AKU KAU DAN ISLAM

AKU KAU DAN ISLAM
BAB 60


__ADS_3

Seolah stok oksigen di dunia sudah habis, Fizhan mencekungkan perutnya hingga tandas guna meraih gempulan sisa udara. Pikirannya langsung tertuju pada mimpi basah yang ia alami tadi malam. Yang menjadi subjek wanitanya adalah Irene, lantas mengapa yang datang hari ini Fatimah? Sangat tidak sinkron.


Sang pelamar pun begitu, jantungnya cenat cenut minta dibebaskan. Penuh perasaan Fatimah menelisik wajah Fizhan, mencoba mencari arti dari kebisuannya kala ini.


“Jadi bagaimana nak?” Untuk yang kedua kalinya sang pria paruh baya mengajukan pertanyaan.


Fizhan mendengus resah, yang menjadi masalah ia sama sekali tak memiliki rasa cinta untuk Fatimah. Lalu untuk apa menikah kalau pada akhirnya ada salah satu yang akan patah.


“Sebelumnya saya minta maaf, namun sepertinya saya tidak bisa menerima tawaran ini.”


Byuuuuuuurrr.


Prank!


Mendung seakan datang mendadak dan siap menghujani bumi dengan air panas. Suasana yang semula mencekam kini kian menjelma bak goa maut yang siap untuk menerkam. Semua kikuk, mati pikiran takkala mendengar sebuah kalimat yang rasanya menghancurkan akal.


Fizhan sibuk memperhatikan ketiga insan itu seraya memainkan ujung pakaiannya. Tak menutup kemungkinan bahwa sebenarnya ia pun gugup dan takut kalau-kalau ucapannya akan menyakiti orang lain.


“Kenapa?” Si pria tengah abad tadi kembali mengajukan pertanyaan, mungkin ini yang terakhir karena memang sudah tak ada lagi yang perlu dibicarakan.


“Saya tidak bisa menikah dengan seorang wanita yang sama sekali tak saya cintai Pak, maaf.”


Plak!


Lagi-lagi kalimat yang terlontar dari si pria membuat seluruh orang yang berada di sana merasa tersayat oleh silet tajam. Sampai hati sekali Fizhan berucap demikian, seolah tak ada saja kata yang lebih halus dari pada itu.


Lama mereka berada dalam mode patung, hingga salah seorang yang paling patah di antara kesemuanya angkat kaki tanpa permisi. Matanya meneteskan bening-bening kristal yang langsung disapu kasar dengan harapan semoga tak ada yang melihat.


Melihat kelakuan anaknya yang langsung ngeloyor pergi, Umi Fatimah jadi khawatir. Wanita itu langsung saja berpamitan kepada sang empunya rumah kemudian menarik lengan suaminya menuju mobil.


Fizhan memperhatikan cemas, namun juga tak ada pilihan lain selain mengatakan yang sejujurnya. Ia tak ingin mengarang sesuatu atau enggan berterus terang demi menjaga nama baiknya. Tidak! Itu bisa fatal di kemudian hari.


Di dalam sana dara yang baru saja dipatahkan hatinya meraung-raung tidak terima. Mobil seolah sedang menjadi lapak tong setan di pasar malam, berisik bukan main. Pupus sudah sebuah pengharapan yang selama ini ia gantung pada sosok Fizhan. Hidup bersama dan memiliki anak-anak yang lucu terpaksa ia campakkan jauh-jauh dari pikiran.

__ADS_1


Patah.


Hancur.


Tiada berkeping.


Kalau tahu pada akhirnya akan seperti ini, pastilah Fatimah lebih memilih tak usah mengenal pria itu sama sekali.


...***...


Sam buru-buru meraih motor gedenya dan menginjak pedal gas, sengaja si jambang rimbun itu tak membawa mobil karena memang benda beroda empat itu sedang di service.


Hari ini dia berniat untuk menyelesaikan sebuah misi. Kemarin malam sebelum tidur ia sempat dikagetkan lagi oleh batu terbalut kertas yang akhir-akhir ini kerap menerornya. Manusia mana yang tahan bila lama-lama dipermainkan seperti itu? Apalagi bagi Sam si budak jalanan, cara itu adalah cara terbodoh dan kampungan yang baru ia rasakan kali ini.


FLASH BACK ON


02:00


“Hoaaaam.” Sam mencampakkan kaosnya ke sembarang arah hingga nempel di atas kepala lampu tidur. Beradu kekuatan di atas ranjang dengan Lyora membuat punggungnya serasa ingin patah seribu. Memang permainan mereka berakhir di jam 12 tadi namun sisa-sisa pegalnya dapat dipastikan baru bisa hilang setelah siang harinya.


Craaang!


Bugh!


“Shit!”


Sam terperangah bukan main takkala sebuah benda bulat hadir dengan memecahkan kaca jendela kamar sebagai jalannya. Ia membangkitkan tubuh paksa sambil menepuk-nepuk dadanya yang bergemuruh, berharap benda berdetak di dalam sana segera normal.


Pria bertubuh jenjang itu sampai memutar lehernya agar bisa menjangkau pelataran rumah yang ditumbuhi oleh bongsai-bongsai raksasa. Mendapat perlakuan murahan yang sudah berulang kali terjadi membuat darahnya berdesir deras tak tertolong.


Sam tidak mempermasalahkan bila hanya sekali, namun siapa yang akan tetap sabar kalau sudah berulang kali? Lajang itu terus memindai jarak pandangnya melalui kaca yang sudah retak tak bersisa. Hingga pemandangan gadis berbaju biru rambut pirang sebahu terekam jelas di matanya yang tajam seperti elang.


“Lyora?”

__ADS_1


Netra Samuel sontak membulat. Ternyata kecurigaan terhadap pacarnya sendiri terungkap malam ini. Sam memang sempat mengira bahwa perempuan posesive itu lah pelakunya, mengingat teror ini pernah juga terjadi di basecamp yang tidak diketahui keberadaannya oleh siapapun selain teman-teman sepermainan dan juga pacarnya itu.


“Oho ternyata kau yang melakukan semua ini, sialan!”


Malang sekali nasib Lyora yang agak kesulitan lari karena heels tinggi yang melekat pada kakinya. Dan sebuah keberuntungan bagi Sam karena sempat memergoki aksi murahan itu sebelum si pelaku benar-benar pergi dan menghilang dari kawasan ini.


FLASBACK OFF


Breem breem breem.


Berada di atas motor gede menambah kegagahan pria berjambang itu. Banyak pengendara wanita yang meliriknya takjub, bahkan sesekali ada yang sampai memutar leher 360 derajat demi bisa membidik netra Sam yang tersembunyi di balik kaca helm.


Entah kenapa setelah mengetahui kebenaran, Sam jadi enggan malah bergidik ngeri untuk menyentuh tubuh Lyora lagi. Keputusannya sudah bulat untuk mengakhiri hubungan dengan gadis itu, lagipula di luaran sana sudah banyak perempuan-perempuan lain yang menunggunya berstatus single. Yaa meskipun sejatinya Irene tetaplah yang terindah.


Sebelum resmi mendapatkan Irene, Samuel akan terus melanjutkan kegiatannya menjajahi seluruh gadis-gadis di Kota Medan ini. Tak untuk dicintai, melainkan hanya sekedar pemuas nafsu birahi.


Nampaknya benda beroda dua itu kian melesat hingga membawa Sam pada sebuah gedung mewah bernuansa gading.


“Keluar sekarang, aku di depan rumahmu!” Perintahnya pada seseorang yang berada di seberang telpon.


...***...


Bersambung


Halooo semua


Apa kabar kalian?


Gimana puasa ke babak dua Minggu ini? Eheheh


Jangan lupa LIKE & COMMENT nya ya :)


Dukungan kalian semangat buat aku

__ADS_1


Sehat selalu 🤗


__ADS_2