
“Papaaa papaaa papaaa.”
Irene menyembul dari luar ke arah dalam. Matanya membulat sempurna takkala melihat pintu utama yang sudah terbuka lebar, tandanya Antonius sudah pulang. Di atas sana seorang pria yang sedang merebahkan tubuhnya spontan beranjak kemudian beringsut menuju lantai bawah sesaat setelah mendengar suara familiar dari sumber lain. Tanpa melihat wajahnya pun ia sudah tahu siapa pemilik bariton besar itu.
“Anak papa.” Antonius menghamburkan tubuhnya takkala melihat seorang gadis bermata hazel yang tercegak dekat ambang pintu.
Drama pun terjadi, baik Antonius maupun Irene saling hanyut pada rasa kerinduan masing-masing.
“Kamu sehat kan sayang hem?”
“Sehat banget. Papa juga kan?”
“Iya. Mari, papa bawa sesuatu buat kamu.”
Setelah acara peluk-pelukan selesai akhirnya mereka pun menghampiri sofa yang tersusun rapi di ruang tamu. Antonius meraih sebuah paperbag berwarna putih kemudian menyerahkannya kepada Irene.
“Aaaaa ini kan kesukaan aku. Makasih papa.” Gadis yang diberi hadiahpun merasa senang bukan main.
Keduanya menghabiskan waktu untuk saling bertanya kegiatan selama tujuh hari terakhir ini.
...***...
“Ck sial! Kenapa aku seperti orang bodoh ketika bertemu wanita tadi? Apa bagusnya dia?”
Sam termangu meratapi kedunguannya hari ini. Sungguh ia tak pernah menjadi sebaik ini kecuali pada peristiwa tadi. Ia mengingat-ingat setiap detik dari kejadian itu, sederet pertanyaan berlabuh di otaknya.
Kenapa aku mendadak diam?
Kemana kebengisan yang selalu kutunjukkan untuk orang lain?
Ada apa pada diri gadis itu?
Bahkan obrolan dari orangtuanyapun sempat membuat aku nyaman.
Mampus!
Sam menggebuk-gebuk setir mobil. Otaknya berkata bodoh namun hatinya seakan senang dengan peristiwa yang membuat gadis berkerudung panjang itu menangis tersedu.
...***...
“Alhamdulillah sepertinya nak Fizhan sudah cocok menjadi ustadz.” Seorang pria berkupluk putih menepuk-nepuk bahu Fizhan lembut. Acara telah selesai dan orang-orang mulai beranjak dari tempatnya untuk segera pulang.
“Masya Allah, ini semua berkat bimbingan ustadz. Tapi saya hanya manusia yang masih fakir ilmu ustadz, sangat tidak pantas rasanya bagi saya menerima pujian seperti itu.”
“Saya doakan supaya suatu saat kau dapat menggantikan saya ya nak. Umur tidak ada yang tahu.”
“Insya Allah saya akan terus berusaha memperbaiki diri. Semoga ustadz selalu dilimpahi kesehatan serta umur yang panjang dari Allah SWT.”
__ADS_1
Kedua adam itu tampak sangat akrab. Seorang pria paruh baya yang kerap disapa dengan Ustadz Syam itu adalah guru sekaligus sahabat bagi Fizhan. Sejak kecil Fizhan sudah belajar bersama dirinya, mulai dari huruf hijaiyah sampai ia dapat menjadi seorang pemateri dalam acara keagamaan seperti hari ini.
“Ohiya saya pulang dulu ya, tadi istri bilang ada tamu di rumah.”
“Baik ustadz, hati-hati di jalan ya.”
“Iya, Assalamu’alaikum.”
“Wa’alaikumussalam.”
Fizhan mencium punggung tangan sang ustadz hikmat. Kemudian ia memperhatikan tubuh pria tersebut sampai benar-benar hilang dari pandangannya. Tidak ada sesiapapun lagi di sini kecuali beberapa remaja mesjid, ucul-ucul kecil dan seorang wanita berkerudung cokelat yang tengah menatap Fizhan lekat-lekat dari kejauhan.
Hei siapa tadi? Seorang wanita berkerudung cokelat?
Ya ampun, itu kan Fatimah.
Gadis itu sontak tersenyum ramah mana kala Fizhan tak sengaja bertemu pandangan dengannya. Perlahan ia mulai menganyunkan kaki dan menghampiri Fizhan yang tengah terduduk apik di beranda mesjid.
“Fizhan.” Sapa Fatimah membuka percakapan, gadis itu menenteng sebuah rantang stenlis di tangan kanannya.
“Assalamu’alaikum Fatimah.”
“Ah iya aku sampai lupa memberi salam. Wa’alaikumussalam Zhan.”
Hening.
Keduanya saling mematung dan bisu di tempat. Sebenarnya Fizhan bukanlah tipe lelaki introvert, namun entah kenapa setelah ia mendengar kata ‘cemburu’ dari mulut Fatimah ia seakan gugup ketika bertatap muka dengan gadis tersebut.
“Sungguh aku tak ingin merepotkan Fat.” Ya ampun! Hati Fizhan semakin gaduh.
“Aku tak pernah menjadikan ini sebagai suatu beban. Ambillah, ini dapat kau makan untuk malam nanti.”
Sebenarnya hati Fizhan sangat tidak enak menerima semua ini. Namun apa boleh buat? Ia juga tahu bagaimana sakitnya ketika niat baik ditolak mentah-mentah. Sebab ia sudah pernah merasakannya bahkan pelakunya adalah wanita yang saat ini berdiri di hadapannya.
“Ya sudah. Terimakasih banyak ya Fat, semoga Allah memberimu rezeki berlimpah.” Fizhan meraih sebuah rantang stenlis dari tangan Fatimah.
Gadis yang menerima perlakuan seperti itu pun sontak menarik kedua sudut bibirnya membentuk huruf U. Ia berharap semoga setelah ini Fizhan dapat melupakan serta memaafkan kesalahan yang dilakukannya beberapa malam lalu.
“Aku tak melihatmu membawa rantang ini di dalam tadi.”
“Aku meletakkannya tadi di sana.” Fatimah melayangkan jari telunjuk ke arah sebuah motor biru yang terparkir di pojokan mesjid. “Kalau begitu aku pulang dulu Ya Zhan sudah sore.”
“Iya sekali lagi terimakasih banyak ya.”
Fatimah hanya mengangguk dan memundurkan langkahnya sehingga menghasilakn jarak di antara mereka. Tanpa sepengetahuan Fizhan wanita itu mengepalkan kedua tangannya kemudian menarik dan memundurkannya ke udara sebanyak tiga kali pengulangan. Fatimah sangat bahagia, sepertinya ia benar-benar telah menaruh hati pada sosok Fizhan.
...***...
__ADS_1
“Irene! Reeee.”
Cahaya rembulan mengabdikan diri pada sang bumi. Sinarnya malamnya beserta kerlipan para bintang membuat seantero alam menjadi indah. Ester masuk tanpa permisi, ia mencari keberadaan sang empunya rumah guna memenuhi undangan makan malam.
“Di sini.” Teriak seorang wanita dari arah bilik depan.
Tanpa berpikir panjang Ester langsung menuju ke sumber suara dan mendapati sahabatnya tengah bersiap di meja rias. Entah mau kemana.
“Katanya mau makan malam.” Suara Ester membuat dara itu menoleh seketika.
“Memang.”
“Lalu kenapa kau merias wajah?”
“Apa masalahnya?”
“Kau hanya berada di rumah bukan?”
“Aku hanya ingin terlihat cantik di depan tamuku.”
Cih! Ester menjulurkan lidahnya ke arah bawah.
“Kemana papamu?”
“Ada di atas. Mari.” Wanita bermata hazel itu menarik tangan Ester menuju ruang tamu. Dia benar-benar cantik dengan make up natural serta olesan lipstik pink yang memenuhi permukaan bibir tipisnya.
Tak butuh waktu lama setelah mereka mendaratkan diri di meja makan, seorang pria menyembul dari arah atas bersama senyum sumringai yang mengembang menghiasai wajah gagahnya. Lelaki tersebut membawa sebuah paperbag berwarna putih, persis seperti yang tadi sore ia berikan untuk Irene.
“Apa kabar om?” Ester mencium punggung tangan Antonius hikmat.
“Baik. Kau sendiri bagaimana?”
“Saya juga baik.”
Di meja makan telah tersedia berbagai makanan berbeda menu. Awalnya Irene hanya membeli tiga menu saja, namun berhubung Ester akan diundang malam ini maka pria itu memerintahkan putrinya untuk segera memesan makanan lain guna mengeyangkan perut mereka.
“Ohiya ini ada oleh-oleh buat kamu.” Antonius menyerahkan sebuah paperbag putih sesaat setelah ia mendaratkan bokongnya pada kursi makan.
“Apa ini om?”
“Buka saja.”
...***...
Bersambung
Kira-kira apa ya isinya? Ehehe
__ADS_1
Jangan lupa like & comment ya
Semoga kalian sehat selalu 🤗