
“Karena aku tak pernah mendapat kasih sayang dari orangtuaku sendiri.”
Blushh!
Hati Aisyah seakan tercabik sendiri mendengar penuturan Samuel barusan. Siapa sangka pria gagah nan seram itu memiliki sebuah luka terpendam di dalam dirinya sendiri.
“Ke mana orang tuamu?”
“Mereka berdua terlalu sibuk dengan pekerjaanya. Aku memang berlebih soal harta tapi tidak dengan kasih sayang.”
“Lalu mengapa tidak coba kau bicarakan saja pada ayahmu?”
“Ah sudah pernah tapi tak mempan.” Wajah Sam mendadak murung dan ini adalah kali pertama bagi Aisyah menyaksikan raut pria yang biasanya menyebalkan menjadi masam.
“Lalu apa hubungannya masalahmu dengan rumahku ini? Bukannya kau juga bisa bermain bersama temanmu di luaran sana?”
“Iya memang benar tapi rasanya berbed ketika aku menginjakkan kaki di tempat ini.”
“Bedanya?”
“Serasa ada angin sejuk yang menerpa tubuh dan membawa bebanku ini pergi jauh.”
“Hei hei hei! Kau kira rumahku pengepul angin topan apa.”
“Tidak bukan itu maksudku. Tapi, ah entahlah aku pun sangat sulit untuk menjelaskannya.”
Percakapan terhenti begitu saja. Aisyah masih termangu dari balik jendela rumahnya, kasihan terhadap Sam. Gadis itu malah merasa iba dan menyesal karena sudah selalu mengusir si Samuel dari tempat ini.
“Maka dari itu kau jangan suka mengusirku. Biarlah aku menikmati ketenangan jiwa barang sejenak.”
Wow! Sam seolah bisa membaca pikiran Aisyah.
“Iya tak akan kuulangi lagi, maafkan aku.” Jawab gadis itu penuh rasa sesal.
“Aku juga minta maaf karena pernah menabrakmu kala itu. Ah iya satu lagi! Sampaikan juga salam maafku pada temanmu kemarin yang hampir saja kutimpuk wajahnya.”
...***...
“Hadirin yang dirahmati oleh Allah SWT. Kejujuran merupakan bukti dari sebuah keimanan. Orang mukmin itu pasti jujur dan kalau tidak jujur pasti keimanannya sedang diserang oleh penyakit yang bernama kemunafikin. Maksudnya ialah orang yang bermuka dua alias di luar berkata iya dan di dalam berkata tidak. Dalam sebuah kisah pernah diceritakan bahwa suatu hari ada seorang sahabat yang bertanya kepada Rasulullah SAW. “Apakah mungkin orang Mukmin itu pelit?” lalu Nabi menjawab “mungkin saja”. Sahabat pun bertanya kembali “Apalah mungkin orang Mukmin itu pengecut?” Dan Rasulpun kembali menjawab “Mungkin saja”. Kemudian si sahabatpun tadi bertanya kembali “Apakah mungkin seorang Mukmin itu berbohong?” Maka Nabi pun menjawab “Tidak.” (HR Imam Malik dalam Kitab Almuwathaa).”
__ADS_1
Tok tok tok.
Oh my God!
“Iya sebentar Pa.” Irene cepat-cepat mematikan video yang tengah diputarnya dari youtube. Beruntung anak itu tak lupa mengunci pintu seperti kemarin.
Ceklek.
“Kau sedang apa?”
“E- em ini baru saja bangun tidur.” Jawabnya berbohong.
Astaga padahal baru saja dia mendengarkan materi tentang kejujuran. Tapi tak apalah dari pada kegiatannya diketahui oleh sang Papa.
“Bersihkan dulu badanmu setelah itu ke bawah ya.”
“Iya Pa.”
Bugh.
Pintu kamar kembali tertutup dan membuat Irene bisa menghela napas lega. Entah sampai mana materi yang didengarkannya tadi yang jelas telinga si gadis menangkap sebuah topik yang bertema tentang ‘kejujuran’.
Irene sungguh tak tahu harus berbuat apa karena semua serba salah. Dia belum bisa jujur dikarenakan belum siap menerima tanggapan dari pada si Fizhan apalagi papanya. Dan kalaupun terus berbohong gadis itu yakin suatu saat pasti akan ketahuan juga.
Tak ingin berlama-lama memusingkan diri, Irene pun beringsut ke toilet guna membersihkan diri dan setelah itu langsung turun ke bawah memenuhi panggilan Antonius.
“Pa.” Panggil Irene pada sang ayah takkala telah mendaratkan bokong di ats sofa ruang tengah.
“Ah iya duduklah.”
Irene celingukan setelah melihat wajah Antonius tanpa ekspresi.
“Ada apa?”
“Begini.” Lelaki kepala empat itu menarik napas dalam. “Sepertinya kita harus pindah ke Bandung minggu depan dan kau berkuliah di sana saja.”
“Apa!”
Dag dig dug!
__ADS_1
Irene kaget bukan main. Terkena sawan apa papanya sampai bertindak sedemikian rupa. Dan kenapa harus mendadak? Ck!
“Tulang Kev kembali sakit dan sudah tidak ada lagi yang merawat tanaman teh kita di Bogor.”
“Apa kita yang akan bercocok tanam di sana?”
“Tidak. Maksud Papa kalau kita di Medan ini otomatis jarak kita akan semakin jauh dengan Bogor Re. Dan kita bisa ditipu sama para pekerja di sana.”
“Oh astaga!”
Tidak tidak tidak! Pindah rumah bukanlah sesuatu yang pernah terlintas di pikiran Irene terlebih lagi bila sudah mendadak begini. Keluarga mereka memang hidup melalui tanaman daun teh ratusan hektar di tanah Bogor itu selama ini.
Irene tak siap. Wanita itu enggan meninggalkan apa-apa yang sudah menjadi kebiasaannya di Kota Medan ini. Segala macam bentuk aktivitas, teman-teman bahkan termasuk Fizhan di dalamnya. Apa jadinya kalau dia tak bisa melihat pria berparas teduh itu lagi? Sehari saja tak bertemu sudah merasa rindu kunun pula harus berjauhan entah sampai kapan.
“Aku tak ingin ke mana-mana Pa.” Sambungnya lagi seraya menundukkan kepala, embun di matanya sudah mulai bergelayut.
“Tidak bisa! Kita harus selalu mengontrol perkebunan dan kau wajib ikut dengan Papamu ini nak. Lalu apa mungkin kau bisa hidup sendiri di sini? Sedangkan tujuh hari ditinggal saja kau sudah kecarian.
Heum benar juga. Sebenarnya baik Irene maupun Antonius tak bisa juga berpisah barang sebentarpun. Lalu bagaimana? Gadis bermata hazel itupun tak akan mampu meninggalkan segala bentuk kesenangan hatinya di tempat ini.
“Beri aku waktu untuk berpikir Pa.”
Srek srek srek.
Langkah kakinya terseok-seok sambil masuk kembali ke dalam kamar. Antonius membiarkan, pria itu juga tahu bagaimana kondisi hati putri sematawayangnya itu saat ini. Orang mana yang bisa dengan mudah meninggalnya tempat yang saban hari ia lihat ketika bangun tidur dan manusia mana yang dengan mudah beradaptasi dengan lingkungan sekitar di lapak yang baru, semua terasa sulit.
Tapi mau bagaimana?
Kanker yang bersemayam di tubuh adik lelakinya itu kembali kambuh meskipun sempat membaik dua bulan lalu. Sebagai abang kandung sekaligus abang satu-satunya Antonius juga merasa iba dan tak tega apabila membiarkan Kevin seorang diri bersama keluarga kecilnya saja di Bandung sana. Lagipula di sisi lain pria yang tengah sakit itu tak akan mungkin bisa bekerja memantau kebun seperti biasanya terlebih bila jarak rumah mereka ke kebun tidaklah sedekat yang dikira. Kalau diamanahkan kepada orang lain pun semua itu tak juga akan menjamin keselamatan hamparan teh-teh hijau itu di sana. Zaman sekarang sangat sulit mencari orang jujur.
“Oh Tuhan bagaimana ini huuuuu hiks hiks.”
Di sisi lain seorang gadis bermata hazel terisak-isak di dalam kamar seraya menenggelamkan wajahnya pada badan bantal.
...***...
Bersambung
LIKE & COMMENT
__ADS_1
Semoga kalian sehat selalu readers 🤗