AKU KAU DAN ISLAM

AKU KAU DAN ISLAM
BAB 7


__ADS_3

“Ada apa?” Suaranya terdengar dari tempat Irene berdiri. Ia memperhatikan wanita yang dari kejauhan terlihat bimbang antara cabut atau tetap bersiteguh di tempat ia berjejak.


“A-aku ga sengaja.” Katanya membuka suara. Mimiknya berubah keruh, ia memainkan ujung rambut untuk memayungi rasa gugupnya.


Perasannya terlampau was-was karena dalam waktu yang bersamaan lelaki itu menarik langkah mendekatinya, ia mengunci mata rapat-rapat, takut bila kejadian yang sama saat di taman beberapa waktu lalu akan terulang kembali.


“Ada yang perlu saya bantu mbak?” Suara itu terdengar tepat dua meter dari tempat ia berpijak. Irene menghela nafas lega, kali ini pria itu benar-benar berbicara degannya. Ia berusaha mengatur nafasnya yang memburu seraya memberanikan diri untuk menghadap lajang berisis cokelat itu. Penampilannya tidak berubah, persis seperti saat yang ia lihat di café beberapa waktu lalu.


Perlahan ia mulai mengerek pandangannya dari ujung kaki menuju wajah, namum mendadak tilikannya terpaku pada buku cokelat yang terpaut di atas dada adam berkoko putih itu. Ia menitikfokuskan sorot matanya kesana, buku tebal yang sangat asing dalam pandangannya.


“Ada apa sama Al-qur’an saya mbak?” Tanya lelaki itu yang menyadari akan bidikan Irene pada benda yang terbungkus dalam kancingan lengannya.


“Al-qur’an?” Batinnya dalam hati. Seketika ia tersadar bahwa benda yang terpaut di permukaan dada lelaki itu adalah kitab ummat Muslim, sesuatu yang dijunjung tinggi keberadaannya. Selain itu, ia juga pernah melihat Fatimah membawa kitab itu ketika di sekolah.


Tidak ada yang seorangpun yang bisa menebak kapan pertemuan dan perpisahan itu akan terjadi. Termasuk pertemuan Irene dengan lelaki berparas firdaus itu. Semua telah tertata, seperti ada tangan tak kasat mata yang mempersuakan keduanya. Mulai dari pertemuan tanpa duga di café, insiden yang membawanya pada rumah biru, percakapan singkat mereka di halte hingga keduanya dipertemukan kembali di tanah yang mereka jejaki saat ini. Mungkin Tuhan memiliki maksud dan tujuan tertentu atas semuanya, entah itu siratan pengalaman atau memang sebuah perjalanan untuk menyatukan keduanya pada kehidupan di masa yang tak terduga.


“Hah? Ah engga kok.” Sahut Irene setelah siuman dari lamunannya.


Suasana hening selama beberapa saat, hanya ada recokan kendaraan dan suara gesekan ranting-ranting pohon yang mendedel kelengangan di antara mereka. Ditengah kesunyian yang menyapa, mendadak sorot mata Irene tertuju pada kertas kecil yang tersemat di atas benda suci itu. Carik tipis itu menampilkan deretan tinta hitam yang kini membobol rasa penasaran yang selama ini dipendamnya.


Hafizhan Raffa Khairy


...***...


“I- itu nama kamu?” Katanya canggung dengan bidikan jari telunjuk setelah melihat alfabet indah yang tercoret di atas kertas putih.


“Iya, Fizhan.”


Mendengar itu, hati Irene serasa ditaburi dengan kembang-kembang merah dari atas tanah rinjani. Senyum bahagia terbit di wajahnya, persis seperti mentari yang menyembul dari dekapan fajar.


“Hai aku Irene Natalia.” Katanya sumringah seraya mengulurkan tangan kanan kearah Fizhan. Sungguh, lelaki itu benar-benar tidak bertanya siapa nama gadis yang tengah berdiri dihadapannya.


Fizhan tidak membalas uluran itu. Sebagai gantinya ia menangkupkan kedua tangannya di atas dada seraya menyunggingkan senyuman tipis.

__ADS_1


Irene tertegun, menganalisa gelagat Fizhan yang ditaksirnya sebagai lelaki aneh. Selanjutnya, ia memainkan pasir putih di pelataran gazebo itu dengan ujung sendalnya.


“Mau kemana mbak?” Tanya Fizhan memecah rasa canggung Irene. Ia dapat menelisik dengan benar jika Irene sedang menahan malu akibat kejadian ini.


“Cari sarapan.” Jawabnya irit kalimat.


“Oh, gimana kalau bubur ayam di seberang sana? Langganan saya.”


Irene terkejut bukan main mendengar penuturan Fizhan, secara tak langsung lelaki itu mengajak dirinya untuk fasting together. Ia tampak memutar bola mata sebelum akhirnya menerima tawaran itu dengan semangat 45.


“Yaudah kalau gitu mbak jalan di belakang saya ya.” Kata Fizhan menginterupsi.


“Kenapa ga beriringan aja Zhan? Atau aku yang di depan, kan aku cewe.”


“Di belakang aja ya mbak.” Kata Fizhan yang kemudian menarik langkah mendahuli Irene.


Irene tercengang seraya menyusul langkah Fizhan dari belakang. Ia masih tidak habis fikir dengan kejadian yang dialaminya pagi ini. Irene cukup berhasil memecah rasa penasarannya dengan nama lelaki itu, namun sesuatu yang tak disangka berkecamba kembali dengan sikapnya yang sangat misterius bagi kesan pertama Irene. Pria itu aneh, dia bisa sangat akrab dengan bocah-bocah tadi namun tidak dengan Irene, tindakannya benar-benar berbanding terbalik.


Semua terasa kikuk, tidak ada percakapan antara keduanya sampai mereka menginjakkan kaki di warung kaki lima di seberang jalan.


...***...


Pukul sembilan malam, keramaian mulai menyempal pada setiap sudut bar. Kerlap kerlip lampu seakan memberikan warna untuk mereka yang katanya buram akan bahagia. Disana, di siku bar yang didominasi oleh warna hitam terlihat seorang gadis yang tengah termangu di atas barstool merah. Manik matanya beredar ria, menyelisik seantero bar yang berpendar tersorot pijar-pijar cahaya.


Irene. Pemilik mata hazel itu bersidekap tunggal di tengah berisiknya dentuman musik. Konsentrasinya tengah bermukim pada kejadian yang dialaminya pagi tadi. Tidak ada yang sedang diingatnya dari pembicaraan mereka suwaktu di lokasi pengisian lambung kecuali ajakan untuk belajar bersama di gazebo rumah biru Fizhan.


“Bagimana mungkin aku menerima ajakannya sedangkan itu bertolak belakang dengan ajaranku. Lalu, bagimana mungkin aku menolak jika ini kesempatan terbesarku untuk mendekatinya.” Kalimat itu kian berceceran di kepalanya. Sungguh, sedikitpun ia tak menyangka bila akan tertawan dalam situasi teruk seperti ini. Pikirannya was-was, bagaimana jika keinginannya untuk sekedar mengetahui sosok Fizhan kini berotasi menjadi cinta, tidak mungkin. Ia tidak mungkin mencintai seorang adam yang bersengketa anutan dengan dirinya.


Disela buah pikirannya, ia merasa seakan ada seseorang yang mengintainya dari belakang. Mendadak ia memutar tubuhnya 360 derajat ke penjuru arah. Namun nihil, tidak ada siapa-siapa disekelilingnya. Ia mengambil langkah cuek, siapa tahu itu memang hanya bayang-bayangnya semata. Namun tiba-tiba


Bugh


Pandangannya menghitam tanpa sebab yang ia sendiripun tidak tahu mengapa. Kawasan matanya seakan tertekan oleh benda yang memiliki ruas-ruas besar. Tubuhnya terasa terhimpit, karena dalam waktu yang bersamaan ada sosok kasat mata yang mendekap tubuhnya dengan erat.

__ADS_1


“Damn!” Umpatnya seraya menampis jejari nakal itu. Matanya berkelabat mencari dalang perusuh. Ia tidak suka jika ada yang merecokinya tanpa sebab.


“Sorry honey. I never visit you for this month. Karena aku lagi fokus untuk acara wedding kita.” Suara itu terdengar tepat di telinga Irene bersamaan dengan ruas-ruas besar yang terlepas dari putaran matanya. Ia menoleh kearah kiri, persis dimana bisikan itu berasal.


Dan


“S- sam?” Pekiknya dengan nada naik satu oktaf. Matanya membeliak sempurna, jantungnya berkemut hebat seakan tengah bermain di arena pacuan kuda.


“Ngapain kamu disini!” Timpalnya lagi seraya mendorong tubuh Samuel yang membungkusnya dengan pautan lengan. Lamunanya berhamburan, teralihkan dengan kemunculan Sam yang sempat tidak menemuinya selama tiga minggu lebih.


“Aku udah siapin acara pesta pernikahan kita sayang. Setelah wisuda SMA, aku bakal nemuin papa kamu.”


“A-apa maksud kamu? Cih!” Umpatan itu berhasil menyulut perhatian seisi bar pada keduanya. Matanya memanas, seperti ada sesuatu yang akan segera keluar dari sana.


Sam tidak mengimbangi sepatah katapun, ia terus mengulum senyum menyaksikan wajah Irene yang kian menegang.


Menyadari akan tilikan puluhan pasang mata kearah mereka, dengan cekat Irene memutuskan untuk keluar dari arena bar, ia tidak tahan terus-menerus bersisi kanan dengan pria itu, lagi pula apa tanggapan orang tentang dirinya nanti, bisa-bisa mereka mencap bahwa lelaki bertubuh besar itu adalah kekasihnya.


Dengan sepersekian detik ia berjalan menuju mobilnya yang terparkir di pelataran bar. Nafasnya memburu, jantungnya jedag jedug empat kali lebih kencang.


Hal yang tidak disangka. Bersamaan dengan tangannya yang berusaha meraih pintu mobil, disaat itu pulalah tangan Samuel meraihnya dari arah belakang. Sam tampil dengan raut buas, ia menarik tubuh Irene hingga tersungkur di permukaan tanah.


“Aww- sakit.” Ringis Irene spontan, lalu mengusap-usap lututnya yang terasa perih. Amarahnya semakin menghebat, Hatinya benar-benar dimarakkan dengan perlakuan lajang arogan itu.


Plak


Sebuah tamparan keras mendarat sempurna di permukaan pipi kiri Sam. Ia sangat dikejutkan dengan gaplokan itu mengingat posisi Irene yang sekilas mata masih berada dibawahnya. Tangannya refleks menyeka sudut bibirnya yang kini menitikkan cairan merah. Ia terperangah, hingga tanpa sadar Irene lepas dari pengawasannya.


...***...


Bersambung


Vote and comment guys

__ADS_1


Semoga kalian sehat selalu ya🤗


__ADS_2