
“Hihihi.” Sam cengingisan padahal entah apa yang lucu. Matanya berkelebat menyenteri seisi rumah Aisyah mencari sang kepala keluarga.
“Kau mau apa!” Suara wanita berkerudung panjang itu terdengar kembali. Wajahnya masam, memang tak pernah manis kalau bertemu Sam.
“Aku hanya ingin bermain.”
“Abi dan Umi sedang tidak berada di rumah.”
“Ohya? Karena seingatku terakhir kali kau berbohong soal ini juga.”
“Ck! Terserah kalau kau tak percaya.”
Bugh!
Seketika Aisyah menutup kembali pintu rumah itu rapat-rapat. Dirinya kesal, entah kenapa melihat wajah Sam membuat rasa mualnya menjadi-jadi.
“Hei kenapa kau tutup?”
“Kau menolak tamu?”
“Haloooo.”
Tok tok tok.
“Oke baiklah baiklah aku akan menunggu di sini sampai kau bukakan pintu.”
...***...
Seorang gadis sedang duduk di kursi belajarnya seraya mencoret-coret sesuatu di atas kertas. Sedikit senang karena rasa nyeri di bagian selangkangannya sudah hilang dalam dua hari terakhir ini. Dia sempat ingin ke dokter karena perihnya berlanjut waktu itu namun niat terurung karena sekarang sakit itu sudah raib.
Dasar si bodoh!
“Eum kenapa tiba-tiba aku ingat Alan?” Ester memijat-mijat pelipis kanannya. Matanya menilik jam beker yang tercegak di atas meja, pukul delapan tepat.
Tak ingin berlama-lama bergelut dalam kerinduan, akhirnya si gadis pun mengambil ponselnya yang tergeletak di atas kasur. Bertemu dengan Alan akan menjadi solusi pereda rindu yang cocok, mungkin.
Tuuut tuuut tuuut.
“Halo.”
“Oh sayang akhirnya kau angkat juga.”
“Iya ada apa?”
“Aku merindukanmu.”
“Lalu?”
“Astaga! Apa kau sedang amnesia?” Ester mengkerutkan dahi. Tidak biasanya Alan bersikap seperti ini.
“Kenapa sayang?”
“Apa kau lupa kalau sedang rindu kita harus ngapain?”
“Ah iya-iya, bertemu kan?”
“Itu tahu!”
__ADS_1
“Maaf honey untuk semingguan ini aku belum bisa menemuimu.”
Deg! Mata Ester memanas seolah ada sesuatu yang mencelos dari dalam sana.
“Kenapa?"
“Oh sungguh aku sangat banyak urusan.”
“Heum apa kau tak merindukanku?”
“Tentu saja. Tapi mau bagaimana lagi?”
Ck! Kesal sekali. Memangnya urusan apa sampai bertemu barang sebentar pun sudah tak bisa? Alan bukan pejabat Negara, jadi tak mungkin kesibukan menjadikannya tak bisa ke mana-mana.
Ester sejenak berpikir keras. Ingin melabuhkan diri ke mana dia selama tujuh hari ke depan? Ke rumah Irene? Ah! Dia masih kesal dengan peristiwa lalu. Lagipula konconya itu sudah radak aneh, entah kenapa tiba-tiba jadi dewasa.
...***...
Malam kian larut mengajak sang rembulan naik lebih tinggi ke pusat langit. Nikmat sekali kalau kondisi begini dibawa tidur plus selimutan sambil memutar musik. Aisyah menuju ekor rumah guna mematikan lampu dapur dan masuk ke dalam kamar. Kedua orangtuanya belum pulang juga, mungkin dua atau tiga jam lagi.
“Ohiya sepatuku masih di luar.” Katanya seraya menepuk jidat.
Kata orang di Kota itu seram. Banyak pencuri, perampok, begal atau yang sejenis dengan kata-kata tersebut. Dan memang benar, tak ada yang bisa ditinggal di luar meskipun hanya sepasang sepatu bahkan mungkin yang lebih kecil dari pada itu.
Aisyah menarik knock pintu dan mulai menarik langkah ke bagian beranda. Namun betapa terkejutnya gadis itu takkala menyaksikan pemandangan apa yang sedang berada di tempatnya berjejak kaki.
“Astagfirullahaladzim.” Tangannya sontak menempel ke permukaan dada. “Kenapa kau masih di sini?”
Siapa?
Siapa yang ada di sana?
“Sudah jam setengah sepuluh malam dan kau belum pergi juga? Apa yang kau lakukan sedari tadi di rumahku hah?”
“Menunggumu membukakan pintu.”
“Berapa kali harus kubilang kalau orangtuaku sedang tidak berada di rumah.”
“Apa salahnya?”
Aisyah mematung. Seketika pikirannya berlabuh kepada pria yang tengah menunggu jawaban dari dirinya. Sam berbeda, mereka tak sama. Dan mungkin si jambang rimbun itu tidak tahu menahu tentang masalah ini.
“Oke baiklah.” Sang dara kembali angkat suara. “Maaf sebelumnya tapi di dalam agamaku tidak diperkenankannya seseorang yang bukan mahram menyambangi rumah orang lain yang tidak ada sesiapapun kecuali dirinya sendiri.”
“Maksudnya?” Raut Sam mendadak kecut.
“Kau tak paham ya?”
“Tidak.”
“Maksudku tak boleh seseorang itu berduaan dengan orang yang bukan dari bagian keluarganya sendiri atau yang biasa disebut dengan kata mahram.”
“Kenapa?”
“Karena ketika sepasang manusia non mahram berkhalwat alias berdua-duaan maka hal itu akan menciptakan daya tarik tersendiri bagi keduanya. Dan dikhawatirkan akan terjadi hal-hal yang tidak diinginkan.”
“Maksudmu berbuat mesum?”
__ADS_1
“Ya ampun Sam! Rasaku tak mesti kau sebutkan kata itu. Ah kau pergi sajalah, kurasa kau sudah gila!” Aisyah mendadak pitam. Bisa-bisanya Sam membahas hal sesensitif itu dengan seorang gadis yang bahkan baru saja dikenalnya.
“Siapa yang mengatakan tidak boleh berbuat seperti itu?”
“Allah ku.”
Blushh!
Sam bisu di tempat. Sepertinya kali ini gantian dia yang kikuk, pria itu tak dapat menjawab apalagi sampai berbuat apapun. Soal ajaran siapa yang bisa menentang.”
“Kau masuklah dan biarkan aku sendiri di sini.”
“Buat apa lagi?”
“Entah lah Syah, aku sangat merasa nyaman berada di rumah kalian.” Sam menyandarkan tubuhnya pada kursi kayu yang sedari tadi ia duduki.
“Kurasa kau punya rumah sendiri sebagai tempat mengistirahatkan diri.”
“Apalah guna bila di dalamnya pun hanya aku seorang.”
“Maksudnya?”
“Eum apa boleh aku bercerita?”
Oh ya Tuhan. Apa ini tidak salah? Kenapa pertengkaran kedua insan itu mendadak berubah jadi curhatan? Apalagi si Sam itu! Sejak kapan dia bisa terbuka pada orang lain? Seperti ada yang tidak beres.
Wanita yang mendengarpun keningnya mendadak berlipat-lipat, dia jadi bingung sendiri. Tapi setelah dipikir-pikir tak ada salahnya mendengarkan cerita si Sam cowok anek itu.
“Oke sebentar.”
Bugh!
Pintu kembali tertutup bahkan kali ini dikunci rapat-rapat. Selanjutnya Aisyah membuka gorden jendela yang berada dekat ambang pintu, dari balik sini dia dapat dengan jelas melihat tubuh Sam yang masih setia di atas kursi kayu pahatan almarhum kakeknya itu.
Sam di beranda dan Aisyah di balik jendelanya.
“Hei apa ingin berbuat apa?”
“Aku hanya menghindari sesuatu yang buruk.”
“Maksudmu kitaa ngobrol via jendela seperti ini?”
“Iya.”
Sam terkekeh geli, kalau dilihat-lihat Aisyah lucu juga. Pria itu tak lagi mempermasalahkan segala sesuatu yang berhubungan dengan jarak fisik karena di sisi lain dia juga menghargai apa-apa saja yang telah wanita itu terapkan sedari dulu.
“Lalu apa? Sungguh aku tak ingin berlama-lama.” Interupsi sang gadis dari balik palang-palang besi si jendela rumah.
“Aku memang memiliki rumah namun basecamp adalah tempat utamaku.”
“Kenapa?”
...***...
Bersambung
LIKE & RATE 5
__ADS_1
Semoga kalian sehat selalu 🤗