AKU KAU DAN ISLAM

AKU KAU DAN ISLAM
BAB 53


__ADS_3

“Eh jaga ucapanmu Azzam.”


Fizhan tercekat. Bisa-bisanya bocah kencur seperti Azzam bicara cinta-cintaan. Berarti secara langsung anak itu memang sering memperhatikan tingkah Irene terhadap Fizhan selama ini.


“Aish bapak tak percaya?”


“Sudah sudah, ayo jalan lagi.”


...***...


Tak ada yang dilakukan pria itu sore ini kecuali menyesap batang rokok di kamar ruang tengah basecampnya. Setelah memberi Alan gunungan uang lelaki itu langsung pergi entah ke mana dan meninggalkan Samuel seorang diri di sini.


Kalau orang bilang kita akan merasakan segala kepedihan ketika sedang sendirian, maka begitu pula yang saat ini sedang dirasakan oleh Sam di kamarnya. Sekalipun dia seliweran sana sini, kongkow-kongkow tidak jelas bersama semua teman nakalnya bahkan sesekali pria itu juga menikmati ritual terlarang yang kerap dilakukan orang dewasa dengan pasangannya. Namun tak menutup kemungkinan bahwa sebenarnya jauh di lubuk hati dia merasakan ada sesuatu yang mengganjal, seperti ada yang hilang tapi entah apa dan seolah ada yang harus diperbaiki namun tak tahu harus bagaimana.


Biasanya kalau sudah begini rumah Aisyah akan menjadi objek utamanya karena tanpa tahu jawabannya di tempat itu dia akan menjadi tenang dan juga damai. Bahkan sebenarnya pun pria itu punya niatan buat menginap di rumah tersebut, namun mustahil. Bisa-bisa keluarga Aisyah beranggapan bahwa dirinya tak memiliki sopan santun.


“Apa aku ke sana sekarang ya?”


Sam menimbang-nimbang sesuatu. Hari masih siang bolong, kemungkinan tidak ada orang di sana mengingat banyak aktivitas harian yang harus dikerjakan.


“Ya sudah nanti malam saja.” Gemingnya dalam hati pada akhirnya.


Bugh! Tiba-tiba saja Samuel dikagetkan oleh suara banter yang berasal dari luar sana. Siapa? Suara apa itu? Alih-alih ingin memejamkan mata akhirnya pria itu terpaksa turun tangan guna melihat si sumber suara.


Kosong.


Tak ada sesiapapun di tempat itu.


“Suara apa tadi?” Sam beringsut dari tempat menuju halaman depan bangunan mini tersebut.


Suasana sangat sepi bahkan tak satu kendaraan pun yang berada di tempat ini. Apa ada jelmaan iblis yang baru saja mengganggu? Ck! Mana mungkin. Lalu Sam berinisiatif menjejakkan diri ke tepi jalan guna mencari manusia mana yang baru saja mengganggu waktu istirahatnya tadi. Namun betapa terkejutnya si jambang rimbun itu takkala mendapati spion kanan mobilnya yang sudah penyok entah karena apa.


“Loh kenapa bisa begini?” Gerutu Sam seraya memegangi body spion hitamnya.


Lelaki itu bertanya-tanya di dalam hati. Sepertinya selama di perjalanan ia tak pernah menabrak dan ditabrak oleh siapapun. Tapi kenapa bisa peot begitu?


“Oh astaga! Ini lagi.” Sam kaget bukan main dengan apa yang baru saja dilihatnya.


Kenapa akhir-akhir ini selalu ada gangguan aneh dari luar sana? Sam meraih benda tersebut dan lagi-lagi sebuah batu besar yang dibungkus dengan kertas putih serta deretan huruf di atasnya kembali menghantui siangnya kali ini.

__ADS_1


“Kurang ajar! Siapa pelaku ini semua?” Sam kesal bukan main. Pasalnya ini sudah kejadian ke sekian kali yang menimpa dirinya.


Sam memang nakal bahkan musuhnya berada di mana-mana. Namun di sisi lain dia juga percaya bahwa para haters itu tak akan mungkin menyerang dengan cara serendah ini. Lagipula siapa yang mengetahui tempat ini kecuali teman sepermainannya, dan…


Lyora.


“Lyora? Apa dia pelakunya?” Netra Sam membeliak sempurna.


...***...


“Apa? Melamar anak itu untukmu?”


“Iya Bi.”


Seorang pria paruh baya dibuat kalang kabut oleh putrinya sendiri. Ya, bagaimana tidak? Di usianya yang masih sangat belia dia sudah berani minta untuk dinikahkan dengan seorang pria. Dan anehnya lagi dia pula yang melamar, bukan yang dilamar.


Fatimah.


Gadis berparas ayu tersebut tak mampu lagi membendung rasa cintanya terhadap sosok Fizhan. Saban hari hanya ada wajah cowok itu yang membayang-bayangi isi kepalanya. Tak jarang juga Fatimah cemburu dengan semua wanita yang mendekati bahkan hanya sekedar mengobrol santai pun dia kerap terbakar.


Awalnya dia juga takut dan enggan memohon pada ayahnya sendiri. Tapi mau bagaimana? Guna menghindari rasa sakit yang berkepanjangan pada akhirnya dara itu membuka suara agar dari pihak mereka segera melamar Fizhan.


“Kau pikirkan matang-matang nak, kau itu masih harus kuliah.” Suara Abi Azhar alias ayah kandung dari Fatimah kembali terdengar.


“Tapi bukannya Abi dan Umi dulu menikahpun sambil kuliah?”


Deg!


Pria berkulit putih itu bisu seribu bahasa. Benar juga kata putrinya bahwa dia dan sang istri menikah sewaktu mereka masih sama-sama semester tiga di bangku almamater. Eh tunggu dulu! Tapi waktu itu Abi Azhar yang melamar, bukan si perempuan.


“Iya memang benar. Tapi bukan dari pihak wanita yang melamar.”


“Kalau menunggu dia yang melamarku itu tak akan mungkin Abi.”


“Kenapa? Karena dia tak mencintaimu? Lalu mengapa kau mau?”


Blushhh!


Plak!

__ADS_1


Hati orang yang mendengar pun serasa dihujani oleh larva panas dari atas gunung. Sakit sekali mendengar perkataan ayahnya sendiri. Apa lelaki beranak dua itu tak tahu arti dari perjuangan? Apa salahnya mencoba.


“Jadi Abi tetap tidak setuju?”


“Tidak!”


Bugh!


Fatimah malah ngacir ke kamar lalu membanting pintu sekenanya. Abinya masih terpaku di tempat menyaksikan tingkah aneh yang mendadak muncul dari putrinya sendiri di hari ini.


“Sakit sekali hatiku hiks hiks.” Tangis sang gadis pecah begitu saja di dalam ruangan berkelir putih itu.


Dia sangat mencintai Fizhan. Di sisi lain dia juga tak ingin semakin terjerumus ke dalam ruang dosa karena mengimajinasikan sosok adam yang bukanlah mahramnya. Tapi mau bagaimana? Abi Azhar adalah pengatur segalanya di rumah ini, Fatimah tak dapat berbuat banyak kecuali berdo’a pada Sang Kuasa agar dilembutkan hati ayahnya itu.


“Fizhan, semoga memang benar kita berjodoh.” Fatimah meringis perih.


...***...


Siang berlalu. Bintang menyambut dengan semangat, tampak sekali dari kerlap kerlipnya yang menggoda di atas sana. Aisyah melipat pakaiannya yang berserakan di atas lantai sambil menonton acara televisi kegemarannya. Menjadi anak sematawayang membuat gadis itu harus melakukan segala pekerjaan seorang diri. Uminya jarang di rumah karena selalu mengisi pengajian khusus wanita di mesjid-mesjid, sama seperti Abi Zulfan.


Tok tok tok.


Tiba-tiba suara ketukan pintu terdengar dari arah luar. Aisyah membangkitkan tubuh kemudian langsung menarik knocknya guna melihat tamu mana yang datang malam-malam begini.


Ceklek.


“Astagfirullah!”


“Hai.”


Aisyah kaku. Mimpi apa wanita itu melihat tamu yang teronggok di beranda rumahnya malam-malam begini.


“S- Sam? Ngapain kamu?”


...***...


Bersambung


LIKE, COMMENT & VOTE

__ADS_1


Semoga kalian sehat selalu 🤗


__ADS_2