AKU KAU DAN ISLAM

AKU KAU DAN ISLAM
BAB 41


__ADS_3

“Terimakasih atas kunjungannya ya nak Sam.” Bu Umayaah ikut mengimbangi langkah Sam hingga ambang pintu. Pria itu pamit pulang sesaat sebelumnya menyerahkan segunung buah-buahan untuk Aisyah. Katanya sih agar lekas sehat.


Sam kemudian berlalu dan kembali mejalani aktivitasnya di luaran sana, apalagi kalau bukan kongkow-kongkow tidak jelas bersama semua rekannya. Niat awalnya sih ingin menemui Lyora, tapi setelah dipikir-pikir Sam malah mengurungkan niatnya dengan dalih malas ribut dengan gadis itu. Sebab pertemuan mereka terakhir kemarin menyisakan kegaduhan yang belum kunjung selesai.


Ditengah kekhusyukannya mengendarai benda hitam beroda empat tersebut dirinya teringat akan Ester. Bagaimana? Apakah Alan sudah berhasil mengelabui anak polos satu itu?


Tut tut tut.


Sam meraih sebuah benda pipih dari saku bajunya.


“Halo.”


“Kau dimana?”


“Di tempat biasa, kenapa?”


“Aku kesana sekarang.”


“Oke.”


Sam kemudian menambah laju kendaraannya dengan tidak mengalihkan sedikit pandanganpun dari arah depan. Sam trauma, ia khawatir kejadian kemarin akan terulang lagi dengan orang yang berbeda. Sebenarnya pria itu bukan takut akan hukum ataupun nominal yang akan ia keluarkan nanti, melainkan dirinya hanya malas ribut dengan orang-orang yang dianggapnya sangat tidak penting.


Tin tin.


Tak butuh waktu lama akhirnya mobil si jambang lebat itu berlabuh di sebuah perkarangan rumah mini berwarna gading. Ia menyalakan klakson sebagai tanda kehadiran.


“Sudah sampai rupanya si pria licik!” Seorang lelaki menyembul dari pintu utama. Rambutnya urak-urakan, matanya juga sayu tanda tak tidur semalaman.


“Diam kau Alan!”


Sam mengambil langkah kemudian menghamburkan dirinya di atas sofa. Selain Alan, di dalam sana juga ada beberapa rekan lain yang sama jenis dengan dirinya. Mulai dari penampilan, kebiasaan hingga jalan pikirpun tak jauh berbeda antara satu sama lain.


Tempat ini adalah sebuah rumah yang dibangun secara patungan oleh Sam dan seluruh konco-konconya. Tempatnya tidak besar namun cukup aman dan tersembunyi bagi para lajang yang suka mabuk dan bermain perempuan itu. Acap kali terjadi hal-hal yang tak mengenakkan di sini, mulai dari orang-orang yang pingsan karena mabuk, pertengkaran sesama teman bahkan wanita-wanita bookingan juga selalu melawat di rumah terkutuk ini. Mereka biasa menyebutnya dengan basecamp.


“Jadi bagaimana? Apa kau sudah berhasil menjebol dinding pertahanan di Ester itu?” Sam menyesp sebuah batang rokok seraya menilik wajah Alan dari sudut sofa.


“Rencananya tadi malam, tapi Ester pergi ke rumah Irene. Katanya sih ada undangan dinner untuk menyambut kepulangan papanya dari Bandung.”


“Oh jadi si tua itu selama ini pergi?”


“Sepertinya begitu. Lagipula kenapa akhir-akhir ini kau tak pernah menemui Irene lagi?”


“Aku hanya menunggu akhir dari permainan kita.”


Sam mengambil sebuah botol wiskey dan menuangnya ke dalam gelas. Pikirannya cukup amburadul mengenai Irene dan hanya dengan cara inilah si bewok krebo itu dapat menghilangkan bebannya barang sejenak.


...***...

__ADS_1


Siang telah berlalu dan kini saatnya sore menampikkan diri. Seperti biasa, Irene melumuri wajahnya dengan make up natural kemudian segera beranjak ke rumah belau milik Fizhan. Kali ini kerudung tak ia kenakan, Irene menggulung benda tersebut kemudian memasukkannya ke dalam slinbag. Ia tak ingin Antonius tahu, bisa mampus digantung dia nanti.


“Aku akan memakainya setelah separuh jalan nanti.”


Di sebuah ruangan besar, seorang gadis tak ubahnya seperti maling yang sedang mencoba mencuri barang. Ia berjalan mengendap-endap guna menghindari pertanyaan dari Antonius apabila mendapati dirinya di tempat ini.


“Yess berhasil!” Irene mengepalkan kedua lengannya menghadap udara. Hatinya lega karena ia dapat keluar rumah dengan leluasa.


Tak perlu pikir panjang gadis itu langsung beringsut ke dalam garasi dan segera melajukan motornya ke arah Barat. Sore ini jalanan cukup sepi, mungkin karena para karyawan belum pulang dari pekerjaannya.


Sesampainya di sana.


Irene celingukan. Kemana ucul-ucul yang biasa mengaji? Tempat ini kosong dan hanya menyisakan seorang pria berwajah muram di sana.


Hei itu Fizhan, kenapa dia?


Srek srek srek.


Suara sendal Irene terdengar sangat kentara.


“Irene.” Fizhan menoleh.


“Kau kenapa Zhan?”


“Apa aku terlihat sedang tidak baik-baik saja?”


Fizhan membisu di tempat sebelum akhirnya ia melayangkan sebuah ajakan yang membuat hati Irene jadi jedag jedug.


“Apa kau bisa menemani aku ke rumah sakit?”


“Hah? Siapa yang sakit?”


“Aisyah.”


“Oh.” Raut Irene sontak merah. “Ya sudah aku akan menemanimu.”


Huuuuh.


Aisyah lagi Aisyah lagi. Kenapa kalian ini begitu dekat? Irene membatin di dalam hati. Dia sempat senang karna mengira bahwa Fizhan akan membawanya jalan-jalan. Dan ya memang benar, mereka akan jalan-jalan sore. Tapi tujuannya ke rumah sakit guna menjenguk Aisyah yang sedang sakit.


15 menit yang lalu saat Fizhan sudah berada di atas gazebo bersama anak-anak, tiba-tiba saja dering ponsel membuat ia terpaksa harus menekan tombol hijau pada benda tersebut. Awalnya dia enggan mengingat tidak sopan bila bermain handphone di tengah pelajaran, namun apa boleh buat? Aisyah menelponnya berkali-kali.


Tak butuh waktu lama bagi Aisyah untuk mengabarkan tentang apa yang barusan saja menimpanya. Fizhan shock, bisa-bisanya rekannya itu ditabrak oleh seorang pria yang hampir menimpuk wajahnya beberapa hari lalu.


“Ya sudah apalagi.” Irene menyela dari arah depan. Posisinya masih keukeuh menduduki jok matic hitam tersebut.


“Aku akan segera memasukkan motormu ke dalam rumah. Kau tenanglah, di sini tidak ada maling.” Kata Fizhan seraya mendekatkan jarak.

__ADS_1


Ck sial! Irene baru ingat kalau Fizhan enggan berduaan di atas motor, katanya sih bukan mahram.


“Lalu kita pakai apa kesana?”


“Angkutan umum.”


“Hah? Serius?”


“Kau tak biasa ya? Baiklah kalau begitu aku tak akan memaksamu Re.”


“Eh tunggu-tunggu, aku ikut! Ini kunci motorku.”


Akhirnya dengan rasa yang agak dipaksa Irene pun menyerahkan sebuah kunci berbandul kepala beruang pada Fizhan. Sebenarnya gadis itu senang karena ini merupakan first impressionnya jalan berdua dengan Fizhan. Namun di satu sisi dia juga benci, kenapa harus Aisyah? Seperti tidak ada wanita lain saja di muka bumi ini selain Aisyah.


“Jadi bagaimana dengan anak-anak itu?” Suara Irene memecahkan keheningan. Kali ini mereka sudah berada di dalam sebuah kereta kencana beroda empat.


“Aku menyuruhnya untuk pulang.”


“Ohya? Apa mereka tidak kecewa?”


“Tidak. Aku sudah mengatakan bahwa Aisyah sedang sakit bahkan mereka juga ikut bersedih.”


“Mereka mengenal wanita itu?”


“Iya. Aisyah selalu bermain ke rumahku. Namun semenjak semester dua ini dia sudah jarang, mau fokus belajar untuk ujian katanya.”


Blushh!


Hati wanita yang mendengar seolah dihujani larva panas dari atas gunung. Irene tercekat, sekelebat pertanyaan bergelayut di dalam otaknya.


Sebenarnya ada hubungan apa Fizhan dengan Aisyah?


Kenapa mereka dekat sekali?


Bahkan Fizhan sampai menyuruh bocah-bocah itu pulang kerumahnya demi Aisyah.


Oh astaga!


Sepertinya ada yang sedang terbakar api cemburu.


...***...


Bersambung


Halo semua


Klik tombol favorit supaya kalian ga ketinggalan setiap up terbaru dari aku ya 😍

__ADS_1


See u 🤗


__ADS_2