AKU KAU DAN ISLAM

AKU KAU DAN ISLAM
BAB 44


__ADS_3

“Mi, Aisyah pulang saja ya.”


“Kenapa sayang?”


“Bosan, tidak enak di sini.”


Kira-kira seperti itulah tawaran yang diajukan oleh seorang remaja putri pada ibunya yang tengah duduk anteng melihat-lihat beranda sosmed. Sebenarnya belum lama dia di sini namun tak ada kegiatan yang bisa dilakukan kecuali berbaring di atas brankar membuat Aisyah jenuh dan ingin segera bebas.


“Bagaimana dengan rasa sakitmu?”


“Sudah agak mendingan.”


“Besok pagi umi tanya dokter dulu ya. Sekarang kau tidurlah.”


Sudah pukul satu malam dan mereka berdua belum kunjung tidur. Memang begitu, kalau kata orang sih kita akan mengalami susah tidur jika tak berada di tempat asli alias rumah sendiri.


Abi Zulfan tidak berada di sini, pria itu sibuk mengisi ceramah dimana-mana dan mengharuskan dia untuk meninggalkan kedua wanita hebatnya di tempat ini. Sebenarnya dirinya sudah menolak setiap ada orang yang memintanya untuk mengisi materi, hanya saja istrinya selalu berkata bahwa tak baik jika seseorang itu menolak rezeki yang datang dari Sang Kuasa.


...***...


“Oh No! Hujan turun. Bagaimana ini?” Alan kebingungan, kedua telapak tangannya ia tadahkan guna menampung si air hujan sebagai bukti. Ehm lebih tepatnya pura-pura bingung.


Ester yang melihat butiran-butiran kristal awan tersebutpun juga semakin khawatir. Bodohnya dia mengapa sampai tak sadar bahwa bumi sudah benar-benar menjelang pagi.


“Eum sayang bagaimana jika kita bermalam di hotel saja? Oh sungguh aku tak ingin kekasihku ini sakit karena terkena hujan.” Suara Alan kembali terdengar yang langsung disuguhi pelototan mata dari Ester.


“Hei aku tidak pernah seperti itu.”


“Mau bagaimana lagi? Kita benar-benar sudah terjebak hujan di sini. Lihatlah mereka.” Alan mengkode agar Ester segera menebarkan pandangannya. “Semua pada beranjak untuk beristirahat.”


“Apa mereka akan bermalam di hotel juga?”


“Ya.”


Kali ini Ester tampak berpikir keras, ia menggigit-gigit kukunya sendiri hingga rusak. Apa yang akan dilakukan dengan sepasang manusia di dalam sana? Uh pikirannya sudah berlayar-layar sekarang.


“Kau takut denganku? Apa kau tak percaya dengan pacarmu sendiri hem?”


“Oh bukan begitu maskudku. Aku hanya tak biasa.”


“Makanya ayo kita biasakan.”


Hei hei! Apa maskud si brandal satu ini!


“Kurasa kita cukup menunggu di sini saja sampai hujan reda.”


“Apa ada yang bisa menjamin kapan ia akan selesai?”


“Benar juga.” Batin Ester.


“Hei Alan!” Ditengah kegaduhan kedua anak adam tersebut, seorang lelaki berjaket hitam tiba-tiba saja nimbrung yang entah dari mana asalnya.


“Oh Ton. Apa sudah dari tadi kau disini?”

__ADS_1


“Iya tapi aku baru melihatmu.”


“Kau dengan siapa?”


“Teman-teman kita juga.”


Alan menebarkan pandangan ke arah sekitar. Dan benar saja, ternyata di pojokan sana banyak sekali teman-teman sepermainnanya yang tengah memanggang jagung dan juga menyesap mie kuah. Bodoh sekali, bisa-bisanya ia tak menyadari akan hal itu.


Dan cowo tadi?


Itu si Toni teman mainnya juga kalau lagi di Medan. Pria bertubuh tegap dan hitam itu memang acapkali menjadi penghuni harian di lokasi ini.


“Apa wanita ini pacarmu?”


“Ahiya kenalkan namanya Ester.”


Tanpa disuruhpun Toni si cowo gatal itu sudah pasti akan menjabat tangan Ester dan memintanya untuk memperkenalkan diri. Pria itu mesem-mesem kemudian mendekatkan bibirnya ke telinga Alan.


“Kali ini wanita dari mana lagi yang kau bawa hem?”


“Ck! Jangan membuat keributan disini!”


Hei apa tadi? Apa kata si Toni? Wanita dari mana lagi?


Berarti selama ini…


Gubrak!


“Hei nona manis ayolah bergabung bersama kami disana.” Toni melaungkan telunjuk ke pojokan.


“Ayo kita kesana.” Ester menarik lengan Alan mengikuti langkah si Toni.


Ck! Sial!


Gagal!


Alan merutuki nasibnya sendiri yang kenapa harus dipertemukan dengan si Toni. Sungguh ia benar-benar akan menimpuk kepala pria satu itu jika sudah tidak ada Ester nanti.


...***...


Bugh!


Bugh!


Bugh!


“Huh kenapa susah sekali untuk tidur saja.”


Irene menumbuk-numbuk dinding kamar dengan tangannya sendiri. Sudah pukul dua dini hari dan dara itu masih saja terjaga.


“Fizhaaaan! Kenapa tega sekali dirimu!”


Oh ada yang sedang patah hati berlanjut ternyata.

__ADS_1


Entah kenapa sejak kejadian sore tadi Irene seakan kehilangan semangat bernapas. Malam ini ia sama sekali tak menyentuh nasi bahkan tak berniat untuk mandi. Antonius sempat heran namun ditepis dengan dalih Irene yang mengatakan bahwa ia sedang tidak mood melalukan apapun karena datang tamu bulanan.


Pikirannya terus berpacu pada wajah Aisyah yang tengah tertidur pulas tadi. Fizhan itu tidak konsisten, Fizhan itu penghianat! Bisa-bisanya ia mendekatkan jarak dengan Aisyah dan langsung menjawil pipi gadis itu. Di mana pikirannya!


Lagipula kenapa ibu tadi seolah biasa saja? Apa memang benar mereka sudah lama berpacaran? Kalau memang iya buat apa coba Fizhan membawa gadis lain guna menjenguk tajuk hatinya sendiri. Memangnya tidak takut dicemburuin apa? Irene memekik di dalam hati.


Gadis itu kemudian beringsut dan meraih sebuah buku mini berwarna biru di dalam laci nakas. Ia sungguh tak tahu harus menuangkan semua kegelisahan dan sakit hatinya pada siapa. Dan mungkin melalui benda persegi kecil ini jiwanya akan lebih sedikit merasa tenang. Semoga saja.


Kota Medan


Pukul sekian dini hari


-


Apa memang benar cinta itu ada?


Yang katanya sebuah rasa di dalam jiwa


Apa memang benar cinta itu bahagia?


Yang katanya bisa membuat siapa saja menjadi gila


Damai, menenangkan dan memberi kehidupan pada setiap manusia


Ah sepertinya tidak


Jika cinta memang bahagia


Lalu mengapa aku harus terluka?


Jika cinta membawa tawa


Lalu mengapa aku di sini merasa derita?


Aku


Dan tinta hitam ini


-


Irene Natalia


Jengkel, kecewa, shock, terpukul dan segala jenis rasa lainnya bersatu padu seakan mengkoyak jiwa wanita itu hingga tak bersisa. Lagipula kenapa bisa? Kenapa bisa Irene mencintai seseorang yang sudah jelas-jelas berbeda haluan dengan dirinya. Bagaimana jika cinta ini kian mendalam? Bagaimana jika ia tak mampu hilangkan Fizhan dari pikiran? Bagaimana? Argh! Kepala Irene pusing sekali.


“Andai saja aku egois dan tak memikirkan huruf hijaiyah itu, pastilah aku sudah meninggalkan Fizhan saat ini juga.” Sang gadis kembali merutuki nasibnya.


Ini bukan persoalan asmara saja melainkan deretan huruf yang mulai marik perhatiannya.


Irene tenang, gadis itu damai saat mendengar bacaan ayat-ayat suci Al-qur’an. Dia sungguh tak tahu harus melabuhkan dirinya kemana lagi selain Fizhan. Pertama, jika dia bertanya pada teman lain mengenai guru ngaji pastilah orang tersebut akan menaruh rasa curiga pada dirinya. Kedua, jika dia mencari sendiri sungguh dia tak ingin menambah korban tindak kebohongan yang baru. Mau berapa orang lagi? Apa tidak cukup Fizhan, papa dan semua temannya termasuk Ester yang ia tipu selama ini? Oh tidak-tidak! Sungguh ini tak boleh melebar kemana-mana.


...***...


Bersambung

__ADS_1


Jangan lupa tap biru favorit ya :)


Semoga kalian sehat selalu 🤗


__ADS_2