AKU KAU DAN ISLAM

AKU KAU DAN ISLAM
BAB 21


__ADS_3

“Uhuk.” Fizhan tersedak. Kuah soto yang sempat mendarat di lidah merahnya kini tersembur keluar tak bersisa.


“Eh maaf Zhan.” Aisyah cengengesan. Dasar! Apa dia tidak merasa bersalah?


“Lain kali gausah sok ngambek ya.”


“Ih siapa juga yang ngambek. By the way kamu kenapa sih?”


“Apanya yang kenapa Syah?”


“Kamu lagi ada masalah kan?”


“Memangnya mukaku keliatan lagi ada masalah ya? Engga kan?”


“Iya.”


“Hmm ga ada Syah. Everything is okay.”


“Eh Zhan.” Aisyah mengepuk bahu Fizhan. “Kita tuh udah dari kecil sama-sama. Ya aku tau banget lah kapan kamu lagi sedih dan kapan kamu lagi bahagia. Dan saat ini aku ngeliat muka kamu tuh kusut tau ga. Cepetan cerita atau aku ngambek beneran nih.”


Hening.


“Zhaaaan.”


“Eh iya.” Fizhan tampak berpikir panjang sebelum akhirnya ia membuka mulut untuk berbicara.


Lelaki itu pun mulai bercerita bagaimana kejadian kemarin sore bersama teman-teman komunitasnya termasuk Fatimah. Kini ia tak dapat lagi menutup raut mendung di wajahnya, hatinya tersayat. Seharusnya Fatimah tak melakukan hal yang sedemikian di depan banyak orang.


“Ya ampun Fizhaaaan. Itu sih bukan karena motor Zhan.” Aisyah gemas takkala mendengar semua cerita Fizhan.


“Maksudnya?”


“Dasar ya cowo ga pernah peka! Itu tuh namanya dia cemburu.”


“Hah cemburu?”


“Ya iyalah. Dari cerita kamu nih ya, aku bener-bener bisa ngerasain kalo tuh anak suka sama kamu. Dan saat kamu kejar cewe yang katanya temen baru kamu itu dia marah.” Aisyah menjeda kata-katanya lalu menegak air di dalam botol aqua yang berada di hadapan mereka. “Kalau udah cinta jangankan ga ada motor, ga ada nyawa aja terkadang rasa cinta ga pernah pudar Zhan.” Imbuhnya meyakinkan Fizhan.


Lelaki itu terdiam seribu bahasa memikirkan perkataan Aisyah. Apa iya Fatimah mencintainya? Sejak kapan? Fizhan bukanlah sosok lelaki yang beruntung jika dilihat dari segi ekonomi dan keluarga, sangat berbeda dengan gadis berparas ayu itu. Fatimah berasal dari keluarga yang masih utuh dan berada. Sedangkan Fizhan? Ah sudahlah! Tak perlu dijelaskan.


“Eh emangnya siapa sih dua cewe yang kamu maksud itu?” Lagi-lagi wanita yang berada di sebelahnya itu menyodorkan berbagai pertanyaan yang sebenarnya tidak perlu untuk dikorek. Huh sudah seperti wartawan saja dia.


Fizhan menyugar rambutnya ke belakang. Peluhnya mulai menitih menggenangi kawasan dahi. Sudah 15 menit rasanya mereka menghabiskan waktu di kantin sekolah ini, dan makanan yang berada di hadapannya pun belum sempat ia habiskan. Semua gara-gara Aisyah.


“Itu tuh si Fat-“


Kriiiiiiiing.

__ADS_1


“Eh udah bel. Kita masuk dulu.”


Bel berdentang menandakan jam istirahat telah berakhir. Anak-anak mulai berhamburan dan meninggalkan kantin yang masih berserakan dengan tumpukan piring dan gelas-gelas kotor.


Aisyah yang tadinya telah bersiap-siap mendengar sederet huruf yang akan dilontarkan Fzihan untuk menjawab segala rasa penasarannyapun kini berangsur sirna dan memilih untuk melenggang pergi mengikuti Fizhan yang telah beranjak setelah membayar soto pesanannya yang belum sempat dihabiskan. Sangat mubazir. Tapi mau bagaimana lagi? Ada kewajiban yang lebih penting yang harus ia patuhi.


...***...


15:00 WIB


Tok tok tok.


“Anybody home?”


Seorang wanita berkerudung compang camping mengetuk pintu sebuah gedung yang didominasi oleh warna biru. Ujung jemari kakinya terhentak-hentak di tanah menunggu sang empunya rumah membukakan pintu.


Ceklek.


“Loh Irene? Ada apa?” Oh ternyata itu rumah Fizhan. Lelaki itu membulatkan mata takkala melihat seseorang yang tercegak di beranda rumahnya. Masih jam tiga sore, mau apa wanita itu ke rumahnya?


“Ya aku mau belajar ngaji lah. Ngapain lagi?” Ketus Irene. Bukannya Fizhan yang memintanya setiap sore untuk datang kesini? Kenapa harus ditanya lagi?


“Ini masih jam tiga Re.”


“I- iya aku tau.” Katanya seraya membenarkan tatanan kerudungnya yang terlihat ambruk. “Tapi aku ga mau telat lagi. Aku mau belajar sekarang.”


Dan di luar sana Irene dapat melihat dengan jelas isi dalamnya. Ada sofa, lemari, meja belajar, televisi dan barang-barang lain yang bentuknya masih seperti tahun 90an. Namun yang menarik perhatian gadis berkerudung merah muda itu sebuah foto raksasa yang terpajang di ruang tengah. Bingkai tersebut menampilkan sepasang gambar orang dewasa dan seorang bayi lelaki kecil yang berada tepat di pangkuan sang ibu.


Siapa itu?


Apa itu Fizhan?


Batin Irene.


...***...


“Umi masuk ya sayang.” Seorang wanita paruh baya menyembulkan diri dari arah luar menuju sebuah ruangan berwarna gading. Ia membawa nampan berisi buah mangga dan susu putih. Sebuah ramuan ajip untuk dikonsumsi oleh orang yang sedang tidak enak badan.


Kakinya telah berjejak di sebuah ruang berukuran sedang. Tepat di depan pandangannya, seorang gadis sedang merengkuh badannya sendiri membentuk gulungan hewan kaki seribu. Bibirnya terlihat pucat, matanya memerah dan bahkan ia juga tidak masuk sekolah hari ini.


“Fatimah. Bangun ya sayang, umi bawain kamu mangga dan susu hangat.”


Ya, ini adalah kamar Fatimah. Tempat dimana ia mendekam selama seharian penuh. Tidak ada sedikit nasi pun yang berhasil lolos memasuki lambungnya. Semua kembali keluar takkala butiran-butiran putih itu menyentuh bagian tenggorokannya.


Kepalanya pusing tujuh keliling manakala mengingat kejadian kemarin. Hatinya kalut setelah menyadari betapa egoisnya perlakuannya kemarin terhadap Fizhan. Bukankah itu akan menimbulkan rasa sedih tersendiri bagi lelaki itu? Ah andai saja Fizhan tahu alasan yang sesungguhnya, batin Fatimah.


Begitu lah persoalan yang sudah berimbas pada masalah hati. Sekuat apapun seseorang pasti ia akan lemah jua termasuk dengan apa yang sedang dialami oleh gadis berparas ayu ini. Terlepas dari sebab sebenarnya ia manaruh sendu, yang jelas saat ini pikirannya hanya tertuju pada Fizhan dan menyesali perbuatannya kemarin.

__ADS_1


Oh Fizhan.


Lihatlah kesini.


Kau tahu?


Ada seorang wanita yang tengah sakit karena memikirkanmu.


...***...


“Mari.” Irene terkejut bukan main ketika seraut wajah tampan nongol dari balik pintu utama. Duh, pasti si pemilik rumah tahu jika wanita itu sedang melirik-lirik isi dalam bangunan tersebut.


Keduanya melenggang pergi menuju gazebo. Masih sangat sepi dan hanya ada mereka berdua di sana. Fizhan menginterupsikan agar Irene duduk di sampingnya dengan jarak dua meter sebagai batasan. Ya ampun begini amat, batin Irene meronta-ronta.


Baik Irene maupun Fizhan semuanya berbalas hening. Namun satu hal yang tidak sengaja ditangkap oleh netra Irene, seorang lelaki yang berada persis di sebelahnya itu mengulum senyum sejak beberapa detik yang lalu.


“Ada apa?” Tanyanya penuh penasaran.


Fizhan tidak menjawab, ia hanya menoleh sekilas lalu kembali manrik simpulan bibir. Hei apa dia sudah menjelma menjadi orang gila?


“Apa ada yang lucu?” Tak kunjung mendapat jawaban, Irene pun kembali menyuguhinya dengan sebuah pertanyaan yang kali ini benar-benar ia harapkan jawabannya.


“Kamu memang belum pernah pakai kerudung ya sebelumnya?” Fizhan mulai membuka suara dengan senyuman yang masih konsisten terlukis di wajahnya.


“Belum. Kenapa emang?”


Bukannya menjawab pertanyaan dari Irene, Fizhan malah masuk ke dalam rumahnya lalu keluar kembali dengan membawa benda gepeng yang dapat memantulkan gambar apa saja bila di hadapkan tepat di atas permukannya.


Cermin.


Fizhan mengambil cermin.


“Hei untuk apa?” Tanya Irene kebingungan.


...***...


Bersambung


Kira-kira tuh cermin buat apaan yak?


Kuy ikutin terus supaya dapet jawabannya 😚


Like, comment & vote guys


Dukungan kalian semangat buat aku


Sehat selalu yaa🤗

__ADS_1


__ADS_2