AKU KAU DAN ISLAM

AKU KAU DAN ISLAM
BAB 18


__ADS_3

Hati seorang pria yang dari awal sudah menawarkan diri untuk menemani wanita itu pulang kini serasa dihujani oleh lava panas dari perut gunung. Bagaimana tidak? Apa bedanya ia dengan yang lain? Bahkan dia adalah orang pertama yang mengutarakan niat baik demi menjaga keselamatan seorang perempuan yang memiliki rasa trauma.


Begitupun dengan beberapa pasang telinga yang mendengarnya. Berbagai spekulasi bermunculan di dalam otak mereka masing-masing. Ada yang berpikir bahwa Fatimah sungkan untuk ditemani Fizhan, Fatimah kesal dengan Fizhan, Fatimah ingin pulang dengan selain Fizhan dan masih banyak asums-asumsi yang berkelebat di dalam benda yang terbungkus oleh tempurung kepala tersebut. Semua saling melayangkan pandang dengan raut penuh tanya keheranan.


Orang yang ditolak iktikad baiknya pun seketika merasa terkucilkan. Saat ini ia menganggap bahwa Fatimah menolak ajakannya murni semata-mata karena ia tidak memiliki motor. Wanita mana yang mau diantar pulang menggunakan angkutan umum? Pasti akan malu bila dilihat oleh orang-orang yang mengenal Fatimah, begitu pikir Fizhan.


Wanita yang menyadari akan tanda tanya dari pada teman-temannya itu pun berangsur naik dan mendaratkan bokongnya pada jok kereta. Rasanya ia benar-benar ingin segera menghilang dari pandangan mereka guna menghindari berbagai macam pertanyaan aneh. Dia juga tidak tahu apakah setelah kejadian ini ia mampu menampakkan wajah kepada mereka. Fatimah sungguh sangat malu, pasti seluruh temannya mengira bahwa ia sedang melakukan tindak pilih kasih.


“Duluan ya semua. Zhan, hati-hati ya.” Alta menepuk-nepuk bahu Fizhan sesaat sebelum ia melajukan kendaraannya bersama Fatimah.


Sebenarnya ia juga tidak tega meninggalkan dan membiarkan konconya itu pulang sendirian. Namun bagaimana lagi, ada seseorang yang lebih membutuhkan bantuannya saat ini.


Teman-teman yang lain juga menyusul pulang meninggalkan Fizhan seorang diri di beranda mesjid. Belum terlalu malam dan angkutan umum masih banyak berserakan di jalanan. Fizhan mengambil langkah menuju bibir jalan untuk menunggu angkutan umum dan pulang ke rumahnya.


...***...


Cahaya rembulan tampak indah saat dipandang dari benda bundar yang bernama bumi. Bulat sempurna, persis seperti uang logam yang sering dibelanjakan para bocil-bocil untuk membeli balon. Jutaan bintang yang tercecer di langit juga kian menambah kesan menawan pada seantero alam. Semua tampak bersahabat, bulan, bintang, awan-awan kelabu dan pendaran cahaya seolah bekerjasama demi menerangi bumi Sang Ilahi.


Fizhan melangkahkan kakinya dengan lambat takkala ia telah menuruni tangga angkot. Ia merasakan tiupan angin malam memadati sekujur tubuhnya, akhir-akhir ini pria itu memang sering bergadang sehingga membuat angin jahat bersarang dalam badannya.

__ADS_1


Srek srek srek.


Seretan sendal membubarkan semut-semut yang sedang melintas di permukaan tanah. Hewan-hewan kecil tersebut begitu ketakutan mana kala ada benda besar dan tinggi melewati rumah mereka. Meskipun sebenarnya semut-semut itu tinggal di dalam tanah, namun tetap saja masih ada segerombolan semut yang berkelebat di kawasan itu demi mengisi perut kosongnya.


Fizhan yang melihat makhluk kecil itu kocar kacir ketakutan seketika memberhentikan langkahnya. Ia jadi teringat masa kecil suwaktu ia masih mengaji di Mesjid bersama teman-teman dan gurunya. Guru tersebut menceritakan kepada seluruh muridnya bahwa suatu hari Nabi Sulaiman AS dan pasukannya memasuki sebuah lembah yang dipenuhi oleh pepohonan besar dan juga rindang. Di lembah tersebut terdapat sebuah sarang semut. Melihat banyaknya pasukan yang dibawa oleh Nabi Sulaiman AS para semut pun ketakutan. Mereka sangat khawatir terinjak oleh benda beruas lima alias kaki. Kemudian Jirsan si raja semut berkata kepada seluruh rakyatnya agar mereka semua segera masuk ke dalam sarang guna menghindari pijakan maut para manusia yang tengah berdiri persis di hadapan mereka. Nabi Sulaiman AS yang mendengar perkataan semut tersebut pun mendadak tertawa. Ia memberhentikan langkahnya lalu membiarkan para hewan-hewan mini tersebut untuk masuk ke dalam sarang. Sungguh ia adalah orang beruntung yang dapat menerima Mukjizat dapat berbicara dengan hewan dari Allah SWT.


Fizhan memperhatikan bangunan biru yang berada tepat di depan matanya. Terlalu besar rasanya bila rumah itu hanya dihuni oleh satu manusia saja. Ia melangkahkan kaki dengan berat dan hendak menuju pintu utama. Namun sesaat sebelum ia sampai pada bibir beranda, sebuah benda persegi berwarna moca tertangkap matanya dan menimbulkan pertanyaan baru.


“Loh. Punya siapa ini?” Gumamnya dalam hati setelah menggapai sebuah kerudung yang tergeletak di atas tanah. Pria itu berpikir sejenak mengingat-ingat siapa saja yang berkunjung ke rumahnya di hari ini. Tidak ada. Ia ingat benar hanya bocah-bocah cilik anak didikannya lah yang menjejakkan kaki di hamparan rumah miliknya.


Tidak ingin berpikir panjang, ia segera menarik kenop pintu dan membawa masuk kerudung yang ia tidak tahu entah milik perempuan mana. Jika memang ada seseorang yang kehilangan benda tersebut, pastilah orang itu akan kembali mendatangi bangunan biru itu, begitu pikirnya.


...***...


Memiliki seorang ibu berprofesi sebagai wanita karir yang saban harinya keluar masuk kota dan jarang sekali di rumah kerap kali membuat ia harus menyendiri di sebuah bangunan yang luasnya cocok untuk dihuni untuk beberapa keluarga. Bernasib sama seperti konco kecilnya, Ester ditinggal oleh orang yang amat ia sayangi sedari kecil. Bedanya Ester ditinggal oleh ayahnya dan irene ditinggal oleh ibunya. Mereka wafat pada bulan dan tahun yang sama.


Gadis yang tengah menggendong ransel hitam itu pun beringsut memanaskan motornya di halaman depan. Hari ini ia akan kembali masuk sekolah setelah meliburkan diri selama satu hari penuh.


Brrrrm brrrrrm.

__ADS_1


Sebuah suara kendaraan dari arah lain mengagetkan wanita yang tengah berdiri di perkarangan rumah berwarna putih. Seketika ia memanjangkan leher untuk mengamati siapa sosok yang datang pagi-pagi buta begini ke rumahnya. Sejenak ia berpikir bahwa benda beroda empat yang mendarat di depannya itu adalah maminya, namun sepertinya tidak mungkin karena saat ini wanita yang kerap menjadi sandaran hidupnya itu sedang ada urusan di luar kota.


Mobil itu kian mendekat hingga saat ini telah tercegak persis di hadapan matanya. Sepasang kaki berlapis sepatu hitam bertali menyembul dari dalam sana. Ester memicingkan netra seraya mengamati raut mana yang akan muncul dari pintu mobil. Sehingga dalam detik berikutnya ia dapat dengan jelas menangkap sosok manusia yang ternyata adalah mantan kekasih sahabat dekatnya, Sam.


“Selamat pagi nona manis.” Pria bertubuh jenjang tersebut menyunggingkan senyuman tipis, ia memilin-milin jambangnya yang rimbun seraya memperhatikan Ester dari ujung kaki hingga ke rambut.


“What the hell! Ada keperluan apa seorang bajingan datang ke kediamanku?” Ester mengumpat dengan jijik. Ia benar-benar bosan melihat wajah lelaki di hadapannya yang dipenuhi oleh rambut-rambut hitam itu. Huh sudah seperti monyet saja ia, pikir Ester.


...***...


Bersambung


Kira-kira tuh si jambang lebat mau ngapain yak?


Yang tebakannya bener author bakal up dua kali deh hari ini 😁


Comment, like & vote guys


Sehat selalu yaa🤗

__ADS_1


__ADS_2