AKU KAU DAN ISLAM

AKU KAU DAN ISLAM
BAB 45


__ADS_3

Irene membuka buku-buku taharah yang telah ia beli bersama Fizhan beberapa hari lalu. Cuaca di luar sedang tidak mendukung, maka dari itu tak ada yang bisa dilakukannya selain menutrisi otaknya sendiri dengan materi keagamaan.


Dua minggu berlalu berikut dengan Ujian Nasional mereka yang juga sudah usai sejak sepuluh hari terakhir. Saat ini tak ada aktivitas sekolah lagi kecuali menanti sebuah surat lulus yang sebentar lagi akan dikeluarkan oleh pihak sekolah.


Kalian tahu? Kala ini Irene benar-benar telah bergelut dengan dunia Islam nyaris sempurna. Ia sudah lancar membaca Al-quran berikut dengan makna yang terkandung di dalamnya. Gadis itu juga sudah mulai memahami seluk beluk keislaman melalui penjelasan Fizhan serta buku-buku yang sekarang tersimpan apik di dalam lemari khususnya. Tak ada penyesalan dan tak ada juga keraguan, semua mengalir begitu saja seolah qalbu lah yang menuntun.


Kedekatan Irene dengan Fizhan juga kian terpaut. Acapkali mereka belajar bersama atau sengaja membuat forum dengan anak-anak guna menambah ilmu pengetahuan. Irene semakin nyaman bahkan rasa cintanya juga kian tumbuh pada Fizhan. Tapi bagaimana dengan pria itu? Apakah juga merasakan hal yang sama?


Tok tok tok.


“Re kamu ngapain? Ayo makan dulu.” Antonius memekik dari luar.


Oh iya jangan lupakan juga dengan rahasia besar yang selama ini masih ia simpan dari siapapun. Sebenarnya Irene juga sudah memiliki lemari khusus yang tak bisa dibuka oleh orang lain kecuali dirinya sendiri. Dia memang sengaja membeli benda berkode itu agar segala macam barang yang berkaitan dengan keislaman tak dapat tercium baunya. Entah sampai kapan dan entah bagaimana akhirnya nanti.


“Iya Pa.” Dara bermata hazel itu beringsut guna memenuhi ajakan papanya.


...***...


“Damn!” Seorang pria berjambang lebat menyobek-nyobek sebuah kertas lalu membuangnya ke atas tanah. Ini adalah kali ketiga lajang itu menerima teror gila yang tidak tahu asalnya entah dari mana.


Jauhi Irene dia kekasihku.


Kau akan mati bila masih mendekati gadisku Irene.


Irene my beloved wife.


Matanya benar-benar perih takkala membaca semua tinta hitam yang tergores di atas sana. Entah kerjaan bodoh siapa yang jelas semua ini benar-benar telah membuat batinnya bertanya-tanya.


“Apa mungkin ini dari Irene sendiri?” Sam menduga-duga asal. Tapi sungguh hatinya tak yakin bila wanita itu pelakunya. Mana mungkin Irene selebay dan sekonyol itu. Tidak, Irene tidak begitu.


Sam juga bingung harus bagaimana. Pasalnya ia tak pernah menemukan jejak apapun dari sang pelaku kecuali lemparan batu dibalut dengan kertas yang selalu menguntiti dirinya kemanapun ia pergi.


Pernah suatu saat ketika dia baru saja menginjakkan diri ke sebuah café dan menuju ke sebuah meja kosong satu-satunya yang terdapat di sana ia mendapati sebuah kotak kecil berwarna hitam. Penasaran dengan penemuannya ia pun membuka dan betapa kagetnya lelaki itu takkala melihat apa yang sedang berada di tangan kananya. Tidak hanya itu, banyak juga kejadian-kejadian aneh yang berujung pada sebuah kertas putih bertuliskan nama Irene di dalamnya.

__ADS_1


Sampai saat ini Samuel memang tidak pernah menemui Irene sebelum misinya membuat Ester cemburu benar-benar berhasil. Sebenarnya bukan ia tak mampu menunjukkan batang hidung, tetapi pria itu hanya merasa tak berguna jika membawa badan tanpa kasus apapun ke hadapan tajuk hatinya. Oh sungguh bukannya dia sudah tahu bagaimana sikap Irene terhadapnya.


“Aku tak perduli. Tak ada yang bisa menghalangi perjuanganku untuk merebut permataku kembali.” Sam menjejek kertas tersebut kemudian beringsut ke dalam rumahnya untuk membersihkan diri.


Drrrt drrrt.


Belum sempat ia melangkahkan kaki getaran panjang yang bersumber dari ponsel membuatnya bergegas meraih benda pipih yang tersemat di dalam saku. Pria itu menyipitkan mata guna menilik sang pemanggil suara.


“Oh kau ternyata.” Desis Sam seraya memasukkan kembali hp tersebut ke dalam saku jaketnya.


Hei kenapa tidak diangkat?


Di sisi lain seorang wanita membanting ponselnya ke atas kasur. Hatinya panas, akhir-akhir ini Sam semakin tak memperdulikan keberadaannya.


“Fuck u Sam! Aku cape argh!” Lyora menggebrak nakas yang disusul oleh bantingan benda-benda kecil di atas sana.


Entah apa yang salah tapi semenjak sekolah telah usai gadis itu jadi jarang sekali bertemu dengan tajuk hatinya. Kalau kata Sam sih biar kangennya makin nambah aja. Tapi Lyora tak percaya, ia tahu persis bahwa itu hanyalah akal-akalan si Sam saja.


“Aku sangat mencintaimu Sam, tapi kenapa kau seolah tak pernah menganggapku lagi di sini.”


Acapkali Sam menolak ajakan ketemu atau bahkan untuk sekedar bersua via telpon pun sudah jarang. Gadis itu juga sungguh lelah mengkorek-korek informasi antara kekasihnya dengan Irene melalui banyak orang. Tapi sama saja hasilnya tetap nihil. Yang saat ini bisa ia lakukan hanyalah meneror Sam melalui kertas-kertas yang bertuliskan nama Irene di sana.


Hei tunggu dulu!


Apa tadi? Kertas?


Oh jadi Lyora pelakunya.


...***...


“Sayang kau di mana?”


“Di rumah.”

__ADS_1


“Aku ingin kita keluar malam ini.”


“Oh maaf sayang aku sedang bersama mami.”


-


“Arrrgh sial! Gagal lagi gagal lagi!” Alan kesal bukan kepalang. Entah sudah berapa kali misinya guna mengeksekusi Ester gagal. Nyaris setiap hari mereka keluar dan selama itu pula lah pria itu tak pernah sukses membobol pertahanan gadisnya. Selalu saja ada hambatan, selalu saja ada halangan. Alan meraih sebuah botol berisi wiskey dari atas meja, kali ini dia duduk sendiri tak berteman di dalam basecamp.


...***...


“Sebenarnya apa yang kau lakukan setiap sore nak? Kenapa semenjak papa pergi kemarin aktivitasmu berubah total.”


Deg!


Irene tercekat. Lauk yang begitu lezat kini tak terasa lagi di lidahnya. Sebenarnya dari awal gadis itu sudah menduga bahwa papanya akan menanyakan hal ini.


“Aku hanya belajar bersama teman Pa.” Benar juga yang dia bilang, kan memang belajar.


“Sejak kapan anak papa menjadi sangat rajin dan sosial hem?”


“Jadi ceritanya papa tidak suka nih?”


“Hei hei! Bukan begitu sayang. Papa hanya lebih bangga saja melihat kau yang sekarang.”


Irene tak menanggapi, dia hanya membalas dengan senyuman miris. Saat ini gadis itu benar-benar bak musuh dalam selimut bagi ayah kandungnya sendiri.


...***...


Bersambung


Like & comment guys


Jangan lupa juga buat singgah di AKU KAU DAN ISLAM yaaa 😍

__ADS_1


Semoga kalian sehat selalu 🤗


Baiiiii 🤗


__ADS_2