
Sebenarnya hari ini ia berencana untuk membeli kerudung yang disarankan oleh Fizhan kemarin. Meskipun seumur hidupnya ia tak pernah menyentuh benda persegi itu namun kali ini ia mengharuskan dirinya sendiri untuk wajib memilikinya. Ya, bagaimana tidak? Demi dapat berdekatan dengan tajuk mahkotanya ia rela melakukan segalanya sekalipun itu harus bertabrakan dengan hatinya sendiri.
“A- anu- aku cuma ga mau ngerepotin kamu terus. Ah iya itu.” Jawabnya cengengesan. Semoga saja Ester tidak peka bahwa sebenarnya ada sesuatu yang tengah kawannya itu sembunyikan.
Selepas tampak menimbang sesuatu barulah Ester menyetujui ucapan remaja berkuncir satu tersebut. Akhirnya pun mereka berangsur dengan jalur yang berbeda. Aneh! Kejanggalan kembali terbit.
Bagaimana mungkin Irene yang rumahnya searah dengan Ester melajukan kendaraannya ke jurusan lain bahkan jika diperhatikan riaknya pun tidak seperti hari biasa.
“Mau kemana dia?”
...***...
Ruas jalanan Kota Medan tampak senggang siang itu. Pengguna jalan yang memintas pun dapat dihitung dengan ruji tangan. Kondisi ruas jalan tersebut dapat dikatakan cukup lebar dan bagus meskipun sesekali terdapat lubang-lubang kecil namun hal itu sama sekali tak mengacau para pemakai jalan yang sedang melaju.
Setelah 15 menit berkemudi akhirnya tibalah Irene pada sebuah lapak luas yang diisi oleh ruang-ruang berdiameter 3*4. Tempat itu hanya terbangun dari tiang penyangga dan terpal biru yang memayungi bagian atasnya, sebut saja pasar. Tempat dimana orang-orang mengguit rezeki dengan menjajakan serangkaian dagangan mereka. Ada perabotan rumah tangga, beragam jenis pakaian, alat-alat tulis bahkan sayur mayur dan daging pun telah tersedia komplit di sana.
“Sepuluh ribu tiga sepuluh ribu tiga.”
“Jeruk jeruk jeruk.”
“Sayang anak sayang anak.”
“Obat kuat obat kuat.”
Sahut-sahutan para pedagang meriuhkan keadaan pasar siang itu. Cicitan para balita mungil yang sibuk meminta balon pada ibunya juga semakin menghebohkan kondisi yang huru-haranya menyamai pasar malam Santa Modern.
Gadis yang tengah menggendong ransel hitam itu berjalan lurus menyusuri keramaian pasar beserta bisingnya pekikan penjual. Ia menatap kagum melihat semangat para pedagang yang tak pernah usang, mereka rela saban hari menjemur badan demi menghidupi keluarga tercintanya.
“Ada kerudung bang?” Tanyanya pada pedagang yang tengah sibuk memasangkan kemeja putih pada tubuh manekin.
“Banyak neng. Mau model yang gimana?”
“Mmm yang mana ya…” Irene bergumam dalam hati seraya mengedarkan pandangan mencari sesuatu yang ia maksud. Hei! Mana dia tahu mode-mode barang berbahan benang seperti itu, menyentuhnya saja pun ia tak pernah.
“Nah yang itu tuh bang.” Jari telunjuknya membidik jejeran kerudung yang tercantel pada kepala manekin. Ragam warnanya yang menawan membuat ia ingin membeli seluruh benda berwujud persegi tersebut.
__ADS_1
Antusiasnya untuk meguak sosok Fizhan memang benar-benar wajib diacungi jempol. Entah apa ujung dari perkenalannya dengan lelaki berparas firdaus itu, apakah hanya sebatas tingkat penasaran yang akut atau memang ada sesuatu yang akan menghantarkannya pada kisah baru dalam kehidupan.
Senyum sumringahnya membentang di wajah takkala ia menjinjing plastik hitam yang berisikan tujuh buah kerudung. Sengaja ia membeli dalam jumlah yang sama dengan perhitungan satu minggu karena agar ia dapat bergonti-ganti warna kerudung setiap harinya.
“Terimakasih dek.” Ucap pedagang itu setelah menerima selembar uang merah dan dua lembar uang hijau dari tangan Irene.
Akhirnya gadis itu pun pulang dengan paras berseri. Kelihatannya siang ini akan menjadi hari yang bersejarah baginya, dimana beberapa jam lagi ia akan mengenakan suatu benda yang nyata 17 tahun tidak pernah ia sentuh, apalagi sampai memakainya.
Namun dalam waktu yang bersamaan sesuatu yang tak disadarinya pun terjadi. Ada sepasang mata yang menotonnya tegang dari arah jauh takkala ia membeli kain penutup kepala tersebut dalam jumlah banyak.
Astaga!
Itu Ester.
Sedang apa dia disini?
Ternyata dia membuntuti Irene untuk memecah rasa penasarannya sedari tadi. Sayang. Bukannya terjawab, rasa penasaran itu kian menjulang setelah mendapati kejanggalan baru pada sohibnya itu.
“Irene?”
...***...
Sebuah ruangan luas nan megah tempat seorang gadis jelita bersama ayahnya bermukim kini terasa sangat lempang dan sunyi. Ruang tamu yang biasanya riuh dengan suara televisi dan musik-musik era 80-an kini tak ubah layaknya kota mati yang telah lama tak berpenghuni.
Senyap.
Hening.
Kosong.
Hari ini adalah hari ketiga bagi sang empunya rumah meninggalkan tempat peristirahatan serta intan payungnya seorang diri. Meskipun masih dalam perkiraan 3*24 jam namun hatinya sangat merasa rindu dengan buah hati semata wayangnya itu. Anak pemalas yang hanya banyak menghabiskan waktunya dengan telentang-telangkup di atas ranjang, dan seorang gadis yang nyaris saban hari membuat tekanan darahnya mendahsyat naik. Namun, meski begitu Irene adalah sosok terbaik di matanya, tali jiwa yang selalu membersamainya dalam suka maupun duka.
Begitu pula dengan yang dirindukan.
Ada rasa hampa tersendiri bagi Irene setelah kepergian papanya dari rumah mereka. Begitulah rindu, zatnya memang tidak kasat dalam pandangan mata. Namun rasanya terkadang bisa menderaskan jeritan hati.
__ADS_1
“I miss u dad.” Geming Irene takkala melintasi ruang tengah yang kerap menjadi saksi bisu setiap kegiatan dua manusia di dalamnya. Ia mengedarkan pandangan ke seantero rumah, ada bayang-bayang papanya yang saban hari bersantai di sana.
“See u next four days.” Sambungnya lalu mengambil langkah kearah atas menuju ruangan persegi tempat ia biasa mengadu nasib.
...***...
Ceklek.
Decitan pintu kamar nyaring terdengar takkala Irene menarik kenopnya dari arah luar. Setiba menginjak ruangan tersebut ia langsung disuguhi oleh aroma-aroma apek yang melingkungi segenap seantero kamarnya. Panorama bantal dan guling yang tercampak asal juga menjadi bagian dari first impressionnya kala itu. Benar-benar gadis pemalas! Apa si jambang rimbun juga akan tetap mencintainya jika tahu tabiat buruk yang tertutup dari paras ayunya itu? Ah, biarlah hal itu menjadi urusan hatinya saja.
Irene merebahkan tubuhnya di atas kasur dengan sembarang, menatap langit-langit kamar yang mulai ditumbuhi oleh sawang-sawang hitam. Entah kapan terakhir kali ia merapikan bilik kecil berdominasi hijau muda itu.
“Tingkatkan terus prestasi kemalasanmu Irene.” Cicitnya dalam hati lalu tanpa sadar berlayar ke dalam alam entah berantah.
...***...
Nyala kilau petang menembus ruang hijau yang tengah dihuni oleh seseorang melalui celah-celah gorden yang terbuka. Tampak pendaran jingga yang bertaburan seakan turut menghiasi kilauan langit di Kota Medan.
“Ummm egggh.” Suara uletan terdengar lirih saat kilasan surya menembus netra remaja yang sedang hanyut dalam mimpi indahnya. Ia melirik jam beker yang tercegak di atas nakas, pukul lima sore.
“It’s time to meet u.” Katanya dengan suara serak khas orang bangun tidur seraya membangkitkan tubuh penuh energik.
Selaras dengan nyala mentari yang tengah memancar menerangi bumi. Ia memasangkan rajut mustard dan kulot hitam kepada tubuhnya yang berdimensi mini tersebut. Ada sorot anggun tersendiri takkala ia melumuri bibir ranumnya dengan liptin merah yang baru dibelinya beberapa hari lalu.
“Perfect.” Irene bergemam pelan seraya menyunggingkan senyuman tipis ke arah pantulan cermin. Melihat gadis molek yang juga berada di dalam bayangan kaca tersebut membuat ia semakin jumawa untuk menampakkan diri ke luaran sana. Rambut hitam kumbangnya sempurna indah saat digerai menyelimuti area bahu. Cantik!
“Eh tunggu-tunggu! Hampir aja ketinggalan.” Cicitnya takkala merasa ada yang sedang ia lupakan.
...***...
Bersambung
Comment & vote guys
Semoga kalian sehat selalu 🤗
__ADS_1