AKU KAU DAN ISLAM

AKU KAU DAN ISLAM
BAB 50


__ADS_3

“Eum itu mmm.”


“Kenapa?”


“Rumahku jauh banget.”


“Iya di mananya Re?”


“Buat apa kau ingin tahu?”


“Aku kan hanya bertanya.”


“Ah nanti-nanti saja sekalian kau main ke rumahku ya.” Tangan Irene mendadak gemetaran, bibirnya sontak membiru dan terkunci.


Fizhan yang mendapati hal itu pun langsung memasang wajah heran. Apa salahnya? Dia kan hanya ingin tahu alamatnya saja. Lagipula wajar dong karena mereka sudah berbulan-bulan berteman.


“Ya sudah baiklah kalau begitu.” Pasrah sang pria pada akhirnya.


...***...


Seperti malam biasanya. Ester dan Alan duduk di sebuah bangku taman menyaksikan kerlipan lampu-lampu remang. Tak ada yang spesial, namun entah mengapa si wanita tetap bertahan hingga sekarang.


“Apa kau haus? Minumlah.” Alan memberi sebuah botol aqua tanpa segel kepada Ester.


“Kau sudah meminumnya duluan ya tadi?”


“Iya.”


Ester tak lagi menjawab, ia hanya meraih botol tersebut kemudian langsung meneguknya hingga tandas. Ester itu bodoh! Tidak pernah diberi apapun termasuk makanan enak namun tetap bertahan hingga sekarang. Gadis itu hanya kenyang menyantap gombalan demi gombalan saban harinya.


“Aduh!”


“Eh kenpa?”


“Kepalaku kok mendadak pusing ya?”


“Sayang apa kau baik-baik saja?”


Gedebuk!


“Yesss!” Alan berdecak kegirangan.


Ester pingsan dan terjatuh dari atas bangku, rencana Alan berhasil bukan main. Tega sekali dia, ternyata minuman tadi sudah dicampurnya dengan obat aneh. Pantas saja kepala Ester mendadak pusing hingga tak sadarkan diri.


Malam kian larut dan kedua manusia itu telah berada di atas sebuah ranjang king size. Sang wanita masih tertidur pulas lalu disusul oleh si pria di sebelahnya. Alan memperhatikan wajah ayu Ester, ada rasa tak tega di hatinya. Namun mau bagaimana? Rupiah di atas segalanya bagi si pria keji itu.


Drrt drrt drrt drrt.


“Sial!” Alan berdecak kesal takkala getaran ponsel panjang bersarang dalam ponselnya.

__ADS_1


“Halo sayang kau di mana? Bisa kita bertemu malam ini?”


“Shht jangan berisik aku sedang tidur.”


“Tidur? Tidur di mana? Bahkan kau biasa tak tidur semalaman.”


“Maafkan aku Launa, perutku sangat sakit.”


Tuuuut.


Sambungan terputus sepihak.


Alan kembali melanjutkan kegiatannya memandangi wajah Ester. Mulai dari alisnya, matanya, hidung serta bibirnya sangat menggoda di mata pria itu.


“Maafkan aku Ester. Aku butuh biaya untuk hidup.” Geming Alan di dalam hati.


Kemudian dia mulai menaikkan sebelah tangannya untuk mengusap-usap kepala Ester. Pelan-pelan lalu mulai merambat ke bagian hidung serta bibirnya. Gadis itu tak kunjung sadar, obat bius tadi benar-benar membuat alamnya terbang entah ke mana.


Alan menilik hikmat bibir delima Ester yang bagian bawahnya terbelah dua, manis sekali. Apalagi kalau segera dirasa, batin Alan meronta-ronta. Pelan tapi pasti ia mulai memajukan posisi tubuhnya hingga tak berjarak dengan badan Ester.


Cup.


Cup.


Cup.


“Harum sekali tubuh anak ini.” Batin sang pria di dalam hati. Ia menempelkan hidungnya tepat pada leher jenjang Ester, aroma bunga menyeruak dari kawasan sana. Mungkin parfum gadis itu.


Belum berhenti, Alan terus melanjutkan aksinya kali ini.


...***...


“Sayang aku lelah sekali.”


“Iya sabar ya.”


Lyora menggandoli lengan Sam sedari tadi. Rambutnya kusut, wajahnya juga lesu karena satu harian ini entah wisata mana saja yang sudah ia tempuh bersama pacarnya itu.


Mereka mandaratkan mobil di depan sebuah bangunan putih yang bercetak huruf merah di bagian depannya. Lyora mesem-mesem, dai tahu persis apa yang akan mereka lakukan kali ini.


Keduanya pun segera menyembulkan diri ke dalam gedung itu. Namun ketika kaki mereka belum benar-benar menyentuh lantai terakhir Sam menarik lengan Lyora dan sontak membuat mereka macet di tempat.


Samuel kaget. Matanya menangkap sebuah kendaraan roda dua berwarna hitam yang terparkir di bagian paling pojok.


“Alan?” Tanyanya dalam hati.


“Ada apa sayang?” Kali ini Lyora angkat bicara, gadis itu bingung melihat gelagat pacarnya yang entah kenapa mendadak berhenti di tempat.


“Ah tidak! Ya sudah ayo.”

__ADS_1


Keduanya pun langsung masuk ke dalam dan membooking sebuah kamar. Sam dan Lyora yang sudah tahu mereka akan berbuat apa langsung saja melepas segala macam benda yang melekat pada tubuh mereka masing-masing saat ini.


Sam sangat aneh akhir-akhir ini. Sesekali dia bosan dengan Lyora dan memilih jalannya sendiri, dan sesekali juga dia bersikap manis dan menginginkan gadis itu seperti malam ini.


“Sayang.” Suara gadis berambut pirang itu mulai mendayu. Ia menempelkan tubuh polosnya pada si pria.


Sam yang mendapati hal tersebut pun langsung merespon tingkah Lyora dengan sentuhan lembut pada seantero wajahnya. Dara itu menggeliat, sebuah aliran listrik mulai bergelayut di dalam dirinya.


“Aku sangat merindukanmu.”


“Aku juga.”


Lyora meraih bibir merah Sam dan mulai menyesapnya dengan buas. Sesekali tangannya juga ikut meraba dada bidang sang pria yang ditumbuhi oleh banyak rambut-rambut halus.


“Apa kita akan memulainya sekarang?”


“Pasti sayang.”


Tak ada percakapan lagi setelah itu, keduanya saling hanyut dalam permainannya masing-masing. Lyora sangat girang, hatinya berdentam dentum tak karuan. Sisi agresif yang ia miliki membuat gadis itu harus berpuasa dan menahan hasrat selama beberapa bulan lamanya. Dan ketika Sam kembali menemuinya, dara tersebut seolah menampilkan permainan terbaiknya guna memuaskan segala rasa yang terpendam selama ini.


Cukup lama mereka bergelut di atas hamparan putih tersebut bahkan Sam pun sampai kelelahan. Lyora menang, kali ini si gadis itu yang memimpin permainan.


“Sebaiknya kita tidur dulu sayang uhhh.” Sebuah desahan lolos begitu saja diakhir kalimat. Pria berjambang rimbun itu menepuk-nepuk dadanya yang terasa sesak. Lyora tersenyum kemudian langsung mengecup dahi tajuk hatinya dan membiarkan lajang itu berlalu ke alam entah berantah.


Di sisi lain Alan tak henti-hentinya mencomot setiap lekukan tubuh Ester. Entah sudah berapa kali cecair putih menyemburat dari bawah sana. Alan berdecak kegirangan, ternyata tubuh Ester jauh lebih bagus dari yang ia bayangkan sebelumnya.


“Apa aku harus melakukannya sekarang?” Alan berpikir sejenak. Jujur, dia memang kasihan dengan gadis itu. Tapi mau bagaimana lagi? Jika misinya gagal maka tak akan ada uang untuk kehidupan.


“Maafkan aku gadis manis.”


Jlep!


...***...


Bersambung


Halo semua


AKU KAU DAN ISLAM bakal mulai masuk ke zona konflik yaaa ehehehe


Jangan lupa buat selalu like & comment plus beri rating lima dan tap favoritnya okeh 😍


SUAMI KITA BERSAMA juga selalu update uap hari yaaa 😉


Semoga kalian sehat selalu 🤗


Love love love love love


❤️

__ADS_1


__ADS_2