AKU KAU DAN ISLAM

AKU KAU DAN ISLAM
BAB 24


__ADS_3

Seorang gadis berdress merah setengah berlari mengarah ke pelataran café. Hatinya serasa terbakar api, dia juga baru mengetahui bahwa Sam dekat dengan Irene saat secara tak sengaja memergoki Sam menarik lengan gadis itu lalu membawanya ke buntut sekolah.


“Irene Irene Irene. Sejak kapan kau telah memiliki hubungan dengan kekasihku hah!” Hentakan heels Lyora berhasil menjebol bebatuan halus yang tersusun rapi di permukaan tanah. Warna merah merona telah menghiasi pipinya yang tirus, ah sepertinya ada yang sedang terbakar cemburu di sore hari ini.


“Halo Del. Aku ingin kita bertemu sekarang di tempat biasa.” Sapanya pada seorang wanita dari balik benda pipih yang saat ini tergenggam di tangannya.


Setelah percakapannya selesai ia langsung memasukkan benda persegi panjang itu ke dalam tasnya kemudian bergegas pergi meninggalkan café dan juga Sam yang masih berada di dalamnya.


Di dalam sana, seorang lelaki tampak frustasi. Berkali-kali ia menyugar rambutnya ke belakang kemudian berdesah keras. Puntung rokok masih awet terselip di sela jemarinya yang buas, ia menghisap nikotin itu dengan rakus kemudian menghembuskannya sehingga membentuk asap-asap bulat di atas sana.


“Fucking lady! Bagaimana si bodoh itu bisa tahu aku membawa Irene ke belakang!” Sam menendang kaki meja yang berada di depannya. “Kalau sudah begini pergerakanku akan terbatas. Lyora bisa saja menemui Irene bahkan membocorkan tentang status kami pada wanita itu.”


“Maaf mas kalau mau ngamuk jangan di sini. Lihat tuh gelasnya jadi pecah.” Suara seorang pelayan dari arah berlawanan mengagetkannya seketika. Sontak ia menoleh dan mendapati puing-puing kaca terceceran di atas lantai. Astaga bahkan dia tidak sadar kalau tendangan kakinya tadi membuat benda yang berada di atas meja tersebut jatuh ke bawah lalu pecah.


...***...


Senyum mengembang terbit di wajah seorang gadis bermata hazel. Ia terimpul bebas seraya memegang dadanya yang terasa hendak lepas.


“Yessss!” Katanya antusias.


“Bukan yes Re tapi Alhamdulillah.” Seorang lelaki menginterupsinya dari arah samping.


“Fizhan kau tahu? Aku saaaaangat bahagia.”


“Dapat mengajari seseorang yang sebelumnya absen menyentuh Al-qur’an adalah apresiasi tersendiri bagi diriku Re.”


“Apa boleh besok aku datang di jam yang sama?”


“Kenapa begitu?”


“Mmmm sebenarnya aku malu dengan anak-anak itu. Mereka sangat lancar mengaji, sedangkan aku?” Irene memasang wajah cemberutnya, ia berharap bahwa lelaki yang berada di sebelahnya itu akan mengabulkan permohonannya.


“Datanglah di jam biasa. Pukul empat tepat, oke.”


“Dengan bocah-bocah itu?”


“Iya.”


Raut yang tadinya sumringai berangsur muram dan sendu. Sebenarnya bukan hanya perkara bocil-bocil itu namun Irene juga merasa lebih nyaman manakala hanya berdua dengan lelaki berparas firdaus tersebut. Ya ampun Irene! Kau mengambil kesempatan dalam kesempitan.


“Tidak baik berdua-duaan dengan yang bukan mahram Re.” Lanjut Fizhan dari seberang sana, posisi mereka tetap bersekat dua meter.


Tak ada sahutan setelah itu. Irene sejenak berpikir seraya menyerap kata demi kata yang barusan Fizhan ucapkan.

__ADS_1


Tidak boleh berdua-duaan katanya?


Lalu bagaimana dengan dirinya dan Aisyah?


Mereka tidak hanya berdua, namun sangat akrab bahkan seperti tak ada batasan. Sungguh Fizhan adalah lelaki teraneh yang pernah ia temui. Kalau begini ceritanya sampai kapan pun rasa penasarannya dengan sosok lelaki itu tak akan pernah selesai. Selalu ada kejutan saban harinya yang Fizhan berikan untuk Irene dan itu menjadi daya tarik tersendiri untuk mengorek sosok lelaki itu lebih dalam lagi. Huft hati-hati awas jatuh cinta Re.


...***...


Dor dor dor.


Dor dor dor.


Sebuah gedoran keras yang berasal dari luar membuat Irene terjaga dari tidurnya. Jam masih menunjukkan pukul sembilan namun gadis itu sudah beranjak ke alam mimpi. Sebelummya ia sempat membaca ulang buku Iqra’ pemberian Fizhan sore tadi, namun entah kenapa tiba-tiba saja rasa kantuk yang teramat sangat datang membawanya ke alam entah berantah. Huh pasti itu kerjaan si syaitan, dasar!


“Siapa sih itu hah!” Irene berdecak sebal, gedoran itu terlampau keras sehingga membuat tidurnya terusik. Dara itu membangkitkan tubuh dengan malas kemudian berangsur turun ke bawah dan membuka pintu.


Ceklek.


Oh my God.


Hei siapa yang datang?


Coba tebak.


“Bunyuk.”


Seorang gadis berkemeja cokelat muda mesam-mesem di depan pintu. Tangannya memilin-milin ujung baju seraya menampilkan deretan giginya yang rapi.


Ester.


Mau apa dia malam-malam datang ke sini?


“Hihi maafin aku yaaa.” Sontak Ester memeluk tubuh wanita yang berhadapan dengannya itu erat. Ou ou drama mulai terjadi lagi.


Irene kelabakan. Ia tidak paham harus membalas apa dengan perlakuan konconya itu. Mau balas peluk tapi malu namun tidak dibalas ia juga merasa rindu. Aduuuh udah kaya judul lagu aja.


“Ada apa?” Irene mulai berbicara. Oh sungguh hatinya dirinya benar-benar salah tingkah kali ini.


Ester berlalu dari hadapannya kemudian menyembulkan diri ke dalam rumah. Dasar tidak peka! Bisa-bisanya ia sembarang masuk sedangkan hati orang yang di depannya masih terasa panas akan kejadian beberapa hari lalu.


“Apa kau tahu?” Ester membalikkan badan kemudian menggenggam erat kedua tangan wanita yang berada di depannya. Ia menarik kedua sudut bibir seakan menunjukkan bahwa sedang ada kembang-kembang yang bermekaran di dalam hatinya.


Irene tak bergeming. Sungguh sahabatnya ini benar-benar gila. Kemarin ia marah tidak karuan dan sekarang tanpa permisi dia datang dan menyembulkan diri ke rumahnya bersama wajah penuh rona.

__ADS_1


“Aku pacaran dengan seorang lelaki.”


WHAT?


PACARAN?


Netra orang yang mendengar seakan mencelos dari tempat, dadanya seketika bergemuruh setelah mendengar kalimat yang mengadung kata “pacaran” di dalamnya.


Hei hei.


Sejak kapan Ester bisa mengenal lelaki?


Sumpah demi apa pun. Sudah bertahun-tahun Irene mengenal sosok Ester dan baru kali ini ia mendengar gadis itu memiliki seorang pacar.


Ah! Apa dia sedang mengigau?


“Bagaimana bisa?” Kata itu pun lolos begitu saja dari bibir Irene. Sebenarnya ia juga enggan berbicara banyak dengan konconya itu, namun kali ini benar-benar urgent bahkan keingintahuannya sukses mengalahkan egonya sendiri.


Ester kemudian menarik lengan Irene lalu membawanya pada sofa yang tertata rapi di ruang tengah. Bersama dengan simpul yang masih senantiasa menghiasi wajahnya, gadis itu pun membuka mulut dan mulai bercerita.


...***...


Sebuah sore indah di ruangan bernuansa putih


“Eghhhmp.”


“Oh kau sudah bangun ternyata.”


Ester menarik selimut biru muda yang menutupi nyaris seluruh badan seorang lelaki yang baru saja terbangun dari tidurnya. Wanita itu kemudian mengambil segelas air putih dari dispenser llau menyuguhkannya kepada pria berponi tersebut.


“Diminum dulu Lan.” Seru Ester seraya membantu Alan untuk meneguk air yang berada di dalam gelas bening.


“Kau sungguh cantik. Apa kau mau menjadi pacarku?”


Deg!


...***...


Bersambung


Comment, like & vote guys


Dukungan kalian semangat buat aku:)

__ADS_1


Sehat selalu yaaa🤗


Baca cerita aku CHEVANI yuk 😍


__ADS_2