
Air mata Ester sudah merebak di pelupuk, ketika mengingat kejadian di mana ia disuguhi dengan air mineral yang ternyata diberi obat bius di dalamnya. Memori buruk masa itu berkumpul kembali kala ini, dadanya terasa ingin meledak oleh kekejian dan kelicikan Alan.
Berulang kali menelan tangis, tangan Ester mengusap kasar wajahnya yang sudah banjir dengan buliran air asin. Keterlaluan! Setelah menghela napas panjang guna mengisi kembali paru-parunya, Ester meraih kedua bahu Alan kemudian langsung mencengkramnya kuat-kuat.
“Aku belum bisa memaafkanmu, namun aku mengizinkan kau bertanggung jawab atas diriku,” ucap Ester pada akhirnya.
Seketika jantungnya mencelos dari tempat. Hatinya kini diliputi oleh kekesalan tingkat akut dengan seorang pria yang tengah menatapnya dalam senyuman.
“Aku berjanji. Terima kasih sayang,” Alan mencoba tetap bersikap manis supaya Ester tak lagi meluapkan amukannya. Di sisi lain, ingin sekali rasanya ia jingkrak-jingkrakan sambil mengayunkan lengan ke udara bebas atas keberhasilannya merebut hati Ester kembali. Bagaimana tidak? Sebentar lagi misi yang dibebankan oleh Sam kepadanya akan berhasil.
...***...
Seorang gadis berambut pirang tengah mengelus dada, menyabarkan diri. Kalau saja ia tak melakukan teror bodoh itu, pastilah kekasihnya tak akan berbuat sedemikian rupa. Lyora bingung, apakah hubungannya benar-benar kandas, atau memang Samuel yang hanya akan marah selama beberapa saat. Ia juga harus menabung banyak kepedihan atas kebenaran yang baru saja ia terima. Sam adalah mantan kekasih Irene, dan sampai detik ini pria berjambang hitam itu masih benar-benar mencintai sang bekas tajuk hati. Meski di Kota ini masih banyak lelaki yang jauh lebih sempurna ketimbang Sam, tapi sejatinya hati tak mampu untuk berbohong. Samuel tetap yang terindah, dan selama akan selalu begitu.
“Apa aku harus bertemu dengan Irene untuk menceritakan semuanya ya?” tersiksa lahir batin itu sudah pasti. Tapi yang terpenting saat ini adalah merebut lagi perhatian Sam agar cinta mereka dapat bersatu kembali. Salah satu alasan kenapa ia sebertahan ini adalah karena permainan ranjang yang telah menjadi budaya di antara keduanya. Harta sucinya memang belum terenggut, namun sama saja. Mereka sudah sama-sama tahu isi luar dalam.
Dengan dibantu Delia yang berstatus sebagai teman sekolah Irene, Lyora dapat dengan cepat memperoleh nomor hp wanita bermata hazel itu. Tidak ada amarah kali ini. Lyora juga tidak gegabah, karena kelembutan akan menang jika dibarengi dengan kelembutan juga.
“Halo,” suara lembut khas gadis remaja terdengar dari seberang sana.
“Aku Lyora kekasih Samuel. Apa bisa kita bertemu sekarang juga? Oh baik, sekarang share padaku di mana lokasi rumahmu,”
Belum sempat Irene menjawab, sambungan ponselnya sudah terputus secara sepihak. Ia mengkerutkan dahi, kemudian langsung melakukan apa yang baru saja Lyora minta. Siapa tahu memang ada yang penting, pikirnya.
Dua puluh lima menit berlalu, Irene yang masih senantiasa digelayuti dengan kepedihan terus menyesap teh hangat buatannya di beranda rumah. Antonius sudah terlelap jauh, biasanya pasti pria itu yang menjadi peneman di kala malam.
Brrrm brrrrm.
Sebuah kendaraan beroda empat tampak muncul dari arah depan. Irene berdiri, menyaksikan sosok mana yang ingin bertamu ke rumahnya malam-malam buta begini.
“Hai Irene, aku Lyora. Maaf kalau telah mengganggu waktu tidurmu,” Gadis berambut pirang itu melayangkan senyuman manis. Namun di sisi lain, ingin sekali rasanya ia menjambak rambut wanita yang sudah berhasil membuat hubungannya dengan sang kekasih kandas total.
__ADS_1
“Ada apa ya?” Irene menyela cepat.
“Kekasihku Samuel masih sangat mencintaimu sebagai mantan kekasihnya. Ah, aku bahkan sudah berulang kali melakukan hubungan terlarang dengan priaku itu. Aku mohon, tolong kembalikan dia seutuhnya kepadaku Re,”
Kembalikan katanya? Demi Tuhan, kekesalan Irene rasanya mulai tersulut. Dalam beberapa bulan ini lelaki bertubuh tegap itu sama sekali tak pernah muncul di hadapannya. Bagaimana mungkin ia dapat kembali terjerat hubungan asmara?
“Maaf, saya tidak mengerti maksud anda,” Kalau bukan karena menghargai Lyora yang sudah membela untuk datang malam-malam begini, Irene tidak akan mungkin tetap meneruskan obrolan mereka.
“Oh baiklah. Jadi begini, aku selalu berusaha untuk menjauhkan kalian berdua. Namun tampaknya kekasihku Sam tidak menyukai akan hal itu. Dia marah, dan menyebut-nyebut namamu di depanku,” Lyora mustahil untuk memberitahu soal peneroran itu. Bisa tebal mukanya kalau sampai cara murahan itu diketahui oleh Irene.
“Lalu aku harus bagaimana?”
“Aku mohon. Tolong sampaikan pada Sam bahwa kau sama sekali tidak mencintainya, dan biarkan kami hidup bahagia,”
“Pertama, aku memang tidak pernah mencintai kekasihmu itu barang sedikit pun. Kedua, sebenarnya aku juga tidak ingin menolongmu. Tapi berhubung aku juga tak ingin Sam akan mengangguku di kemudian hari, maka aku akan melakukannya. Tapi ingat! Ini demi diriku sendiri, bukan demi seorang wanita yang sama sekali tidak kukenal,” Jawab Irene pada akhirnya. Ia merasa percuma mendebat Lyora. Bisa panjang urusannya.
“Terserah kau saja. Kutunggu kabar kembalinya Sam padaku, permisi,” Lyora menghela napas lega. Kaki jenjangnya ia langkahkan kembali menuju mobil. Di sana, Irene menatapnya sambil mesem-mesem kecut. Tidak peduli dengan apa yang bersarang di dalam kepala gadis hazel itu, yang penting Sam dapat kembali.
...***...
Bugh!
Dus besar ia jatuhkan tepat di depan pintu rumah Fizhan.
Sang empunya gedung yang terkesiap akan suara banter itu, langsung menarik knock pintu dan mendapati seorang wanita berkerudung kelir gelap tengah tercegak menatapnya dalam-dalam.
“Irene? Kenapa cepat sekali? Itu apa?” Sederet pertanyaan terlontar dari bibirnya yang merah tanpa pewarna.
Sementara Irene, gadis itu terus menatap Fizhan tanpa kedip. Pria itu jadi kikuk, ia melambai-lambaikan telapak tangannya tepat di depan wajah Irene.
“Aku menyerah,” jilbab indah itu membingkai wajah ayu yang mulai dijatuhi oleh air mata. Irene sudah tak tahan. Ini adalah hari terakhir baginya untuk melihat sosok tambatan hati.
__ADS_1
“Hei, kenapa kau menangis?”
Di depan sana, tampak kendaraan berlalu lalang memadeti jalanan. Fizhan mengambil langkah dan langsung mengkode agar Irene segera mengikut.
Para burung sedang berbisik-bisik di atas pohon. Dua insan itu telah mendaratkan bokong di atas gazebo tempat biasa mereka menimba ilmu.
“Ceritakan padaku apa yang sebenarnya sedang terjadi,” Suara Fizhan membuyarkan lamunan Irene.
Gadis itu bangkit dari duduknya kemudian langsung menyeka air mata yang nyaris memenuhi kawasan pipi. Diiringi warna hitam yang bergelayut di kaki langit, Irene mengambil napas guna memulai pembicaraan.
“Entah tangan mana yang membawaku pada kisah sialan ini. Aku mencintaimu sedalam rasa cintaku dengan pria yang telah membesarkanku selama ini. Kau berhasil merebut perhatianku melalui deretan huruf hijaiyah itu. Kau juga berhasil menjatuhkan hatiku hingga tersungkur ke dasar jurang,” ucapan Irene seketika membuat Fizhan terkesiap dan langsung mengerti apa maksudnya.
“Kau mencintaiku?” tanyanya tanpa rasa malu. Wow pd sekali. Tapi memang benar begitu adanya.
“Iya! Aku mencintaimu, bahkan teramat sangat. Tapi sayang seribu sayang, aku tertipu dengan sejuknya rautmu. Aku terkelabui dengan manisnya sikapmu. Aku benci! Aku cemburu! Kau selalu melarangku untuk dekat denganmu karena alasan bukan mahram. Lalu yang kemarin-kemarin itu apa? Kau selalu pergi berdua dengan Aisyah, kau menjawil pipinya sewaktu di rumah sakit, bahkan kau berfoto ria bersamanya di pantai kemarin. Aku terluka Zhan, aku terluka! Apa kau tak pernah merasa bahwa selama ini hatiku telah jatuh untukmu?” Sekarang malah lebih gila. Irene menunjuk-nunjuk wajah Fizhan yang masih senantiasa menatap wajahnya dari arah bawah.
Aneh. Pria itu malah mesem-mesem sendiri seraya mengerjapkan mata.
“Jadi kau telah cemburu dengan adik kandungku sendiri ya?”
“Apa! Adik kandungmu?”
...***...
Bersambung
UWOOOW TERNYATA ADIK KANDUNG ASTAGA 🤣
Pantesan~
LIKE & COMMENT yup
__ADS_1
Jangan jadi pembaca gelap 😋