AKU KAU DAN ISLAM

AKU KAU DAN ISLAM
BAB 34


__ADS_3

Yang disudutkan pun semakin merasa terpojok. Ia juga baru sadar bahwa wanita yang sedari tadi direngkuhnya adalah Lyora bukan Irene.


“Oh Sam bodoh! Mengapa kau sampai mengira bahwa itu adalah gadismu?” Guratan kalut tersemat jelas di wajah pria berjambang rimbun itu.


Suasana yang seharusnya masih termasuk dalam kategori dingin kini berangsur panas bak api yang menyala. Baik Lyora maupun Sam kini tak lagi membuat perdebatan baru, keduanya hanyut dalam pikirannya masing-masing.


“Siapa wanita yang dimaksud Sam? Apa dia sedang memikirkan Irene? Tapi bukannya wanita itu adalah teman kecilnya. Ah apa mungkin Sam memiliki kekasih selain aku?” Lyora menebak-nebak asal. Mulutnya ingin sekali bertanya ulang pada Sam, namun ia yakin bahwa kekasihnya itu tak akan mungkin mau jujur. Kini ia merasa telah dipermainkan. “Sebaiknya kau pulanglah dulu!” Kali ini tampak seperti orang mengusir.


“Kau tak menginginkan aku di sini?”


“Aku hanya ingin sendiri.”


“Tapi sungguh aku tidak sedang membayangkan gadis manapun kecuali engkau sayang.” Kata Sam mencoba merayu. Namun sepertinya usahanya kali ini gagal, Lyora benar-benar tak bergeming pada posisi merengkuh dan menunduknya di pojokan ranjang.


Memahami kondisi tersebut Sam pun segera mengutip pakaiannya yang masih tercecer di atas lantai seusai permainnya pagi ini. Setelah itu ia segera beranjak keluar sesaat sebelumnya sukses mendaratkan sebuah ciuman perpisahan pada dahi Lyora.


...***...


Seorang gadis berambut panjang sedang bergelut dengan kertas-kertas warna di sebuah ruangan besar. Jika dihitung-hitung sudah ada sekitar 30 menit ia menggambar kemudian menggunting kertas tersebut lalu menumpuknya menjadi satu di atas lantai.


Ide cemerlang menghampirinya sesaat setelah ia selesai membuang hajatnya di kamar mandi. Membuat kata-kata indah kemudian menempelkannya di ruang tengah menjadi kejutan unik tersendiri baginya untuk menyambut kepulangan Antonius.


Saat ini telah ada berbagai huruf-huruf berbeda warna dan ukuran di sana, juga beberapa hiasan kecil seperti bunga dan balon-balon yang siap untuk disematkan pada dinding.


Selain itu Irene juga akan memesan makanan kesukaan papanya secara online. Sebenarnya ia ingin sekali meracik bumbu kemudian memasak melalui tangannya sendiri. Namun apa boleh buat, kebiasaan makan terbang yang selama ini menjadi budaya keluarganya membuat gadis berusia 18 tahun itu absen menyentuh bahan-bahan dapur.


“Ini sudah ini juga sudah. Bagus! Sedikit lagi semua akan selesai.” Irene berkicau pada dirinya sendiri seraya memperhatikan satu persatu guntingan kertas tersebut.


Ia sangat sudah tidak sabar untuk menyaksikan kembali wajah Antonius yang nyaris mirip dengannya tersebut. Andai saja matahari bisa diajak kompromi, pasti ia sudah memerintahkan pada zat panas itu untuk segera bergulir ke ufuk Barat.

__ADS_1


...***...


Sam mengusap wajahnya kasar. Ia masih merutuki kebodohan yang ia lakukan beberapa jam yang lalu pada Lyora. Saat ini pria itu tengah mengemudikan mobilnya menuju basecamp tempat biasa ia berkumpul bersama teman-temannya. Mungkin dengan meneguk berbotol-botol alkohol di sana akan mengurangi rasa lelah yang menyerang isi otaknya saat ini.


“Setelah ini aku harus memikirkan cara agar Lyora kembali menaruh kepercayaannya padaku.”


Sam terus melaju membelah keriuhan kota Medan di pagi menjelang siang hari ini. Ujung kakinya yang terus menekan gas mobil tanpa perhitungan membuat kendaraan beroda empat tersebut semakin melaju dan menyalip apa-apa saja yang berada di depannya.


Pikiran yang kacau ditambah dengan laju kendaraan yang melewati batas normal membuat pria itu agak kesulitan mengendalikan pemandangannya saat ini. Kendaraan di jalanan tampak seperti laron-laron bertebaran yang menuntut netranya untuk lebih tajam melihat ke depan. Sam benar-benar merasa pelik kali ini, mobilnya kian melaju tanpa harus tahu untuk berhenti. Hingga dalam detik berikutnya ia dapat melihat dengan jelas seorang wanita berkerudung hijau terpental dan terseret ke bibir trotoar akibat ulahnya sendiri.


Ya ampun! Sam telah menabrak seseorang.


Sahut-sahutan para pengguna jalan yang melihat kejadian itu sontak menggegerkan suasana. Banyak orang yang berlarian untuk meraih tubuh seorang wanita yang bagian dahinya telah dicucuri oleh darah tersebut. Begitupula dengan Sam, pria itu panik bukan kepalang sesaat setelah keluar dari pintu mobilnya.


Sam tidak sedang takut dengan kerumunan orang-orang di sana, juga tidak khawatir dengan apa yang barusan terjadi saat ini. Jika masalah menubruk orang baik mati maupun hidup, dia bisa saja mengganti rugi melalui materi dengan nominal berapapun. Namun yang saat ini membuatnya kalang kabut ialah saat menyaksikan ringisan perih seorang wanita yang sedang menahan sakit akibat tertabrak oleh mobilnya sendiri. Dara berkerudung hijau itu menciptakan banjir melalui air matanya sendiri, tangannya tak lepas dari dahinya yang penuh dengan cairan kental berwarna merah.


Di dalam kendaraan berwarna hitam tersebut si korban tak henti-hentinya mengucurkan kristal-kristal bening. Sam masih mematung di tempat, ia bingung harus berkata apa hingga akhirnya mobil yang mereka tumpangi tiba di sebuah gedung kaca yang bagian depannya dipenuhi oleh suster-suter berseragam putih.


Pria berjambang itu kembali meraih tubuh si wanita dan membawanya dalam gendongan. Tidak ada perlawanan di sana, mungkin rasa sakit yang teramat sangat membuat korban yang ditabrak tak mampu lagi berkata-kata.


“Silahkan menunggu di luar mas.” Kata seorang suster berparas ayu setelah mereka tiba di depan ruang UGD.


Di luar sana Sam tampak tak berkutik, ia sibuk menyibak-nyibakkan rambutnya kasar. Entah apa yang sedang dipikirkan oleh pria berjambang rimbun itu yang jelas saat ini guratan cemas menghiasi wajahnya yang dipenuhi oleh rambut-rambut hitam.


Setelah menunggu sekitar 20 menit, akhirnya yang ditunggu-tunggupun keluar. Sam sontak berlari dan menghampiri seorang dokter bersama susternya yang baru menyembul dari pintu UGD.


“Bagaimana dengan wanita itu dok?” Tembak Sam tanpa basa-basi.


“Ia mengalami luka yang cukup dalam pada bagian dahinya, tapi bapak tenang saja kami telah menjahit serta memberinya obat pereda nyeri.”

__ADS_1


“Apa dia masih menangis?”


“Tidak. Hanya saja sesekali gadis itu masih meringis.”


“Boleh saya masuk?”


“Silahkan.”


Dengan rasa kasihan yang masih bergelayut di dalam hati, pria bertubuh jenjang itu membuka pintu ruangan dan masuk ke dalamnya. Sam mencoba mendekat dan meraih tirai biru yang masih menutupi bagian brankar. Perlahan ia membuka kain bergelombang tersebut dan pemandangan yang pertama kali ia lihat adalah seorang gadis remaja yang terkulai lemas bersama percik-percikan darah yang merembes pada kerudung bagian atasnya.


“Apa masih sakit?” Sam memperhatikan jarum infus yang tersemat di urat tangan wanita itu. Ia menilik hikmat bagian beruas tersebut hingga pandangannya berangsur naik ke bagian atas dan terhenti tepat di depan wajah sang korban.


Namun betapa terkejutnya ia saat melihat sosok mana yang saat ini terkulai lemas di hadapannya. Matanya membulat sempurna, ternyata dunia ini sangat sempit.


“Kamu?” Katanya seraya melayangkan jari telunjuk.


Korban yang ditabraknya adalah seorang wanita yang kemarin ia temui bersama rekannya di sebuah café klasik di Kota Medan.


...***...


Bersambung


Follow ig author yuk: wandahandayani24


Jangan lupa comment, like and vote yaa


Dukungan kalian semangat buat aku:)


Sehat selalu readers setia 🤗

__ADS_1


__ADS_2