
“Aku permisi keluar bentar ya.” Irene lari sebelum Fizhan sempat mengiyakan.
Hatinya sakit.
Perih.
Terluka.
Apa maksud Fizhan? Kenapa dengan entengnya dia menjawil pipi Aisyah? Bukannya kata dia kalau tidak mahram maka haram untuk disentuh. Tapi kenapa dia melakukan semua ini? Ah sudahlah.
Irene menyelinap dan bersembunyi di balik dinding dekat pohon besar. Gadis itu menumpahkan semua kesalnya di sana. Kenapa semudah itu? Dia yang selalu menginginkan agar dapat jatah berduaan dengan Fizhan pun bahkan tak pernah kesampaian sampai sekarang. Tapi kenapa sama Aisyah secepat itu? Ini ga adil!
“Sakit banget hati aku ya Tuhan huuuu hiksss.”
Sungguh! Ini adalah kali pertama Irene meneteskan air mata hanya karena laki-laki. Sebelumya dia tak pernah, bahkan sejak masih sama Samuel dulu.
Fizhan jahat! Tega banget sama Irene.
“Sebaiknya aku pulang aja.” Si gadis malang itu menekan lama-lama bagian mataya guna menghabiskan air mata yang masih menyumpal di dalam sana.
Di sisi lain seorang lelaki tengah berlari-lari mencari keberadaan rekannya yang mendadak hilang dari tempat. Sebelumnya dia sempat berpamitan pada Bu Umayyah yang kemudian dijawab oleh anggukan kepala.
“Irene dimana? Kenapa dia kabur sih?” Fizhan menerka-nerka dalam hati.
Sudah tiga kali ia mengelilingi seantero rumah sakit namun tak juga kunjung menemukan yang dicari. Irene hilang, Irene pergi entah kemana dan karena apa.
...***...
Matahari kian bergulir ke ufuk Barat. Sinar kemerahan dan juga formasi awan yang tak beraturan semakin menarik mata untuk menatap.
Alan.
Pria itu meraih sebuah benda gepeng dari saku depan jaket leenya, ia menelpon seseorang di sana.
“Hai sayang. Kau dimana?”
“Aku sedang di rumah.”
“Aku ingin mengajakmu keluar malam ini.”
“Ohya? Kemana?”
“Kemana saja asal bersamamu.”
Ester mesem-mesem di seberang sana, ini adalah kali pertama ia akan berkencan pada malam hari dengan pacarnya itu.
Entah kenapa Alan bak pangeran syurga di matanya, entah apa yang dipandang. Alan tidak terlalu tampan bahkan masih termasuk dalam nominasi pas-pasan. Pria itu juga urak-urakan dengan rambut yang selalu dikuncir ke belakang. Kaya? Oh No! Kalau Alan kaya pasti dia tak akan membiarkan Ester makan seadanya suwaktu di lapangan pusat Kota kemarin itu.
__ADS_1
Ester mengiyakan, gadis polos itu benar-benar sudah tidak sabar menunggu sang rembulan berganti tugas dengan si mentari.
Pukul tujuh tepat.
“Aduh yang mana ya?”
Seluruh isi lemari dia bongkar habis-habisan. Entah mencari apa, katanya sih belum dapat pakaian yang cocok.
Marun, mustard, navy, grey dan kelir-kelir lainnya sudah ditesnya satu persatu. Ada yang kekecilan, terlalu ketat hingga membentuk bungkusan lontong dan ada juga yang super duper besar bak ibu hamil. Semua salah.
Ester terus mengaduk-aduk baju yang sudah terberai di atas ranjang tersebut hingga dalam detik berikutnya matanya tak sengaja menangkap pemandangan sebuah dress hitam polos yang tersemat ditumpukan paling bawah.
“Wow indah banget.” Katanya seraya meraih benda gelap tersebut.
Dress itu merupakan pemberian maminya setahun lalu, kala itu dia sedang berulang tahun. Harganya yang begitu fantastis membuat dress polos itu terlihat sangat elegan dan benar-benar diacungi jempol. Simpel memang, tapi sungguh indah.
“Aku cantik banget.” Kata sang gadis memuji dirinya sendiri di hadapan cermin.
Ester tak memasukkan kembali semua pakaian yang sudah terlanjur berserakan di atas kasur itu. Ia malah mengambil sepaket make up yang kiranya sudah sebulan tak terpakai kemudian mengoleskannya pada zona wajah.
Sempurna.
Ester benar-benar bak bidadari saat ini.
Ia meraih ponsel yang tergeletak di atas nakas kemudian segera mendial kontak sang pujaan di dalam sana.
“Hai sayang, kemarilah. Nanti ku shareloc ya.”
Setelah panggilan terputus Ester langsung menepati janjinya guna mengirim alamat rumahnya tersebut. Tak butuh waktu lama sebuah deruan motor terdengar dari arah depan.
“Oh itu pasti Alan.” Ester ngacir.
Ceklek.
“Wow!”
Alan tercekat. Ternyata Ester jauh dari apa yang dia bayangkan sekarang. Pria itu mengira bahwa Ester akan berdandan seperti biasanya, namun salah. Ester sungguh tak ada bedanya dari sang bidadari kayangan.
“Kamu cantik banget sayang.”
“Makasih.”
Keduanya pun berlalu membelah keriuhan malam di Kota Medan.
...***...
“Hiks hiks. Aku bener-bener ga tahan, apa harus aku cerita ke Ester soal ini ya?” Irene menilik fotonya bersama sang konco lama yang tercegak di atas nakas. Selama ini memang Ester yang menjadi tempat sandarannya di kala sedang ada masalah. Namun apa mungkin dia membocorkan tentang rahasia ini? Apa iya Ester tak akan membongkarnya pada Antonius?
__ADS_1
Huh! Irene jadi teringat peristiwa belasan tahun lalu. Saat dimana dia pernah bercerita pada mamanya tentang seorang pria yang suka mengganggu waktu mainnya. Kala itu Irene bertetanggaan dengan seorang bocah cowo yang seusia dengan dirinya, tapi sayang si ucul itu sangat bandel dan saban hari selalu membuat Irene menangis.
Entah kenapa setiap cerita ke mama rasa kesal Irene jadi hilang, Irene dapat dengan mudah menarik simpulan bibirnya dan membentuk huruf U kembali di sana. Mamanya benar-benar sosok penenang. Irene kangen banget sama mamanya.
“Andai saja kamu masih ada mom, pasti aku bakal cerita soal ini ke kamu mom.”
Irene jadi mengurungkan niatnya untuk curhat ke Ester. Ia tak yakin bila sahabatnya itu akan tetap tenang dan dapat menutup rahasia ini rapat-rapat. Dia tak mau ambil resiko, biarlah masalah ini cukup dia dan Tuhan saja yang tahu.
Dan soal Fizhan?
Irene gatau kenapa semakin kesini rasanya dia semakin pengen selalu dekat dengan Fizhan. Fizhan adalah sosok penenang sekaligus guru baru untuknya. Dan kalian tahu? Ini juga semata-mata bukan soal Fzihan, melainkan Islam.
Akhir-akhir ini Irene amat merasa tenang bilamana mendengar bacaan ayat suci Al-qur’an yang meskipun saat ini ia tak tahu artinya apa.
Hei, pertanda apakah ini?
...***...
Malam kian larut dan kedua pasang kekasih itu masih asyik menikmati dinginnya hawa perbukitan. Alan membawa Ester ke sebuah lapak dimana para muda mudi sering mejeng dan bakar-bakar jagung di sana.
“Mama kamu beneran masih di luar Kota kan sayang?”
“Iya, kenapa?”
“Engga. Aku takutnya kalau pulang malam ntar mama kamu marah lagi sama aku.”
“Malam? Memangnya ini jam berapa ya?”
“Jam tengah satu.”
“Hah! Sumpah?”
“Iya. Kok kamu kaya kaget gitu sih?”
Ester tercekat. Bagaimana mungkin ia tak menyadari bahwa waktunya sudah habis banyak di tempat ini. Wanita itu memperhatikan sekitar, rame orang. Pantas saja dia mengira kalau ini masih jam sembilan.
“Eh eh.”
Tiba-tiba saja kilatan putih bergerigi terekspos nyata di kaki langit. Hembusan angin juga mulai kencang, hawanya semkain dingin.
Mampus! Kayanya bentar lagi bakal hujan deh.
...***...
Bersambung
Kira-kira Ester bakal gimana yaaa wkwk
__ADS_1
Like comment and vote
Semoga kalian sehat selalu 🤗