
Sering melihat Aisyah katanya? Apa Irene sedang tidak salah dengar? Aisyah sering di rumah ini? Hei ada apa sebenarnya antara Fizhan dan perempuan kerudung panjang itu? Irene benar-benar kaget bukan main.
Hati Irene sakit, sangat sakit. Ternyata benar dugaannya bahwa selama ini Fizhan dan Aisyah adalah sepasang kekasih. Buktinya saja dari awal pertemuan mereka, Irene selalu mendapati perubahan sikap antara yang lelaki itu berikan padanya dan pada Aisyah. Jika dengan Irene Fizhan bersikap seolah acuh tak acuh namun jika pada wanita si kerudung lebar itu Fizhan sangat akrab bahkan acap kali mereka berduaan di suatu tempat. Bukannya Fizhan mengatakan bahwa tidak boleh berdua-duaan jika bukan mahram? Batin Irene dalam hati. Ah tapi saat ini mereka pun tengah berduaan, sudahlah otak Irene terasa sangat sesak. Gadis itu memutuskan untuk diam dan memendam semua kesalnya di dalam dada.
"Ada apa?” Fizhan kembali bersuara setelah menemukan rona merah yang bersemu di wajah Irene. Ya sebenarnya dia juga tidak tahu itu pertanda apa, dia hanya bertanya agar keheningan tak menghantui mereka berdua di sini.
“A- aku? Tidak apa-apa.” Jawab Irene bersama seulas senyum yang terbit di wajahnya. Entahlah, sebenarnya dia juga tidak tahu alasan pasti penyebab kenapa hatinya serasa mencelos manakala mendapati Fizhan berhubungan dengan wanita lain. Jangankan memiliki hubungan khusus, melihat lelaki itu ngobrol akrab dengan seorang wanita saja pun ia tidak suka. Seperti ada yang ingin lolos dari dalam dadanya. Kenapa? Pertanda apa ini?
“Sial!” Gerutu Irene dalam hati.
“Jadi bagaimana Re bisa kita mulai sekarang?” Tanya Fizhan yang kemudian melenggang pergi ke arah almari kecil berisi buku-buku berbeda ukuran.
...***...
Fuhhh.
Hembusan asap rokok yang keluar dari mulut seorang lelaki berewok memenuhi ruangan kecil tersebut. Bibirnya tersungging tipis dan satu tangannya memegang benda pipih berwarna hitam.
“Halo, bagaimana?” Cicitnya dengan sosok dari balik bende gepeng tersebut.
“Wanita itu sangat polos dan mudah untuk dibodohi. Semua berjalan lancar Sam.”
Ouh ternyata itu adalah Sam si jambang lebat.
Sedang bicara dengan siapa dia?
“Good job! Aku akan menambah bayaranmu jika misi ini berhasil.”
“Kau harus membayar biaya pengobatanku buaya! Sungguh tanganku rasanya sakit sekali.”
“Huh lemah sekali kau jadi lelaki. Oke kirim rekeningnya sekarang.”
Dor dor dor.
“Asole! Siapa itu!”
Tuuuuut.
Sam memutuskan sambungan secara sepihak. Ia beranjak ke sumber suara untuk melihat siapa yang sudah merusak moodnya yang tadinya bagus.
Ceklek.
__ADS_1
Bugh.
Sebuah pelukan hangat mendarat pada tubuhnya yang tegap dan jenjang. Ia dapat melihat seorang wanita berdress merah sedang mendekapnya dari arah depan, hangat dan semakin hangat. Hingga dalam detik berikutnya ada sesuatu yang terasa tercegak pada bagian bawahnya.
“Kenapa kau lama sekali di toilet ini sayang?” Suara si wanita terdengar parau, sepertinya dia habis menangis.
“Sejak kapan kau berada di sini?”
“Aku mengikutimu ke café ini namun setelah kau pergi ke toilet dan tak keluar-keluar aku jadi penasaran. Kukira ada sesuatu yang terjadi denganmu. Kau tidak apa-apa kan honey?” Perempuan berambut sebahu itu menelisik dari ujung kaki hingga ujung rambut Sam. Netranya berkaca-kaca, raut khawatir juga terlukis di parasnya yang cantik.
“Untuk apa kau mengikutiku?”
“Sini.” Wanita itu kemudian menarik lengan Sam dan membawanya pada salah satu meja café tempat ia bersidekap sedari tadi. Setelah bokong keduanya telah mendarat mulus pada permukaan bangku, barulah si wanita tersebut memulai kembali percakapan di antara mereka.
“Siapa wanita yang kau temui di belakang tembok sekolah kemarin?”
Mendengar pertanyaan yang baru dilontarkan oleh dara itu, Sam kemudian tampak berpikir senelum akhirnya ia menjawab pertanyaan dari perempuan itu.
“Bukan siapa-siapa. Kalau kau menemuiku hanya untuk bertanya hal yang tidak penting seperti ini maka akan lebih baik jika kau pulang saja.”
“Kau mengusirku?”
“Tidak. Aku hanya tidak suka bila ada seseorang yang mengusik hal-hal pribadiku.”
WHAT!
Jadi perempuan itu pacar Sam?
Lalu mengapa si jambang lebat itu masih mati-matian mengejar Irene? Gila!
“Ck sial!” Sam menggerutu kesal yang masih dapat terdengar oleh gadis berdress merah itu.
“Aku tak akan bersikap seperti ini jika kau tak menyembukan itu dariku. Oh ayolah sayang jelaskan padaku.”
“Dia teman kecilku.” Jawab Sam pada akhirnya.
“Teman kecil? Lalu mengapa perlakuanmu padanya sangat aneh? Kau seolah sedang mengemis perhataian padanya kemarin.”
“Tidak ada yang aneh. Lyora sekarang kau pulanglah!”
Lyora. Wanita bertubuh jenjang dan berparas cantik itu bernama Lyora.
__ADS_1
Lyora adalah seseorang yang memergoki Sam dan Irene di belakang kantin sekolah beberapa hari lalu. Kecurigaannya terhadap pasangannya ini membuat ia ketar ketir dan berusaha untuk menguak informasi lebih dalam lagi.
Beberapa hari lalu setelah kejadian itu Lyora menyebarkan foto seorang gadis bermata hazel yang sempat ia ambil dan disimpan dalam galeri. Tujuannya untuk menyebarkan foto itu hanya satu, yaitu agar dia dapat mengetahui dengan jelas dari kelas dan jurusan apa wanita yang sedang bersama kekasihnya itu berasal. Beruntungnya baik Irene mau pun Sam tidak ada yang melihat suwaktu postingan itu diunggah karena Lyora langsung menghapusnya sesaat setelah mendapat jawaban dari salah satu temannya.
Tak butuh waktu lama akhirnya Lyora mendapat info bahwa perempuan bertubuh mungil dan hidung runcing itu bernama Irene Natalia dari kelas XII IPA II. Keberuntungan masih berpihak di tangan, Lyora memiliki seorang teman dekat bernama Dela yang ternyata satu kelas dengan gadis yang menjadi objek kecemburuannya.
Dela yang sebelumnya jarang berbalas kata dengan Irene kini berangsur mendekat demi mengorek informasi tentang hubungan gadis itu dengan Sam. Huft pantas saja suwaktu di kelas kemarin Dela sok akrab bahkan sampai menemani Irene yang seorang diri termenung di mejanya. Ada udang di balik bakwan ternyata, ups maksudnya di balik batu.
Lyora berdecak sebal. Pacarnya itu selalu bersikap hangat saban harinya terkecuali hari ini. Kecurigaannya tentang Irene kian bertambah, ia dapat dengan jelas menonton raut wajah Sam yang tidak suka saat dirinya menanyakan hal seperti ini.
“Sepertinya ada yang harus diberi pelajaran!” Lyora berdesis lirih kemudian pergi meninggalkan Sam yang keukeuh membeku di tempat itu.
...***...
“I-iya silahkan.” Jawab Irene terbata pada seseorang yang sedang berhadapan dengan dirinya.
Fizhan mengambil dua buah benda tebal persegi dari dalam almari kecil lalu meletakkannya di atas sebuah rekal.
“Sekarang lihat ke sini.” Katanya seraya memberi kode untuk melayangkan netra ke arah bawah.
“Ini namanya Iqra dan ini.” Fizhan menunjuk buku besar yang satunya lagi. “Ini namanya Al-qur’an. Kamu sudah tahu bukan?”
“Ou jadi ini yang namanya Al-qur’an. Ah iya aku ingat betul Fatimah sering membawa benda itu ke kelas.” Gumam Irene di dalam hati.
“Iya aku tahu. Tapi tidak dengan yang ini.” Kata Irene seraya menunjuk buku yang lebih kecil.
“Sebelum kamu bisa membaca Al-qur’an terlebih dahulu kamu harus belajar melalui buku Iqro’ Re. Kalau begitu yang ini kita simpan dulu ya.” Fizhan beringsut kemudian menyimpan kembali Al-qur’an tersebut ke dalam tempat semula.
Pendar-pendar sang surya mulai menyeringai menembus awan tebal yang bergelantungan di kaki langit. Cuaca sangat cerah seolah mewakili hati seorang anak Adam yang sedang belajar mengaji tersebut.
Fizhan mengajarinya dengan telaten, antara satu huruf ke huruf lain ia sebutkan yang kemudian diikuti oleh Irene. Gadis yang pada dasarnya memamg pintar itu dapat dengan cepat menangkap apa-apa yang diajarkan Fizhan sore hari ini.
Sekarang ia dapat mengetahui dengan jelas bahwa bila huruf tegak seperti angka satu itu bernama Alif, huruf yang bentuknya seperti perahu dengan titik satu di bawahnya bernama Ba dan huruf yang bentuknya sama perahu juga namun bertitik tiga di bagian atas namanya adalah tsa. Luar biasa.
......***......
Bersambung
Comment, like & vote guys
Dukungan kalian semangat buat aku:)
__ADS_1
Ohiya jangan lupa mampir ke karya aku CHEVANI ya, ceritanya seru bet 😍
Semoga kalian sehat selalu 🤗