
Seorang gadis tengah merengkuh di atas ranjang seraya mengusap-usap wajahnya yang dua harian ini dibanjiri oleh air mata. Tak ingin diusik wanita itu mengunci pintu rapat-rapat dan hanya akan keluar ketika cacing di dalam perutnya sudah berdemo. Ibu dan ayahnya juga sudah berulang kali mengetuk pintu agar dia keluar, namun rasa ego yang masih terlalu tinggi membuat dara tersebut tak memperdulikan perintah kedua orangtuanya sendiri.
“Bagaimana kalau Fizhan nanti menikah dengan perempuan lain hiks hiks.” Suara tangisnya kian syahdu mengiringi musik-musik sendu yang terputar di dalam kamar.
Fatimah.
Entah sudah berapa puluh jam anak satu itu meratapi nasib mirisnya. Badannya lantas menggigil takkala permintaannya pada sang Abi untuk melamar Fizhan ditolak mentah-mentah. Hingga sampai kini demamnya kian tinggi namun seisi rumah tak ada yang mengetahui.
Fatimah sangat menginginkan Fizhan untuk menjadi suaminya kelak bahkan hal yang belum pernah ia lakukan pun rela dipaksakan guna mencapai sebuah tujuan. Dara itu tak bisa bahkan tak mampu untuk membayangkan bagaimana hidupnya tanpa pria yang dicinta.
Begitu banyak yang menginginkannya dan begitu banyak yang memberi kode untuk memperistri Fatimah namun tak satu pun yang bisa lengket di hatinya. Seolah ada keinginan batin sendiri bagi Fatimah untuk memilih Fizhan. Namun sayang, Fatimah sendiri pun tak tahu kalau sebenarnya tak ada dirinya di hati pria berparas teduh itu.
Tok tok tok.
Tok tok tok.
“Nak buka pintunya!” Sebuah suara besar khas lelaki tiba-tiba saja mencuat dari arah depan.
Itu pasti Abi Azhar yang mencoba untuk merayu Fatimah agar segera keluar dari dalam kamar. Sebenarnya bisa saja lelaki paruh baya itu memarahi anaknya sendiri tapi dilarang oleh istrinya karena alasan kasihan. Lagipula di sisi lain Abi Azhar juga sangat paham bagaimana rasa orang yang sedang patah hati sebab ia juga pernah muda dahulu. Maka dari itu keinginannya untuk memberi pelajaran kepada Fatimah dia urungkan mengingat banyak faktor yang harus dipertimbangkan.
“Aku tak ingin keluar!” Gerutu gadis itu dalam hati.
Semenjak kejadian kemarin Fatimah seakan merasa kesal dan malu sendiri untuk menampikkan wajahnya di depan Abi dan Umi. Andai rotasi bisa diputar pasti tak akan pernah disampaikannya sebuah keinginan untuk mempersunting Fizhan.
Tok tok tok.
“Naaak!” Laungan itu kembali terdengar.
__ADS_1
Jujur, hati Fatimah memang tidak tega mendengar suara orangtuanya yang dari dua hari lalu terus memanggil-manggil namanya. Namun mau bagaimana? Di satu sisi ia juga ingin kalau dua insan itu memahami kondisi hatinya yang tengah patah.
“Bagaimana ini sayang?” Bisik-bisik suara khas lelaki itu terdengar dari dalam. Ternyata Abi Azhar bersama istrinya saat ini.
Fatimah terus memasang kuping guna mencari informasi dari luar sana. Namun sudah tiga menit tak ia dengarkan suara orangtuanya itu lagi.
“Huh tahu begini lebih baik kudengarkan dari balik pintu saja tadi.” Gemingnya kembali di dalam hati.
Tak ada ketukan lagi. Fatimah pun menghembuskan napas kasar, mungkin orangtuanya sudah mulai lelah dengan sikap putrinya sendiri. Di sela-sela itu kondisi tubuh Fatimah kian memburuk, terasa dingin padahal di luar sangatlah panas. Tak ada yang bisa dilakukannya kecuali menyantap beberapa potong sisa buah yang tadi pagi diambilnya dalam jumlah banter dari dalam kulkas dan sedikit taburan cecair dari sebuah botol hijau di atas permukaan perutnya.
Di sisi lain sang pria yang menjadi objek buah pikir Fatimah terlihat sangat asyik menceritakan kisah-kisah Nabi kepada anak ajarnya termasuk Irene. Semua tampak antusias tanpa terkecuali, pria itu memang lihai dalam memainkan retorika dan menghidupkan suasana.
“Kalau aku yang dilempar kotoran pasti sudah kutendang orang itu.” Azzam menyela dari pojokan sana. Wajahnya memerah seperti tomat takkala mendengar rintangan Nabi Muhammad SAW. dalam menyebarkan dakwahnya ke pada ummat.
“Kalau aku sih kumakan sekalian.”
“Kupotong badannya.”
“Shhhh! Sudah-sudah.”
Sahut-sahutan para bocil cilik kedengaran hingga menusuk gendang telinga. Tak satupun yang menampikkan wajah ceria, semua pada sedih dan kesal mengetahui bahwa Sang Panutan pernah diperlakukan sedemikian rupa oleh orang-orang kafir.
Gadis bermata hazel yang menyaksikan hal tersebut pun tersenyum miris seraya menimbang-nimbang sesuatu. Betapa sayangnya mereka pada Sang Nabi, lalu bagaimana dengan dirinya yang merasa bukanlah bagian dari mereka? Hatinya sangat teriris takkala mendengar berbagai cerita Islam mengenai orang-orang terdahulu. Seolah ingin menjadi bagian dari agama suci itu namun situasi dan kondisi tak memungkinkan baginya untuk melakukan hal demikian pada saat sekarang ini.
Semoga suatu hari akan ada kesempatan bagi Irene untuk meraihnya.
Kalau sudah berada di pengajian apalagi melihat Fizhan Irene pasti langsung teringat dengan perkataan papanya yang akan segera membawa dirinya pindah dari Kota Medan ini. Huft! Bagaimana mungkin bisa wanita itu meninggalkan semuanya? Bisa-bisa mati di perjalanan dia nanti.
__ADS_1
Terlalu banyak rekam jejak yang telah dilewati oleh Irene. Mulai dari kecil hingga besar, anarkis hingga feminim dan segala macam bentuk keributan lainnya sangat menjadi kenangan tak terlupakan bagi Irene sendiri.
Bagaimana mungkin kalau suatu saat dia benar-benar meninggalkan Fizhan?
Bagaimana kalau tiba-tiba pria itu dikabarkan sudah menikah dengan wanita lain?
Dan bagaimana jika hubungan mereka akan selamanya hanya sebatas pertemanan selamanya?
Jujur, Irene memang berharap lebih. Mungkin tidak hari ini namun suatu saat ia sudah bertekad kalau dia akan menyatakan perasaannya terhadap pria berparas teduh itu. Irene sungguh tak ingin bahkan tak ikhlas kalau sampai Fizhan dimiliki oleh orang lain. Keduanya memang berbeda dan saat ini Irene hanya berharap akan ada hidayah dan pertolongan dari Sang Maha Kuasa untuk menyatukan mereka berdua.
Lagipula kalau misalnya Irene meninggalkan tempat ini maka sudah pasti ia tak akan bisa melanjutkan pelajarannya seputar Islam. Seratus persen rahasia yang selama ini ditutup rapar-rapat akan terbongkar dengan sendirinya dan diketahui oleh Antonius bahkan seluruh keluarganya. Gadis itu pun juga tak mampu kalau terus menerus belajar otodidak karena bagaimanapun proses terbaik adalah bertemu dan bertanya kepada sang guru secara langsung. Dan apa mungkin di Bandung sana Irene akan menemukan sosok seperti Fizhan? Heum belum tentu. Isi dalam kepalanya juga kian berkelebat mencari cara bagaimana agar papanya membatalkan keputusan untuk pindah ke luar Kota.
“Semoga ada pertolongan untukku.” Geming gadis berparas hazel itu di dalam hati.
...***...
Bersambung
Hai semua gimana kabarnya?
Puasa juga lancar-lancar ajakan?
Ehehe
I'm so sorry guys di masa skripsian begini aku terpaksa up dia kali sehari dan ga everyday kaya sebelumnya.
Semoga urusanku lekas selesai dan bisa up setiap hari lagi yaaa :)
__ADS_1
LIKE & COMMENT
Semoga kita semua sehat selalu 🤗