AKU KAU DAN ISLAM

AKU KAU DAN ISLAM
BAB 69


__ADS_3

“Re?” semuanya masih sama, hening. Bahkan tatapan Irene pun mendadak kosong sebelum akhirnya ia mengerjap-erjapkan mata barang sekejap.


“Eh iya?” katanya seraya mengangkat wajah.


“Rumahmu,”


“Eum anu, aduh nanti aja deh,” kelabakan. Hanya satu kata itu yang dapat mewakili perasaan Irene saat ini. Mana mungkin ia memberitahu, sedangkan komplek tempat ia tinggal saja adalah perumahan khusus Protestan.


Fizhan yang hanya berstatus sebagai penonton budiman juga turut serta berpikir. Benar juga, bahkan selama ini dia hanya mengetahui bahwa gadis yang katanya akan ia nikahi itu tinggal di kota medan. Namun untuk lokasi pastinya, dia tak pernah mengetahui.


Namun sepertinya Irene yang sudah pucat pasi itu mencoba untuk melarikan diri dengan pura-pura membawa nama Antonius. Katanya, papanya itu ada undangan pernikahan dan dia harus ikut. Agak berat memang melepaskan, terlebih lagi wanita itu belum menjawab pertanyaan Aisyah. Namun apalah daya mereka, tak bisa menahan juga, karena memang Irene yang terus bersicepat menancap gas motornya.


...***...


Besoknya, wanita bermata hazel itu sudah rapi dengan stelan dress biru muda yang terbalut di tubuh. Ia langsung berpamitan pergi pada papanya setelah selesai keluar dari pintu utama gereja. Mumpung hari ini adalah hari minggu, maka ia menggunakan kesempatan itu untuk berdalih pergi dengan teman-teman. Padahal sebenarnya tidak, gadis itu memiliki sebuah janji dengan wanita berambut pirang yang kala itu mendatangi rumahnya lalu meminta pertolongan sambil tersedu-sedu.


Meskipun tak pernah berkontekan, namun Irene masih senantiasa menyimpan kontak Samuel di ponselnya. Agak tenang sebenarnya karena pria itu tak pernah muncul lagi di hadapan. Entah ke mana, Irene tak tahu dan memang tidak ingin tahu. Namun karena permohonan Lyora kemarin, maka mau tak mau Irene harus menemuinya. Lagi pula wanita itu juga malas kalau suatu saat nanti, Lyora akan kembali menganggu kehidupannya.


Samuel sudah dihubunginya lewat pesan singkat tadi. Ya, seperti biasa. Ketika seseorang yang kita sayang menghilang, lalu tiba-tiba mengajak bertemu kembali, bagaimana rasanya? Wow, bahkan Sam sempat lompat-lompat setelah mendengar permintaan tajuk hatinya. Padahal dia saja yang tidak tahu apa tujuan Irene atas perjumpaan ini.


“Sebaiknya kutelpon saja dia,” Irene bergumam dalam hati takkala sepeda motornya sukses berlabuh di sebuah rumah besar yang dipenuhi oleh bonsai-bonsai raksasa.


Di dalam kamar, seorang pria berjambang rimbun yang baru mengetahui bahwa ada gadis yang sudah menantinya di depan rumah begitu kegirangan bukan main. Saking senang dan rindunya terhadap Irene, bahkan dia sampai ngacir dan lupa untuk memakai kembali pakaian yang sempat ia buka tadi.


“Irene!” laungan suara keras disertai dengan derap langkah menghiasi perkarangan rumah bernuansa putih tersebut. Samuel berjalan tergesa-gesa.


Yang dipanggil sontak menoleh, lalu spontan membeliakkan mata takkala mendapati sebuah pemandangan tubuh kekar dari seorang Sam.

__ADS_1


“Aku yakin kalau kau akan merindukanku,”


“Pakai dulu bajumu!” Irene berseru ketus. Mendengarnya, Sam langsung melirik ke bawah kemudian menepuk dahi setelah ia sadar bahwa tak ada sehelai benang pun yang menutupi zona kekar itu.


Ya, memang sudah menjadi sesuatu yang lumrah kalau lelaki tidak memakai baju apalagi hanya sekadar di depan rumah. Namun tidak bagi Irene, ia merasa geli untuk memandangnya. Sewaktu keduanya masih berpacaran dulu pun, gadis itu senantiasa untuk memerintahkan Samuel agar selalu berpenampilan rapi.


“Sebentar ya,” sahut Sam seraya mengacak-acak rambut Irene, kemudian berlalu ke dalam rumah.


Sambil menunggu Sam, wanita itu memindai tatapannya ke sekeliling. Dia masih ingat betul peristiwa beberapa tahun lalu di mana dirinya pernah dibawa ke rumah ini karena hujan yang begitu deras dan kebetulan kala itu mobil Sam sedang rusak lalu diperbaiki di bengkel, jadi hanya ada motor. Namun karena kegelisahan Irene yang begitu kuat, takut kalau- kalau Sam akan mengeksekusinya, ia lantas lari dan menimbulkan kegaduhan di antara keduanya setelah itu. Dan terjadilah suatu peristiwa yang kalau diingat bisa menimbulkan rasa cemas tersendiri di hati Irene.


“Kenapa kau tak sekalian mati saja dulu. Kalau gini kan aku jadi ribet,” Irene bergumam dalam hati.


“Sudah,” orang yang dibatinkan pun mendadak muncul. Senyum manis tak pernah hilang dari wajahnya.


“Kau jangan terlalu percaya diri. Aku ke sini bukan karena kemauanku,” Irene sudah benar-benar muak dengan paras itu. Makanya ia langsung saja memulai percakapan mereka.


“Lalu?”


“Ly- Lyora?” mendadak raut garang Sam berubah pucat pasi. Gemuruh kencang bersarang dalam hatinya. Dari mana wanita itu tahu?


“Iya, perempuan itu,”


“A- aku tidak mengenal siapa Lyora,” bohong Sam yang langsung dihadiahi tawa menggelegar oleh Irene.


“Jujur atau aku akan menelpon lalu menyuruhnya untuk datang sekarang juga!” Sebuah ancaman yang membuat jantung Sam semakin terpompa kuat. Dari pada menimbulkan kekacauan lain, lebih baik dia mengaku saja. Toh, dia sudah juga sudah terlanjur ketangkap basah.


“Oke baiklah, aku memang memiliki hubungan dengannya. Namun itu semua kulakukan hanya karena aku jauh darimu Re, dia hanya pelampiasan. Jangan marah,” kalau sudah menyangkut soal perasaan, maka preman sekalipun akan takhluk jua. Lihat lah wajah Sam! Tidak ada bedanya dengan jenazah yang masih hangat.

__ADS_1


“Apa katamu? Marah? Hahaha, bahkan perduli saja pun aku tidak!” melihat tingkah bodoh Samuel semakin membuat Irene jijik. Ingin sekali rasanya dia cepat menghilang dari tempat ini.


Samuel masih belum paham dengan semua perkataan Irene dan apa tujuannya untuk datang ke tempat ini. Apa hanya untuk menanyakan hal itu saja? Lebih baik dia memilih untuk diam saja dan menyimak perkataan Irene selanjutnya.


“Kau harus tahu kalau Lyora itu benar-benar mencintaimu. Ya, sekalipun entah apa yang dipandang dari seorang Samuel, namun wanita itu begitu tulus. Aku tak ingin kau menyia-nyiakan dia,”


“Apa maksudmu?” Irene aneh. Sam semakin bingung dibuatnya. Kenapa tidak langsung berterus terang saja sih! Apa susahnya?


“Kau jangan pura-pura bodoh! Aku ingin, dalam dua hari ke depan aku sudah harus mendengar perkembangan baik dari hubungan kalian berdua. Bye!”


Nyussss!


“Irene! Irene tunggu! Aku tidak paham apa maksudmu,”


Wanita itu malah nyelonong pergi dan meninggalkan pria yang masih senantiasa berkutat dengan pikiran huru haranya. Dari mana Irene bisa mengenal Lyora? Dan kenapa tiba-tiba dia bisa berbicara seperti ini? Uh, semua itu berkelebat dalam kepala Sam.


“Aku harus menemui anak itu sekarang juga!” akhirnya sebuah kuputusan singkat ia ambil.


...***...


Bersambung


Hei


Aku makasih banget ya buat kalian yang udah ngikutin cerita aku sejauh ini :)


Give comment please, tanggepan kalian tentang kisah Fizhan dan Irene :)

__ADS_1


Jangan lupa like nya juga, okeh


Sehat selalu 🤗


__ADS_2