
Fizhan tidak menjawab, lelaki itu melayangkan benda tersebut kepada seorang wanita yang berada di sebelahnya. Irene termangu, pelan-pelan ia menelisik apa maksud dari semua ini.
“Lihatlah.” Kata Fizhan memberi kode agar Irene menaruh wajahnya tepat di depan cermin.
Irene pun segera manut. Ia menghadap ke arah cermin dan menyaksikan wajah seorang wanita yang sama persis dengan dirinya. Ah tidak-tidak! Bukan paras yang saat ini tengah menjadi titik fokusnya melainkan balutan kain yang sedang membungkus bagian kepalanya, kerudung.
Benda berwarna hitam itu terlihat sungguh-sungguh tidak apik. Ujung kain atasnya yang meliur-liur ke kanan serta bentukannya yang terlalu ke depan membuat wajah Irene nyaris tertutup dan hanya menyisakan bagian hidung dan bibir saja, persis seperti tokoh Martha yang ada dalam cerita emak-emak berkupluk kuping kelinci. Kemudian ujung bawah kerudungnya yang tidak sama rata dan tanpa jarum pentul itu pun membuat benda persegi tersebut ternganga lebar bila diterpa oleh angin.
Irene terpaku.
Ia baru sadar bahwa sebenarnya yang Fizhan tertawakan sedari tadi adalah bentukan kerudungnya yang sangat tidak pantas masuk kriteria untuk manusia normal. Huft sudah seperti anak autis saja dia hari ini.
“Sudah?” Fizhan kembali membuka suara setelah menyaksikan raut Irene yang kini memerah padam seperti kepiting rebus.
Gadis itu terdiam seribu bahasa. Matanya melirik ke kanan atas seraya mengingat-ingat sesuatu.
Tadi, ketika bel sekolah berdering panjang pertanda jam pelajaran telah berakhir. Irene langsung menancap gas motornya untuk segera pulang ke rumah. Hari ini ia benar-benar berniat bahwa dia tak akan menciptakan rekor terlambat lagi untuk ke rumah Fizhan. Setelah sampai di sebuah bangunan tempat dimana ia selama ini beradu nasib, gadis itu segera menuju kamar untuk mengganti seragam sekolah menjadi pakaian biasa plus kerudungnya.
Namun di saat benda persegi itu dibalutkannya pada bagian kepala dan nyaris sempurna, ia merasa ada sesuatu yang ganjil dari wajahnya saat berhadapan dengan sebuah cermin yang berada di dalam kamarnya. Kemudian gadis itu pun mengobrak-abrik kembali kain hitam tersebut dan pada saat ingin dipakai kembali bentukannya sudah jauh berbeda dari semula bahkan kali ini jauh lebih buruk. Astaga! Dia lupa bagaimana caranya di awal tadi.
Irene terus mencoba hingga tanpa terasa jarum jam kian berputar ke arah kanan. Semua cara telah dicobanya namun tidak ada yang seperti tadi. Akhirnya dara itu pun pasrah dan memakai asal kerudung tersebut lalu bergegas menuju rumah Fizhan.
“Hei.” Kata Fizhan seraya menggoyang-goyangkan telapak tangannya tepat di depan wajah Irene. Gadis itu masih setia dengan lamunannya.
Fizhan terkekeh geli. Andai saja wanita yang saat ini tengah berada dalam jarak dua meter dengannya boleh untuk disentuh, mungkin ia sudah menguel-uel kepala Irene dengan kedua tangannya yang kokoh. Ia merasa lucu, Irene tak ada bedanya dengan bocah-bocah wanita yang selalu berkunjung ke tempat ini.
“Re.” Panggilnya sekali lagi yang kali ini sukses membuat Irene menoleh.
“Ehm i- iya aku mmm. Aku belum bisa pakai kerudung.”
“Kamu serius?”
__ADS_1
Irene mengangguk pasrah. Dia tahu persis bahwa saat ini Fizhan menganggapnya sedang bercanda. Namun mau bagaimana lagi? Seumur-umur memang baru kali ini ia menyentuh benda persegi itu. Di sisi lain ia juga tak akan mungkin membocorkan bagaimana cerita sebenarnya.
Fizhan tersenyum tipis kemudian mendekatkan jaraknya dengan Irene. Tangannya meraih ujung kerudung Irene. Hei mau apa dia?
“Kamu mau ngapain?” Netra Irene membeliak. Apa lelaki yang berada di hadapannya ini akan menciumnya? Alam pikirnya menebak-nebak.
“Izin ya.” Fizhan berkata lirih. Tak lama kemudian ia melempar pandangan ke sembarang arah lalu mengailkan tangannya pada kerudung Irene dan langsung merapikan sisi mana yang terlihat ambruk.
Oh My God!
Napas Irene tercekat.
Ia serasa berada di alam mimpi.
Dengan lihainya Fizhan memperbaiki kerudung gadis yang saat ini sedang membeku bak patung pancoran. Ia juga sengaja melempar pandangan ke arah lain supaya tak memandang paras Irene yang ayu nan menggoda itu. Tak lupa pula ia melontarkan kata-kata yang berisi tutorial bagaimana cara memakai kerudung yang benar pada Irene. Ya ampun atau jangan-jangan Fizhan pernah menjadi seorang wanita sebelumnya?
Jantung Irene berdegub kencang tidak karuan bahkan untuk bernapas saja pun sangat sulit rasanya. Apa saat ini ia sedang bermimpi bahwa ada seorang pangeran tampan yang tengah memakaikan ia kerudung? Irene menampar pipinya berkali-kali, sakit. Ah ternyata dara itu sedang tidak bermimpi.
Wajahnya masih memerah seperti tomat, sesekali ia menarik udara dalam-dalam lalu mengeluarkannya secara perlahan. Desiran darahnya masih terasa mengalir deras dan tubuhnya juga sedikit menggeletar.
Aduh mengapa jadi begini?
Lelaki yang menyadari akan kegugupan Irene pun sontak menarik kedua sudut bibir membentuk huruf U. Entah apa yang saat ini ada di dalam benaknya. Namun Irene dapat menebak bahwa Fizhan tengah menertawai dirinya yang nerfes itu.
...***...
Ester menyembulkan diri dari pintu utama sebuah gedung putih dengan tawa sumringai yang terlukis di wajahnya. Lengannya terayun-ayun di udara, ia menarik langkah untuk menuju sebuah kedai nasi.
Di sana, ia menemui seorang pelayan dan berkata bahwa ia akan memborong semua dagangan mereka sampai ludes tak bersisa di sore ini. Sontak si pelayan dan beberapa telinga yang mendengar membulatkan mata tanda terkejut.
Apa sedang ada hajatan di rumahnya?
__ADS_1
Tapi kenapa harus tiba-tiba?
Karena setiap yang ingin order dalam porsi banter selalu menghubungi pihak mereka dua hari sebelumnya dan bukan mendadak seperti gadis yang satu ini.
Setelah menerima segudang nasi bungkus dari pelayan kedai akhirnya Irene beranjak pergi ke bibir jalan bersama dua orang pelayan lelaki yang menolongnya membawakan tumpukan nasi-nasih tersebut.
Ia memberikan makanan itu kepada setiap orang yang ditemuinya di sepanjang trotoar. Wajahnya bersemu merona, ia merasa terlampau bersemangat di hari ini.
Apa yang sebenarnya terjadi dengan gadis itu?
...***...
“Jadi mulai besok kamu ikuti cara aku tadi ya. Sudah paham kan?” Suara khas lelaki terdengar memecahkan keheningan di antara mereka.
Irene menatap paras teduh itu. Kondisi jantungnya belum begitu membaik, ia merasa sedang banyak kembang-kembang yang mulai tumbuh di dalam sana. Tapi satu hal yang membuat Irene bertanya-tanya. Kenapa Fizhan bisa melakukan apa yang biasanya dilakukan oleh seorang wanita, apa dia pernah menjadi perias pengantin sebelumnya? Huh mana mungkin.
“Kenapa kamu tahu cara pakai kerudung ini? Bukannya kau seorang lelaki?” Tanya Irene pada akhirnya.
“Ah iya, karena aku sering ngeliat Aisyah pakai kerudung di rumah ini.”
APA?
...***...
Bersambung
Comment, like & vote ya guys
Dukungan kalian semangat buat aku:)
Sehat selalu yaa🤗
__ADS_1