
“Eits-eits sabar manis. Aku ga akan ganggu kamu kok.”
“Pergi!”
“Setelah urusanku selesai aku akan pergi oke.”
“Pergi ga!” Dara tersebut mulai tersulut emosi dan seketika mendorong tubuh Sam hingga membuatnya beberapa langkah mundur ke belakang.
Sam tidak juga beranjak dari sana. Ia malah mengeluarkan sebuah kantung berwarna karamel berbentuk persegi panjang. Benda itu menggembung seolah diisi oleh sesuatu yang tak dapat ditebak isinya apa. Si jambang rimbun tersimpul lirih, ia melayangkan kantung tersebut persis di atas telapak tangan Ester.
“Nih buat kamu.”
Ester terdiam. Ia memperhatikan benda yang berada ditangannya itu dengan hikmat. Ah sekarang wanita itu tau apa yang sedang Sam beri untuknya.
“Untuk apa uang ini hah!”
“Aku bakal ngasih berapapun yang kamu mau asalkan kamu bantu aku buat dapetin kembali sahabatmu itu. Ah iya, itu juga baru uang muka. Aku bisa ngasih kamu lebih dan lebih jika misi kita berakhir.”
Plak!
“Aduh.”
Sebuah tamparan keras mendarat pada permukaan pipi Sam yang dipenuhi oleh rambut-rambut hitam. Sontak ia mengelus-elus bagian wajahnya yang terasa sakit. Senjata makan tuan. Ester menamparnya dengan gepokan uangnya sendiri.
“Kamu kira aku mau menjual temanku sendiri hah!”
“Kamu kira aku bakal tergiur dengan uangmu yang tidak seberap ini!”
“Fucking man! Lihat rumahku lihat! Bahkan aku jauh lebih kaya dari seorang Samuel hahaha.”
Tawa Ester terdengar menggelegar di sebuah hamparan luas tersebut. Salah orang dia jika menganggap niat bodohnya itu akan berhasil. Ester memiliki seorang ibu CEO di sebuah perusahaan dan saat ini hanya ia dan ibunya saja yang menikmati harta tersebut. Jadi, gepokan uang yang telah diberi Sam untuknya tadi tak akan mempan karena hartanya juga telah melimpah tak ketulungan.
Sam membeku di tempat sebelum akhirnya pergi dan mambawa kantung karamel itu kembali pulang. Usahanya untuk mendapatkan kembali hati pujaan hatinya gagal total. Dia mengira semuanya dapat diselesaikan dengan uang, tapi ternyata tidak. Justru ia dihadiahi dengan sebuah tamparan keras karena ulah gilanya di hari ini.
“Halo. Aku butuh bantuan kamu sekarang.” Sam berkata pada seseorang yang berada di balik sebuah penda pipih persegi panjang.
...***...
__ADS_1
Bel sekolah berdentang pertanda jam pelajaran akan segera di mulai. Seorang wanita berkuncir satu sedang khusyuk mengetuk-ngetuk ujung pulpen di atas meja seraya menatap ke sembarang arah dengan mata kosong.
Ia sedang menunggu kehadiran kawan sejolinya. Ada perasaan rindu yang saban detik bergelayut dalam hatinya mana kala tidak melihat orang yang dirindukan.
“Jangan ngelamun ntar kesambet Re.” Wanita bertubuh kecil dan putih nyelonong dari arah belakang lalu menyenggol bahu Irene sehingga membuat ia tersadar dari lamunannya. Gadis itu tersenyum manis lalu berangsur meninggalkan Irene yang masih tercegak di tempat.
...***...
Di sisi lain Ester dengan kencang malajukan matic hitamnya agar segera sampai ke sekolah. Meskipun sebenarnya hatinya masih merasa dongkol dengan Irene atas kejadian kemarin namun tetap saja wanita berambut panjang tersebut adalah sahabatnya sejak kecil. Mana mungkin ia tahan berlama-lama menyimpan amarah.
Ester kian melesat meninggalkan gedung demi gedung yang berdiri di Kota Medan. Jarum spedometernya menuju ke kanan tanpa ada sedikitpun mundur ke belakang. Kencang. Sangat Kencang. Hingga dalam detik berikutnya…
“Aaaaaaaa.”
Brak!
Gedebuk!
“Awwww aduuuh aaarrrgh.”
Seorang pejalan kaki tertabrak oleh wanita berseragam SMA. Entah dari mana datangnya orang tersebut, tapi si penabrak benar-benar melihat bahwa jalan raya yang saat ini tengah ia lintasi benar-benar kosong oleh pejalanan kaki.
Ester sontak berlari ke arah korban yang tadinya terguling-guling dan menepi di bibir jalan. Ia menatap lekat-lekat wajah dan tubuh yang ternyata adalah seorang pria sebayanya.
Orang-orang mulai berkerumun untuk mendatangi suara yang beberapa detik lalu sempat membuat mereka terkejut. Melihat hal itu pelaku tabrakpun semakin takut dan bingung. Bagaimana jika terjadi sesuatu dengan yang ditabrak? Bagaimana jika dia mengalami patah tulang? Atau mungkin napasnya hilang alias mati. Aaaaaargh kepala Ester benar-benar disesaki oleh pikiran-pikiran negativ.
“Telpon ambulance telpon ambulance.” Pekikan beberapa warga mendatangkan ide tersendiri bagi wanita yang tengah kalang kabut itu. Untung saja dia memang menyimpan nomor ambulance di handphonenya. Dengan cekatan ia mencari nomor yang dimaksud lalu segara menekan tombol hijau melalui benda gepeng yang sedang tergenggam di tangannya.
“Halo. Tolong segera ke Katamso sekarang terimakasih.”
...***...
Irene duduk termangu seraya menopang dagu. Pelajaran sudah dimulai dari 20 menit yang lalu. Berbagai pertanyaan berkelebat di kepalanya. Apakah Ester masih marah sampai-sampai dua hari tidak masuk sekolah? Apa mungkin dia sedang sakit? Ah! Ingin sekali rasanya gadis itu menghubungi Ester. Namun sedikit gengsi masih senantiasa bersarang dalam dirinya. Ia membuang pandangan ke arah kiri. Biasanya ada Ester yang setia duduk menemaninya di bangku ini. Sepi sekali rasanya.
“Mengenai materi kita minggu lalu. Ada yang masih ingat teori relativitas khusus?” Bu Retno melayangkan pertanyaan kepada para siswa. Beberapa di antara mereka mengacungkan jari telunjuk dan Bu Retno memilih salah satu.
“Ya kamu, coba jelaskan.” Perintah Bu Retno pada seorang wanita berhidung runcing.
__ADS_1
“Teori relativitas khusus adalah teori fisika yang mengenai hubungan antara ruang dan waktu oleh Albert Einstein pada tahun 1905. Jadi dalam hal ini Einstein memberikan dua postulat, pertama bahwasanya hukum-hukum Fisika berlaku invarian dalam semua kerangka acuaan inersia dan yang kedua adalah mmm-“
Hening.
Si penjawab tiba-tiba saja memberhentikan kata-katanya kemudian berangsur menotol-notol pelipisnya dengan jari telunjuk. Mungkin ia lupa postulat ke dua dari teori relativitas tersebut.
Bu Retno yang mendapati hal itu pun menarik kedua sudut bibirnya lalu melemparkan ulang pertanyaan tersebut pada siswa yang lain.
“Siapa lagi?”
“Saya bu.”
Suara seorang siswi dari pojok belakang menginterupsi. Semua pandangan mata tertuju padanya. Irene. Gadis itu mengangkat tangan refleks takkala mendengar penuturan Bu Retno barusan.
Irene sempat membeku dan celingukan sendiri sebelum akhirnya ia menjawab pertanyaan dari gurunya. Sebab ia sendiri pun tidak tahu mengapa lengan kanannya bisa spontan mengayun ke atas.
Gadis tersebut mengulang kembali apa yang telah disebutkan oleh teman sebelumnya lalu disambung dengan kalimat baru mengenai topik tersebut.
“Kemudian postulat yang ke dua adalah laju cahaya dalam vakum bernilai sama untuk semua pengamat tanpa perlu memperhatikan gerakan cahaya maupun pengamat.”
Prok prok prok prok.
Gemuruh telapak tangan beradu seketika memadati ruangan kelas IPA 2. Semua memasang raut sumringai termasuk Bu Retno.
Irene.
Gadis itu memang pandai bahkan mungkin adalah orang terpandai di kelasnya. Namun sayang, mulai kelas 10 hingga saat ini kepintaran anak tersebut tertutup oleh tingkahnya yang selalu membuat para guru mengelus dada.
Yang menjadi objek tepuk tanganpun cengengesan di pojok belakang. Baginya mendapat suatu penghargaan baik dari teman-teman terkhusus guru adalah sesuatu yang hanya terjadi setahun sekali atau bahkan baru kali ini.
...***...
Bersambung
Ikuti terus cerita aku ya:)
Comment, like & vote
__ADS_1
Semoga kalian sehat selalu 🤗