AKU KAU DAN ISLAM

AKU KAU DAN ISLAM
BAB 42


__ADS_3

Lyora telah sampai di depan sebuah café sesaat sebelumnya ia menelpon mata-matanya untuk segera bertemu di tempat ini. Wajah Sam dan Irene kian bergelayut memadati isi otaknya, dia sudah tidak tahan. Mau tak mau si gadis berambut pirang itu harus melakukan sesuatu guna memisahkan Irene dan juga Sam kekasihnya.


“Hei Ly.” Suara seorang wanita menyapa dari belakang.


“Di sana saja.” Lyora menunjuk sebuah meja bernomor 17 kemudian segera menuju ke sana, Delia mengikuti dari belakang.


Tempat ini memang selalu ramai bahkan sangkin ramainya banyak orang-orang yang balik haluan karena tak mendapatkan tempat duduk. Wajar saja, interior café yang indah serta tempat yang nyaman membuat semua kalangan mengidam-idamkan bersntai di lokasi ini.


“Kau mau pesan apa?” Delia menatap wajah Lyora takkala waiter telah sampai dan membawa sebuah buku menu.


“Teh kosong saja.”


“Hah? Serius?”


“Ada yang salah?”


“Ehm tidak. Ya sudah leamon tea satu dan teh kosongnya juga satu, terimakasih.” Sang pelayan café beringsut memundurkan diri.


Delia heran, baru kali ini Lyora memesan menu seperti itu setelah sekian kali mereka mojok di banyak café.


“Kau sakit Ly?”


“Iya.”


“Tapi wajahmu tidak kelihatan pucat.”


“Bukan fisikku yang sakit.”


“Lalu?”


“Hatiku.”


Ou ou ou! Ada yang sedang berdrama ternyata.


Delia sontak tertawa kecil setelah mendengar kata terakhir dari seorang gadis yang tepat berada di hadapannya itu.


“Ada apa? Soal Sam lagi?”


“Iya, kau tahu tidak?” Kali ini posisi Lyora lebih tegak dari sebelumnya.


Kemudian gadis itu pun menceritakan peristiwa dari awal hingga akhir pertemuannya dengan Sam. Delia merupakan teman baiknya, jadi tak perlu lagi mensensor setiap detil kejadian yang akan ia ceritakan kepada gadis itu termasuk pergulatan mereka berdua di dalam kamar.


“Jadi si Sam itu menyebut nama Irene ketika memelukmu?” Netra Delia mendadak bulat.


“Tidak. Aku hanya menerka bahwa gadis yang dia maksud adalah Irene.”


“Oh Sungguh! Andai saja aku sudah bisa mengungkap semuanya.”


“Kau benar Del, mereka sangat susah untuk digali. Semua informasi yang kuterima dari banyak orangpun tak cukup untuk menjawab semua pertanyaan yang bersemayam di otakku.”


“Sebenarnya bisa saja kita mencari tahu melalui sahabatnya si Ester itu. Namun Ester tidak semudah yang dibayangkan. Sedari kecil mereka sudah bersama dan tak mungkin mudah bagi Ester untuk mengungkap apa yang sebenarnya terjadi antara Irene dan Samuel.” Delia menyandarkan tubuhnya pada bangku café.

__ADS_1


Apa yang gadis itu katakan adalah benar. Pernah suatu hari Delia iseng-iseng bertanya mengenai kedekatannya dengan Irene dan hanya disambut oleh senyuman tipis dari Ester. Untuk urusan cinta memang dara satu itu bodoh namun jangan ditanya kalau untuk urusan persahabatan. Ester adalah jagoannya.


“Lalu bagaimana? Kita tak menemukan apapun sedaangkan di sisi lain aku sangat ingin Sam menjauhi si jalang itu.” Wajah Lyora terlihat lebih muram.


Keduanya tampak berpikir keras sebelum akhirnya Delia melayangkan sebuah kalimat yang membuat batin Lyora meronta-ronta ingin tahu.


“Eum aku tahu.”


“Sungguh? Bagaimana?”


...***...


“Yuk.” Kata Fizhan seraya mengambil langkah untuk menuju ke koridor rumah sakit.


Saat ini mereka sudah sampai pada tempat yang di tuju, pria itu menenteng sebuah plastik putih yang di dalamnya terdapat banyak buah-buahan. Mereka sempat membelinya sebelum ke sini tadi.


Irene menguntil dari belakang. Entah kenapa semakin ke sini hatinya semakin terbakar. Irene seakan ingin berteriak kemudian berkata bahwa sebenarnya ia benar-benar telah cemburu terhadap perlakukan Fizhan kepada Aisyah selama ini.


Dia mau bercanda tawa dengan Aisyah.


Dia selalu pergi berdua dengan Aisyah.


Bahkan dia juga rela menyuruh anak-anak mengaji pulang demi menjenguk Aisyah di sini.


Tapi kenapa tidak denganku?


Dia selalu tertutup, tak pernah bergurau, dia seakan pura-pura tidak tahu bahwa sebenarnya ada seorang gadis yang sedang mengharapkan perhatiannya di sini.


Irene berkata-kata dalam hati. Tubuhnya sontak gemetaran, gadis itu tak sanggup bila harus menyaksikan Fizhan memberikan perhatiannya kepada Aisyah sebentar lagi.


“Aku tunggu di sini saja!” Tiba-tiba saja kalimat itu lolos dari bibir mungilnya.


“Loh kenapa?”


Hening.


“Kau malu ya? Tak apa ikut saja denganku.”


Hening.


“Hei kau kenapa Re?” Fizhan termangu, Irene seperti mayat hidup yang berdiri di ambang pintu.


“Baiklah baiklah. Aku akan meninggalkanmu seorang diri di sini, hati-hati ada penjahat ya!”


Gadis yang mendengar kalimat itu pun sontak menautkan sepasang alis. Bagaimana mungkin di rumah sakit ada penjahat? Huh Fizhan sungguh mengada-ngada!


“Tidak ada orang jahat di sini, yang ada hanyalah orang sakit.” Akhirnya Irene kembali bersuara.


“Siapa bilang? Apa kau dapat menebak bahwa dalam lima menit ke depan tak akan ada seorang pencuri di sini?”


“Apa maksudmu?”

__ADS_1


“Tidak ada! Baiklah, kau tetap bertahan di sini kan?”


Huh! Irene benar-benar kesal, ingin sekali rasanya dia menimpuk wajah Sam dengan plastik buah itu. Apa dia tidak peka bahwa sebenarnya Irene sedang cemburu? Bisa-bisanya dia mengizinkan Irene untuk menyaksikan drama romantis yang sebentar lagi akan dilakukannya dengan wanita lain.


“Tunggu! Aku ikut.”


“Nah begitu dong.”


Apa boleh buat? Dia juga tak mungkin berdiam diri seperti orang bodoh di depan sini. Keduanya beranjak masuk sesaat setelah Fizhan menarik kenop pintunya dari arah luar.


“Assalamu’alaikum.”


“Wa’alaikumussalam. Eh Fizhan? Kamu sudah sampai nak.”


Suara Bu Umayyah terdengar menyambut dari dalam sana. Irene malu-malu, dia tak dapat berkata apa-apa selain mendengarkan pembicaraan antara ibu paruh baya dan pria berparas teduh itu.


“Aisyah sedang tidur ya? Wah sayang sekali.” Kata Fizhan seraya mendekatkan diri dengan brankar pasien. “Hei bangun!”


Oh astaga! Fizhan menjawil pipi Aisyah.


Pemandangan seperti apa ini?


Hati Irene seakan ingin mencelos.


...***...


“Bagaimana kalau kita meneror Sam dan Irene.”


“Apa maksudmu?” Alis Lyora saling tertaut, ia sungguh tak mengerti apa maksud dari Delia.


“Kita akan melakukan teror habis-habisan kepada mereka. Ya bisa semacam sebuah ancaman untuk saling menjauh.”


“Hei bagaimana mungkin? Sam bukan tipe orang penakut.”


“Ck jangan bodoh! Sini dekat.” Delia melaungkan tangan guna memberi kode agar Lyora lebih mendekatkan jarak. Kemudian gadis itu membisikkan sesuatu kepada wanita berampung pirang itu. Lyora mangut-mangut, mereka berharap misi barunya ini akan berhasil.


“Kalau begitu aku setuju. Kapan akan kita mulai?”


“Secepatnya.”


Keduanya saling tatap kemudian tersenyum puas. Entah apa yang akan mereka lakukan, semoga saja semuanya tak akan menjadi boomerang di kemudian hari.


...***...


Bersambung


Like & comment


Tekan tombol favoritnya juga yaaa


Semoga kalian sehat selalu 🤗

__ADS_1


__ADS_2