
Irene tercekat. Ia sontak menutup mulutnya dengan kedua telapak tangan. Memang benar kata orang-orang bahwa dunia ini hanya selebar daun kelor. Siapa sangka lelaki yang baru saja dikenal Irene ternyata juga mengenal wanita yang tak lain adalah teman sekelasnya sendiri. Ada hubungan apa antara Fatimah dengan Fizhan? Mengapa mereka terlihat sangat akrab? Sedangkan jika bersama Irene Fizhan bak putri malu yang enggan menarik simpul bibir.
Khawatir tipuan muslihatnya akan terbongkar, secepat mungkin wanita itu menarik langkah menjauhi lapangan yang luasnya menyamai hamparan bandara. Hatinya kembat-kembut memikirkan apa jadinya bila ketiganya bertemu di tempat tadi.
Ah sial! Kenapa susah sekali hanya untuk bisa berdekatan denganmu.
Batin Irene meronta-ronta menahan kesal. Rasanya sulit sekali untuk dapat jatah bercengrama dengan lelaki menawan tersebut. Selalu saja ada penghalang. Apa mungkin karena ia memulai kedekatan ini melalui berbagai sandiwara? Atau memang rotasi bumi yang belum berpihak kepada dirinya.
“Keseeeeeeeel.” Beberapa kantong plastik sisa jajanan para pengunjung ikut terhempas akibat hentakan kaki Irene yang begitu kuat di permukaan tanah. Ia menepikan kuda terbangnya di bawah pohon besar berdaun rindang. Raut masam terlukis di rupa. Pendaran jingga yang tadinya terlihat sangat indah berangsur muram dalam pandangan sang empunya hati nan terbakar itu.
Di sisi lain tanpa sepengetahuan Irene. Seorang bocah kecil berpipi bakso sedang memperhatikannya dari arah berlawanan. Ucul kecil itu memicingkan mata seolah sedang mengingat-ingat sesuatu.
Setelah beberapa detik memutar memori, akhirnya dengan sigap ia berlari ke arah belakang menemui seluruh komplotan bermainnya di sana. Napasnya nampak terpenggal-penggal karena berlari sambil meminum air tebu yang barusan saja ia beli tadi. Anak bodoh. Tidak berpikir apa kalau tiba-tiba air itu menyembur dan keluar dari mulutnya yang kekurangan gigi.
“Paaaak. Pak Fizhan.” Hei ternyata itu si gembul murid pengajian Fizhan. Ada kepentingan apa dia mendekati Fizhan dengan wajah yang memerah seperti kepiting rebus.
“Kenapa kamu lari-lari Azzam?”
“Pak, bapak tau ga?”
“Ya engga lah. Namanya juga belum kamu kasih tau.”
“Tadi di depan aku ngeliat kakak itu.” Fizhan dan Fatimah yang masih anteng berdiri di sana pun saling pandang penuh tanya.
“Kakak siapa? Kamu yang bener kalau ngomong dong Zam.”
“Itu kakak yang sering datang ke rumah bapak kalau sore-sore.”
“Hah?”
Gedebuk gedebuk gedebuk.
Fizhan ngacir ke arah depan meninggalkan Fatimah dan bocah gendut yang ternyata bernama Azzam tersebut. Fatimah yang seisi kepalanya dipenuhi oleh tanda tanya langsung saja menyerobot Azzam dengan berbagai pertanyaan yang aneh-aneh.
“Kakak siapa yang kamu maksud Zam?”
“Kakak-kakak yang suka datang ke pengajian.”
“Teman baru Fizhan ya?”
“Gatau.”
“Siapa nama perempuan itu?”
“Gatau.”
__ADS_1
“Cantik ga anaknya?”
“Ih! Kok jadi kakak yang kepo. Liat aja sendiri kalau mau tau.” Azzam beralih posisi menemui teman-temannya yang sedang khusyuk bermain tebak-tebakan bersama orang dewasa yang lainnya.
Gadis yang tidak puas dengan jawaban Azzam pun segera berlari ke arah depan. Menyusul Fizhan dan hendak memastikan perempuan mana yang saat ini sedang ia cari. Parasnya bersemu merah, menahan sesuatu yang keberadaannya tak bisa dilihat namun bisa dirasakan. Ia terbakar api.
Fizhan menoleh ke kanan dan ke kiri. Saat ini ia telah menjejakkan kaki di lokasi yang dimaksud Azzam. Netra pria tersebut berkelebat mencari sosok yang dituju. Nihil. Ia tak menemukan sesiapapun di sana kecuali para pedagang yang sedari tadi sibuk menawarkan jajanannya.
Ia pun mengambil langkah lebih jauh lagi, menelusuri trotoar di seputaran lapangan tersebut. Hatinya gelisah karena dia masih memiliki hutang pada gadis berambut panjang itu. Maksud hati ingin mengajarkan wanita tersebut mengaji dan memperkenalkannya dengan teman-teman sebayanya di sini, kini berangsur sirna begitu saja. Bodohnya ia lupa membertitahu Irene tentang acara mereka di tempat ini. Namun jika didengar dari cerita Azzam yang melihat gadis itu di sekitar sini menunjukkan bahwa Irene telah tau keberadaan mereka. Tapi dari mana dia tahu? Bukannya Fizhan tidak berbicara apapun dengannya? Ah kepala Fizhan disesaki oleh rentetan pertanyaan yang tak terjawab.
Suasana di hamparan luas tersebut kian ramai dipadati oleh muda mudi yang sedang bersua ria di sore hari. Kesemuanya menampilkan raut bahagia, sesekali cekikian mereka tertangkap sempurna oleh telinga Fizhan.
Bermenit-menit sudah ia mengelilingi kawasan ini hanya untuk mencari sosok Irene. Hatinya mulai kalut karena mendapati beberapa pasang mata yang menatapnya nanar. Mungkin mereka menduga bahwa lelaki yang sedari tadi mengitari lapangan ini telah kehilangan sesuatu. Sesekali ada juga yang bertanya ‘Nyari apa mas?’ dan ia hanya menjawab dengan gelengan kepala.
Merasa lelah dengan pekerjaan yang dilakoninya, ia pun memutuskan untuk kembali bersama anak-anak di sana. Mungkin sosok yang dicari sudah pulang atau memang si Azzam gembul itu yang salah lihat. Namun betapa kagetnya ia saat putar haluan dan mendapati seseorang persis dibelakangnya, bahkan saat ini tidak ada jarak di antara mereka.
“Astagfirullah Fatimah. Kamu bikin aku kaget aja.” Hei itu Fatimah. Sejak kapan ia berdiri di sana? Mukanya masih tampak memerah seperti tadi. Wanita itu memundurkan langkah seraya melipat tangan di atas dada.
“Kamu nyari siapa Zhan?”
“Temen aku.”
“Kata Azzam dia sering main ke rumah kamu setiap sore.”
“Bukan main Fat, lebih tepatnya dia mau belajar ngaji.”
“Seusia kita juga. Cuman katanya sih dia belum bisa ngaji.”
“Kamu udah lama kenal sama dia?”
“Barusan.”
“Kalian dekat?”
“Maksudnya?”
“Eng- engga. Soalnya dari tadi aku perhatiin kamu dari sini kaya khusyuk banget gitu nyariin dia. Tuh sampe pelipis kamu banjir keringat.”
Fizhan refleks menyeka buliran air bening yang bersarang di bagian dahinya. Aneh. Tiba-tiba ia merasa Fatimah mendadak sensi setelah kejadian ini. Padahal sebelumnya mereka masih terasa asyik saat mengobrol. Oh mungkin saja Fatimah PMS mendadak, Fizhan mencoba berpikir positif.
Di tengah obrolan sepasang anak adam tersebut, ada seseorang yang memperhatikannya dari kejauhan.
Irene.
Ternyata gadis itu tidak pulang seperti apa yang diperkirakan oleh Fizhan. Ia hanya beranjak ke tempat yang lebih aman dari jangkauan orang-orang yang sedang mencarinya.
__ADS_1
...***...
Sesaat setelah Azzam melihat keberadaannya
Gedebak gedebuk.
“Oh my god! Itu kan-“
“Jangan-jangan dia ngeliat aku di sini.”
“Ga bisa dibiarin. Aku harus kabur.”
Irene berlari kencang setelah mendengar suara hentakan kaki yang ternyata bersumber dari Azzam. Ia yakin 1000 % bahwa bocah si mulut remes itu akan mengadukan keberadaannya di sekitar sini pada Fizhan. Tak ingin diketahui, ia pun segera ngacir ke salah satu warung dan bersembunyi di balik tubuh-tubuh pengunjung yang sedang makan.
Benar saja. Lima menit berselang ia melihat sosok lelaki yang berjalan dengan raut tertekuk. Adam berbatik navy tersebut melenggang mengelilingi tepi lapangan dengan tergesa-gesa. Dahinya dipenuhi oleh peluh, sesekali ia terlihat menyeka cairan tersebut.
Jauh di lubuk hati Irene, sebenarnya ia tak tega menyaksikan Fizhan yang mondar-mandir seperti setrika pakaian. Ingin sekali rasanya ia menemui lelaki itu lalu memberikan sapu tangan untuk menghempas bulir-bulir asin yang membanjiri seluruh dahinya.
Namun apalah daya, lebih baik ia berdiam diri di tempat itu dari pada bertemu dengan Fizhan yang saat ini sedang berada di satu tempat bersama Fatimah, teman sekelasnya sendiri.
...***...
Irene menangkupkan kedua tangannya di atas dada. Perasaan lega bergelayut dalam hatinya setelah ia sukses kabur sebelum kepergok. Pengunjung di warung itu juga tidak ada yang mencurigainya, semua anteng makan dengan menu yang menggugah indera pengecap.
“Kenapa mereka keliatan begitu dekat?” Segelintir spekulasi negatif mulai menubruk pikirannya saat itu juga. Batinnya bertanya-tanya tentang keberadaan Fatimah yang tiba-tiba muncul di tempat ini.
Sejak kapan mereka kenal?
Ada hubungan apa mereka?
Mengapa keduanya tampak begitu dekat?
Ah semua pertanyaan tersebut berpadu menjadi satu.
...***...
Bersambung
Sebenarnya ada hubungan apasih antara Fatimah dan Fizhan?
Simak terus supaya dapat jawabannya ya 😚
Comment, like & Vote guys
Dukungan kalian semangat buat aku
__ADS_1
Sehat terus yaaa 🤗