
Malamnya, Aisyah mengunjungi rumah Fizhan seorang diri, tempat di mana ia dilahirkan dulu. Perkataan Irene siang tadi membuat gejolak di hatinya kian meningkat, sesegera mungkin ia menyembulkan diri tanpa izin ke dalam gedung belau tersebut.
“Fizhan!” serunya keras. Adik dari seorang pria berparas teduh itu memang kurang beradab terhadap kakaknya sendiri. Bisa-bisanya dari dulu hingga sekarang ia memanggil nama tanpa menyertakan embel-embel abang di depannya.
Fizhan yang mendengar suara seorang gadis di dalam rumahnya sontak mengancingkan pakaian yang tadinya tak menempel di tubuh. Angin malam kali ini terasa panas, entah kenapa.
“Bukannya tadi sore kau bilang minta dijemput lewat chatting?” Fizhan menemui sang adik yang sudah santay seraya menyesap teh hangat di atas kursi kayu ruang tamu. Sudah pasti itu milik Fizhan yang belum sempat ia minum.
“Setelah kupikir-pikir tidak jadi,”
“Kenapa?”
“Aku tak ingin merepotkanmu,”
“Oh. Jadi, ada apa?” pria itu mendaratkan bokong tepat di samping adik wanitanya.
“Kenapa kau berkata bahwa kau akan menikahi Irene, hah?” Aisyah langsung menuju inti, tak ingin memperbanyak muqaddimah.
“Kenapa kau bisa tahu?” bahu Fizhan sedikit terangkat, agak terkejut dengan pertanyaan wanita itu barusan.
“Tadi sore dia ke rumahku dan menceritakan semuanya,”
Fizhan menghela napas kasar, ternyata Irene bocor juga orangnya. Tapi mau bagaimana? Tidak alasan juga untuk pria itu berbohong pada adiknya sendiri.
“Ya ya ya, aku memang berkata itu sore tadi. Memangnya apa lagi yang harus kukatakan?” Fizhan balik bertanya dan membuat Aisyah berdecak kesal.
Sangat tak disangka kalau pertemuan antara Irene dan Fizhan akan berujung kepada pernikahan. Terlepas dari benar atau tidaknya, yang jelas pria itu telah mengucapkan sebuah janji yang membuat gadis bermata hazel itu terlonjak bukan main. Antara bahagia dan perasaan tidak menyangka.
“Tapi mulai besok Irene tak akan berada di sini lagi,” ucap Fizhan seraya menoleh ke arah Aisyah. Wanita itu sontak terkejut dan langsung membuat kata mengapa kepada Fizhan. Pria itu menceritakan semuanya dari awal.
“Wah, sayang sekali. Padahal masih begitu singkat kita mengenalnya,” Aisyah beralih menatap seantero gedung belau tersebut. Seulas senyum dari gambar sepasang insan yang tercantel di atas dinding membuat hatinya terenyuh perih.
“Ayo ikut aku!”sekarang Fizhan malah menarik lengan adik perempuannya itu dan pergi meninggalkan rumah.
“Hei mau ke mana?”
__ADS_1
“Sudahlah, ikut saja.”
...***...
Iene sudah merapikan semua pakaian serta perlengkapan lain dan memasukkannya ke dalam koper besar. Sedih. Hanya itulah yang dapat menggambarkan bagaimana perasaannya saat ini. Bagaimana tidak? Dia sudah bahagia dengan kebenaran yang baru ia dapatkan dari pria berparas teduh itu, lalu dengan berat hati ia harus meninggalkan kota ini dan segala kenangannya.
Gadis itu terdiam melihat benda yang tersemat di dalam box mini. Pita kecil pemberian mamanya dulu sewaktu masih kelas dua sekolah dasar. Irene tersenyum samar menangkap pemandangan tersebut, lalu dia mendekatkan bibirnya dan memberi kecupan singkat pada benda bermainan kembang merah muda itu.
“Selamat malam kota Medan,” seru Irene seraya menatap langit-langit kamarnya untuk yang terakhir kali.
Besoknya, keringat deras mengucur dari dahi menuju leher jenjang Irene. Pasalnya sudah satu jam berlalu ia merapikan kamarnya seorang diri. Mulai dari menarik sprei dari ranjang, membersihkan ruangan kamar serta toiletnya, serta memasukkan barang-barang penting ke dalam koper dan juga dus besar untuk segera dibawa pindah hari ini.
Bep bep bep.
Ponsel yang aat ini tergeletak di atas nakas tiba-tiba saja menyala dan menampilkan sebuah panggilan pada layar beranda. Irene menyipitkan mata guna menerawang siapa yang telah membuat fokusnya beralih pada benda gepeng tersebut.
“Halo Aisyah,” sapa Irene pada seseorang di seberang sana.
“Cepat share lokasi rumahmu ya,”
“Untuk apa?”
“Biar aku saja yang ke sana,” Irene langsung memutuskan sambungan telpon secara sepihak. Ia tidak ingin menimbulkan kegaduhan baru, biarlah dia yang menemui si penelpon tadi di sana.
Usai menyelesaikan segala macam urusannya di dalam kamar, akhirnya Irene turun ke ruang tengah, hendak menuju ke garasi. Namun langkahnya terhenti begitu saja takkala suara Antonius mengagetkannya dari arah lain.
“Mau ke mana?” pria itu tampak mendekatkan diri pada putri sematawayangnya.
“Papa udah siap-siap?” tanya Irene, matanya berkelebat ke sana dan kemari, namun sepertinya tak ada barang apapun yang bergeser dari tempatnya.
“Kan kita mau pindah hari ini,”
Antonius yang sedari tadi memasang wajah datar pun sontak menepuk jidatnya kasar dengan sebelah lengan. Pria itu mengembuskan napas panjang setelahnya.
“Karena kecapekan, papa sampai lupa ngasih tahu kamu kalau kita ga jadi pindah,”
__ADS_1
“APA?”
Perkataan Antonius membuat Irene terkesiap bukan main. Dia belum sepenuhnya yakin dengan perkataan papanya sendiri, namun tak ada juga tanda-tanda kebohongan yang tampak dari raut lelaki paruh baya itu.
“Kamu masih ingat dengan anak angkat tulang Kev yang bernama Rahel itu kan?” Irene mengangguk pasti.
“Dia yang akan memantau perkebunan kita. Papa tidak tahu kalau ternyata dia sudah pulang dari Australi,”
“Kuliahnya sudah selesai?” gantian Antonius yang menganggukkan kepalanya.
Hal pertama yang Irene rasakan setelah mendengar penuturan papanya adalah perasaan lega sekaligus bahagia tiada tara. Irene bukan tipe orang yang kuat dengan jarak. Namun nasib baik masih berpihak, dia tetap bisa melanjutkan hari-harinya seperti biasa di kota ini.
“Tapi Irene sudah mengkemas barang-barang kamar.” cewek itu berseru ketus. Siapa yang akan membereskan itu semua?
Ucapan Irene membuat lengkungan di bibir Antonius, mungkin dia akan menyewa seseorang untuk mengembalikan perlengkapan kamar putrinya kembali setelah ini. Pria setengah abad seperti dirinya juga tak akan mungkin mampu mengerjakan itu semua, mengingat punggunya yang tak lagi sekuat dulu.
...***...
“Hai Zhan, Syah,” Irene tersentuh melihat abang beradik yang tengah menunggu kehadirannya di gazebo tempat biasa menimba ilmu. Tidak disangka, ternyata mereka benar-benar perduli terhadap dirinya.
Sepasang manusia itu menoleh mencari keberadaan sang empunya suara, meninggalkan percakapan mereka yang tadinya terlihat sangat serius.
“Sudah datang rupanya,” seru Aisyah dengan seulas senyum manisnya. Fizhan tampak turut andil juga dengan membalas perkataan Irene.
“Sini duduk.”
Tadinya Antonius ingin mengajak putrinya itu untuk keluar sebentar. Namun Irene menolak karena dia harus menepati janji dengan teman-temannya. Fizhan pernah bilang, kalau janji itu adalah hutang dan hutang wajib dibayar. Maka dari itu dia lebih memilih menemui mereka, lagipula dia harus menyampaikan kebenaran bahwa ia batal meninggalkan kota ini.
“Selamat menjalani kehidupan baru di tempat yang baru,” tiba-tiba saja Fizhan dan Aisyah berseru secara bersamaan. Kedunya mengeluarkan sebuah kotak persegi panjang yang dibalut dengan kertas kado dan pita merah di bagian atasnya.
...***...
Bersambung
LIKE & COMMENT
__ADS_1
Absen dong
Kalian dari wilayah mana aja sih?