
“Apa? Dia mau ke sini lagi? Aisyah sungguh aneh melihat Abi!”
“Kenapa kau yang bersikap seolah tak suka nak?”
“Aisyah memang tidak suka! Mau berapa kali lagi dia menginjakkan kaki ke rumah kita. Sangat tak berfaedah!”
Wajah ayu sang gadis kian memerah, giginya menggeletuk menahan amarah. Ya, bagaimana tidak? Semenjak kejadian di jalan lintas dua minggu lalu membuat pria tersebut jadi akrab bahkan semakin dekat dengan kedua orangtuanya. Selalu ada saja alasan untuk datang, yang mulanya hanya berdalih tanggung jawab hingga sekarang sudah menjadi sebuah kebiasaan.
“Samuel itu anak baik Syah.” Kini Umi Umayyah pula yang menimpali.
“Baik dari mana? Dia selalu membuatku merasa gerah.”
“Jangan terlalu membenci seseorang nanti jadi cinta jatuhnya.”
“Astagfirullah Abi. Bukannya Abi tahu kita dan Sam itu berbeda.”
“Kita tidak tahu ke depannya nak. Bisa jadi dia memeluk Islam seperti kisah bibimu yang di Maluku kan?”
Gadis berkerudung panjang itu tercengang. Benar juga apa yang Abinya katakan barusan. Siapa yang bisa menebak hari esok? Aisyah memiliki seorang bibi yang dulunya sangat benci dengan pria noni asal Maluku. Saban hari segala sumpah serapah ia layangkan untuk sang lelaki. Hingga pada suatu saat adam tersebut memeluk agama Islam dan entah bagaimana caranya mereka berdua yang dulunya saling menghindar kini telah menjadi sepasang suami istri yang saling mengasihi.
Masya Allah.
“Sudahlah nak. Jangan pernah menolak tamu yang datang ke rumah ini selagi niatnya baik.”
“Hmmm.”
...***...
“Kak Irene!”
“Ya Zam.”
“Kakak besok ikutkan?”
“Kemana?” Gadis berkerudung merah muda tersebut bengong, Azzam membuatnya dipenuhi oleh tanda tanya.
“Ada apa?” Seorang pria berkoko biru mendadak muncul dari arah lain.
“Besok mau kemana?”
“Oh begini. Besok ada kegiatan rutin di lapangan pusat Kota bersama anak-anak dari pengajian lain. Kau ikutkan?”
“A- aku?”
“Iya.”
“Apa ini kegiatan yang ada Fatimah kemarin ya?” Irene bergumam di dalam hati. Pikirannya seketika berlayar pada kejadian satu bulan lalu.
“Apa yang akan kita lakukan di sana?”
“Kegiatan inti mengaji bersama kemudian diselingi dengan materi-materi dan game keagamaan.”
FIX! Udah pasti ini acara yang kemarin.
“Eng-e engga!” Mendadak kepalanya menggeleng cepat.
__ADS_1
“Loh kenapa? Ayolah ini jarang loh.”
“Eum a- aku.” Irene menjeda kalimatnya guna mencari alasan yang masuk akal untuk berbohong. “Ah aku sudah ada janji bersama ayah untuk berkunjung ke panti asuhan.”
“Panti asuhan mana?”
Deg!
“A- anu. Apa ya? Eum aku lupa namanya karena aku hanya mengikut saja.”
“Wah sayang sekali ya Re padahal ini seru loh.”
Iya seru, tapi bagi yang lain bukan bagi Irene. Bagaimana mungkin gadis itu dapat bernapas lega bila ada Fatimah di dalamnya? Bisa-bisa langsung terbongkar rahasia yang sudah susah payah ia pendam selama ini.
Sebenarnya Irene juga ingin sekali bertemu dengan teman-teman Fizhan yang lain di luaran sana. Belajar bersama dan memiliki pengalaman baru. Namun apa boleh buat? Identitas palsu menuntutnya agar selalu menutup diri.
“Ya mau bagaimana lagi? Mendadak sih.”
“Semoga bulan depan kau bisa bergabung dengan kami di sana ya.”
“Iya.”
“Ya sudah mari.” Fizhan mendudukkan dirinya di tempat biasa. Anak-anak yang melihat pun memberhentikan permainan mereka kemudian beringsut mneyusul sang guru.
“Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh.”
“Wa’alaikumussalam warahmatullahi wabarakatuh.” Semua menjawab serempak tak terkecuali Irene. Oh ya ampun bahkan gadis itu kini pun sudah terbiasa dengan lafaz salam.
“Anak-anak hari ini bapak akan memberi kalian asupan materi yang akan dipelajari untuk agenda bulanan kita besok ya.”
“Jadi tidak mengaji ya pak?”
“Horeeeeee.” Anak-anak bersorak kegirangan. Mungkin merupakan suatu nikmat yang jarang ditemui ketika sang guru mengatakan libur. Dasar bocil!
...***...
“Aku akan berkuliah di tempat yang sama denganmu.”
“Apa!”
“Kenapa? Ada yang salah?”
“Bukannya kau bilang kau ingin keluar negri?”
“Ya tapi itu dulu sebelum aku mengetahui bahwa kau akan satu kampus dengan pacarmu itu!”
Sore ini perdebatan sengit antara sepasang kekasih pun terjadi. Lyora tak henti-hentinya memaksa agar Sam menemuinya di café tempat biasa mereka nognkrong. Sebenarnya tidak ada hal penting yang ingin dibicarakannya, dia hanya rindu.
“Pacar mana Ly? Oh astaga! Kenapa kau jadi over begini sih?”
“Over katamu? Hei! Apa kau tak sadar bahwa kaulah penyebab semua ini?”
“Apa maksudmu!”
“Kau punya hubungan khusus dengan Irene kan?” Tembak Lyora yang seketika membulatnya sepasang netra Sam. Sejujurnya Lyora juga belum tahu pasti, semua ini karena egonya yang berbicara.
__ADS_1
“Sekarang kau pergi tanyakan ke semua orang ada hubungan apa aku dengan gadis itu. Oh sungguh aku sangat benci dituduh-tuduh.”
“Aku tak menuduhmu.”
“Lalu apa? Memfitnah?”
“Tidak juga. Aku hanya berbicara fakta.”
“Ck! Fucking lady! Terserah kau saja lah Ly, aku lelah.”
Alih-alih ingin melepas rindu dengan sang kekasih, pertemuan mereka kali ini malah jadi hancur karena ulah Lyora yang mengundang rasa jengah pada Samuel. Sejujurnya dia memang sangat mencintai Irene, namun tak menutup kemungkinan juga bahwa pria itu sedang tidak berbohong. Apa Irene pacarnya? Tidak kan?
“Hei tunggu! Kau mau kemana?” Gadis berambut pirang tersebut menahan lengan Sam yang kali ini mulai berdiri untuk meninggalkan tempat.
“Aku hanya tak ingin membuang waktu dengan percakapan konyol seperti ini!”
“Tunggu Sam! Sam! Samuel! Ah sial!”
Pria berjambang itu berhasil lolos dari rengkuhan jemari halus sang gadis. Kini keduanya tak lagi bertatap muka. Sam menghilang entah kemana.
“Aaaaaaaa lihat saja kau pria biadap!”
Sam kesal. Lelaki itu membanting-bantinya tangannya sendiri paa permukaan kemudi mobil. Huft! Betapa bodohnya ia melibatkan dirinya sendiri ke dalam kehidupan Lyora.
Lyora itu gadis keras kepala. Ia tak akan berhenti berusaha sebelum keinginannya benar-benar terpenuhi. Apalagi kalau sudah menyangkut masalah hati begini, pasti dia akan mati-matian berjuang.
Sam juga sampai sekarang belum bisa meninggalkan Lyora karena khawatir kalau-kalau anak satu itu akan berbuat yang tidak-tidak pada dirinya sendiri. Lagipula sedikit banyaknya dia juga sadar bahwa selama Irene tak bersamanya gadis itu lah yang menjadi sandarannya. Yaaa meskipun semuanya tidak dilandasi dengan ketulusan.
“Lebih baik aku ke rumah Aisyah saja. Siapa tahu ada kedamaian di sana.”
Good idea Sam.
30 menit berselang akhirnya sampailah Sam di sebuah rumah hijau anom berpagar putih. Ia segera memakirkan kendaraannya kemudian menuju pintu guna permisi kepada sang empunya gedung.
Ting nong ting nong.
Berl berbunyi.
“Ya sebentar.”
Ceklek.
“Eh kamu! Mau apa?”
Ternyata seorang gadis berparas ayu yang membukakan pintu. Namun sayang, Sam disambut oleh guratan kecut yang tercermin nyata dari rautnya. Heum selalu saja begitu.
“Ke mana Abimu?”
“Abi dan Umi sedang tidak berada di rumah. Kau pergilah!”
“Eh tunggu-tunggu!” Sam menahan knock pintu dari arah luar takkala Aisyah hendak menutup benda persegi panjang itu rapat-rapat.
...***...
Bersambung
__ADS_1
Jangan lupa mampir di SUAMI KITA BERSAMA ya guys;)
Semoga kalian sehat selalu 🤗