
“I’m so sorry honey.” Sam mengusap-usap pucuk kepala wanita yang ia cintai. Rautnya mendadak mendung, rasa penyesalan akan kelakukannya terhadap Irene tiba-tiba datang begitu saja.
“Don’t touch me!” Merasa risih, Irene mengeplak tangan Sam kasar. Ia juga beringsut mundur menjauhkan diri dari manusia yang ditaksirnya sudah mulai gila.
Perdebatan pun terjadi. Irene bertutur panjang kali lebar tentang kekesalaannya terhadap Sam. Wanita itu benar-benar risih mana kala Sam menunjukkan sikap manja terhadapnya. Siapa Sam? Bagi Irene dia hanya bekas manusia yang selama enam semester menjadi pesuruhnya untuk melalukan segala hal. Sungguh, setitis rintik hujanpun akan jauh lebih besar dari pada perasaan Irene kepada pria si jambang hitam tersebut.
Melihat amarah yang menggebu-gebu, Sam malah kian cengingisan. Bagaimana tidak? Wajah Irene kelihatan lebih cantik jika ia memanyunkan bibir seperti itu.
Namun di tengah dumelan Irene kepada Sam yang tiada berkesudahan, ada seseorang yang sejak tadi berdiri dengan hati terbakar.
“Oh jadi perempuan itu!” Desis pemilik hati yang tengah berapi-api.
...***...
Irene berlari kencang bak menghindari kejaran setan. Hidupnya benar-benar terkecoh setelah Sam kembali menampakkan wajah. Kenapa Tuhan tak membiarkan makhluk itu mati saja? Kenapa harus dipertemukan kembali? Dan kenapa rasa cinta lelaki itu tak kunjung padam meski telah bertahun lamanya? Irene mendumel geram dalam hati. Kepalanya benar-benar disesaki oleh putaran memori demi memori tentang kisah mereka dahulu.
Andai saja Sam tak kembali pasti saat ini ia bisa dengan bebas menyesap udara bebas. Andai saja Sam tak kembali mungkin hari-harinya tak akan segelisah ini. Sam benar-benar pengacau! Apa tidak ada cermin di rumahnya? Harusnya dia peka terhadap sikap bengis gadis yang dicintainya itu. Dia sungguh-sungguh tak diharapkan oleh Irene. Harusnya dia sadar. Bukannya semakin menggebu-gebu seperti ini.
“Same on you fucking man!” Irene berteriak kencang meluapkan segala emosi. Untung saja tidak ada martil atau benda tajam lainnya di sekitar sana. Kalau tidak, mungkin si jambang rimbun itu sudah ditotol kepalanya hingga lebam-lebam oleh Irene.
...***...
Cepat sekali waktu berlalu. Baru lagi rasanya sore kini telah datang waktu itu kembali. Baru lagi rasanya menyemplung dalam dunia pertipuan sekarang ia sudah harus melancarkan aksinya kembali.
Masih sama seperti biasa. Kerudung itu tetap tak bisa melekat sempurna membalut seluruh bagian kepala gadis yang tengah berhadapan dengan cermin di dalam kamar. Warna jingga mulai tampak melingkupi seantero langit. Beberapa ibu-ibu komplek juga terlihat sedang sibuk mengurus perkarangan rumahnya yang kotor akibat guguran daun-daun pohon. Sesekali mereka memekik nyaring agar anak-anak mereka yang sedang bermain segera pulang kemudian mandi dan segera menyelesaikan tugas.
Tak ingin terlambat seperti yang sudah-sudah, Irene mengambil kunci motornya yang tercantel di paku dinding lalu bergegas keluar bersama kemeja navy yang membungkus separuh tubuhnya. Tak lupa pula ia membawa kerudung dan menggulungnya pada bundaran leher. Dasar gadis aneh. Sungguh ntara syal dan kerudung adalah dua benda yang sangat berbeda fungsi. Lalu mengapa barang persegi berwarna moca itu dilingkarkannya pada tengkuk leher?
Terserah dia saja.
...***...
Tak ada ban motor yang melaju kencang. Tak ada pembalap dadakan. Tak ada suara-suara klakson yang memekakkan telinga para pengguna jalan. Dan tak ada tukang sate yang gerobaknya hampir tetabrak. Sore ini gadis itu berkendara dengan santai. Menikmati riuhnya jalanan dan hangatnya sinar jingga yang menusuk ke kulit bumi.
16:30
Sampailah ia di sebuah bangunan familiar. Bangunan yang setiap sore disambanginya. Rasa sungkan untuk menjejakkan kaki pada gedung itu kini berangsur memudar. Gadis berambut panjang tersebut memasukkan motornya ke perkarangan rumah yang gerbang depannya tidak terkunci. Membuka lilitan kain pada lehernya lalu membiarkannya tercantel di kepala tanpa peniti.
__ADS_1
Namun matanya menangkap hal tak biasa. Perkarangan yang setiap harinya dipenuhi oleh bocah-bocah cilik saat ini kosong melompong tanpa penghuni. Kemana mereka? Apa hari ini libur? Mustahil! Kata Fizhan mereka selalu mengaji di sini setiap sore.
Tok tok tok.
Gadis yang tengah kebingungan itu pun beranjak mendekati pintu rumah yang ternyata digantungi oleh gembok silver. Sekarang Irene paham bahwa sang empunya rurmah memang sedang tidak berada di dalam sana.
“Nyari Fizhan dek?” Seorang ibu berdaster kembang nongol dan membuat Irene sedikit terkejut. Ia berbalik badan menoleh wanita setengah baya yang sedang menenteng plastik besar di tangan kanannya.
“Iya bu. Kemana ya orangnya?”
“Fizhannya lagi pergi bareng anak-anak ngaji.”
“Loh kemana?”
“Ke lapangan pusat kota. Ada acara katanya.”
“Udah lama ya?”
“Satu jam yang lalu.”
“Ibu kok tau?”
“Oh terimakasih banyak bu.”
Di rasa cukup menerima informasi dari ibu tersebut, Irene pun putar haluan dan menuju lokasi yang di maksud. Tidak masalah jika ia harus berkendara lebih jauh lagi. Namun hatinya terus bertanya-tanya “Mengapa aku tidak diberi tahu?”
Di sisi lain sangkin khusyuknya memikirkan hal tersebut, tanpa ia sadari ada suatu benda yang terbang dan mencelos ke permukaan tanah.
...***...
Setelah berkendara cukup lama tibalah Irene di sebuah Stasiun Kereta penghubung antara Kota Medan dengan Asahan. Banyak orang berlalu lalang di sana. Beberapa dari mereka ada memboyong kardus besar dan juga koper. Dan sisanya lagi membawa ransel kecil atau hanya sekedar slinbag biasa yang tergantung di lengan mereka. Suara kereta terdengar nyaring namun tak kelihatan bentuknya. Sebab Irene hanya menepi di tepi trotoar, di sebelah zebra cross bersama orang-orang yang sedang memintasi jalan.
Sebenarnya bukan Stasiun Kereta yang menjadi tujuannya. Melainkan sebuah tempat yang persis berhadapan dengan stasiun itu. Lapangan. Tempat ini sangat luas, banyak bangku panjang yang berjejer bersama ayunan yang berwarna-warni. Pepohonan rindang yang di bawahnya banyak muda mudi sedang bersantai. Bangunan berhamparan luas yang acapkali dijadikan lapak ketika menggelar sebuah acara. Dan jejeran banyak stan di mana tempat para pedagang menjual buku-buku bekas. Tak hanya itu, deretan warung-warung kecil yang menunya sangat menggugah selera pun telah tersedia di tempat itu.
Ia menelisik dengan seksama, mencari keberadaan ucul-ucul kecil dan seorang guru berparas firdaus.
Pandangan terus pendendar hingga manik matanya tertuju pada gerombolan bocah-bocah cilik dan beberapa orang dewasa di sana yang ia yakini bahwa itu adalah komplotan Fizhan.
__ADS_1
Fizhan?
Hei dimana pria itu?
Kenapa tidak terlihat?
Was-was takut salah perkiraan akhirnya gadis yang saat ini hanya memantau dari arah jauh kini berangsur mendekatkan jaraknya dengan objek yang dimaksud. Dia berjalan semakin dekat dan kian merapat. Hingga tanpa sengaja mata hazelnya mendapati sosok lelaki yang dicarinya sedari tadi.
“Ah itu dia.” Irene nyaris sumringah. Akhirnya ia bisa bertemu lagi dengan sosok tampan nan lembut itu.
"Hah! Dengan siapa dia?” Seorang wanita berkerudung hitam menyembul dari arah lain dan menemui Fizhan yang tengah fokus menyusun beberapa tumpukan buku yang berceceran di atas rumput. Kemudian mereka tampak membicarakan sesuatu dengan akrab sesaat setelah menerima sesuatu yang tidak dapat ditaksir Irene jenisnya apa.
Apa mungkin itu Aisyah?
Ah bukan-bukan.
Aisyah tidak seperti itu postur tubuhnya.
Gadis yang tengah ia lihat saat ini bertubuh jenjang, agak kurus, berkulit putih dan bermode kerudung yang tak asing di mata Irene. Persis seperti gaya kerudung yang sering dipakai oleh Fatimah, teman sekelasnya.
Apa?
Siapa tadi?
Fatimah?
Astaga!
Sumpah! Ternyata perempuan itu memang benar Fatimah.
Pantas saja saat di kelas tadi ia mengatakan sore ini akan ada acara dengan para murid pengajiannya di Pusat Kota.
...***...
Bersambung
Comment & guys
__ADS_1
Sehat selalu yaaa 🤗