
“Hah! Apa pentingnya buatmu?” Aisyah menuang air sejuk tersebut ke dalam gelas, kemudian langsung menenggaknya hingga tandas. Baginya, Sam itu terlalu ikut campur.
“Apa salahnya?”
“Lebih baik kau pulang sebelum aku tak mengizinkanmu untuk datang ke sini lagi!”
“Ini kan rumah orang tuamu,”
“Sama saja,”
“Bedalah,”
“Sama!”
“Beda!”
“Kubilang sama ya sama!”
“Be-“
“Shttttt! Ah, kalian ini. Jangan pada bertengkar, tidak baik,” Abi Aisyah merentangkan sebelah tangannya dia antara sepasang insan yang tengah beradu mulut itu. Paras wanita yang terbingkai dalam balutan jilbab tampak memerah, mungkin amarahnya sudah sampai ke ubun-ubun.
“Sam yang mencari masalah!”
“Kau yang tak ingin mengalah!”
Perdebatan terus terjadi. Baik Samuel maupun Aisyah tak ada yang ingin menurunkan ego. Sepasang suami istri itu hanya bisa geleng-geleng kepala melihat kelakuan dua anak remaja yang sama-sama keras kepala.
Di tempat lain, Irene terus menancap gas motornya nyaris kandas. Batinnya meronta-ronta ingin mengetahui suatu kebenaran. Ah, kalau dihitung-hitung mungkin sudah ada ratusan kupu-kupu yang bertebaran di dalam perutnya. Tawa kecil tak pernah pudar menemani perjalannya saat ini.
Sekali lagi, pikirannya terpaku pada kenyataan bahwa gadis si kerudung lebar itu adalah adik kandung Fizhan. Hati siapa yang tak girang setelah mengetahui bahwa orang yang kita sayang ternyata memiliki rasa yang sama. Namun untuk kali, Irene tak akan tertipu. Dia bukanlah Ester yang mudah tergoda hanya dengan rayuan kata tanpa bukti.
Kendaraan beroda dua itu kian melaju, hingga memasuki sebuah gang yang di dalamnya terdapat lokasi tujuan.
Kriiiiing kriiiiiing.
“Tuh hp kamu bunyi,” Aisyah mencebikkan bibir ke arah dada bidang pria yang tengah cemberut di depannya. Ternyata seorang Samuel bisa juga bersikap seperti anak balita. Sam meraih benda pipih yang tersemat di saku jaket sebelah kirinya.
Alan.
“Hah menganggu saja!” gerutunya dalam hati.
“Aku ingin bertemu denganmu sekarang,”
“Apa ada perkembangan?
“Ya,”
Percakapan singkat terjadi takkala Sam telah berhasil menjauhkan diri dari tiga pasang mata yang menatapnya dari kejauhan. Dengan segera, ia kembali ke beranda tempat semula, kemudian berpamitan untuk pulang.
__ADS_1
“Wah, kenapa cepat sekali?” Ummi Umayyah menghela napas panjang, padahal sedang asyik ngobrol.
“Iya, ada yang mau diurus bu,”
“Baguslah! Akhirnya dia pulang juga,” sebuah desisan lirih yang ternyata kedengaran oleh telinga Samuel. Pria itu menoleh lalu membuat tatapan tajam dari ekor matanya yang dibalas dengan putaran bola mata malas oleh Aisyah.
Saat ini, baik Samuel maupun Irene sedang berada di tempat dan jalur yang sama. Keduanya saling menancap gas motor demi urusan masing-masing, hingga dalam detik berikutnya alangkah terkejutnya Irene saat menangkap sebuah pemandangan pria berhelm hitam yang tak lain adalah mantan kekasihnya sendiri.
“S- Sam? Dari mana dia?” Irene spontan menghentikan laju kendaraannya, lalu menoleh ke belakang.
Sedangkan orang yang dilihat terus saja melaju tanpa ikut melihat kembali pada gadis yang baru saja menjadi lawan selisihnya barusan. Syukurnya saat ini Irene tengah menggunakan kerudung dan wajahnya pun tertutup oleh masker mulut, sehingga membuat Sam sama sekali tidak mengenalinya.
Untung saja, Irene membuang napas lega.
Remaja itu terus melanjutkan perjalanan hingga sampailah ia di sebuah gedung yang besarnya seukuran dengan rumah belau tempat biasa ia menimba ilmu.
“Irene, aku di sini!” tampak seorang gadis ayu tengah melambai-lambai ke arahnya. Sepasang suami istri tadi sudah beringsut entah ke mana. Hal ini tentu memudahkan dia sebagai sang wartawan dadakan untuk bertanya kepada si narasumber.
“Kukira kau datang bersama Fizhan,” lanjutnya seraya membereskan sisa-sisa air yang berjatuhan di atas lantai.
“Justru tentang dia yang ingin kupertanyakan,”
“Hah?” Aisyah membeliakkan sepasang mata. “Kenapa dengan Fizhan?”
“Kenapa kalian tidak pernah mengatakan kalau ternyata kalian itu abang beradik?”
“Oh jadi kau sudah tahu?” gadis si kerudung marun itu mendaratkan bokongnya di atas kursi sesaat setelah mempersilahkan tamunya untuk duduk.
“Waktu itu aku sempat ingin memberitahumu. Namun Fizhan melarang,”
“Kenapa?”
“Katanya, dia hanya ingin melihat apakah kau cem- Eh! Maksudku, kata Fizhan nanti-nanti saja,” Aisyah sontak menutup mulutnya sendiri dengan kedua tangan. Matanya mengerjap beberapa kali, Irene memperhatikan heran.
“Apa? Apa tadi? Kau ingin bilang apa? Ayo cepat katakan!” tembaknya langsung tanpa jeda.
Aisyah jadi kalang kabut, nyaris saja ia membocorkan semuanya. Sedangkan di depan sana, Irene dengan ganasnya menyodorkan banyak pertanyaan untuk Aisyah.
“Ah, aku lupa kalau aku belum memasak untuk sore ini,”
“Jangan mencoba mengelabuiku!” Irene berdecak kesal. Sudah tidak ada waktu untuk bersilat lidah lagi.
“Apa ada lagi yang ingin kau tanyakan tentang saudaraku itu?”
“Yang tadi,” lagi-kagi rasa penasaran Irene belum terjawab.
“Oke baiklah. Fizhan melarangku karena dia hanya tidak ingin kau tahu lebih awal,” bohong Aisyah. Ya Rabb, ampunilah dosanya.
Irene menautkan sepasang alis, sama sekali tidak memahami makna dari penuturan Aisyah.
__ADS_1
“Fizhan berkata kalau dia akan menikahiku,”
“APA! Benarkah?”
“Iya,”
Tampak Aisyah langsung mengetikkan beberapa huruf pada ponselnya sendiri. Entah ingin mengirim pada siapa, Irene tak tahu dan memang tak ingin tahu. Setelahnya wanita itu tak lagi menjawab, hanya saja guratan kaget senantiasa bersarang di wajahnya. Irene jadi tidak puas, bukan ini yang ia inginkan.
...***...
“Jadi, apa yang ingin kau bicarakan?” Sam meraih sebotol cairan berwarna merah kemudian langsung meneguknya nyaris tak bersisa. Saat ini dia sudah berhasil mendaratkan bokong pada sofa basecamp, ada Alan yang ternyata telah menunggu terlebih dahulu.
“Aku sudah mendapatkan maaf dari Ester,”
“Benarkah?” Samuel langsung bangkit dari posisi sandarannya. Sepasang netra itu sontak berpijar, menyalakan sebuah lampu harapan.
“Iya. Rencana selanjutnya adalah membuat gadis bodoh itu cemburu,”
“Bagus! Tidak sia-sia aku mempergunakanmu,” pria berjambang lebat itu menepuk-nepuk bahu orang di sebelahnya. Senang bukan main, sebentar lagi misinya akan berhasil.
“Jangan lupakan upah capenya,” sahut Alan menyindir.
“Kalau itu kau tak perlu khawatir. Sebentar lagi akan kutransfer,” Samuel kembali menyesap botol itu hingga membuat air di dalamnya menjadi hilang. Minuman haram itu acap kali menjadi teman sehari-hari. Tanpa perduli akan efek samping, ia menghabiskannya dalam jumlah tiada terkira.
“Iming-iming apa yang kau katakan sehingga membuat gadis itu luluh?” sebuah pertanyaan keluar begitu saja dari mulut Sam. Sejenak ia berpikir, bahwa ini bukanlah hal yang sepele.
“Itu sangat mudah bagi seorang Alan. Aku bisa langsung meninggalkannya ketika semua sudah berhasil,”
“Jika dia mencarimu?”
“Ya, tinggal kubunuh saja. Apa susahnya?”
“WOW! Kau sangat sadis kawan hahahaha,” Samuel tertawa puas setelah mendengar penuturan Alan. Sungguh kejam dan tak berhati. Demi sesuatu yang tak dibawa mati, ia rela menghancurkan hidup seorang gadis yang begitu naif.
Saking asyiknya menyusun rencana, keduanya bahkan tak menyadari jika ada sepasang mata yang sedari tadi memperhatikannya jijik.
“Dasar tidak tahu diri! Lihat saja apa yang akan kulakukan,”
...***...
Bersambung
Kira-kira siapa ya, yang udah intip-intip Sam dan Alan, huuuu:(
LIKE & COMMENT
Dukungan kalian semangat buat aku
Mampir juga di SUAMI KITA BERSAMA yaaa
__ADS_1
Ceritanya panas-panas janda wkwk