
Sayangnya kebahagiaan yang nyaris membuncah di hati Irene harus pupus karena kehadiran Aisyah di tengah-tengah keduanya. Fizhan beranjak, menghilangkan jarak di antara dirinya dan gadis berkerudung lebar itu.
“Tolong ambilkan gambarnya ya Irene.” Seru Aisyah lalu menyerahkan sebuah benda pipih kepada gadis yang dadanya mulai terasa sebah.
Pemandangan itu seperti belati yang sukses menghunus jantungnya berkali-kali. Irene sakit, Fizhan dan Aisyah saling mengkaitkan tangan pada bahu masing-masing dan siap untuk difoto.
Katanya kalau bukan mahram tak boleh dekat-dekatan.
Dia juga selalu enggan meniadakan jarak dengan Irene.
Lalu ini apa?
Mereka berdua tak ubahnya sepasang kekasih yang sedang memadu kisah di atas titi beralaskan biru lautan.
Satu gambar, dua gambar, lima gambar. Mereka masih berpose ria dengan gaya yang senantiasa berubah-ubah. Tak ada jarak, tak ada penghalang sebagai pembatas. Senyum manis juga tak pernah pudar di wajah keduanya takkala kegiatan potret memotret tengah berlangsung.
“Terima kasih ya Irene,” ucap Aisyah penuh antusias.
Irene bungkam, tak menjawab perkataan wanita sebayanya itu barusan.
Suasana di sini terbilang cukup ramai mengingat tempatnya yang indah dan memiliki banyak pernak-pernik tertancap di hamparan pasir. Gerombolan balita kecil, menjerit sambil berlarian di penjuru bibir pantai.
Irene menarik napas dalam. Satu kesakitan kembali timbul di hatinya saat ini. Sekarang ia hanya bisa melihat dua insan yang tengah bersuka ria itu dari dalam pondok kecil di bawah pohon.
Biarlah dia yang merasa, dan biar pula dia lah yang memendam cinta dalam diam. Misi untuk menjawab rasa penasarannya terhadap Fizhan beralih menjadi sebuah perasaan asing yang menjerat hatinya habis-habisan. Terlebih lagi dengan segala macam bentuk ajaran yang telah pria itu berikan padanya, kian menambah kecintaannya terhadap Islam.
__ADS_1
Entahlah, entah bagaimana akhirnya nanti.
...***...
“Tiga hari lagi kita akan meninggalkan rumah ini Re,” ucap Antonius pada putrinya yang tengah termangu di atas sofa.
Tak lama sepasang netra sang gadis menuju ke arah pintu yang ternganga. Di mana dulunya ia sering menyambut kedatangan teman kecilnya lalu saling mengeratkan pelukan. Ah, ini memang pilihan sulit, karena pada dasarnya ada banyak cerita yang sangat sukar untuk ditinggalkan.
“Terserah Papa saja,” balas Irene kemudian berlalu ke dalam kamar.
Dulu, mendengar kabar seperti ini saja sudah membuat pikiran Irene tidak karuan. Lain dengan sekarang setelah kejadian menyayat hati di hari ini. Ia berubah pikiran, mungkin meninggalkan Kota ini dan segala kenangannya adalah solusi terbaik untuk menjaga keutuhan hati.
Irene bergegas menutup pintu kamarnya dan langsung menghamburkan diri ke atas ranjang, ingin menyendiri. Di dalam sana, ia menghabiskan segala air matanya hingga tandas.
Cukup lama ia mengenal sahabat semasa kecilnya, Ester. Mengingat segala bentuk kebrutalan yang pernah mereka lalui membuat sudut bibirnya tertarik sempurna. Sayang seribu sayang, setelah pria yang tak jelas asal usulnya itu berhasil merenggut hati Ester, wanita itu tak lagi pernah memperdulikan Irene. Jangankan untuk perduli, menyapa saja pun sudah tidak. Semuanya berakhir, Irene sendiri.
Setelah puas bermain dengan air mata, dara bermata hazel itu beringsut menuju lemari kecil yang selama ini ia rahasiakan dari Antonius. Tempat di mana segala macam jenis buku mengenai keIslaman menjadi bacaan favoritnya sebelum memejamkan mata.
Irene keluar kamar sejenak guna mengambil dus besar di dapur. Setelah itu dengan sigap ia membongkar lemari dan meraih semua buku yang berada di dalamnya untuk dimasukkan ke dalam benda persegi berwarna cokelat tersebut.
Satu buku.
Dua buku.
Tujuh buku.
__ADS_1
Semua ludes tak bersisa.
Irene miris melihatnya. Namun di sisi lain, untuk apa lagi ia masih menyimpan buku-buku yang mengingatkannya akan sosok sang guru idola. Lagi pula setelah ia pindah ke Bandung, sangat mustahil baginya mendapat seorang pengajar yang belum tentu percaya bahwa ia adalah seorang wanita Muslimah.
Ya, dirasanya memang ini lah yang terbaik. Besok adalah hari terakhir di mana ia dapat melihat Fizhan sang tajuk hati. Gazebo tempat biasa ia belajar mengaji juga akan menjadi tempat terakhir yang ia jejaki di Kota ini. Sebaiknya memang begitu, tak perlu lah dia terlalu naif mempertahankan perasaannya terhadap Fizhan.
Bahkan dengan berat hati gadis itu juga harus merelakan kecintaannya terhadap Islam yang telah terbangun sedemikian rupa. Sekali pun antusiasnya sangat dalam, maka tak ada juga yang bisa ia harapkan untuk mengajarinya seperti dulu. Mencari guru baru di kota yang baru? Ah! Jangan coba main-main.
Memang benar-benar sudah tidak ada lagi yang bisa dipertahankan dari Kota ini.
Di tempat lain, seorang gadis remaja yang sedari kecilnya menumpahkan kisah bersama Irene tampak murka bukan main. Ini adalah kali pertamanya kembali bertemu dengan sosok Alan setelah kejadian ajang tinju beberapa hari lalu. Pria itu menyerah. Rencananya kali ini adalah merebut kembali perhatian Ester agar mudah baginya untuk bertemu dengan Irene dalam tempat dan waktu yang sama. Nantinya setelah mereka bertemu, Alan akan membuat Ester cemburu dengan memperlakukan Irene bak kekasih. Setelah ada api di antara keduanya, baru lah Alan mengompori Ester untuk menyuruh Irene segera kembali pada Sam. Dengan begitu, Ester akan dengan mudah mengambil kembali hati Alan yang nyaris jatuh pada Irene meski sebenarnya itu hanya settingan belaka.
“Apa! Agar aku tak bisa lari dengan pria lain katamu? Hebat hebat hebat!” ucap Ester seraya menepuk-nepuk tangannya keras.
Sayangnya Alan tak menyerah meski sudah mendapat bogem berkali-kali dari kekasihnya itu. Dia malah datang ke rumah Ester malam-malam begini, minta maaf katanya.
“Please, Sayang. Aku tahu ini salah. Tapi tolong kamu mengerti keadaanku. Aku takut jika kau hanya ingin bermain dan pada akhirnya meninggalkanmu,” Alan bersimpuh di kedua Ester.
“Apa kau kira aku ini kurang tulus setelah tetap bertahan meski mendapat perlakuan tak layak darimu, hah? Kau tak pernah memberiku kado barang sedikit pun, kau bahkan juga selalu memberi aku kacang-kacangan dan air mineral yang membuat perutku kembung setiap kali kita bertemu,” balasnya lagi tanpa perduli akan ada orang yang mendengar pembicaraan mereka berdua.
“Lalu mau bagaimana? Tidak ada jalan lain selain menerimaku kembali, karena tidak ada lelaki manapun yang sudi menikahi gadis yang sudah tidak perawan Ester,” sebuah kalimat yang membuat dada Ester kian bergemuruh terlontar begitu saja dari bibir Alan.
...***...
Bersambung
__ADS_1
LIKE & COMMENT, okeh;)