
“Anak-anak. Suatu hari sahabat pernah bertanya kepada Rasulullah SAW. ‘Yaa Rasul siapakah yang harus kita hormati?’ lalu Rasul menjawab ‘Ibumu.’ Kemudian sahabat bertanya kembali ‘lalu siapa yaa Rasulullah?’ Kemudian Rasul menjawab ‘ibumu.’ Lalu sahabat pun bertanya lagi ‘Setelah itu siapa lagi yaa Rasul?’ Maka Rasul menjawab ‘ibumu.’ Dan si sahabatpun bertanya kembali ‘kemudian siapa lagi ya Rasul?’ Dan Rasul menjawab ‘ayahmu.’ Masya Allah begitu utamanya seorang ibu sampai ia berada tiga tingkat di atas ayah. Bahkan sampai ada pepatah yang mengatakan jannatu tahta aqdamil ummahat, surga itu adanya di telapak kaki ibu. Kalau begitu alasan apa lagi yang membuat kita dengan mudahnya menelantarkan wanita mulia itu? Karena dalam sebuah hadits diriwayatkan: Suatu ketika Ibnu Umar ra. Bertanya kepada seseorang, “Apakah engkau takut masuk ke neraka dan ingin masuk ke dalam syurga?” Lalu orang itu menjawab, “Ya.” Ibnu Umar pun kembali berkata, “Berbaktilah kepada ibumu. Demi Allah, jika engkau melembutkan kata-kata untuknya, memberinya makan, niscaya engkau menjauhi dosa-dosa besar.” (HR. Bukari)
Seorang pria berkoko putih duduk bersila di atas hamparan luas bersama banyak bocah dan beberapa rekan yang juga ikut menyimak isi ceramahnya. Semua tampak hikmat memperhatikan sampai-sampai ada yang meneteskan air mata mengingat ibunya yang telah tiada.
“Pak ibuku cerewet sekali.” Tiba-tiba saja suara seorang bocah cungkring menyela dari arah belakang. Semua pada menoleh, anak itu tampak mengacungkan jari telunjuknya ke udara.
“Ibu kamu marah pasti karna kau bandal kan nak?”
“Ehehehe.” Si bocah malah cengengesan sehingga menampakkan deretan giginya yang bercampur warna putih dan juga hitam.
“Anak-anak bapak sekalian. Ibu kita itu marah pasti karena kita telah melakukan sebuah kesalahan. Coba periksa diri masing-masing, pasti di antara kita ada yang pernah kena marah karena terlalu asyik bermain dan sampai lupa pulang. Iya kan?”
Ucul-ucul di sana malah jadi mesem-mesem seraya melirik wajah temannya satu sama lain. Fix! Pasti semua dari mereka adalah pelakunya.
“Saya pernah kena marah gara-gara mecahin piring pak.”
“Kalau saya karena gangguin adik.”
“Kata mama saya, saya bandel banget ga ketulungan.”
Satu persatu dari mereka pada membongkar kartu sendiri sambil terbahak-bahak di tempat. Dasar bocah! Mereka kira ini ajang promosi dosa apa.
Luar biasa sekali sosok lajang pemberi materi itu. Dia pandai menyusun kata sedemikian rupa agar para anak-anak dapat menyerapnya dengan mudah. Pantas saja wanita yang lagi duduk di pojokan sana senyam-senyum sendiri, terlalu menarik rupanya untuk dipandangi.
“Eh Fatimah! Kau sudah gila ya?” Andin menepuk bahu sang dara dan sukses membuatnya menghentikan tilikan ke arah depan.
“Andin! Aku terkejut sungguh.”
“Lagipula apa yang sedang kau lakukan? Fizhanmu itu jangan banyak-banyak dilihati nanti dia grogi.” Sindir Andin. Sebenarnya wanita itu tahu persis bagaimana perasaan Fatimah terhadap Fizhan. Sudah banyak bukti-bukti nyata dari perlakuan temannya itu selama ini.
“Hei diam lah! Nanti ada orang yang mendengar.”
Di setiap kegiatan perhatian Fatimah memang tak pernah terlepas dari Fizhan. Entah kenapa rasa itu semakin hari semakin tumbuh sekalipun mereka sangat jarang kali bertemu.
...***...
__ADS_1
Bugh!
“Aduh!” Irene mengelus-elus pundaknya kasar. Sebuah kerikil kecil yang dibalut dengan kertas putih sukses membuat emosinya nyaris tersulut. “Siapa yang melakukan ini? Apa otaknya sedang dipinjam oleh kucing?”
Sore ini gadis itu sedang berada di taman Kota bersama sang papa. Banyak para pedagang berlalu lalang termasuk si abang sate padang yang kala ini sedang disambangi oleh Antonius.
Irene membuka karet kecil yang dibelit-belit pada batu kecil tadi. Namun betapa terkejutnya ia saat menyaksikan deretan huruf yang tertera di atas sana.
JAUHI SAM!
“Sial! Apa-apaan ini!” Irene membangkitkan tubuh guna mencari sang pelaku. Pernah punya kedekatan semacam apa dia selama ini dengan Sam? Lancang sekali jika ada seseorang yang berani melakukan hal ini kepada dirinya.
Irene menoleh ke kanan dan ke kiri. Nihil, tak ada yang bisa dicurigai dari orang-orang yang berseliweran di tempat ini. Semua tampak sibuk dengan keluarga maupun pasangannya masing-masing. Lalu apa mungkin mereka pelakunya? Mustahil.
“Oke satu kali!” Dara itu membuang si batu dan kertas tadi ke sembarang arah. Kali ini ia tak melakukan apapun dan hanya menganggap bahwa telah ada orang iseng yang melakukan pekerjaan ini.
“Re sini nak. Kenapa kamu malah pergi?”
“Eum iya Pa. Aku hanya melihat-lihat tadi.”
“Pasti dia tak akan berani mendekati Samku lagi.”
“Iya dia kan gadis penakut.”
“Hahahaha.”
Dua sejoli itu kemudian beringsut dari tempat persembunyian, meninggalkan taman dan si korban yang baru saja di lempar batu. Kejam sekali, mereka benar-benar sudah menjadi peneror kelas kampung.
“Andai saja mama masih ada pasti akan lebih seru Pa.” Irene menatap ke seantero hamparan hijau ini. Hatinya sungguh teriris melihat kehangatan yang tercipta dari semua keluarga yang sedang bermain di taman.
“Sudah lah nak. Tuhanmu lebih mengetahui.” Kata Antonius menenangkan.
Hati mana yang akan baik-baik saja setelah ditinggal pergi? Dan begitupun dengan lelaki paruh baya itu. Dia hanya tak ingin terlihat lemah di depan intan payungnya.
Mama Irene itu orangnya sangat ramah dan juga dermawan. Saban hari kerjaannya membagikan makanan kepada para fakir yang berada di jalanan. Perempuan itu juga sosok istri yang penurut dan tak pernah membuat jengkel hati suami. Maka ketika dia pergi ada banyak hati yang terpukul dan seolah merasa tak terima. Namun mau bagaimana? Tak ada yang kekal kecuali Dia.
__ADS_1
“Kalau kata Fizhan sesama Muslim itu akan dipertemukan lagi di Syurga kelak. Lalu bagaimana denganku? Apa akan begitu?” Irene bermain dengan pikirannya sendiri.
...***...
“Isi materi kamu bagus Zhan. Kulihat anak-anak sangat antusias hari ini.” Acara selesai dan sedang ada yang mencoba tebar pesona dengan sang pemateri.
“Terimakasih Fat ini semua karena Allah.” Fizhan meraih sebuah dus minuman kemudian memberinya kepada Ridho.
“Kau pulang denganku kan Zhan?”
“Yoi.”
“Kalau kau bagaimana Fat?” Jangan sampai kejadian lalu terulang lagi ya ehehe.”
“Shhht jaga ucapanmu Dho!”
Fatimah bisu di tempat, wajahnya memerah menahan malu. Ridho merupakan teman sekomunitas dengan mereka dan orang yang juga menyaksikan kegilaan Fatimah kala itu.
“Eum aku permisi dulu. Assalamu’alaikum.”
“Wa’alaikumussalam warahmatullah.”
“Astagfirullah Dho. Kau melukai hatinya.”
“Sudah lah biarkan saja! Hitung-hitung agar dia trauma dan tak mengulangi hal itu lagi.” Pria bergigi gisul itu langsung pergi yang kemudian disusul Fizhan dari belakang.
...***...
Bersambung
Like & tap favoritnya ya :)
Jangan lupa juga main di SUAMI KITA BERSAMA
Semoga kalian sehat selalu 🤗
__ADS_1