
“Ayo duduk dulu.” Fizhan memboyong tubuh si gendut itu ke gazebo. “Kenalin ini kak Irene temen bapak. Dia akan belajar ngaji bersama kita di sini.” Lanjutnya menerangkan.
“Hah? Belajar ngaji?”
“Iya.”
“Kakak ini belum bisa ngaji ya? Ahahahaha.” Azzam tertawa puas.
Ck sial! Irene menjerit di dalam hati. Ia benar-benar sudah menduga bahwa hal ini akan terjadi. Bocah remes satu itu sungguh tak dapat menjaga mulutnya.
“Hei Azzam! Jaga bicaramu. Tidak baik menertawakan orang lain. Kau dulu suwaktu pertama kali datang kesini juga belum bisa mengaji kan?” Bagus! Fizhan membuat pembelaan untuk Irene.
“Wajar dong pak, aku kan masih kecil. Lah nih orang? Udah gedeeee.”
“Astagafirullah. Zam, Allah SWT. berfirman dalam QS. Al Hujurat:11 yang artinya ‘Hai orang-orang yang beriman, janganlah sekumpulan laki-laki merendahkan kumpulan yang lain, boleh jadi yang ditertawakan itu lebih baik dari mereka. Dan jangan pula sekumpulan perempuan merendahkan kumpulan lainnya, boleh jadi yang direndahkan itu lebih baik’. Nah, jadi kamu ga boleh menyepelekan kak Irene yang saat ini masih belum bisa membaca Al-qur’an karena belum tentu yang disepelekan itu lebih buruk dari pada kita.” Fizhan menjelaskan panjang lebar.
Bocah yang disuguhi petuah pun sontak menunduk kan kepalanya tanda bersalah. Selama ini dia memang tidak pernah berpikir jika hendak berbicara tentang apapun kepada orang lain, sekalipun itu akan menyinggung hati yang mendengar.
Irene pun demikian. Ia yang tidak tahu menahu dengan apa yang baruan diucapkan Fizhan pun hanya bisa mendengarkan dalam diam. Ada sedikit rasa bangga dan puas di hatinya atas pembelaan pria tersebut, namun di sisi lain ia juga kalang kabut dan merasa takut jika Fizhan akan membahas ini pada mereka berdua secara mendalam. Huft mana dia tahu yang begituan.
“Ya sudah kalau begitu kamu segera minta maaf pada kak Irene.” Pria berparas teduh itu kembali membuka suara.
Azzam pun segera manut. Ia mengangkat tangan kanannya seraya memasang wajah sendu. Gadis yang dihadiahi perlakuan tersebut pun juga langsung menjabat tangan Azzam sebagai tanda damai mereka berdua.
“Maafin Azzam ya kak.”
“Iya. Jangan diulangi lagi ya.”
“Hihihi rasain kamu gendut!” Batin Irene tertawa puas.
Syukurlah. Kedua anak manusia itu telah berdamai satu sama lain. Ini merupakan Hidayah-Nya. yang diberikan kepada mereka berdua melalui Fizhan. Semoga setelah ini tak akan ada umpatan-umpatan yang keluar dari bocah balon tersebut.
“Ya sudah mari kita mulai.” Fizhan mengambil dua buah buku kecil yang berisi huruf-huruf Hijaiyah.
...***...
Seorang pria bertubuh jenjang telah mendaratkan sepasang kakinya di sebuah rumah berdominasi kelir gading. Sebenarnya ia sangat enggan kesini, namun mau bagaimana? Gadisnya mengancam tidak akan memberi jatah harian bila ia tidak segera menurut.
Tok tok tok.
“Hei sayang. Akhirnya kamu datang juga.” Senyum Lyora mengembang dari dalam sana.
__ADS_1
“Apa ada orang di rumah?”
“Tidak. Masuklah.”
Keduanya pun beringsut masuk dan duduk di atas sebuah sofa hitam berbahan kulit. Lyora menempelkan kepalanya di dada bidang Sam kemudian segera memulai obrolannya.
“Apa benar kau akan kuliah di kampus A?”
“Iya.”
“Sejak kapan kau memiliki rencana itu?”
“Entahlah aku juga tidak tahu. Aku hanya ingin di sana, kenapa?”
“Apa kau memutuskannya setelah mengetahui bahwa gadismu itu juga berkuliah disana?”
“Gadis yang mana?”
“Irene.”
Deg!
Mata Sam membeliak tanda tak percaya. Bagaimana mungkin kekasihnya itu mengetahui bahwa Irene juga di sana? Ck! Bisa gawat kalau sampai Lyora tahu.
“Apa kau tidak tahu sebelumnya?”
“Tidak sayang. Ah! Lagipula apa untungnya buatku?”
“Jangan pura-pura bodoh, kau pasti senang karena akan sering bertemu dengannya kan?”
“Aku akan jauh lebih senang bila bertemu dengan kekasihku sendiri dari pada gadis lain.” Si jambang rimbun berusaha untuk merayu.
“Sungguh aku sangat curiga dengan hubungan kalian berdua!”
“Hei hei hei. Apa yang membuatmu curiga hem? Bukannya kau tahu bahwa hatiku hanya untukmu?”
“Aku tidak ingin kau menemuinya seperti yang lalu-lalu.”
“Tidak sayang, waktu itu aku hanya sedang ada urusan dengan teman kecilku itu. Percayalah, aku tak mungkin mengkhianatimu.” Kata Sam berbohong.
Sebenarnya ia memang sengaja mencari informasi tentang Irene melalui teman-temannya yang mengenal gadis itu. Dan ketika ia tahu bahwa Irene akan berkuliah di Universitas A, maka niat yang semulanya ingin di tempat lain pun sontak menghilang dan memilih untuk berkuliah di kampus yang sama dengan Irene. Ya ampun! Sampai sebegitunya keinginannya untuk mendapatkan wanita itu.
__ADS_1
“Apa kau sedang tidak berbohong?” Suara Lyora terdengar lebih manja. Ia mengeratkan pelukannya pada tubuh Sam dan membuat sesuatu yang berada di bawah sana mendadak mengeras.
“Apa aku kelihatan sedang berbohong? Sudah lah jangan dibahas lagi. I want you sugar.” Sam mengecup lembut puncak kepala kekasihnya itu.
Gadis yang mendengar kalimat terakhir Sam pun segera beringsut ke arah pintu utama dan menutupnya rapat-rapat. Ia yang sudah paham maskud dari perkataan Sam tadi langsung merengkuh tubuh lelaki itu dan membawanya ke tempat yang lebih tertutup.
“Tenang lah daddy dan mommyku sedang berada di luar kota.” Kata Lyora takkala mereka telah berada di dalam kamar miliknya.
“Ou, it’s good.”
Sam mulai menggendong tubuh Lyora dan menidurkannya di atas sebuah ranjang. Ia benar-benar sudah tak dapat menahan sesuatu yang ingin keluar dari bawah sana. Pria itu mendaratkan ciuman bertubi-tubi di wajah Lyora tanpa menyisakan seincipun, kemudian ciuman mulai turun dan menembus bibir mungil milik gadisnya itu.
“Ah emph.” Satu desahan sukses lolos dari bibir Lyora. Ternyata wanita itu juga menikmati permainan lidah Sam yang menyapu area mulutnya.
Setelah cukup puas bermain di kawasan berpagar putih itu Sam pun menurunkan posisinya dan tepat menindihi gundukan besar milik Lyora. Situasi semakin memanas, entah apa yang sedang dilakukan oleh pria berjambang itu di sana yang jelas saat ini keduanya terbuai dalam permainan mereka masing-masing.
Sejak awal berpacaran Lyora memang sangat menunjukkan sikapnya yang agresif. Hal itu tentu membuat naluri Sam sebagai seorang lelaki normal paham dan memberikan respon yang sama. Kerap sekali mereka melakukan adegan dewasa seperti ini bahkan sampai pernah beberapa kali dalam sehari.
...***...
“Alhamdulillah akhirnya kamu sudah mengenal Alif sampai ‘fa’ Re.” Fizhan berkata kagum. Ia tidak menyangka bila gadis itu cepat sekali menangkap apa-apa yang disampaikan oleh Fizhan.
“Hihihi.” Irene cengengesan. “Terimakasih banyak ya sudah repot-repot mengajariku.” Sambungnya seraya tersimpul lirih.
“Aku tidak merasa dibebani. Aku senang jika kau sudah hampir mengenal seluruh huruf-huruf hijaiyah ini.”
“Aku juga.”
Keduanya saling hanyut dalam rasa bahagia masing-masing. Fizhan bahagia bisa menuangkan ilmunya kepada orang yang sama sekali belum mengerti baca huruf dan Irene juga bahagia karena memiliki guru yang sabar dan telaten dalam mengajarinya.
“Kalau dilihat-lihat bapak Fizhan dan Kakak Irene cocok deh.”
HAH?
...***...
Bersambung
Comment, like & vote
Dukungan kalian semangat buat aku :)
__ADS_1
Sehat selalu yaaa 🤗