
Sudah menjelang azan magrib dan anak-anak juga belum selesai untuk dibariskan. Beberapa orang dewasa tampak lelah mengatur posisi mereka agar rapi dan anteng berdiri di sana. Ada yang main kejar-kejaran seperti kucing dengan anjing, ada yang berbahak-bahak ria bahkan sampai ada yang menjengking-jengking di pojok barisan. Semua petakilan seperti anak kambing yang baru lepas dari kandangnya.
Kegiatan mengaji bersama ini memang kerap mereka lakukan sebulan sekali. Semua anak-anak akan dikumpulkan di tempat ini lalu membacakan Ayat-ayat Suci Al-qur’an dan diselingi dengan game seru berbasis Islami.
Pria yang pusat pikirannya sudah tidak berada di sini itu kelihatan hilang konsentrasi di depan sana. Biasanya ia yang sangat antusias untuk mengatur barisan ucul-ucul tersebut. Namun kali ini tidak. Dia tampak diam dan hanya memandang dengan tatapan kosong keriuhan di depan matanya.
“Eh kenapa tuh si Fizhan?” Tanya salah satu rekan mereka yang juga sedang sibuk mengatur barisan. Netranya tidak sengaja menangkap pemandangan paras yang tidak ada bedanya dengan kertas kusut.
“Itu tuh. Jadi tadi dia nyari-nyari perempuan sampai ke ujung sana.” Fatimah menyahut dari arah belakang seraya membuang telunjuk ke arah depan. Sebenarnya temannya itu sedang berbicara pada orang lain, namun karena topiknya adalah adam tertampan di antara kesemua lelaki yang ada di sini, Fatimah langsung saja nyamber kaya petir di siang bolong.
“Hah! Siapa?”
“Aku juga gatau. Kesel tau ih! Ngapai coba dia sampe segitunya ke perempuan tadi.”
“Loh loh loh. Fizhan yang kecarian kok kamu yang sewot gitu sih Fat. Atau jangan-jangan kamu cemburu ya cieee.”
Kalimat itu membuat raut kesal Fatimah mendadak bersemu merah. Ia baru sadar dengan apa yang baru saja diucapkannya. Huuh seharusnya dia berpikir dulu sebelum berkata. Kalau sudah ketangkap basah begini kan jadi riweh urusannya.
“Eh Andini! Apasih kamu. Eng- engga. Maksud aku tuh, aku kesel ngeliat Fizhan jadi ga konsen gini gara-gara cewe tadi. Kan kita juga sih yang jadi lama ngatur barisan anak-anak.” Fatimah menjawab dengan terbata. Jemari mungilnya tampak memilin-milin ujung kerudung, mungkin ia sedang menetralisir rasa gugupnya.
...***...
Assalamu’alaikum warahmatullah
Salam indah bergema dari dalam mesjid besar dan megah. Syukurlah. Kesemuanya dapat melaksanakan sholat magrib tepat waktu setelah susahnya mengatur barisan bocah-bocah tadi sebagai acara penutup.
Setelah ritual keagamaan selesai, akhirnya mereka pun berhamburan keluar dan berkumpul di beranda mesjid sebagai salam perpisahan.
Fizhan pulang berbarengan dengan salah satu ikhwan dari majelis mereka. Begitu juga dengan yang lain. Semua sudah memiliki teman boncengan kecuali gadis berkerudung hitam yang sedang berdiri di tengah-tengah mereka. Wanita itu tampak memasang raut bingung.
“Fat. Kamu gimana?” Tanya salah seorang di antara mereka yang bernama Andini. Semua juga tahu bahwa Fatimah adalah sosok wanita cerdas namun super penakut. Dalam artian bukan takut dengan gendoruwo atau sejenisnya, namun ia takut dengan manusia jahat yang banyak bertebaran di Pusat Medan ini.
__ADS_1
Awalnya biasa saja bahkan dia termasuk anak yang aktif berkendara di malam hari. Namun setelah kejadian pembegalan yang dialaminya dua bulan lalu akhirnya dia mengalami rasa trauma tersendiri dengan orang-orang yang tidak ia kenal. Untung saja pada waktu itu ada orang baik yang menolongnya dan menghantam habis preman-preman Kota tersebut. Kalau tidak, mungkin saat ini ruhnya sudah berada di dalam genggaman Tuhan.
“Memangnya kamu kesini tadi sama siapa?” Tak juga mendapat jawaban akhirnya Andini kembali bertanya kepada gadis yang tengah memaku di tempat tersebut.
“A- aku tadi diantar papa.”
“Papa kamu ga jemput lagi?”
“Kayanya engga deh soalnya nomornya juga ga aktif.” Raut bingung terlukis jelas di wajah Fatimah. Sesekali ia mengedarkan pandangan lalu menggigit bibir bagian bawahnya.
Hening. Semua saling pandang dan tampak berpikir. Sebenarnya mereka yang berboncengan itu memang sudah searah. Namun jika ceritanya begini, mana mungkin ada yang tega meninggalkan Fatimah atau membiarkan ia menaiki angkutan umum sendiri pada malam hari. Bisa mati ketakutan gadis itu di dalam sana.
“Yaudah biar aku yang temenin Fatimah pulang.” Suara besar khas lelaki menyembul di tengah keheningan. Fizhan. Lelaki itu turun dari jok motor kemudian mendekatkan jarak pada Fatimah. Jujur saja, sebenarnya ia juga sungkan berduaan pada malam hari dengan yang bukan mahram. Namun bagaimana lagi, tak ada tanda-tanda dari temannya yang lain untuk menawarkan diri menemani Fatimah untuk pulang ke rumahnya.
Gadis itu menoleh Fizhan kemudian menggelengkan kepala bersama seulas senyum. Huh penolakan ini namanya. Teman-temannya di sana juga tampak mengernyitkan dahi, bagaimana mungkin Fatimah mampu menolak pertolongan orang lain di saat dirinya benar-benar butuh? Aneh.
“Aku pulang sendiri aja.”
“Kenapa?”
“Apa karna aku ga punya motor kaya temen-temen yang lain dan kamu ga mau naik angkutan umum bareng aku?”
Deg!
Hati gadis berkerudung hitam tersebut langsung terenyuh dan iba mendengar kalimat yang baginya sangat menyayat hati. Fizhan memang tidak memiliki motor, setiap pergi sekolah ia selalu menggunakan angkutan sebagai kendaraan pribadinya. Sesekali bila keberuntungan sedang berpihak, ia dibonceng oleh orang-orang yang satu arah dengan dirinya.
Langkahnya sontak terhenti sesaat setelah Fizhan melayangkan kata-kata itu. Ia menarik napas dalam. Tidak! Sebenarnya bukan kendaraan penyebab utamanya. Entahlah. Gadis itu merasa ada sesuatu yang mencelos dari dadanya takkala mengingat kejadian siang tadi. Di saat Fizhan berlari dan bermandi peluh demi mencari gadis yang keberadaannya entah di mana.
“Bukan begitu.” Sahutnya setelah putar haluan ke arah mereka. “Aku cuma ga mau ngerepotin kalian. Lagipula aku ga boleh terlalu lama terpaku pada rasa trauma, kan?” Fatimah melempar senyum kepada manusia di hadapannya. Sebuah senyum palsu. Semua itu dapat terlihat jelas dari sorot matanya yang sendu.
Bukan wanita namanya jika tidak memiliki kepekaan level tinggi. Andini. Gadis yang paham akan apa yang dirasakan Fatimah itu pun langsung turun dari jok motor dan berangsur mendekati Fatimah yang masih membeku di tempat. Ia sangat tahu bila temannya ini sedang menahan api karena ulah Fizhan sore tadi. Karena dari cerita dan ekspresi yang dilayangkan oleh Fatimah suwaktu di lapangan, wanita itu dapat dengan jelas menebak apa yang sedang terjadi dengan hati temannya tersebut. Dan tanpa berbasi basi ia melemparkan penawaran kepada Fatimah dan mengorbankan lelaki yang seharusnya menjadi teman Fizhan untuk pulang.
__ADS_1
“Hei. Gimana kalau kamu pulang bareng Alta?” Semua tampak bingung dan celingukan. Apa bedanya antara Fizhan dengan Alta?
“Ntar Fizhan naik angkutan atau gojek aja deh pulang ke rumahnya. Yang penting kamu bisa sampai dengan selamat Fat. Iyakan Ta?” Andini melotot dan menggertakkan barisan giginya ke arah Alta sebagai isyarat untuk mengiyakan perkataannya. Lelaki yang dihadiahi oleh wajah bak nenek lampir itu sontak mengangguk tanpa menunjukkan perlawanan apapun.
“Nah tuh Alta mau. Gimana Fat kamu mau kan?” Fatimah tampak setengah berpikir lalu dalam detik berikutnya…
“Yaudah aku mau.”
Plak!
...***...
Bersambung
Fatimah jahat bet kasihan Fizhan :(
Btw di antara mereka berdua sebenarnya ada apa ya?
Yuk ikuti terus supaya dapat jawaban 😍
Comment, like & vote guys
__ADS_1
Dukungan kalian semangat buat aku
Sehat selalu yaaa🤗