AKU KAU DAN ISLAM

AKU KAU DAN ISLAM
BAB 57


__ADS_3

Tak ada zat apapun yang bisa dipendam terlalu lama, begitupun dengan perasaan. Irene terduduk mangu di atas gazebo rumah biru seraya menatap kaki langit biru nan luas di atas sana. Gelisah, tampak sekali dari gerakan tubuhnya yang tidak tenang alias lasak.


“Kau kenapa?” Tiba-tiba saja suara seorang pria memecahkan lamunannya seketika.


“Ah Fizhan! Kau rupanya.”


“Apa kau sedang ada masalah?”


“Aku jatuh cinta dengan seorang pria yang kutahu cinta kami tak akan bisa bersama.”


“Kenapa?”


“Kau tak perlu tahu dan biarlah ini menjadi urusanku.”


Hening.


Fizhan tampak menimbang-nimbang makna dari perkataan Irene barusan. Tanpa sengaja tatapannya menuju tepat ke raut Irene dan ditemukannya pendar cokelat bulat di sana.


“Aku baru tahu kalau mata Irene seindah gini.” Geming pria tersebut di dalam hati.


Yang ditatap pun malah merasa dan balik memandang paras Fizhan dari arah berlawanan. Keduanya saling beradu hingga entah bagaimana sebuah aliran listrik terasa mengaduk-aduk tubuh Fizhan seketika.


“Kau kenapa?” Tanya sang gadis kebingungan.


“A- akuu..”


“Aku apa?”


“Aku menginginkanmu.”


“Apa!”


Irene terkejut bukan main. Alisnya saling tertaut memikirkan deretan huruf yang baginya sangat absurd. Menginginkan dalam artian apa? Kenapa Fizhan mendadak berubah begini?


“Ayo ikut aku!”


Kali ini malah lebih parah. Pria berparas teduh itu menarik lengan Irene dan membawanya masuk ke dalam rumah. Ada sebuah ruang kecil yang masih tertutup rapat oleh pintu, Fizhan membawa gadis itu ke dalam sana.


Setelah memastikan bahwa tak ada lagi ventilasi yang terbuka di sana Fizhan sontak mendorong tubuh Irene hingga terpelanting ke atas kasur. Wajah Irene memucat, ia mencoba bangkit namun kali ini tubuh Fizhan sudah mendarat tepat di atas permukaan badannya.


“Hei kau ini kenapa!” Laungan suara Irene terdengar parau.


Fizhan tak perduli. Ia malah menarik kerudung Irene hingga tampaklah geraian rambut hitam yang selama beberapa bulan ini tak pernah dilihatnya lagi dengan mata telanjang. Mata hazel yang dipadu dengan rimbunnya benda hitam tersebut sontak membuat mata sang pria membulat besar bahkan semakin lapar. Fizhan tersenyum lebar menampakkan deretan gigi putih dan rapinya di dalam sana.


“Apa ini yang kau sebut dengan menginginkan?” Tanya Irene yang saat ini sudah paham apa maksud dari perkataan pria itu sebelumnya.


Tak ada jawaban selain perlakuan si lelaki yang semakin liar. Ditatapnya wajah Irene dalam-dalam hingga di detik berikutnya bibirnya berhasil mendaratkan sebuah ciuman di atas sana.


“Hei kau mencium dahiku.” Teriak Irene yang langsung ditangkis oleh lengan kokoh Fizhan pada bagian mulutnya.


“Malam ini aku ingin memilikimu seutuhnya.”


Deg!

__ADS_1


Irene tercekat. Jantungnya jedag jedug bukan main. Apakah setelah ini dia dapat bersatu dengan pria yang dicintainya sedari dulu? Gadis itu sungguh bingung harus bagaimana, ia tidak tahu menahu soal ini.


“Aku tak tahu apa-apa.”


“Biar aku yang mengajarimu.”


“Apa jika terjadi sesuatu kau akan bertanggung jawab?”


“Ya.”


Ah Irene rasanya melayang-layang ke alam entah berantah. Dirinya sama sekali tak pernah memikirkan hal ini sebelumnya. Bagaimana mungkin seorang Fizhan mengajaknya bercinta di tengah malam? Sungguh ini terasa sangat nyata.


Dan tanpa berpikir panjang sang dara pun langsung menyesap bibir merah milik pria yang sedari tadi menonggok di atas tubuhnya.


Cup cup cup.


Cup cep cep.


Kecapan demi kecapan terdengar banter di sebuah ruang berdominasi warna biru tersebut. Keduanya saling beradu senyum, menikmati sebuah kenikmatan yang belum pernah dirasa sebelumnya.


Irene awalnya memang malu-malu namun setelah Fizhan melakukan yang lebih dan semakin lebih rasa sungkan tadi langsung luntur begitu saja. Kini tak ada lagi batasan, Irene membangkitkan tubuh dan mulai menarik kancing kemeja Fizhan perlahan-lahan.


Tap.


Wow, sebuah pemandangan dada kekar terpampang nyata di mata Irene.


“Kau? Ahh luar biasa.”


“Kita sama-sama memiliki malam ini. Maka dari itu lakukanlah apa yang mau.”


“Sudah naik.” Katanya lirih seraya menilik benda panjang yang berada di bagian tengah ************ milik Fizhan.


“Kau mau?”


“Ya.”


Cep cep cep.


“Arrrgh emphhh…”


Fizhan mengeram hebat takkala Irene mendaratkan bibirnya di atas sana. Tak bisa dijelaskan bagaimana rasanya yang jelas saat ini pria itu seolah berada di luar angkasa dan tak ingin balik ke bumi.


Pria yang sedang mabuk itu pun tak ingin kalah dari lawannya. Secepat mungkin ia menarik sebuah gundukan besar yang terdapat di bawah dagu Irene. Menjentitkan jari-jarinya di atas sana dan berakhir dengan seorang peternak yang sedang memeras susu sang sapi.


“Awww pelan-pelan sakiiit.” Irene mengaduh, dan jangan lupa dengan permainan panasnya yang masih berlangsung di bawah sana.


Fizhan terus bereaksi dan kali ini tindihannya semakin ketat hingga membuat Irene kesulitan untuk bernapas. Tak ada satu inci pun yang tersisa malam itu, semua dijamah satu persatu.


“Bagaimana kalau aku melakukannya sekarang?” Tanya Fizhan kepada lawannya seraya melirik benda legit di bawah sana. Pria itu sudah siap siaga, alat tempur berupa batang bambu pun sudah siap untuk ditusukkan kepada gawang.


“Lakukanlah.” Irene menjawab terengah-engah.


Fizhan membidik jam besar yang tercantel di atas dinding sambil menghitung mundur. Hasrtanya kian membara, seolah ada sesuatu yang harus segera dikeluarkan dari dalam sana.

__ADS_1


Satu.


Dua.


Ti…


Jlep!


“Aaaaaaaaaah emphh.”


Senyum sumringai terbit di wajah keduanya. Bahagia sebab mereka sudah saling memiliki secara fisik. Fizhan memandangi bibir tipis Irene yang kali ini membentuk huruf U, disisihkannya rambut si gadis yang menutupi kawasan muka.


“Tahan ya.” Katanya sekali lagi yang langsung diangguki kepala oleh Irene.


Srek srek srek.


Gerakan maju mundur menciptakan suara ribut di dalam sana. Irene meringis sakit dan sesekali ia juga menggeliat karena geli.


Tiga menit.


Enam menit.


Sembilan menit.


Kegiatan itu berlangsung cukup lama dan membuat Fizhan kian merasa di atas awan. Ia kembali mempercepat gerakannya dan membuat sang gadis riang-riang geli bukan kepalang.


“Ohhh yeah terus Fizhan terus emppph.” Desahan Irene kian memacu semangat Fizhan untuk membuat galian besar di dalam sana.


Gerakan tersebut sangat cepat bahkan semakin cepat. Fizhan sudah tidak tahan lagi, keringatnya bercucur deras menahan sebuah benda kental yang akan segera muncrat di atas kasur.


“Aaaaaaah awwww.”


****!


Gedebuk!


“Aduuuuuh.”


Saking hebatnya Fizhan sampai melayang dan terpelanting ke permukaan lantai. Bokongnya sakit, badannya seakan remuk. Ia kemudian membangkitkan tubuh dan melihat pakaian serta celana yang masih lengkap menutupi area tubuhnya.


Dan Irene?


Ternyata Irene tak ada di atas sana melainkan hanya ada bantal dan guling yang sedari tadi menemani tidurnya.


Fizhan kikuk, rasanya seperti sangat nyata.


“Ya ampun ternyata hanya mimpi.” Geming Fizhan kemudian kembali merebahkan tubuhnya ke atas kasur.


...***...


Bersambung


Hayooo yang udah anggap ini serius mana suaranya wkwkw

__ADS_1


LIKE & COMMENT


__ADS_2