AKU KAU DAN ISLAM

AKU KAU DAN ISLAM
BAB 25


__ADS_3

“A- apa?” Ester membeliak tak percaya. Napasnya berderu kencang, tubuhnya bergetar seakan ada sesuatu tak kasat mata yang menggunjangnya dari arah berlawanan.


“Aku belum pernah menemui gadis sebaik dan secantik dirimu kecuali di hari ini Ester.” Suara lelaki itu kembali menginterupsi membuat nyawa Ester serasa ingin mencelos dari tempatnya.


“Jangan bercanda. Bahkan kita pun baru kenal beberapa jam yang lalu.”


“Apa wajahku ini terlihat sedang bercanda hah?” Alan menarik tangan Ester kemudian menangkupkannya pada area wajah.


Ester merasakan sesuatu yang tak biasa. Ada aliran hangat yang tak pernah ia dapatkan ketika menyentuh bahkan memeluk tubuh sahabatnya sendiri, Irene. Entahlah, rasanya sangat lain dengan Alan. Tanda apa ini? Ester bergeming di dalam hati.


“Bagaimana nona manis? Kau mau bukan?” Alan semakin mempererat rengkuhan tangannya pada Ester.


“I- iya aku ma- mau.” Wow! Kalimat itu mencelos begitu saja dari bibir Ester. Secepat kilat ia menutup mulutnya sendiri dengan kedua telapak tangan kemudian berangsur memundurkan langkahnya guna meredam rasa gugup. Bertahun-tahun gadis itu setelah melewati masa pubertas hidup tanpa seorang pasangan dan di hari ini ia merasakan apa yang dirasa oleh teman-teman sebayanya di luaran sana. Alan, ia resmi menjadi kekasih Alan.


Ester terdiam seribu bahasa, ia tak berkutik hingga dalam detik berikutnya gadis itu pamit keluar pada Alan dan segera menuju warung nasi yang letaknya tak jauh dari rumah sakit ini.


Oh jadi ini penyebab dia berbagi makanan pada orang-orang di jalanan siang tadi.


Di atas brankar Alan merasa puas dengan rayuannya seraya menyunggingkan senyuman tipis.


...***...


Gadis yang sedang mabuk kepayang itu menceritakan detik demi detik kejadian yang dialaminya tadi siang di rumah sakit. Irene yang mendengarkannya pun seakan mematung di tempat, dara itu merasa ada yang tidak beres dengan perkenalan Ester dengan pacar barunya itu. Hei mana ada cinta yang tumbuh secepat kilat!


“Apa kalian sudah berkenalan? Apa kau tahu di mana rumahnya? Sekolahnya? Keluarganya?” Irene berbicara bak wartawan.


“Aku sudah mengetahuinya kecuali rumah dan keluarganya. Kami juga sudah bertukar nomor dan baru saja ia mengirim pesan kalau dia akan segera membawa aku ke rumahnya.” Ester menjelaskan dengan wajah penuh rona.


Irene tak berkutat. Banyak sekelebat tanda tanya yang berkeliaran di dalam isi otaknya. Ester adalah gadis polos apabila hal tersebut berkaitan dengan cinta. Ah yang benar saja! Bahkan jika benar semua cerita yang baru dia utarakan, ini adalah kali pertama seorang Ester mengenal laki-laki.


Tidak! Irene tak mudah mempercayai semua ini begitu saja.

__ADS_1


Dia bertekad akan mengorek habis motif lelaki itu mendekati sahabat karibnya.


...***...


“Emmmph.” Irene membangkitkan tubuh dengan enggan. Rasa kantuk yang begitu amat masih bersarang dalam dirinya pagi ini. Tadi malam Ester bertandang ke rumahnya sampai pukul dua dini hari.


Dara itu mengedarkan pandangan ke sekeliling dan menangkap sebuah kalender kecil yang tanggalnya ia bulati dengan sebuah spidol. Irene kemudian meraih benda kecil berbentuk persegi tersebut untuk memastikan peristiwa apa yang ia tandai di tanggal itu.


15 April, kepulangan papa dari Bandung.


“Wow! Daddy.” Irene melompat kegirangan sesaat setelah menerawang huruf-huruf kecil yang ia lukiskan di atas tanggal tersebut. Hari ini tanggal 14 April dan itu tandanya Antonius akan pulang esok hari. Ah baru seminggu saja rasanya sudah seperti setahun, dia sangat merindukan papanya itu.


Irene bergegas beranjak ke kamar kecil untuk membersihkan diri setelah itu dia mengambil beberapa potong roti dan selai yang berada di dalam kulkas. Tak butuh waktu lama roti itu sukses mandarat di lambung balonnya dan ia pun segera menuju ke sekolah bersama matic kesayangannya.


Pagi ini sang surya kembali menampakkan diri dengan terik seakan mewakili hati gadis yang tengah berbunga-bunga itu. Irene menarik tali gas motornya sampai habis lalu menyelinap dari sela-sela tubuh mobil yang sedang berseliweran. Ya ampun sepertinya akan ada pembalap dadakan lagi.


...***...


“Selamat pagi Re.” Suara seorang wanita membuat Irene sukses menoleh dari tatapan khusyuknya. Ia terperangah saat mengetahui siapa orang pertama yang menyapanya pagi ini di sekolah.


“Kalau aku perhatiin akhir-akhir ini kamu udah jarang banget buat onar ya Re.”


“Maksud kamu?” Alis Irene saling tertaut.


“Iya, kamu selalu datang tepat waktu bahkan kamu juga tidak pernah lagi merusak fasilitas sekolah.”


“Oh hahaha kukira apa.” Gadis yang sedang diumbang oleh teman sekelasnya itu tertawa jumawa. Benar juga kata Dela, bahkan Irene juga lupa kapan terakhir kali ia dipanggil guru BK karena membuat kesalahan. Hei mengapa dia mendadak menjadi anak baik?


Kemudian Irene berlalu begitu saja meninggalkan Dela yang kelihatannya masih ingin berbicara lebih banyak lagi. Ia ingat kalau hari ini akan ada pengumuman untuk Ujian Nasioanal yang sebentar lagi akan dilaksanakan dan ia tak akan mau ketinggalan informasi untuk hal itu.


Entahlah. Sebenarnya ia juga sudah menyadari lama tentang kepribadiannya yang mulai berangsur membaik. Akhir-akhir ini gadis itu tak pernah lagi menyembulkan diri ke dalam bar apalagi sampai meminum cairan karamel yang dulunya sering membuat ia tumbang. Tidak hanya itu, mulai dari tidak pernah terlambat untuk datang ke sekolah hingga hal sepele seperti melawan guru pun benar-benar absen ia lakukan.

__ADS_1


Entah malaikat mana yang berhasil merasuki dirinya dan membuat gadis itu menjadi lebih baik seperti saat sekarang ini. Yang jelas ia tahu betul perubahannya itu dimulai sejak ia mengenal sosok lelaki yang sudah resmi menjadi guru mengajinya. Yaaah walaupun semua itu sangat bertentangan dengan ajarannya. Dia juga tidak tahu bagimana akhir ceritanya nanti, yang terpenting baginya saat ini adalah mengorek sosok Fizhan sampai ke akar.


“Morning sugar.” Wanita berambut panjang bersama senyum mengembang menyambut kedatangan Irene takkala ia telah menjejakkan kaki di permukaan lantai kelas. Siapa lagi kalau bukan Ester, huhft gadis itu kembali bersekolah setelah peristiwa bucin yang menimpanya.


“Sekolah juga akhirnya.” Sindir Irene seraya meletakkan tasnya di laci meja.


“Ehehehe. Apa kau merindukanku?”


“BIG NO!”


“Ah! Aku tak perduli. Kemarilah.” Ester menarik lengan baju Irene kemudian mendekatkan bibirnya pada telinga wanita berkuncir satu itu. “Kau tahu tidak kalau Fatimah baru saja menangis tersedu-sedu di kelas ini?”


“Ohya?” Irene sontak membulatkan mata ketika mendengar nama Fatimah dari bibir Ester. Sekelebat bayang-bayang kejadian dua hari lalu kembali berlarian dalam otaknya.


“Aku adalah orang kedua setelah Fatimah yang menginjakkan kaki di kelas ini dan pada saat aku masuk aku mendapati Fatimah tengah tersedu-sedu di pojok sana.” Jelas Ester lalu membuang jari telunjuknya membidik meja Fatimah.


“Apa kau tahu penyebab dia menangis?”


“Tidak. Tapi tadi aku sempat mendengar bahwa ia menyebut-nyebut nama seorang lelaki.”


“Siapa nama lelaki itu?”


“Fizhan.”


YA TUHAN!


...***...


Bersambung


Comment, like & vote guys

__ADS_1


Dan jangan lupa baca cerita CHEVANI ya 😍


Sehat selalu 🤗


__ADS_2