
“Apa? Abi akan mengabulkan permintaanku?”
“Iya.”
Gadis berparas teduh itu terlonjak kaget takkala mendengar sebuah kalimat yang sebenarnya sudah nyaris pupus dari hatinya. Senyum sumringai terbit menghiasi wajahnya yang masih tampak pucat, linangan kristal bening mendadak keluar dari pelupuk mata.
Kemarin sore…
“Sudahlah dari pada dia sakit-sakitan begini lebih baik kita kabulkan saja permintaannya.” Seorang pria berkata kepada istrinya di dalam kamar setelah pulang dari menunaikan sholat ashar di sebuah mesjid yang tak jauh dari rumah.
“Apa sudah yakin?”
“Mau bagaimana lagi? Mungkin anak kita itu sudah terlalu cinta mati dengan seorang pria yang bernama Fizhan.”
“Baiklah Abi, saya hanya mengikut.”
Mau tak mau dan ikhlas tak ikhlas sepasang insan itu harus menuruti permohonan putri mereka yang ingin melamar seorang pria. Tak ada jalan lain karena kondisi Fatimah kian parah. Gadis itu tak ingin dibawa ke rumah sakit dan terpaksa lelaki paruh baya alias Abi Fatimah memanggil dokter pribadi ke rumah mereka.
Begitulah kalau sudah cinta buta, pasti sakit kalau gagal terealisasi.
Fatimah selalu menangis, kalau malam ia tak ubah seperti bibi-bibi cantik yang sering memakai gaun putih bercampur darah.
“Benarkah Abi? Benarkah? Ini bukan hanya akal-akalan untuk menghiburku saja kan?” Gadis itu kembali bertanya dengan wajah penuh harap. Netranya berbinar, tangannya memegangi punggung tangan pria yang selama tujuh belas tahun memberinya nafkah.
“Iya nak.” Jawabnya bersamaan dengan seulas senyum, senyum keterpaksaan.
Baik pria maupun wanaita itu sebenarnya tidak ridha jika anaknya berlaku seperti ini. Fatimah itu masih sekolah dan umurnya pun bahkan sangat belia. Entah sebab apa yang membuatnya terlalu cepat untuk menjatuhkan hati pada seseorang, dan entah bagaimana perawakan lelaki yang berhasil membuat hati dara tersebut seakan tercuri.
Kedua orangtua Fatimah hanya tak ingin putrinya jatuh lebih dalam lagi dan akhirnya berakhir dengan sebuah luka. Karena bagaimana pun mereka juga pernah muda dan tahu betul seluk beluk dunia percintaan. Dulu sebelum disatukan, keduanya juga pernah merasakan yang namanya makan hati berulam jantung karena dunia merah jambu. Dikhianati sudah menjadi makanan mereka sehari-hari. Maka dari itu keduanya tak ingin bila hal-hal serupa terjadi dengan putrinya yang masih bau kencur itu. Di dunia ini takkan ada orangtua yang ikhlas bila anaknya disakiti oleh orang lain.
Keadaan Fatimah sontak membaik. Bibirnya tiada henti membentuk huruf U sempurna di sana. Uminya pun begitu, seulas senyum mengiringi keadaan rumah saat ini.
Dasar bucin!
...***...
“Ester sebenarnya ada yang ingin kukatakan.”
__ADS_1
“Apa?”
Seakan genting, Alan meminta kekasihnya itu untuk bertemu pagi-pagi buta. Seperti biasa, tak ada makanan ataupun minuman mewah di setiap pertemuan. Semua hanya bermodal air mineral dan kacang-kacangan yang sama sekali tak berfungsi di dalam lambung.
Sepasang muda mudi itu baru kali ini bertemu kembali setelah sekian lamanya. Alan selalu membuat alasan meski Ester terus memaksa, hingga akhirnya pria itu sendiri yang meminta pertemuan secara mendadak.
Alan tidak kemana-mana dan memang sedang tak memiliki kesibukan apa-apa. Pria gila itu sengaja mengaduk-aduk rasa rindu yang bergelayut di hati sang wanita dan tiba-tiba datang untuk menghadirkan kabar buruk.
Sudah ia pikirkan matang-matang dan membicarakannya dengan Sam. Apapun yang terjadi nanti atau bahkan sumpah serapah akan keluar dari mulut Ester, namun setidaknya wanita dungu itu tak bisa lari lagi karena dirinya telah terikat fisik oleh Alan.
Kejam!
“Maafkan aku sayang tapi sebenarnya kau sudah tidak perawan.”
“Apa?” Alis Ester saling tertaut, mencoba menelisik deretan kata yang baru saja menyemburat dari bibir Alan.
“Apa kau masih ingat dengan kejadian yang membuat bagian bawahmu nyeri?”
“Setelah kita tidur berdua di malam itu.”
“APA KATAMU!”
Bagai tersambar petir di siang bolong. Netra orang yang mendengar spontan diselimuti oleh air asin. Tak mudah dipercaya namun semua ini terasa nyata. Memang sakit, waktu itu terasa sangat perih.
“Maafkan aku.” Kali ini Alan bersujud di bawah kaki sang wanita. “Aku melakukan ini semua karena aku teramat mencintaimu sayang, aku sungguh tak ingin kau dimiliki oleh orang lain.” Pria bejat bin iblis itu mulai berakting guna menarik simpati Ester.
Mana ada orang sayang tapi merusak! Dasar pria picik! Tega sekali dia berbuat demikian hanya karena segepok uang yang sama sekali tak dibawa mati.
Ester tak bisa berkata-kata. Mulutnya bungkam seperti ada perekat yang menempel di bagian alat pengeluar suara tersebut. Langit yang semula cerah seketika menjadi gelap di mata si wanita, bumi pun berasa terbelah dan menenggelamkan apa-apa saja yang berdiri di permukaannya.
Yang sedari tadi bersujud di bawah kaki pun tak henti-hentinya meminta maaf. Air mata buaya ia keluarkan hingga tandas dari pelupuk, tak perduli jika sedang ada beberapa pasang mata yang saat ini menatapanya nanar.
Semua demi uang.
Ester merasa bodoh, dungu, tolol dan apalah itu namanya. Bisa-bisanya ia termakan rayuan Alan bahkan sampai tak sadar bila telah dihadiahi dengan obat bius. Tangannya mengepal sempurna, giginya menggeletuk menahan amarah yang nyaris mencapai ubun kepala.
Bugh!
__ADS_1
Sebuah tinjuan keras berhasil mendarat di pipi sebelah kanan Alan.
Bugh!
Kali ini di pipi sebelah kiri.
Merah, semuanya sudah berwarna buah tomat.
“Aduuuuh!” Alan bangkit dan mengaduh kesakitan. Pria itu menggosok kasar bagian yang baru saja ditimpuk oleh benda beruas lima. Meskipun wanita, ternyata timpukan Ester mampu menyisakan cap merah di bagian sana.
Bagai mimpi buruk, Ester sungguh makan hati berulam jantung pagi-pagi begini. Pertemuan yang seharusnya menjadi pelepas rindu malah menjelma bak kobaran api yang siap melahap deretan gedung. Wanita itu kecewa, hatinya rapuh tak tahu bagaimana cara agar kembali.
“Aku janji akan bertanggung jawab sayang.” Suara Alan kembali terdengar, kali ini sedikit lebih parau.
“Bagaimana mungkin aku dapat memaafkan orang yang telah mengambil hartaku yang paling suci. Hah!” Ester menarik kera baju Alan hingga membuat kancing kemejanya terlepas satu.
“A- aku tidak bermaksud un-“
Bugh!
“Aduuuh!”
Suara banter kembali terdengar dari tempat dua orang yang tengah berdebat ini. Alan memegangi kepalanya yang kali ini menjadi sasaran tinju, sedikit pusing namun mau tak mau ia harus menahan semuanya demi melancarkan sebuah misi.
...***...
Bersambung
Cocoknya cowo kaya Alan diapainnya?
Gimana kalo dimasukin ke karung beras terus dihanyutin ke laut lepas.
Biar dia tahu gimana rasanya ditelan hidup-hidup oleh hius ganas, huuuuu.
LIKE & COMMENT
Semoga kalian sehat selalu 🤗
__ADS_1