
Beberapa hari telah berlalu, keadaan perusahaan Ellmund semakin kacau. Tidak ada satu investor pun yang mau bekerjasama dengannya.Ditambah lagi desakan para karyawan yang meminta gajinya, Raymond akhirnya menyerah. Dia harus rela menjual 50% sahamnya kepada orang yang mau membelinya. Itupun jika ada orng yang mau membeli sahamnya.
"Kira-kira perusahaan mana ya yang mau membeli sahamku? " pikirnya
Tiba-tiba terlintas nama DnA. Perusahaan raksasa yang juga berkecimpung di bidang yang sama dengan Ellmund. Meski ragu akhirnya dia menghubungi asisten Peter. Karena tidak mudah bagi orang sembarangan yang ingin bertemu langsung dengan CEO DnA. Harus melalui sistennya dulu jika ingin bertemu, baik asisten Peter ataupun asisten Hansel.
Sambungan telpon terhubung.
๐ฑ"Hallo selamat siang, dengan DnA corp? "
๐ฑ'Ha... hallo, apakah ini dengan tuan Peter? "
๐ฑ"Iya saya sendiri, dengan siapa saja bicara? "
๐ฑ" Saya Raymond dari Ellmund. "
๐ฑ "Oh, tuan Raymond ada apa tuan menghubungi saya? " disebrang sana, Peter seolah meledak ingin bersorak bahagia. Karena akhirnya Raymond menghubunginya.
๐ฑ " Saya ingin bertemu dengan CEO DnA apakah anda bisa mengatur kan jadwal janji temu kami? "
๐ฑ" Memangnya ada apa tuan? " Peter pura-pura penasaran.
๐ฑ"Ada hal penting yang ingin saya bicarakan dengan tuan Daniel. Terlepas dari kerjasama kita yang sudah batal. "
๐ฑ"Baiklah, akan saya sampaikan kepada tuan Daniel dahulu, nanti kalau tuan Daniel mau bertemu, anda akan saya hubungi lagi. " Peter menahan tawanya.
๐ฑ "Baiklah tuan Peter, saya menunggu kabar baik dari anda. "
๐ฑ" Baik tuan Raymond"
Telpon terputus. Raymond meminit pelipisnya yang seakan mau pecah. Disaat seperti ini tidak ada satu orang pun yang bisa menolongnya. Bahkan sahabatnya Simon. Hanya karena alasan hutang yang belum lunas, Simon acuh tak acuh dengan keadaannya sekarang.
Semua bisa dimaklumi Raymond. Karena dulu orang yang mau membantu Raymond saat bangkrut adalah Simon. Jadi Raymond pikir mungkin Simon akan berpikir dua kali untuk menolong Raymond lagi. Karena untuk membangkitkan perusahaan yang sudah bangkrut butuh waktu dan biaya yang tidak sedikit.
Dilain sisi, Peter tertawa lepas saat sambungan telepon di matikan. Dia keluar dari ruangannua dan tertawa seperti orang gila menuju ruangan Hansel. Beberapa karyawan menatap aneh ke arah Peter yang bersikap tak biasanya.
Peter masuk ke ruangan Hansel tanpa mengetuk pintu dulu. Dilihatnya Hansel sedang menerima telepon dari seseorang. Melihat Peter yang masuk tanpa permisi, Hansel mengakhiri panggilan teleponnya. Lalu berjalan ke arah Peter.
"Ada apa, kelihatannya kau senang sekali. " tanya omHansel penasaran.
Tanpa aba-aba Peter langsung memeluk Hansel. Hansel yang tidak siap hanya bisa melongo mendapat perlakuan seperti itu dari seniornya.
"Lepas, sesak tau. Aku masih normal, jangan peluk-peluk. Menggelikan. " Hansel memberontak mencoba melepaskan pelukan Peter.
Akhirnya Peter melepaskan pelukannya, dan tersenyum menjijikkan ke arah Hansel.
"Hei... jangan senyum- senyum seperti itu. menjijikkan. " umpat Hansel.
Mereka akhirnya duduk berhadapan.
"Hans aku sangat bahagia, "
"kenapa? apa kau menang lotre? "
Peter menggeleng, " lebih dari itu. "
"katakan." Hansel tak sabaran
__ADS_1
"Raymond baru saja menghubungiku. "
"Benarkah? " mata Hansel langsung bebinar mendengar kabar itu.
Peter mengangguk, "Benar, dia ingin aku menyampaikan pada tuan Daniel bahwa dia ingin bertemu dengan tuan Daniel. Dia Ingin membicarakan sesuatu, terlepas dari kerjasama yang batal kemarin. Kau tau apa artinya itu? "
Hansel mengangguk pasti. " Ya... pasti itu. "
Mereka berdua tertawa lepas di ruangan Hansel. Mereka senang akhirnya rencana mereka sedikit lagi akan berhasil.
"Ayo, kita harus segera sampaikan berita ini kepada tuan dan nona." ajak Hansel antusias.
"Baiklah ayo. " Peter bangkit dari duduknya dan berjalan keluar menuju ruangan CEO.
DI ruangan CEO, mereka berempat telah berkumpul untuk membicarakan kabar yang akan di sampaikan Peter.
Peter telah menyampaikan kepada Daniel dan Angel bahwa Raymond ingin bertemu dengan mereka.
"Jangan terburu-buru, kita harus tetap tenang. Jangan langsung meng-iyakan permintaan Raymond. Aku takut dia akan curiga kepada kita. Kita harus jual mahal terlebih dahulu. " jelas Angel.
"Angel benar. Jangan hubungi Raymond dulu sebelum dia menghubungi mu Peter. Kita akan berperan seolah-olah kita tidak perduli. Dan saat dia benar-benar memohon barulah kita akan mengabulkan permintaannya. " Daniel pun ikut memberikan pendapat.
"Jadi kita akan menahannya dulu? Bagaimana kalau ada perusahaan lain yang juga menginginkan Ellmund tuan? " tanya Peter.
"Tidak akan. " Jawab Angel yakin
Kalau sudah melihat keyakinan Angel semua orang tidak bisa menolak.
"Baiklah kalau begitu, berarti kita main tarik ulur dulu. "
"Baiklah aku mengerti maksudmu tuan. " Peter menganggukan kepalanya, tanda mengerti maksud tuannya.
โกโกโกโกโกโกโกโกโก
Dua hari telah dilewati Raymond dengan harap-harap cemas menunggu kabar dari Peter, namun tidak ada kabar sama sekali dari Peter.
Akhirnya Raymond memberaniksn diri menghubungi Peter lagi.
drrt... drrt.. drrt...
Ponsel Peter bergetar, Peter melirik nama penelpon, dia menyeringai licik. Namun Peter tidak segera mengangkatnya. Hingga beberapa kali ponselnya bergetar. Akhirnya Peter mengangkat telponnya, tak lupa dia menyalakan rekaman suara panggilan di ponselnya.
"Hallo, selamat siang. "
"Selamat siang tuan Peter. Ini saya Raymond dari Ellmund. "
"Oh, tuan Raymond maaf saya tidak segera mengangkat telpon dari anda tadi. Karena tadi kami sedang rapat. " bohong Peter masih tersenyum jahat.
"Oh, maafkan saya tuan Peter karena sudah mengganggu kesibukan anda. "
"Tidak apa-apa tuan, kami sudah selesai. Apa ada yang ingin anda bicarakan? " tanya Peter seolah-olah tak mengerti.
"Maaf tuan, saya ingin menanyakan tentang pertemuan saya dengan tuan Daniel apakah sudah di jadwalkan? "
"Apakah sangat mendesak tuan? "
"Ini sudah sangat mendesak, saya perlu bertemu dan bicara dengan tuan Daniel secepatnya, tuan Peter. Saya mohon, atur jadwal saya bertemu dengan tuan Daniel." Raymond sudah tidak mempedulikan harga dirinya lagi. Dia harus bertemu dengan Daniel segera. Karena perusahaannya terancam gulung tikar.
__ADS_1
Peter semakin menyeringai.
"Baiklah tuan, akan saya sampaikan kepada tuan Daniel, dan saya akan menghubungi anda segera. Untuk yang kemarin saya mohon maaf tidak menghubungi anda, karena jadwal kami sangat padat, sehingga saya menunda untuk menghubungi anda. "
"Baiklah tuan Peter, tolong sampaikan permohonan saya ini. Saya benar-benar harus bertemu dengan tuan Daniel. " Raymond tak malu lagi untuk memohon kepada orang yang lebih muda dari dirinya.
"Iya tuan. saya matikan telponnya. "
Setelah telpon dimatikan Raymond menunduk lesu. dia tidak tahu harus berbuat apa lagi untuk menyelamatkan perusahaan nya. Hanya tinggal Daniel dan DnA harapan satu-satunya.
Sedangkan Peter yang sudah menutup telponnya berjingkrak-jingkrak seperti anak kecil karena merasa senang. Dia lalu menghubungi Hansel, untuk segera bertemu diruang CEO. Hansel yang merasa bingung pun mengikuti Peter.
Sebelum masuk mereka mengetuk pintu dulu, mungkin ini akan menjadi kegiatan baru mereka yang mengetuk pintu dulu sebelum masuk keruangan CEO.
Saat terdengar suara "masuk." barulah mereka berdua memutar gagang pintu dan memasuki ruangan atasan mereka.
Daniel melirik ke arah pintu, "ada apa?" tanya Daniel dengan masih membaca laporan ditangannya.
"Ada yang ingin aku sampaikan. Di mana princess? " tanya Peter yang tidak melihat keberadaan Angel disana.
"Queen sedang ke kamar kecil" kata Daniel sambil berjalan menuju kursi tamunya.
"Kalau begitu kita menunggu princess dulu. "
"terserah padamu. " kata Daniel cuek.
"Kenapa kau masih dingin sekali sih, kan pawangmu sudah datang? " kata Peter kesal.
Tak berapa lama, Angel keluar dari ruang istirahat, dia kelihatan segar karena baru saja mencuci muka.
"Kalian, kenapa berkumpul di sini? " tanya Angel heran.
"Ada yang ingin aku sampaikan princess, duduklah. "
Angel mendekat, dan duduk disamping Daniel.
Peter mengambil ponselnya dan menaruhnya di atas meja, dan membuka rekaman pembicaraan nya dengan Raymond barusan. Setelah mendengarkan percakapan tadi mereka bertiga berbinar.
"Sudah saatnya. " kata Angel.
Ketiga orang disana mengangguk.
"Atur pertemuan ku besok malam di Royal restauran siapkan ruang VIP, aku akan menjamunya dengan makan malam. " kata Daniel dengan senyum kemenangan dibibirnya.
"Aku akan menemanimu saat bertemu dengan Raymond. " Angel tak kalah antusias
"Tentu saja kau harus ikut, begitu juga dengan mereka berdua. Kita akan menemuinya bersama besok. Walau Hansel dan Peter harus berjaga di depan ruangan. "
"kami tak masalah, asalkan semua rencana berjalan lancar. " kata Peter.
"Baiklah sudah diputuskan. Besok. Katakan padanya Pet. "
"Baik tuan, akan saya laksanakan. " ujar Peter semangat.
Bersambung
Terimakasih sudah membaca.
__ADS_1