AKU KAU DAN ISLAM

AKU KAU DAN ISLAM
BAB 9


__ADS_3

Irene berjalan kencang mendekati sepasang insan dengan roti sobek yang tengah tergenggam ditangan keduanya. Ah! Betapa bodohnya dara berambut hitam pekat itu. Punya tujuan apa dia menyamperi mereka? Meminta klarifikasi? Memangnya apa pentingnya?


Siapa dia!


Otak udang! Malangnya ia hanya membisu takkala bersisian muka dengan dua manusia yang tengah terpaut setengah meter dari wajahnya.


“Irene.” Kaget wanita yang saat ini tengah menjadi objek kecemburuan gadis bermata hazel itu.


Sontak Irene terkejut, bagaimana bisa si kerudung panjang ini tahu namanya sedangkan mereka belum pernah berkenalan.


“Kamu kok tahu nama aku?” Tanyanya seraya mengernyitkan dahi. Entahlah, mungkin ia sudah lupa dengan tujuan awalnya menyamperi mereka.


“Iya, soalnya Fizhan pernah cerita soal ka-“


“Um bukan!” Lelaki yang barusan disebut namanya itu menyeka dari sebelah kiri. Ia tersentak, wajahnya menegang sesaat setelah gadis yang berada disebelahnya itu melisankan deretan kata yang baginya haram untuk diucapkan.


“Aisyah ayo kita pulang, bukannya kamu harus ngajar lagi?” Sambungnya seraya memberi kode pada Aisyah agar segera beranjak dari tempat itu.


Ia melangkahkan kaki bersama segenap biji-biji bening yang mengairi kawasan dahinya. Ah! Dia benar-benar salah tingkah kali ini. Memangnya ada apa dengan kalimat itu?


“Eh tunggu-tunggu.” Teriak Irene yang saat ini telah tertinggal lima meter dari belakang. Celaka! Keterlaluan sekali mereka meninggalkannya seorang diri dibibir jalanan itu.


“Nama kamu Aisyah?” Ia melayangkan jari telunjuk tepat didepan paras gadis berbibir tipis yang ditaksirnya sebagai kekasih Fizhan.


Aisyah hanya mengangguk pertanda iya. Kemudian mereka berlalu meninggalkan Irene dengan sejuta tanda tanya yang berseliweran di dalam kepalanya.


Apa yang akan dikatakan Aisyah tadi ?


Mengapa Fizhan seperti orang ketakutan ?


Dan mengapa mereka meninggalkan ia seorang diri disini ?


Namun pada detik berikutnya …


“Eh Fizhan, Dompet kamu jatuh nih”


“Ah sial! Mereka udah jauh”


...***...


Saat itu jam tangan Irene memperlihatkan pukul 17:30 WIB. Matahari tampak semakin jelas meninggalkan dirinya yang saat ini tengah berada di depan emperan rumah. Dara itu kelihatan sedang menimbang-nimbang sesuatu, tangan kanannya tercagak di kaki serempak dengan manik matanya yang berhamburan kesana dan kemari.


“Antar aja deh.” Gumamnya lirih. Iapun berlalu sesaat setelah mengeluarkan motor dari garasi, membelah keriuhan petang di Kota Medan.

__ADS_1


...***...


10 menit berselang


Dirinya telah mendarat disebuh rumah dimana ia pernah terbaring tak sadarkan diri di dalamnya. Seperti biasa, kawasan gedung belau itu selalu direcoki oleh suara anak-anak yang berkumpul untuk mengaji.


Disana, di sudut gazebo. Seorang pria dengan kopiah hitam dan baju koko berwarna biru muda tengah merapalkan sesuatu yang kali ini benar-benar menyejukkan hati Irene. Ia termangu, mendengarkan setiap lantunan yang sebenarnya ia juga tidak tahu sebenarnya itu apa. Hingga pada hitungan detik berikutnya…


“Bapak.”


“Ada kakak-kakak yang liatin kita tuh.”


“Ih! Kakaknya senyum-senyum sendiri kaya orang gila ahahaha”


Pekik seorang anak lelaki bertubuh gembul yang ternyata menangkap sosok Irene di depan pagar. Ia terkekeh puas atas ledekannya, sesekali ia memegang perut buncitnya agar tidak menyembul-nyembul keatas dan kebawah.


Irene yang dikejutkan dengan hal itu langsung saja menarik motornya dari pusat gerbang, menghidupkan mesin lalu mulai menarik cepat tali gasnya. Namun sebelum ia benar-benar menancap kendaraannya…


“Tunggu.” Teriak Fizhan dari penjuru gazebo. Ia melaungkan tangan kearah depan, memberi kode agar Irene tidak beranjak.


“Maaf, ada keperluan apa ya mbak?” Tanyanya setelah berhasil memautkan jarak dengan gadis berhoodie hijau lumut itu.


Irene tercekat, kini Fizhan hanya berselisih dua meter dari tempat ia berdiri.


“A- a- aku cuman mau balikin ini. Tadi jatuh waktu kamu pergi.” Jawabnya terbata seraya mengeluarkan dompet cokelat tua dari saku celananya. Oh itu dompet Fizhan, mungkin ia tak sadar telah menjatuhkan benda persegi panjang itu siang tadi.


“Terimakasih banyak ya mbak saya bener-bener gatau kalau dompet ini jatuh.”


“Jangan panggil mbak, aku bukan mbak-mbak. Panggil aja Irene atau Re.” Ia melipat tangan diatas dada, merasa kurang berkenan dengan gelar “mbak” yang dihaturkan oleh Fizhan.


“Terus kalau bukan mbak-mbak apa dong? Tante-tante?


“Hah? Apaan sih kamu!” Tercengang. Gadis si hidung runcing itu begitu terperanjat takkala mendengar penuturan lelaki yang tengah berdiri dihadapannya. Sejak kapan pria ini bisa bergurau, timbangnya dalam hati.


“Ohiya, gabung sama kita yuk.” Fizhan mengarahkan biji netranya pada gazebo dan anak-anak disana. Sebelumnya ia memang sudah pernah menawarkan untuk ngaji bersama setiap sore di rumah ini. Hitung-hitung menambah tenaga pengajar, begitu pikirnya.


Miris.


Sayangnya ia tidak mengetahui siapa Irene. Jangankan untuk membac Al-qur’an, keyakinan saja pun mereka sudah berbeda.


Disisi lain, Irene juga tidak ingin membuang kesempatan emas yang dilayangkan oleh Fizhan. Kapan lagi ia bisa bersua dengan adam yang menjadi korban penasarannya ini. Perlahan Irene mulai mengekori Fizhan menuju gazebo, duduk di barisan bocah-bocah wanita dan menunggu mereka menyelesaikan kajiannya. Saat ini Fizhan belum menuntut dia untuk membersamai karena ini adalah kali pertama Irene menyambangi majelis mereka. Biarlah melihat-lihat saja dulu, begitu menurutnya.


...***...

__ADS_1


Jarum jam tepat membidik angka enam. Anak-anak mulai berangsur untuk pulang kerumahnya masing-masing.


Senja, kata itulah yang biasa orang ucapkan untuk mendeskripsikan laksana di sore hari. Sinar matahari yang nyala di jalur terbarat cakrawala disertai awan-awan yang formasinya tak berpola membentuk barisan yang terlihat artistik dan menggoda.


“Ula pulang dulu ya pak, Assalamualaikum.” Seorang anak wanita menautkan jejari mungilnya pada punggung tangan Fizhan, menciumnya lalu tunggang langgang berlari ke tepi jalan.


Saat ini keadaan gazebo telah sepi. Hanya ada Irene, Fizhan dan beberapa sampah plastik sisa jajanan para ucul-ucul tadi.


“Setiap sore kami selalu disini untuk ngaji. Mbak bisa kan mulai besok bantu-bantu aku untuk ngajar ngaji disini? Eh maaf, maksud aku Re” Kata Fizhan mencairkan suasana. Kini ia mengambil jarak dua meter di sebelah kanan Irene.


“Apa! Ngaji?” Mata gadis itu membulat sempurna. Mimpi apa dia kemarin? Ah! Rasa-rasanya ia sedang terperangkap di dalam kandang singa.


“I-iya. Kenapa? Ada yang salah?” Celetuk Fizhan kebingungan. Paras Irene menegang, bahkan lebih hebat dari situasi dimana ia bertemu dengan Samuel kala itu. Fizhan mengetulkan dahi, menanti jawaban dari gadis di sampingnya itu.


“Ta- tapi a-aku gabisa ngaji”


Mendengar jawaban itu mendadak Fizhan menelan salivanya dengan kasar. Ia merasa miris dengan Irene. Apa orang tuanya tidak pernah mengajarkan dia ilmu agama?


Ah Fizhan.


Andai dia tahu yang sesungguhnya.


“Yasudah, kalau gitu setiap sore dan minggu pagi kamu silahkan datang kesini ya. InsyaAllah aku sendiri yang bakal ngajarin kamu ngaji. Ohiya satu lagi, kerudungnya wajib dipake ya. Kan ga lucu kalau ngaji rambutnya terberai gitu” Lajang itu menyunggingkan senyum. Semoga ini adalah bagian dari pahala Jariyyah untuknya, ya meskipun dia tidak mengetahui fakta yang sebenarnya.


Siulan merpati dan desiran angin sepoi menyambar dedaunan hijau anom. Demikianlah terlukis rambu-rambu alam yang penuh kesempurnaan dalam alunan simponi jagat raya, bergerak ritmis layaknya tradisi alam.


“Yaudah aku balik dulu, udah sore juga.” Timpal Irene setelah rampung mempertimbangkan sesuatu dalam benaknya. Ia terlihat karut, sesekali dengusan napasnya menyempul dengan kasar.


“Iya, aku juga mau ke mesjid kok”


Keduanya keluar dari kawasan rumah biru itu kemudian berlalu dengan rute yang berbeda.


...***...


Takkala malam menghilir hambar pun mulai terasa, tiada sesiapapun disini. Nona pemilik rumah putih itu tengah bersantai di atas balkon biliknya. Hanya dengkuran jangkrik-jangkrik malam yang menjadi teman sepinya saat ini. Dinginnya udara gelita nyaris menusuk hingga ke tulang. Ia memandang kearah langit, seolah ada bayang-bayang ibu di atas sana.


Ting nong ting nong


Bel berdentang dari bagian bawah membuyarkan lamunannya. Ia menoleh dari arah atas, sesosok lelaki berkaos hitam sedang menenteng plastik putih berukuran sedang. Jarang-jarang ada yang mampir kerumahnya malam-malam begini.


...***...


Bersambung

__ADS_1


Vote and comment guys


Semoga kalian sehat selalu 🤗


__ADS_2