AKU KAU DAN ISLAM

AKU KAU DAN ISLAM
BAB 62


__ADS_3

Irene bungkam. Anggapannya bahwa Fizhan hanya mengajak dirinya seorang ternyata salah.


“Iya. Kata Fizhan kita mau ke pantai ya Zhan ya?” Aisyah memberi kesakitan lebih dalam pada hati Irene. Rupanya mereka sudah terlebih dahulu cerita sambil dua-duaan di tempat ini.


Tampak pria berparas teduh itu menutup pintu rumah kemudian langsung menguncinya. Irene juga disuruh duduk sambil menunggu kendaraan online mereka tiba. Maklumlah, namanya juga tidak memiliki mobil pribadi.


Gadis berkerudung vanilla itu mendengus. Tergambar jelas kekesalan pada wajah ayu yang kini berubah menjadi tomat matang. Ditatapnya wajah Fizhan dan Aisyah secara bergantian, berharap tak akan ada hal yang lebih pedih setelah ini.


“Itu dia, ayo!” Seru pria si kaos oblong sambil memboyong sebuah tas yang isinya tak dapat ditebak.


Baik Irene maupun Aisyah sama-sama manut. Keduanya langsung mengikuti langkah Fizhan untuk segera masuk ke dalam mobil. Dan pantai di Kota tetangga menjadi tempat tujuan mereka kali ini.


Di perjalanan, mereka tiada henti-hentinya membicarakan masalah studi. Irene yang ternyata beda kampus dengan mereka semua, menghentikan tanya jawabnya mengingat Aisyah dan Fizhan selama tiga puluh menit terakhir ini sedang membahas gedung yang akan mereka tempati. Mulai dari jadwal perkuliahan, mata kuliah, biaya kuliah bahkan sampai teman-teman mereka yang akan satu kampus pun dibabat habis hingga selesai.


Irene menghela napas berat. Ingin sekali rasanya membatalkan liburan mendadak ini, namun mustahil. Tak ikhlas juga bila membiarkan Fizhan dan Aisyah berduaan di sebuah tempat yang mayoritasnya diisi oleh muda mudi berpasangan.


“Hei kenapa diam saja?” Suara dara berkerudung lebar itu membuyarkan lamunan Irene. Ia menatap mata hazel itu setelah menghentikan aktivitasnya bersama Fizhan.


“Aku tidak tahu harus menjawab apa atas urusan kalian.” Irene memandang balik. Sesekali netranya menilik Fizhan yang berada di samping jok kemudi.


“Kenapa kau tak masuk di kampus yang akan kami tempati saja? Kan bisa selalu ketemu.” Tanya Aisyah yang sukses membuat kupu-kupu di perut Irene bertebaran.


Satu kampus katanya? Hei! Mereka saja yang tidak tahu kalau gadis non Muslim seperti Irene dilarang belajar ke ranah itu.


“Setiap orang kan memiliki seleranya masing-masing.” Jawabnya seraya tersimpul kemudian langsung berbalik badan menatap jendela luar. Irene merasa lemas hingga kedua bahunya turun mengikuti raut wajahnya yang juga begitu.


...***...


“Bodohnya selama ini aku yang terlalu mencinta,” Fatimah. 120 menit sudah ia berkutat dengan air mata.


Selama ini mungkin dia yang terlalu lembut dan menuruti keinginan hati. Tapi nasi sudah menjadi bubur, apalah daya. Perasaan seseorang tak akan mungkin bisa berubah kalau tidak ada tangan tak kasat mata yang ikut mencampuri. Mungkin mulai hari ini, esok dan seterusnya ia akan cabut rasa cinta yang pernah terpatri sedari lalu.

__ADS_1


Fatimah berharap bisa dengan cepat mengubur perasaannya dalam-dalam. Membuang semua rasa sakit yang merajam hatinya hingga koyak tak bersisa. Biar ia nikmati cinta tak terbalas ini tanpa harus memperjuangkan seseorang yang memang tak pernah ingin kembali memperjuangkan.


“Fatimah, buka pintunya nak. Makan dulu!” Si wanita paruh baya menggedor pintu kamar untuk ke sekian kali. Ya Rabb, ibu mana yang tak sedih setelah mengetahui bahwa anaknya sedang dikecewakan.


“Umi pergi saja! Kalau Fatimah lapar, pasti Fatimah keluar.” Gadis bergamis marun itu tertawa miris. Wanita yang malang. Mau melamar orang tapi malah ditolak habis-habisan.


Aaaaaaaargh!


Crang crang crang!


Suara benda-benda berjatuhan saling bersahutan di ranah biru muda itu. Fatimah dapat melihat dan mendengarnya dengan jelas. Menarik napas dalam berkali-kali, kemudian memilih menggulung sekujur tubuhnya dengan selimut tidur. Akhir memang tak pernah kita duga. Semua bisa tiba-tiba berubah bahkan terbalik dari cerita awal.


“Bagaimana ini?” Rumah mendadak penuh dengan rasa khawatir. Wanita yang berstatus sebagai ibu kandung dari Fatimah itu berlari menuju ruang tengah. Tampak seorang pria berjanggut hitam sedang bersandar di atas sofa.


“Sudahlah. Mau diapakan lagi? Biarkan saja dulu anak itu menikmati rasa sakitnya. Nanti, dia baru menyadari dan perlahan-lahan membunuh perasaannya terhadap Fizhan.” Kata lelaki paruh baya itu terhadap istrinya yang baru saja mendaratkan bokong di sebelahnya.


Ibu Fatimah tak menjawab apapun lagi. Terdengar suara dari dalam kamar pun sudah cukup membuktikan bahwa gadis itu sedang berkelana dengan sedihnya.


Biarlah ia menangis hingga lelah sendiri. Wajahnya yang sembab akan menjadi saksi bahwa dara itu pernah menggilai seorang pria hingga setengah waras semasa gadisnya.


...***...


Irene tersenyum. Menikmati hawa pantai adalah hal yang sudah jarang ia lakukan.


Tak lama kemudian ada suara sahut-sahutan burung yang bersumber dari arah atas. Gadis itu mendongak, menyaksikan segerombolan hewan bersayap yang melayang-layang di udara tinggi.


Belum sempat ia mengabadikan moment tersebut melalui sebuah gambar ponsel, tiba-tiba saja binatang hitam itu beranjak dan mengepakkan sayapnya semakin jauh dari pandangan mata. Membelah langit di pulau Sumatera.


“Aku sudah memotretnya tadi. Jadi, tenang saja.” Simpul manis terlukis di wajah Fizhan. Ia mendapati wajah Irene yang nyaris muram karena keduluanan oleh gerakan kilat si burung sebelum bisa mengabadikan gambar indahnya.


Gadis itu kembali membalas dengan senyuman yang tak kalah manis.

__ADS_1


Ada titi panjang di pojokan sana. Irene langsung ngacir guna menjejakkan kaki di atasnya. Kalau orang bilang sih ini namanya pantai romantis. Ya, bagaimana tidak romantis? Selain seantero alamnya yang indah, tempat ini juga memiliki ikon-ikon unik yang cocok digunakan sebagai background pemotretan.


Cekrek.


Sebuah gambar dengan latar ikon love mrah berhasil diabadikan oleh Irene dari atas titi. Tampak luas sekali laut buatan Allah ini, hingga sepasang netra pun tak mampu untuk menjangkaunya.


“Sudah pernah dengar cerita tentang Nabi Musa AS. yang membelah laut belum?” Suara besar khas lelaki terdengar dari arah belakang. Seketika Irene berbalik badan guna melihat wajah yang sebenarnya tanpa melihat pun ia sudah tahu itu siapa.


“Apa memangnya?” Mata hazel itu menatap lekat hingga tak berkedip.


Fizhan mengambil langkah untuk menyusuri titi panjang itu hingga penghabisan. Sesekali tubuhnya ia miringkan mengingat banyak orang lain yang juga berseliweran di tempat ini.


“Nabi Musa AS. Itu dikenal sebagai seorang yang pemberani dalam menantang kepemimpinan Fir’aun. Karena kegigihan Nabi Musa AS. untuk meluluhkan hati Fir’aun agar kembali ke jalan Allah SWT. Beliau dan para pengikutnya sampai dikejar-kejar oleh pasukan Fir’aun itu sendiri.” Fizhan memindai satu persatu seantero laut, netranya menangkap gulungan ombak besar yang bermain di hamparan luas itu. “Namun alangkah bingungnya karena kala itu mereka terjebak di perbatasan laut sehingga tak ada jalan keluar selain melewati sebuah jalur yang dikenal sebagai Laut Merah. Hingga Nabi Musa AS. pun pada akhirnya memukulkan sebuah tongkat ke permukaan laut dan terbelah lah genangan air bah tersebut. Melihat hal itu, Fir’aun dan pasukannya segera menyusul. Namun Allah SWT. Maha Kuasa atas segalanya, sehingga di saat itu juga laut kembali mengatup rapat dan menenggelamkan orang-orang kafir itu di dalamnya.”


Irene diam tak membalas. Ia masih memaknai benar apa yang baru saja diceritakan oleh Fizhan.


Fir’aun?


Laut Merah?


Sepertinya gadis itu akan mencaritahu lebih dalam tentang dua nama asing itu. Kalau Nabi Musa AS. tak perlu lagi ia pikirkan karena hingga sampai saat ini pun 25 Nama-nama Nabi Allah masih tersimpan rapat di dalam memorinya.


“Hei di sini kalian rupanya. Fizhan foto yuk.”


“Oke,”


Bluuuush!


...***...


Bersambung

__ADS_1


Kita buat Irene sakit hati yaaa wkwk


LIKE & COMMENT


__ADS_2