
“Hei mbak kalau mau berantem jangan di sini dong!”
“Tau nih ngerusak suasana aja.”
“Udah udah sana pergi kalian!”
Cicitan demi cicitan mulai muncul menyumpeki area kuping Ester hingga memanas. Semua pada berdatangan seolah sedang manyaksikan pertarungan tinju.
“Diam kalian semua! Ini urusan rumah tangga!” Alan menyipit tak percaya.
Dara yang tengah tersulut emosi itu terpaksa mengakui bahwa pria yang baru saja diberinya bogem adalah suaminya sendiri. Tak ada maksud lain kecuali agar orang-orang yang memperhatikan mereka jadi bubar dan tak berani lagi untuk berkomentar. Ester juga tak bisa membayangkan jika semua yang berada di sini tahu apa permasalahan sebenarnya, bisa mati kutu dia nanti.
Ester menarik napas dalam setelah semuanya bubar dan hanya menyisakan sepasang insan itu di tempat ini. Entah apa yang akan terjadi berikutnya, yang jelas hati dan pikirannya belum bisa menghasilkan keputusan apapun, tak sinkron kalau kata orang-orang.
“Mau ke mana?” Alan melaungkan suara takkala wanita si muka merah padam tersebut mulai beranjak pergi.
Ester membisu atau hanya sekedar menoleh pun tidak. Jiwanya terguncang, ingin sekali rasanya ia pergi jauh dan hilang dari kehidupan Alan selama-lamanya. Tapi apa mungkin? Sedangkan harta sucinya saja pun sudah berada di tangan lelaki bejat bin keparat itu.
Bulir-bulir kristal terus saja banjir tanpa henti, menggenangi kawasan pipi. Ester mengusap wajahnya kasar seolah air itu takkan keluar lagi bila ia melakukan hal demikian.
“Bisa-bisanya aku diperbudak, bagaimana mungkin aku tak mengetahui bahwa telah diberi obat bius? Sial!”
Batu, sisa-sisa sampah, rerumputan dan segala jenis benda yang menghadang jalannya ia tendang hingga terpental jauh dari lapak semula. Andai saja di Negara ini tak ada Hukum, pasti lah lelaki macam Alan sudah dibunuhnya dan ditenggelamkan ke dalam laut.
Ester beranjak ke tempat parkir dan langsung menstater motornya di sana. Menangis sejadi-jadinya sambil berkendara terkadang dapat meluapkan segala beban yang kita rasa.
Sekelebat bayangan wajah Irene mendadak muncul dalam kepala. Entah sudah berapa lama mereka tidak bertemu. Jangankan untuk bertatap muka, ngobrol lewat udara pun sekarang sudah jarang. Salahnya ego Ester masih terlalu tinggi dan membuat gadis itu selalu saja menghidar dari konco lamanya, perkataan Irene yang lalu-lalu masih melekat dan menusuk relungnya hingga menyisakan luka. Kalau tidak, pasti lah ia sudah menceritakan apa yang menimpanya saat ini pada Irene. Ia tahu betul dara bermata hazel itu takkan mungkin membiarkan sahabatnya sendiri disakiti oleh orang lain.
Di sisi lain, Alan terus saja memegangi wajahnya yang memar-memar karena Ester. Sepertinya pria itu akan meminta bayaran lebih dari Sam atas apa yang terjadi dengannya saat ini. Ia juga tak menyangka bahwa orang yang telah ia rampas harta sucinya akan mengamuk habis-habisan bahkan sampai menonjok mukanya hingga merah melebam. Hanya karena selama ini Ester bersikap polos bukan berarti ia akan tetap diam jika miliknya diambil paksa oleh orang lain, bukan?
...***...
“Kau yakin memang ini rumahnya kan nak?” Seorang pria mendaratkan mobilnya di depan sebuah gedung berkelir belau.
__ADS_1
“Iya Abi.” Si anak turun guna membuka gerbang yang tak terkunci, mobil masuk setelahnya.
Begitu mendengar persetujuan dari orangtuanya, Fatimah langsung memaksa untuk segera berkunjung ke rumah Fizhan. Cinta yang kian membara membuat akalnya mati dan hanya terfokus kepada sebuah keinginan yang belum tentu akan tercapai.
Tok tok tok.
Ketukan pintu terdengar dari arah luar di pagi menjelang siang ini.
Keluarga Fatimah sudah tercegak di ambang sambil menunggu sang empunya rumah membuka tangan.
“Ucapkan salam dulu.”
“Eh iya Umi.”
“Assalamu’alaikum.” Laungan Fatimah terdengar serak, jantungnya jedag jedug ingin lepas.
Tak butuh waktu lama akhirnya pintu terbuka dan menampikkan paras seorang lelaki dari salam sana.
“Wa’alaikumussalam, eh-“
“Apa aku telah membuat sebuah kesalahan?” Tembaknya langsung yang membuat Abi Fatimah menahan tawa. Pria baruh baya itu menilik raut Fizhan, tampan dan teduh, hanya itu yang berlayar di pikirannya. Kini ia mengerti mengapa putrinya sangat mencintai lajang tersebut.
“Bolehkah kami masuk dulu?”
“Eum ah iya maafkan aku yang sudah membuat tamu menunggu di depan pintu.”
Sang empunya rumah masih tak percaya bahkan seolah ini hanya mimpi belaka. Rasa herannya membuat garis hitam tegak yang berada di atas mata saling tertaut, heran dan penasaran berpadu jadi satu.
“Ada apa ya Pak?” Tanya Fizhan setelah mereka sukses mendaratkan bokong di sebuah sofa kayu.
Suasana mendadak dingin dan mencekam, mereka tak ubahnya sedang berada di goa hantu. Sebenarnya bukan karena rumah itu namun lebih tepatnya maksud dan tujuan keluarga Fatimah lah yang menjadikan mereka bisu sesaat.
“Ehm begini nak Fizhan.” Sang pria paruh baya memulai obrolannya. “Saya Abinya Fatimah dan ini Uminya, dan jujur saja saya memang belum mengenal nak Fizhan namun Fatimah sudah lebih dulu menceritakan tentang kamu kepada kami.” Pembicaraan terhenti sesaat.
__ADS_1
Semua dari mereka tenggelam dalam denyutan kencang jantung masing-masing. Fizhan merasa bahwa ia tak pernah berbuat atau melakukan suatu kesalahan pun terhadap Fatimah. Pikirannya menerka-nerka alasan apa yang membuat satu keluarga ini mengunjungi dirinya.
...***...
Craaaang!
“Ya ampun!” Irene terkesiap, tak ada angin tak ada hujan apalagi geledek tiba-tiba saja gelas yang ia pegang jatuh dan pecah di atas lantai.
“Ada apa nak?” Laungan bariton khas pria terdengar dari arah depan. Antonius muncul lalu mendapati wajah putrinya yang menegang karena terkejut.
“E- eum ini Pa, hanya gelas pecah.”
“Tapi kau tak kenapa-napa kan?” Selidik Antonius yang langsung dibalas dengan gelengan kepala serta senyum terpaksa dari sang anak. “Ya sudah Papa tinggal dulu.” Lanjutnya lagi kemudian melenggang pergi entah ke mana.
Sepeninggal Antonius, dara itu terus saja memperhatikan gelas yang saat ini sudah menjelma menjadi puing-puing kecil. Entah kenapa tiba-tiba saja pikirannya berlayar pada sosok Fizhan, raut pria itu berlarian dan membuat hatinya mendadak badmood seketika.
Irene menyejajarkan tubuhnya dengan kaki kursi demi meraih pecahan tersebut dan membuangnya keluar. Namun sialnya lagi ruas jarinya malah tersayat sehingga membuat darah segar menyembur dari dalam sana.
“Awwww” Ringisnya sesaat setelah merasakan pedih di bagian telunjuk kanan.
Perasaan gadis itu kian berkecamuk bersama aliran cecair merah yang semakin membanjiri zona jemari. Tak ingin memperlama, gadis itu langsung beringsut ke dalam kamar untuk mengambil kotak putih penyelamat.
Di tempat lain sang pria yang dibatinkan oleh Irene pun napasnya naik turun menunggu perkataan dari Abi Fatimah. Gelisah semakin kuat bergelayut di dalam diri, ia hanya takut kalau-kalau telah melakukan kesalahan tanpa disadari.
“Maksud kedatangan kami ke sini ingin melamar nak Fizhan untuk putri kami Fatimah.”
Slaaash!
Ternyata ini tujuannya.
Denyutan jantung Fizhan melemah seketika.
...***...
__ADS_1
Bersambung
LIKE & COMMENT