AKU KAU DAN ISLAM

AKU KAU DAN ISLAM
BAB 40


__ADS_3

Nak. Apa kau sudah memberi tahu Fizhan perihal kecelakaanmu?” Bu Umayyah menarik selimut yang menutupi separuh tubuh Aisyah. Sudah pagi, ada baiknya jika gadis itu dibawa keluar untuk menjemur badan.


“Astagfirullah belum mi.”


“Sebaiknya kamu kabarin saja, takutnya ntar dia kecarian.”


“Iya mi sebentar lagi.”


Setelah percakapan tersebut akhirnya Bu Umayyah membawa putri sulung plus sematawayangnya itu keluar dari kamar. Ia didorong menggunakan kursi roda yang telah disediakan oleh pihak rumah sakit. Tempat ini sangat ramai, banyak sekali orang-orang yang menjenguk keluarganya yang sedang sakit. Pak Zulfan sudah pulang sejak subuh tadi. Pria yang berprofesi sebagai seorang guru itu harus memenuhi tanggung jawabnya guna mendidik anak-anak Bangsa.


Aisyah menoleh ke kanan dan ke kiri, netranya seakan menatap wajah familiar dari pojokan sana.


“Ya ampun itu Sam!” Gadis berparas ayu itu terkejut bukan main. Matanya membeliak sempurna takkala benar-benar melihat raut seseorang yang sedari kemarin membuat hatinya terbakar.


Sam berjalan dengan gagah melintasi koridor rumah sakit. Lelaki berjambang rimbun itu menenteng banyak plastik di tangan sebelah kanannya. Sepertinya keberuntungan masih berpihak pada Sam karena dalam waktu yang bersamaan netranya juga tak sengaja menangkap pemandangan seorang ibu dan anak yang sedang tercegak di atas rerumputan hijau.


“Hei.” Sapa si jambang lebat pada keduanya. “Selamat pagi tante.” Sam menundukkan badan menghadap Ibu Umayyah.


“Mau apa lagi kau kesini?” Tiba-tiba saja Aisyah menyela dengan ketus.


“Aku kan sudah berjanji untuk selalu menjengukmu sampai kau benar-benar sembuh.”


“Oh sungguh aku tak perlu dikasihani olehmu!”


“Wahi nona, siapa yang sedang mengkasihanimu? Aku juga tidak mau. Aku hanya menunaikan tanggungjawabku sebagai seseorang yang telah berbuat kesalahan.”


“Umi, ayo kita pergi!” Aisyah menarik lengan baju Bu Ummayah seraya memberinya kode agar mereka segera beranjak dan meninggalkan Sam.


“Hei mau kemana?”


“Bukan urusanmu!”


“Eh sudah-sudah jangan pada bertengkar. Aisyah, biarkan Sam disini, tidak baik melarang seseorang untuk menjenguk orang yang sedang sakit.”

__ADS_1


“Huft!”


Aisyah menghela napasnya kasar. Sebenarnya ia juga tahu bahwa sikapnya terhadap Sam adalah salah. Namun mau bagaimana? Kesal di hatinya berawal sesaat setelah pria berjambang itu ingin meninju wajah Fizhan.


Pria yang mendengarpun sontak menjulurkan lidahnya ke arah Aisyah. Dia benar-benar merasa puas atas pembelaan Bu Umayyah terhadap dirinya.


...***...


“Hoaaaam.” Seorang gadis berambut panjang mengkucek-kucek matanya kasar. Tidurnya sangat lelap sampai-sampai matahari sudah sepenggalahan naik dan dia baru terbangun.


Irene memutar bola matanya ke seantero kamar, pikirannya tertuju pada kejadian kemarin sore.


“Papa sudah pulang, jadi jangan sampai dia tahu tentang kegiatan baruku setiap sore.” Dara itu bergumam dalam hati.


Antonius adalah sosok yang kental akan agama, tak jarang lelaki setengah baya itu memerintah putrinya agar selalu membaca sesuatu mengenai keagamaan. Irene sungguh tak dapat membayangkan bagaimana jadinya bila sampai aktivitas barunya ini sampai ketahuan, bisa digantung hidup-hidup dia.


Tok tok tok.


Ketukan pintu terdengar dari arah luar.


“Iya Pa sebentar.” Gadis yang masih terhambur di atas ranjang itu pun sontak membangkitkan tubuh guna membersihkan diri di kamar mandi. Sekolah memang sengaja diliburkan sebelum menyambut Ujian Nasioal.


Tak butuh waktu lama Irene pun keluar dari kamar setelah selesai bergelut dengan dunia air. Wanita itu mencari keberadaan papanya yang ternyata sudah menunggu di meja makan.


“Mari makan.” Antonius mencicip ayam semur yang baru dipesannya secara online.


“Pa. Sepertinya kita harus memakai jasa ART.”


“Kenapa?”


“Ya Papa tau sendirikan kalau selama ini kita selalu membeli makanan. Mau sampai kapan?”


“Papa trauma dengan dengan Riuh Re.” Antonius menatap langit-langit ruangan.

__ADS_1


Dua tahun lalu mereka sempat memiliki seorang tukang kebun yang bernama Riuh di rumah ini. Riuh merupakan seorang lelaki yang jika ditaksir sudah berkepala tiga. Pria kurus itu sangat baik bahkan sangkin baiknya pekerjaan rumah yang seharusnya tak menjadi kewajibannya pun ikut dia lakukan. Sejak saat itu keluarga Antonius sangat sayang bahkan sudah memberikan kepercayaan penuh pada Riuh, tak jarang lelaki itu disuruh menjaga rumah seorang diri ketika Antonius dan Irene sedang pergi berlibur ke luar Kota.


Hingga pada suatu hari sang kepala rumah tersebut menitipkan sebuah kunci rumah karena ada urusan mendadak untuk menemui rekan bisnisnya di Kota Palembang, kala itu Irene juga dibawa. Namun hal yang tak disangka terjadi, ketika keluarga Antonius pulang tiba-tiba saja mobil di garasi sudah raib entah kemana. Bapak dan anak itu panik bukan kepalang dan mencoba menghubungi Riuh untuk meminta penjelasan, namun sayang nomor Hpnya sudah terblokir dan tak bisa untuk ditelpon. Antonius beranjak ke dalam rumah dan betapa kagetnya ia saat melihat televisi, sofa, lemari kristal, kulkas dan semua barang yang berada di dalam ruangan tersebut juga menghilang dari tempat.


Fix. Siapa lagi yang melakukan semua ini kalau bukan si Riuh lelaki tulang tersebut.


Sejak kejadian itu Antonius tak lagi percaya terhadap siapapun untuk memperjakan seseorang di rumahnya. Mau laki-laki, perempuan, tua, muda bagi Antonius semua sama saja. Pria paruh baya itu pun juga sangat menyesal karena lebih memilih membawa mobil miliknya sendiri ketimbang punya mendiang istrinya kala itu.


“Sudahlah Pa, tidak baik juga terlalu suuzon pada orang lain.” Irene menyela dari arah depan.


Antonius sontak menautkan sepasang alisnya takkala mendengar penuturan Irene barusan. Sejak kapan anaknya itu menjadi bijak? Bahkan yang ia ketahui saban hari Irene selalu mencaci dan berburuk sangka terhadap siapapun, bahkan kadang terhadap papanya sendiri.


“Hei sejak kapan anak papa paham akan hal itu hem?”


“Eum hahaha.” Yang ditanya pun malah tertawa.


Itu bukan tawa bahagia melainkan hanya sebuah tawa untuk menutupi sebuah kedok. Irene adalah sosok remaja brutal yang kerjaannya selalu keluar malam dan tak pernah bisa menjaga ucapan. Namun semua telah berubah ketika gadis itu bertemu dengan sosok Fizhan beberapa waktu lalu.


Fizhan pernah menjelaskan bahwa orang yang selalu berburuk sangka hatinya tak akan pernah tenang bahkan menimbulkan dendam. Ia juga memberi saran pada Irene agar selalu menjaga ucapannya sebab yang Fizhan tahu Irene adalah sosok wanita yang ceplas ceplos.


“Bagus kalau kamu punya pemikiran seperti itu, tandanya kamu sudah dewasa.” Antonius meanrik kedua garis bibirnya membentuk huruf U.


“Heum iya Pa.”


...***...


Bersambung


Like, comment & vote guys


Ohiya jangan lupa mampir di SUAMI KITA BERSAMA yaaa 😍


Ceritanya menarik banget loh 😍

__ADS_1


See u


Semoga kalian sehat selalu 🤗


__ADS_2