AKU KAU DAN ISLAM

AKU KAU DAN ISLAM
BAB 51


__ADS_3

“Emmph eghh.” Ester menarik selimut yang saat ini menyelubungi bagian pinggangnya ke arah atas. Suasana kamar terasa sangat dingin tak seperti biasanya.


Alan yang sedari tadi sudah terjaga dan bermain ponsel langsung saja membuang pandangan ke arah gadis yang tengah tertidur pulas di sampingnya itu. Semalam adalah hari di mana dia bisa memiliki semuanya tanpa seizin Ester. Kejam! Entah apa yang akan dilakukan Ester setelah mendapati bahwa miliknya telah dicuri tanpa permisi.


Tak mau menunggu lama akhirnya Alan berinisiatif untuk menelpon Sam guna segera meminta haknya saat itu juga.


Tuuuut.


Nomor yang Anda tuju tidak dapat dihubungi.


“Ck sial!”


Ponselnya tersambung namun tak diangkat. Alan berdecak kesal, pasalnya untuk sarapan pagi hari ini saja pun dia belum tahu mau bagaimana. Selama ini pria itu memang selalu absen memberi kekasihnya makan makanan yang enak, namun di sisi lain dia juga tak pernah sedikit pun memelas diberi rupiah oleh Ester guna mengisi perut.


“Astaga Alan!”


Deg!


Entah apa sebab dan bagaimana awalnya dara itu tiba-tiba saja sudah nongol dan terduduk di depan Alan. Wajahnya kaku, matanya mengitari seantero ruangan.


“Ke- kenapa aku bisa berada di sini?”


Hening.


“Jawab Alan!”


“Eh iya.” Si pria sejenak berpikir sebelum akhirnya mengarang sebuah cerita. “Apa kau ingat kau pingsan tadi malam?”


“Aku pingsan?”


“Iya. Entah kenapa kau mendadak pingsan lalu aku membawamu ke sini.”


“Kenapa kau tak membawaku ke rumah sakit atau mungkin rumahku sendiri?”


“Ah iya sayang aku sangat panik tadi malam. Dan satu-satunya tempat terdekat adalah hotel ini.”


“Aku kenapa bisa pingsan?”


“Ya aku juga tidak tahu, kau mendadak jatuh dari atas bangku sayang.”


“Benarkah?”


“Iya sungguh.”


Suasana mendadak mencekam. Baik Alan maupun Ester saling bisu dan tenggelam dalam pikirannya masing-masing. Jika laki-laki itu sedang memikirkan alasan apa yang tepat agar si Ester percaya, maka Ester sendiripun berusaha keras mengingat-ingat kejadian apa yang membawanya ke tempat ini. Namun sayang, tingginya dosis pada obat bius yang diberi oleh pria beralis tebal itu membuat Ester masih belum dapat mencerna semuanya.


“Aduh!” Ester mengaduh kesakitan takkala dirinya ingin turun dari atas ranjang.

__ADS_1


“Kenapa sayang?”


“Kenapa bawahku rasanya sakit sekali?”


“Bawah? Apa maksudmu?”


Ester mematung. Ia hanya memanyunkan bibirnya menuju ke bagian tengah ************ guna memberi isyarat pada si Alan. Pria itu pun segera mengikuti ke mana arah bibir Ester pergi.


“Aku tidak tahu mengenai urusan wanita.”


“Kau tidak melakukan apapun terhadapku kan?”


“Astaga! Kenapa kau tega menuduhku yang tidak-tidak?”


“Hei aku hanya bertanya bukan memfitnah.”


“Oh ya baiklah baiklah. Jangankan untuk menjamah, menyentuhmu pun aku tidak.”


Tak ada lagi percakapan di antara mereka karena Ester langsung turun dari ranjang dan segera membersihkan diri di dalam bilik kecil. Tubuhnya terasa sangat lelah seolah baru saja bergulat dengan seseorang. Tapi entahlah, mana Ester tahu apa yang terjadi.


“Huh syukurlah aku sempat membersihkan tempat ini sebelum anak satu itu bangun.” Alan mengelus dada bidangnya.


Satu jam sebelum gadisnya itu bangkit Alan memakaikan kembali pakaian Ester yang sempat tanggal dari tubuhnya tadi malam. Cecair kental berwarna merah juga sudah ia basuh dengan air hingga tak bersisa. Semua jejak sudah hilang kecuali rasa sakit yang berada di bagian bawah Ester dan untuk hal itu Alan hanya pura-pura polos dan tidak tahu menahu, urusan wanita katanya.


Di tempat lain seolah pria berjambang rimbun membuka matanya dengan malas. Semalaman ini tak ada yang dilakukannya kecuali acara senam erobik bersama kekasihnya itu. Kalau boleh memilih lebih baik dia menambah jam inap di sini dari pada harus membangkitkan tubuh. Tapi mau bagaimana? Banyak urusan yang harus ia lakukan di luaran sana.


Pria berjambang itu lantas tak langsung memanggil Alan balik. Bahaya! Di sini ada Lyora. Bisa-bisa gagal total rencananya nanti.


...***...


Puasa dalam Islam juga disebut sebagai shaum yakni bagian dari salah satu ibadah yang telah dicontohkan oleh Rasulullah SAW. Dalam Q.S Al-Baqarah:183 dijelaskan bahwa:


Artinya:


“Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa.”


Dari firman Allah SWT. kita dapat mengambil kesimpulan bahwasanya Allah SWT. telah mewajibkan kita untuk berpuasa di bulan Ramadhan, di mana hal tersebut merupakan pertanggungjawaban manusia kepada Sang Pencipta.


“Aku jadi ingin berpuasa. Tapi apa mungkin?”


Irene membuka tutup buku bacaannya yang baru dibeli kemarin bersama Fizhan. Sepasang netranya berpendar ke sana dan ke mari, ingin bertanya tapi tak tahu pada siapa.


Meskipun Irene belum terlalu paham dengan apa yang ia baca selama ini terlebih jika itu mengandung isi dalam kandungan Al-qur’an, tapi bukan menutup kemungkinan bahwa dirinya juga sama sekali tak mengerti makna keseluruhan dari isi bacaan tersebut.


Ceklek.


“Lagi baca buku apa kamu Re?”

__ADS_1


Modar!


“E- e- ini Pa novel.” Irene kikuk, pasalnya banyak buku-buku lain sama jenis yang juga berserakan di atas kasurnya. Secepat mungkin gadis itu memungut sisa-sisa buku bacaan tersebut kemudian memindahkannya ke tempat yang lebih jauh dari jangkauan Antonius.


“Oh ya sudah. Kita keluar dulu yuk.”


“Iya Pa.”


Huft! Irene membuang napas lega, untung saja Antonius tak sampai curiga. Sepertinya lain kali anak itu harus mengunci pintu rapat-rapat dan jangan membiarkannya tanpa gembok seperti tadi.


“Kita mau ke mana Pa?” Tanyanya sesaat setelah menjejakkan kaki di ambang pintu.


“Keliling Kota tapi naik motor.”


“Okay Dad.”


Keduanya pun beringsut menuju garasi guna mengambil matic hitam di sana. Jarang-jarang mereka seperti ini, biasanya ayah anak itu menumpangi kendaraan beroda empat kalau mau keluar.


Terik mentari kian menyengat takkala benda berkilau itu berpusat tepat di tengah-tengah bumi. Para pengendara sudah mulai mengeluh kepanasan tak terkecuali Irene dan papanya. Namun di sisi lain dia juga pernah ingat bahwa Fizhan pernah berkata kalau orang-orang yang bisa bersabar dalam hal apapun maka akan diangkat derajatnya oleh Sang Maha Pencipta. Maka dari itu Irene mencoba menerapkan sikap sabar melalui hal-hal kecil seperti sekarang ini.


“Singgah ke sini bentar ya.” Antonius menepikan motor yang mereka tumpangi di sebuah gedung berkelir putih.


“Papa ingin membeli apa?”


“Minum, papa sangat haus.”


“Irene ikut.”


Tak ingin ditinggal akhirnya gadis bermata hazel itu mengikut ayahnya masuk ke dalam mini market. Kali ini keduanya telah berada di dalam gedung yang penuh dengan orang-orang dari berbagai kalangan.


“Re lihatlah pria itu.” Tiba-tiba saja Antonius menunjuk seorang lelaki yang tengah memboyong beberapa plastik makanan di tangannya. “Tampan sekali.”


“Mana Pa?”


“Itu.”


Irene mengikuti gerakan jari telunjuk Antonius. Dia juga penasaran lajang mana yang baru saja dipuji oleh papanya. Tumben, karena memang selama ini pun pria paruh baya itu tak pernah perduli dengan orang-orang sekitar.


“Ya Tuhan. Apa-apaan ini?”


Tubuh Irene mendadak terkulai lemas.


...***...


Bersambung


LIKE & COMMENT

__ADS_1


Semoga kalian sehat selalu 🤗


__ADS_2