
“Wah bagus banget om.” Ester membeliak kaget takkala melihat apa yang saat ini berada di depan matanya.
Sebuah jam tangan keluaran terbaru dengan merk ternama bersemayam rapi di dalam kotak hitam berbentuk persegi. Ester girang bukan main, secepat kilat ia langsung melingkarkan benda tersebut pada pergelangan tangan kirinya.
“Cocok.” Katanya memuji diri sendiri.
“Nih kita samaan.” Kali ini Irene yang angkat bicara. Gadis itu menyodorkan tangannya yang ternyata juga memakai jam yang sama, namun berbeda warna.
“Iya papa memang sengaja membelikan jam yang sama untuk kalian berdua.” Antonius tersenyum ramah. Ia benar-benar sudah menganggap Ester sebagai putrinya sendiri.
Kedua gadis yang diberi hadiah pun mesem-mesem sendiri. Sungguh jam itu sangat mahal dan belum tentu semua orang dapat memilikinya.
“Eh iya mari makan.” Tawar pria bertubuh gagah itu seraya menyendokkan nasi untuk piringnya sendiri.
Kedua dara tersebut pun mengikut. Ketiganya menyantap semua menu yang tersedia dengan lahap. Malam ini akan menjadi malam indah bagi Irene dan Antonius karena keesokan harinya ayah dan anak itu dapat mengisi aktivitas harian secara bersamaan.
“Terimakasih ya Ester karena selama satu minggu ini kau sudah mengantar jemput putri om untuk sekolah.”
Deg!
Kedua gadis yang berada di hadapan Antonius pun saling pandang celingukan. Potongan ayam yang mereka lahap pun mendadak mati rasa dan tersendat di tenggorokan.
“Em eum iya om.” Ester menjawab gugup.
Tidak ada percakapan lagi setelah itu sampai pada akhirnya mereka menyelesaikan acara dinner. Ester pamit pulang sebab ia harus menemui maminya yang juga baru pulang dari luar kota karena urusan kerja.
...***...
“Awww.” Seorang wanita berwajah ayu memegangi pelipisnya lembut. Ini adalah malam pertama baginya untuk menginap di rumah sakit sesudah peristiwa tabrakan tadi.
“Masih sakit nak?” Pak Zulfan yang berstatus sebagai Abi Aisyah pun mendekati putri semata wayangnya yang tergeletak di atas brankar.
“Huh! Sungguh aku kesal sekali dengan lelaki itu!”
“Siapa? Si Sam?”
“Oh jadi namanya Sam.” Aisyah memutar bola matanya malas.
“Iya, Samuel.”
__ADS_1
“Lagipula kenapa Abi harus ramah pada orang yang sudah menabrak putri Abi sendiri hah?”
“Sudahlah nak, jangan berlarut-larut membenci seseorang.”
“Aisyah tidak benci bi, hanya geram saja.”
“Sama saja sayang.” Pak Zulfan mengelus lembut pucuk kepala buah hatinya itu. Pria itu merasa lucu karena sedari tadi gadisnya selalu berdecak sebal dengan sang pelaku yang menabraknya.
“Jadi apa saja yang kalian bicarakan tadi?”
“Huh kau ini kepo sekali. Itu urusan lelaki nak.”
“Hm.”
“Lihat saja kau Sam. Sungguh aku masih menoreh kesal padamu.” Aisyah bergumam dalam hati. Kepalanya masih terasa nyut-nyutan karena terantuk oleh aspal jalalan tadi.
...***...
Malam kian larut dan membuat para burung hantu menyembul dari tempat persembunyiannya. Lyora menatap langit-langit alam, seolah ada wajah Sam di atas sana.
“Huft! Kenapa kekhawatiranku semakin mencuat-cuat seperti ini?” Gadis itu berdecak kesal. Entah kenapa hatinya seakan tak ingin kehilangan Sam.
Tut tut tut.
Sambungan tersambung.
“Ada apa Ly?” Suara khas besar seorang pria terdengar dari seberang sana.
“Aku sangat merindukanmu sayang.”
“Oh kurasa kita baru saja bertemu tadi pagi.”
“Iya, tapi entah kenapa aku selalu ingin bersamamu.”
“Jadi bagaimana?”
“Astaga! Kenapa kau menjadi tidak peka begini? Kau sudah tahu apa yang biasanaya dilakukan seseorang ketika sedang rindukan?”
“Memangnya apa?”
__ADS_1
“Ck!” Gigi Lyora sontak menggeletuk, Sam benar-benar bodoh.
“Aku sedang di jalan, silahkan hubungi lagi jika aku sudah tidak sibuk.”
Tuuuuuut.
Sambungan putus sepihak.
“Aaaaah! **** you Sam! Kenapa kau mendadak seperti orang asing begini?” Lyora menghempas apa-apa saja yang berada di hadapannya. Mulai dari selimut, bantal serta guling semua sudah berpindah posisi ke permukaan lantai.
Entah apa yang membuat pria berjambang lebat itu menjelma menjadi dingin, Sam tak ubah layaknya bongkahan es yang berada di kutub Utara.
“Kau berubah semenjak kepergok sedang berduaan dengan wanita itu Sam!” Lyora mengusap wajahnya kasar. Kali ini sudah ada bulir-bulir air yang memadati kawasan matanya.
Sebenarnya Lyora juga sedang menggali siapa Irene sebenarnya melalui Delia. Namun sampai saat ini gadis itu belum menemukan jawaban yang konek dengan otaknya. Ada yang mengatakan bahwa Irene adalah teman biasa Sam, ada yang mengatakan bahwa Irene adalah musuh bebuyutan Sam dan ada pula yang mengatakan bahwa Irene adalah kekasih Sam.
Namun semua terasa tak masuk akal. Kalau benar bahwa Irene adalah teman biasa Sam pasti pria itu tak akan mangkir bila dibahas mengenai wanita tersebut. Andaikata Irene adalah kekasih Sam maka sungguh sangat mustahil karena Lyora dapat dengan jelas meyaksikan guratan raut benci yang mencuat dari wajah Irene untuk pria berjambang lebat itu. Dan kalau dikatakan bahwa Irene adalah musuh Sam, maka untuk apa Sam mati-matian mendekati Irene? Bukannya sesama musuh saling benci? Huh! Otak Lyora seakan ingin mencelos dari tempat memikirkan semua ini.
...***...
“Happy nice dream sugar.”
“See u tomorrow dad.”
Irene beranjak naik ke airland sesaat setelah menerima kecupan hangat dari sang papa. Sebenarnya ia ingin sekali segera tidur, namun pikirannya masih berlayar-layar ke sembarang arah.
“Ya Tuhan. Kenapa aku menjadi gadis bertopeng seperti ini?” Irene merengkuhkan kedua lengannya pada kaki yang terlipat di atas ranjang. Semenjak mengenal Fizhan gadis itu memiliki kepribadian ganda yang tak satu pun orang mengetahui.
Jujur! Pada awalnya gadis itu hanya penasaran pada sosok Fizhan dan mulai mencari tahu sosoknya hanya karena ingin menjawab semua pertanyaan yang menyesaki isi kepalanya. Namun takdir berkata lain, Dia sudah terjebak di dalam permainan yang ia ciptakan sendiri. Irene bukanlah tipe wanita yang mudah untuk menjatuhkan hati, bahkan suwaktu bersama Sam saja dara itu tak pernah sedikitpun menoreh rasa cinta. Tapi ketika ia mulai mengenal sosok Fizhan seakan ada rasa ketertarikan sendiri yang bergelayut di dalam hatinya. Fizhan tidaklah semanis aktor korea yang filimnya selalu ia tonton sebelum tidur, Fizhan juga bukan seseorang yang memiliki harta berlimpah bahkan kehidupannya pun terkesan biasa-biasa saja dan sangat sederhana. Namun satu hal yang tak bisa dipungkiri, Fizhan memiliki paras firdaus dan perangai yang sangat apik terhadap siapapun. Dan bagi Irene, ia belum pernah menemukan manusia yang pembawaannya seperti pria tersebut. Jangankan yang sama persis, untuk mengimbang 20% nya saja pun tidak ada.
“Terserah Tuhan saja apa jadinya nanti. Aku hanya mengikut.” Irene merubuhkan tubuhnya pada permukaan ranjang kemudian menarik selimut sebatas dada.
...***...
Bersambung
Like & comment
Semoga kalian sehat selalu 🤗
__ADS_1