AKU KAU DAN ISLAM

AKU KAU DAN ISLAM
BAB 27


__ADS_3

Kecupan bertubi-tubi mendarat di dahi seorang gadis berseragam putih abu-abu tersebut. Sepasang netranya membeliak sempurna kemudian disusul oleh degupan jantung yang tiba-tiba saja melebihi batas normal. Apa ia sedang bermimpi?


Ester menepuk-nepuk pipinya keras, terasa sakit, ternyata gadis itu sedang berada di alam nyata. Berkali-kali gadis itu mengerjapkan mata dan memegangi dadanya yang sesak mendadak.


“Kau kenapa?” Tanya seseorang yang membuat jantungnya nyaris lepas.


Tidak ada jawaban. Ester masih berkutat dengan posisi patung yang barusan ia ciptakan. Huh dasar gadis polos.


Alan membiar kan hal itu terjadi cukup lama. Sembari menunggu kesadaran Ester terkumpul sempurna, ia terus memandangi lekat-lekat wajah kaku tajuk hatinya itu.


“Hmmm kau cantik, tapi bodoh!” Gumam lelaki beralis tebal tersebut dalam hati. Hei bodoh apa yang dia maksud?


Setelah dirasa cukup lama dan kesadaran Ester mulai kembali, Alan langsung menyodorkan sebuah pertanyaan yang membuat gadis itu menjawab malu-malu.


“Apa kau belum pernah berpacaran sebelumnya?”


“A- aku?”


“Iya.”


“Belum.” Ester cengegesan.


Dara ayu itu menenggelam kan kepalanya menatap rerumputan hijau yang mulai bergoyang karena terpaan angin. Sungguh ini adalah kissing love yang belum pernah ia dapatkan dari siapa pun kecuali maminya sendiri.


“God. I’ll never forget this moment.” Ester bergumam dalam hati.


...***...


“Oke semua udah. Tapi mau makan di mana ya? Sepertinya tidak asyik kalau di sini sendiri.” Seorang pelajar berseragam putih abu-abu berkuncir satu tengah menenteng belanjaan di kedua tangannya. Sudah cukup lama ia mengitari mall yang luasnya tak dapat dijangkau dengan hitungan kilat ini, kakinya pegal dan perutnya juga terasa lapar.


“Ah aku tahu harus ke mana.” Katanya seraya menyunggingkan senyuman tipis.


Irene memasukkan seluruh barang-barang yang telah ia beli tadi di dalam bagasi motor. Beruntung wadah yang berada di bawah jok matic tersebut cukup besar sehingga dapat menampung semua belanjaannya hari ini. Gadis itu melesat pergi meninggalkan bangunan megah berdominasi kaca yang berisi barang-barang mewah.


Ia membidik jam yang tersemat di pergelangan tanggannya. Pukul tiga sore, masih ada waktu untuknya memanjakan lidah sebelum pergi ke sebuah tempat yang akhir-akhir ini menjadi kunjungan hariannya.


Motor terus melaju membelah keriuhan Kota Medan pada siang menjelang sore hari ini, hingga sampai lah gadis remaja itu di sebuah café bernuansa klasik yang tak jauh dari Pusat Kota.


...***...


“Aku sangat kesal dengan si jambang tadi. Awas saja kalau sampai bertemu lagi akan kujadikan dia sate tusuk!” Ini adalah menit ke 20 bagi Fizhan untuk mendengarkan dumelan Aisyah tentang seorang pria yang nyaris meninju wajahnya tadi.


“Kejar saja kalau kau mau.”


“Buat apa? Dia juga sudah pulang dan entah kemana huft.”


Setelah insiden menegangkan bersama Sam tadi, mereka kembali melanjutkan acara makannya yang sempat tertunda. Saat ini semua menu yang terhidang telah habis dilahap oleh kedua insan tersebut. Tapi yang paling banyak menghabiskan adalah Aisyah. Gadis itu melahap semuanya dan hanya menyisakan lemon tea dan puding cokelat untuk Fizhan, itu pun ikut Aisyah ikut andil juga untuk melahap puding tersebut.


“Kau sudah bermenit-menit mendumel Syah. Sekarang ayo kita pulang.” Suara pria yang mulai bosan dengan repetan Aisyah terdengar menginterupsi.


“Bilang saja kau sudah jenuh.”

__ADS_1


“Itu kau tahu.” Jawab Fizhan seraya memutar bola matanya malas.


“Ah ya sudah lah mari kita pulang.”


“Sebentar.” Fizhan menuju meja kasir untuk membayar semua pesanan mereka hari ini, setelah itu keduanya beringsut keluar café untuk pulang ke rumah.


Namun sebelum keduanya benar-benar keluar dari ambang pintu, seorang wanita menubruk dada bidang Fizhan dan sontak membuat jantungnya berdebar kencang saat melihat raut mana yang berada di depannya tanpa jarak.


“Irene?”


Keduanya saling membeku di tempat. Mimpi apa mereka tadi malam sehingga bertemu di tempat ini?


Dan perempuan itu?


Ck! Kenapa aku harus bertemu denganmu saat bersama dia? Irene merutuki kejadian ini.


“Kau di sini juga?” Fizhan kembali berseru setelah berhasil menjauhkan jarak dari gadis yang menubruk tubuhnya tadi.


“A- aku baru sa- sampai.” Jawab Irene terbata.


“Sepertinya aku pernah melihatmu.” Kali ini Aisyah yang berbicara. Sedari tadi ia memicingkan matanya untuk mengingat-ingat peristiwa mana yang menghantarkannya untuk bertemu gadis bermata hazel itu.


“Dia adalah gadis yang pernah terbaring di kamarku karena kecelakaan dan dia juga gadis yang beberapa hari lalu berpapasan dengan kita di depan sekolah.” Fizhan menyela.


“Ah iya. Aku sudah dari tadi mencoba mengingatnya. Kau Irene kan?”


Dasar Aisyah! Sudah jelas-jelas Fizhan menyebut nama gadis itu saat tubuh mereka bertubrukan tadi. Jadi, mengapa harus ditanya ulang?


“Aisyah adalah gadis ayu dan sangat sejuk bila dipandang mata. Lelaki mana yang tak tergoda bila melihat sosoknya? Huh aku jadi minder.” Irene bergeming dalam hati.


“Kalau begitu kami duluan ya Re.” Kata Fizhan lalu beringsut keluar bersama Aisyah.


Hati orang yang ditinggal pun merasa tercabik. Sekelebat bayang-bayang wajah Fizhan dan Aisyah berseliweran di dalam otaknya.


Bagaimana jika setelah ini mereka akan pergi ke suatu tempat lalu berpacaran di sana?


Bagaimana jika Fizhan mencumbu Aisyah?


Bagaimana jika mereka berdua menikmati masa-masa itu?


Bagaimana?


Bagaimana?


Bagaimana?


“Aaaaaaaa ini tidak boleh terjadi!” Irene sontak menjerit dalam hati membayangkan peristiwa yang sebenarnya tidak terjadi. Nafsu makannya hilang total, ia keluar dari pintu café kemudian mencari keberadaan dua anak manusia yang membuatnya terbakar api.


“Aku harus ikuti kemana pun kalian pergi!” Kata Irene seraya menilik-nilik setiap orang yang berada di jalanan.


Pandangannya terus melayang hingga pada akhirnya ia menangkap dua orang anak SMA sedang berdiri anteng di tepi trotoar.

__ADS_1


Irene memperhatikan keduanya. Awalnya gadis itu mengira bahwa Aisyah dan Fizhan akan menyebrang jalan namun ketika sebuah angkutan umum berkelir kuning lewat, Irene dapat melihat dengan jelas bahwa keduanya masuk ke dalam dan menuju ke arah yang belum ia ketahui.


Irene membuntut dari belakang.


...***...


Drrrt drrrt.


Drrt drrrt.


Getaran panjang ponsel tersebut membuat sepasang insan yang sedang memadu kasih merasa itu terganggu. Siapa sih yang menelpon sore-sore begini? Batin sang wanita dalam hati.


“Sebentar ya Ester sayang aku angkat telpon dulu.” Alan menjauh kemudian menekan icon hijau pada benda pipih yang tergenggam di tangannya.


“Bagaimana?” Suara seorang lelaki terdengar dari seberang sana.


“Oh targetmu ini sangat mudah untuk dibodohi.” Alan menjawab.


“Apa saja yang sudah kalian lakukan?”


“Tidak ada. Aku hanya menyuguhinya dengan rayuan manis.”


“Apa dia tergoda?”


“Ya.”


“Bagus. Kau sangat cerdik kawan.”


“Tapi aku butuh pelicin untuk melangsungkan rencana ini.”


“Dasar otak picik! Baik lah akan kukirim sebentar lagi.”


“Kutunggu.”


Tuuuuuut.


“Rencana apa?” Suara seorang wanita terdengar jelas dari arah belakang.


Mampus aku.


...***...


Bersambung


Sebenarnya siapa sih yang selalu menelpon Alan?


Ada yang bisa jawab? Ehehe


Ikuti terus alurnya ya 😉


Jangan lupa like, vote & comment

__ADS_1


Semoga kalian sehat selalu 🤗


__ADS_2