan balon-balon lucu telah tercegak dan membuat mata siapapun yang memandang jadi tercuci. Ia menyibak-nyibakkan kedua tangannya, lelah juga jika harus menyelesaikan ini seorang diri.


Setelah semua selesai Irene kembali ke kamar untuk mengambil handphone dan segera memesan makanan untuk menu santapan kepulangan Antonius. Tak lupa pula ia juga menghubungi sahabatnya Ester, karena walau bagaimanapun dara itu adalah orang yang diamanahkan oleh Antonius untuk menjaga dirinya selama tujuh hari belakangan ini. Yaaa walaupun pada akhirnya semua tak berjalan sesuai perintah.


“Halo. Malam nanti silahkan datang ke rumahku ya.” Irene membuka pembicaraannya.


“Untuk?”


“Papaku pulang tapi tolong jangan bilang kalau selama ini aku pulang ga bareng kamu ya Nyuk.” Irene memohon lewat telpon.


“Okay. I will do it.”


Tuuut.


Sambungan terputus. Kini hatinya sudah lega dan dia benar-benar siap untuk menyambut kepulangan Antonius dari Bandung.


...***...


“Assalamu’alikum.”


“Wa’alaikumussalam. Umi, Abi.”


Lama berada di dalam ruangan membuat pria berjambang lebat itu merasa bosan dan akhirnya tertidur di atas sofa di pojokan ruang. Namun indera pendengarannya merasa terganggu kali ini, ia pun menoleh ke ambang pintu dan dilihatnya sepasang manusia paruh baya menyembulkan diri dan masuk ke dalam ruangan.

__ADS_1


“Bagaimana keadaan kamu nak?” Tanya sang wanita yang wajahnya mirip sekali dengan Aisyah.


“Sakit mi.” Yang ditanya pun menjawab seraya memegangi dahinya yang terjahit. “Semua ini gara-gara dia!” Aisyah kembali melanjutkan kata-katanya dan melayangkan jari telunjuk ke arah sudut.


Umi dan Abi Aisyah sontak terkejut. Pasalnya mereka tidak mengetahui bahwa sedari tadi ada seorang pria bertubuh jenjang yang berdiri di pojok ruangan. Lelaki itu seperti orang bisu saja, seharusnya dia bisa berbasa basi untuk menyambut kedatangan kedua orang tua Aisyah kala ini.


“Apa kamu yang menabrak anak saya?” Kali ini lelaki paruh baya yang angkat bicara. Entah kenapa parasnya mengingatkan Sam pada seorang lelaki yang tak sengaja menubruk tubuhnya kemarin siang di café.


“Ma- maafkan saya om. Saya juga tidak sengaja.” Si jambang lebat sok berdalih.


“Tidak abi. Dia tidak becus berkendara dan saat Aisyah menyebrang jalan dia menabrak tubuh Aisyah hingga terpental. Padahal Aisyah sudah melambaikan tangan dan kendaraan lain juga pada minggir semua.”


“Sungguh aku tak melihatmu kala itu.”


“Halah! Bilang saja kau takut pada abi dan umiku.”


“Om dan tante aku berjanji akan mengurus semua biaya administrasi pengobatan anak kalian. Bahkan aku juga akan setiap hari kesini sampai dia benar-benar sembuh. Tenanglah! Aku akan bertanggung jawab.” Sam mendekatkan jaraknya pada orangtua Aisyah. Sungguh dia seperti kutu yang tengah tertekan saat ini.


“Abi! Apa yang abi lakukan? Abi membelanya?” Merasa tidak terima dengan perlakuan ayahnya, Aisyah dengan susah payah membangkitkan tubuhnya dari atas brankar guna menjauhkan tubuh lelaki paruh baya itu dari Sam.


Namun ditengah-tengah usahanya untuk bangkit seorang wanita menahannya dari arah berlawanan sehingga membuat tubuh lunglainya itu kembali jatuh di atas kasur.


“Jangan banyak bergerak sayang.”


Aisyah menatap Sam nanar. Bagaimana mungkin manusia satu itu dapat dengan mudah memperoleh posisi aman setelah menabraknya tadi.


...***...


“Aku memang belum menyerahkan semua milikku pada Sam, namun seluruh tubuhku nyaris berhasil dijamah olehnya hiks hiks.” Seorang wanita merengkuh di sudut ranjang seraya mengusap-usap airmatanya menggunakan tangan.


Lyora. Sudah hampir 60 menit gadis itu berkutat dengan kesenduan yang mendadak menghampirinya dirinya hari ini. Bagaimana tidak? Seorang lelaki yang selama dua bulan ini menemani hari-harinya mendadak berubah setelah pertemuannya dengan wanita bermata hazel itu di belakang sekolah.


Jujur. Di dalam hati Lyora dia memang menerka-nerka bahwa wanita yang dimaksud Sam tadi adalah Irene. Namun dirinya juga tak mampu menuntut pertanyaan lebih, ia khawatir kalau Sam akan bosan jika dia bersikap overprotektif.

__ADS_1


“Bagaimanapun aku harus segera menyingkirkanmu dari Samku gadis jalang!” Lyora mengusap air matanya kasar.


...***...


Di pojok ruangan di atas sebuah sofa dua orang lelaki yang baru saja mengenal satu sama lain itu tampak mengobrol-ngobrol akrab. Entah apa yang sedang mereka bincangkan sedari tadi, yang jelas guratan sumringai terbit menghiasi wajah keduanya.


“Lihatlah Abi! Bisa-bisanya dia menerima dengan tangan terbuka seseorang yang telah menabrak putrinya sendiri.” Aisyah bercicit pada seorang wanita paruh baya yang sedang menunggunya di sebelah brankar. Wajahnya merah bersemu, ingin sekali rasanya ia merobek-robek mulut Sam yang sok jago beretorika itu.


“Tidak ada seorangpun yang menginginkan kejadian buruk menimpa dirinya sayang. Dan kau harus percaya bahwa pria itu tak sengaja melakukannya.”


“Tapi dia sangat ceroboh Mi!”


“Coba pikirkan! Mungkin lelaki itu sedang berada di dalam masalah sehingga membuat ia tidak fokus berkemudi. Lalu apa kita tahu apa yang sedang dipendamnya? Bisa jadi itu menyangkut masalah keluarganya ataupun hal-hal lain yang membuat pikirannya terkecoh.”


Aisyah terdiam. Ada benarnya juga yang dikatakan Uminya itu. Siapa yang tahu jika saat ini Sam memang benar-benar sedang memendam sebuah masalah. Namun bukan masalah keluarga melainkan masalah percintaan yang kala ini membuat isi otaknya menjadi teruk.


“Eum kalau begitu saja permisi dulu Om.” Yang sedang dibatinkan pun angkat bicara. Ia membangkitkan tubuh kemudian mendekatkan jarak pada brankar Aisyah. “Tante saya pulang dulu ya. Hei gadis cerewet! Aku pamit.” Sambungya lagi lalu berbalik badan menuju pintu utama.


Aisyah memperhatikan perawakan pria itu sekilas. Namun betapa terkejutnya ia saat melihat sebuah kalung berbantul salip yang melingkar pada leher Sam yang jenjang itu.


“Ouh ternyata kami berbeda.” Batin Aisyah seraya memutar bola matanya malas.


...***...


Bersambung


Jangan lupa mampir di karya aku SUAMI KITA BERSAMA ya guys


Ceritanya ga kalah seru loh 😍


Like like like


Semoga kalian sehat selalu 🤗

__ADS_1


__ADS_2