AKU KAU DAN ISLAM

AKU KAU DAN ISLAM
BAB 61


__ADS_3

Sam beranjak bangkit dari motornya dan langsung menyambar lengan Lyora yang telah menampakkan batang hidungnya di perkarangan rumah. Gadis itu memegangi pergelangan tangannya yang mulai menampikkan kelir merah, isi dalam kepalanya menebak-nebak tentang Sam yang tiba-tiba gila.


“Kenapa sayang? Apa belum puas permainan kita tadi malam sehingga kau memaksaku untuk melakukannya lagi?” Suara Lyora naik satu oktaf dari sebelumnya. Ia berusaha untuk menormalkan rasa sakit di pergelangan tangan melalui tiupan-tiupan kecil.


Saat ini mereka berada di sebuah taman yang masih satu lingkup juga dengan rumah sang wanita. Sam sengaja tidak membawanya keluar karena entah kenapa hatinya mendadak ilfil dengan kehadiran Lyora. Lagipula di tempat ini juga tidak ada yang mengetahui karena banyaknya bongsai-bongsai raksasa yang mampu menutupi tubuh.


“Diam!” Sam menutup mulut Lyora hingga gadis itu tak lagi mengeluarkan suara. Matanya membeliak sempurna. Kenapa Sam mendadak gila begini?


“Setelah kita melakukannya, ke mana kau tadi malam?” Perlahan Sam mulai menjauhkan tangannya saat wanita itu sukses ia kendalikan. Namun, tatapan tajamnya tak lepas menghunus habis wajah Lyora hingga terbitlah roman-roman pucat pasi di sana.


“A- aku? Ya pulang.” Katanya terbata.


“Pulang?” Sam balik bertanya. Ia menghimpit habis tubuh Lyora di sebuah pohon yang daunnya berbentuk bola-bola besar.


“Iya aku pulang. Lalu ke mana lagi?”


Lyora semakin sulit bernapas karena aroma khas pria dewasa kian menyeruak dan menusuk indra penciumannya. Sepasang netranya mendadak lumpuh takkala melihat jakun Sam yang naik turun ke atas dan ke bawah.


“Oh! Bukannya kau berdiam diri di sana lalu melempar kaca jendelaku dengan kertas bertuliskan kata-kata basi pada jam dua dini hari? Hah!”


Kedua mata Lyora membulat habis. Yang benar saja, tahu dari mana Sam? Bukannya sesudah permainan ranjang itu dia langsung tertidur pulas? Lyora memang sengaja menunggu di beranda rumah Sam sampai waktu menjelang pagi, agar pria berjambang itu tidak tahu apa yang akan dilakukan oleh dirinya di sana.


“Aku tidak melakukan apa-apa. Kertas apa yang kau maksud?”


“Kau ingin bermain denganku ya?” Sam memicingkan matanya.


“Sungguh sayang, aku berani bersumpah.” Lyora berhambur keluar dari himpitan Sam. Ia hendak kembali ke rumahnya dengan maksud menyelamatkan diri. Namun sial, Sam berhasil menangkapnya terlebih dahulu.


“Jawab pertanyaanku bodoh!”


“Tolooong…” Lyora berteriak sekencang mungkin. Berharap akan ada pembantu rumah atau penjaga kebun yang melihat keberadaannya di tempat ini.

__ADS_1


“Diam atau aku akan menghabisimu!” Bentak Sam. Dan hal yang paling tak disangka pria itu mengeluarkan sebilah pisau yang spontan membuat nyali wanita di hadapannya nyaris menciut. Padahal ia mengeluarkan benda tajam itu hanya untuk menakut-nakuti Lyora saja.


“Lepaskan aku Sam. Aku mohon…” Bening-bening kristal luruh hingga sukses membanjiri pipir Lyora. Jantungnya cenat cenut, sepertinya lebih baik jujur dari pada harus mati karena kebohongan.


“Maafkan aku yang telah menerormu selama ini. Aku melakukan itu hanya karena rasa cinta yang teramat dalam, aku sungguh tak ingin kau bersama Irene.” Tangannya ia tangkupkan ke depan dada tanda memohon. Wanita itu berharap akan ada sebuah keajaiban yang membuka hati Sam untuk memaafkan.


“Apa kau juga melakukan ini pada Irene?” Sam bertanya penuh selidik.


“I- iya. Tapi baru satu kali.”


“Arrgh! Gila!” Sam kembali membentak. “Bagaimana kalau dia merasa tersakiti oleh olah bodohmu itu hah!”


“Kenapa kau jadi membela dia? Oh atau jangan-jangan dugaanku kalau kau mencintainya selama ini memang benar. Iya?” Lyora berusaha menahan sebah di dadanya, kalau tidak karena sayang mungkin onderdil si Sam sudah ia tendang sedari tadi.


“Asal kau tahu! Tidak ada wanita mana pun yang kucintai selain mantan kekasihku sendiri, Irene.”


“Apa? Mantan katamu? Jadi ternyata Irene itu-“


“Jika kau masih mencintainya lalu mengapa kau berpacaran denganku?”


“Tidak ada hal lain kecuali hanya ingin memuaskan nafsu birahi. Lagi pula kau masih perawan, aku hanya melakukannya dengan semi.” Sam berkata sekena jidatnya.


Bagai di sambar petir siang bolong hati Lyora kala ini. Tenggorokannya nyaris kering minta disiram. Dara itu seketika diam, tak mampu berkata-keta selain mengeluarkan deburan air mata.


Sam jahat! Picik! Terlepas dari masih perawan atau tidaknya, seharusnya dia tak melakukan itu jika memang tak ada rasa cinta. Kalau sudah begini siapa yang sakit? Pasti sang wanita yang menjadi korbannya.


Wajah perempuan si mata hazel sontak menyesaki isi kepala Lyora. Entah dendam kusumat seperti apa yang telah bersemayam di dalam hati. Tubuhnya yang gemetar tak mampu lagi menahan Sam yang kali ini beranjak pergi meninggalkan dirinya dan setumpuk kekesalan tingkat akut di sana.


...***...


Fizhan membuang napasnya kasar. Mengingat kejadian tadi membuat dadanya ngilu seketika. Berarti memang benar bahwa perhatian serta ambekan Fatimah selama ini adalah bentuk dari pada kasih sayang itu sendiri. Namun tak bisa juga dipungkiri bahwa Fizhan sama sekali tak menaruh hati padanya. Pria itu pun tak ambil pusing apabila hati Fatimah berubah benci atau bahkan malah merutukinya dengan sumpah serapah di muka bumi ini. Karena baginya hanya Allah SWT. lah yang Maha Adil dalama segalanya, Dia akan mengatur urusan setiap hamba dengan cara yang paling baik.

__ADS_1


Fizhan berkali-kali mengecek jam dinding. Tinggal di rumah seorang diri membuat ia bosan dan tak tahu harus berbagi kisah pada manusia mana. Pria itu menaikkan sebelah kakinya di atas kursi, tangannya mengambil sebuah gelas berisi teh jahe lalu meneguk hingga tandas tanpa sisa.


“Aku akan mengajak Aisyah dan juga Irene untuk keluar hari ini.” Sebuah ide muncul di kepalanya. Semoga dengan berkelana dengan dua gadis itu akan membuat pikirannya yang jenuh menjadi segar kembali.


Fizhan menoleh, menatap ponselnya yang tergeletak di atas meja. Kemudian satu persatu dari dara-dara itu ia panggil melalui sambungan telpon.


“Huuuh.” Hembusan napasnya terdengar banter.


Ekspresi tenang mulai ia tunjukkan takkala Aisyah dan juga Irene menerima tawarannya. Lagi pula memang sudah lama ia tak keluar dari kota Medan ini, selalu saja berkutat dengan kegiatan sehari-hari.


Di tempat lain, seorang wanita bermata hazel tengah mesem-mesem sendiri di depan cermin. Wajahnya ia taburi bedak putih serta mengoleskan lipbalm pink pada bibirnya yang mungil itu.


Dia juga bisa merasakan detakan jantunya yang berirama lebih cepat. Entah kena angin apa seorang pria yang sukses mencuri perhatiannya selama ini mengajaknya keluar bersama.


“Pa. Irene keluar dulu ya, mau ketemu temen.”


“Iya jangan pulang lama-lama.”


Irene bergegas menuju garasi seraya memboyong sebuah paperbag yang berisi kerudung merah muda di dalamnya. Selama ini memang selalu begitu, kalau sudah di pertengahan jalan baru dia pakai benda tersebut.


Tak butuh waktu lama akhirnya tibalah Irene di sebuah gedung berkelir biru. Namun betapa terperanjatnya ia takkala menyaksikan sepasang insan tengah bersitatap seraya tertawa riang di teras rumah.


“Aisyah. Kau juga ikut?”


...***...


Bersambung


Sebenarnya Aisyah itu siapanya Fizhan sih?


LIKE & COMMENT

__ADS_1


__ADS_2